Rasa peningku tiba-tiba hilang begitu saja ketika melihat senyum rupawan Raka. Kekasihku yang tampan tiba-tiba ada di hadapanku saat ini juga. “Kok bisa kamu ke sini? Kurir bunga? Gila banget! Kamu tidak takut sama security?” Aku memberinya pertanyaan bertubi-tubi. Rasa senang bercampur khawatir. “Bisa dong! Sengaja jadi kurir biar bisa anter bunga langsung ke kamu. Kalau aku nggak jadi kurir, satpam di depan pasti ngusir aku,” jawabnya dengan pelan. Lalu dia memasangkan kembali maskernya. Aku menerima bunga itu dengan tersipu. Effort sekali Raka memberiku kejutan. “Yang semangat ya kerjanya! Kalau masih sakit izin saja sama si Bos!” ucapnya dengan rayuan. “Makasih ya bunganya. Memangnya kamu nggak ke rumah sakit? Bagaimana kakekmu?” tanyaku khawatir. “Kakek udah mendingan.” “Syuk

