Aku terkejut ketika melihat Aksa sudah berdiri tidak jauh di depan pintu masuk gedung. Wajahnya terlihat tidak ramah. “Kamu diantar sama siapa tadi?” tanyanya sekali lagi. Setelah resmi bercerai dan bertemu tanpa sengaja di supermarket beberapa minggu kemarin dia muncul dan bertanya siapa yang mengantarkanku ke kantor. Bukankah seharusnya dia menyapa dan menanyakan kabarku terlebih dulu. Apa dia sudah lupa bagaimana dia mengabaikanku di supermarket di depan istri barunya. “Bukan urusanmu.” Aku melengos pergi dan menghindar. Aku sudah sangat membencinya. Kalau bisa memilih, aku lebih baik menghindar daripada bertegur sapa dengannya lagi. “Rena, kau mengabaikanku? Kenapa? Apa salahnya kau menjawab pertanyaanku? Siapa dia? Apa dia pacarmu?” tanyanya penasaran sambil berusaha mengikuti ritm

