Hujan turun dengan deras, disertai hembusan angin yang bertiup kencang. Pepohonan tampak melambai-lambaikan dahannya seperti seseorang yang akan pergi jauh.
Anna menutup semua jendela dan pintu agar udara dingin dan air hujan tidak masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Adnan tampak sedang menonton TV dan seolah tidak ambil peduli dengan apa yang istrinya itu lakukan.
"Mas tidak tidur?" tanya Anna saat semua pintu dan jendela sudah selesai ia tutup.
"Kamu tidur saja, aku masih belum mengantuk," jawab Adnan dengan pandangan masih tertuju ke layar televisi.
Anna mengangguk patuh dan segera melangkah menuju ke lantai atas. Setibanya di sana, ia langsung mengambil air wudhu dan sholat isya. Sholat sendirian karena Adnan tidak pernah mau jika diajak untuk sholat berjamaah. Padahal dulu, pria dewasa itu sering menjadi imam di masjid saat mereka masih tinggal kampung.
"Assalamualaikum warahmatullahi ...." Anna mengakhiri sholatnya dan berzikir untuk beberapa saat. Setelah itu, ia pun melihat ke arah tempat tidur. Entah sejak kapan, tapi Adnan tampak sudah berbaring di sana dengan posisi membelakangi dirinya.
Anna lantas melipat rukuh-nya lalu bangkit berjalan ke arah lemari. Mengganti pakaiannya dengan yang lebih seksi agar menarik perhatian sang suami.
Lingerie berwarna hitam pun menjadi pilihan Anna. Berharap dengan memakai pakaian yang lebih terbuka, Adnan tergoda dan mau menyentuh dirinya malam ini.
Ya, Anna masih sangat suci meski sudah lama menjadi seorang istri.
"Mas ...," lirih Anna. Suaranya tenggelam bersama dengan deru hujan yang semakin menggila di luar sana. Ia berdiri di dekat ranjang seraya menatap Adnan dengan raut wajah memelas.
Adnan membuka mata perlahan dan melihat ke arah Anna. "Ada apa?" tanyanya datar.
"Mas, kita kan sud—"
"Aku masih belum siap, Anna ...," potong Adnan diikuti dengan kembali menutup mata dan bersedekap d**a.
"Tapi, Mas—"
Adnan kembali membuka mata, menoleh cepat ke arah Anna dan menyorotnya dengan tatapan tajam mengintimidasi. "Kamu tuli? Tidak mengerti bahasa, kah?"
"Aku cuma menuntut hakku, Mas. Kita ini sudah suami istri. A—aku cuma mau menjalankan tugasku sebagai seorang istri yang baik."
"KAU BISA DIAM TIDAK?!" Adnan kembali membentak Anna dengan begitu keras, hingga ia bangkit dan berjalan mendekati istrinya itu. Mendekatkan wajahnya dan menatapnya lekat-lekat. "Apa kau begitu menyukaiku? Hingga kau harus bersikap seperti wanita penghibur di depanku?"
"Maasss?" Anna tertohok mendengar kata-kata Adnan. Sampai hati pria yang kini menyandang gelar suami bagi dirinya itu, melontarkan kata-kata yang begitu merendahkan harga dirinya sebagai seorang istri. Apa Adnan tak tahu, betapa Anna mencintai dirinya. Bahkan ia rela mengikuti semua perintah Adnan, hanya untuk dianggap istri yang Sholeha dan berbakti kepada suami.
"Kau kan, yang menyukaiku? Lantas kenapa sekarang kau protes?"
"Tapi kita sudah menikah, Mas. Mas sendiri yang datang melamar ku dan memintaku untuk menjadi istri Mas." Anna mulai meninggikan suaranya.
Lidah Adnan tampak mulai berkelintaran kesal. "Oh, jadi sekarang kau sudah mulai menyalahkan suamimu? Jadi semua ini salahku? Aku yang salah, begitu?" Adnan semakin panas.
"Aku tidak menyalahkan, Mas. Aku hanya ingin rumah tangga kita normal seperti rumah tangga orang lain, bukan seperti ini." Anna mulai menangis.
Adnan semakin kesal. Dengan cepat ia pun mengapit kedua pipi Anna dengan satu tangannya. Lalu mendorongnya hingga punggung istrinya itu menabrak tembok kamar.
Anna terkejut setengah mati. Tubuh perempuan itu langsung lemas dan gemetaran. Jika biasanya hanya kata-kata kasar dan bentakan yang ia dapatkan. Namun kali ini, tangan dingin suaminya itu berhasil mendarat kasar di pipi lembutnya. Bahkan kemudian berpindah ke area lehernya. Dan ini bukan sekedar rasa sakit, tapi ini tentang siapa yang memberi rasa sakit itu sendiri.
Anna mulai menangis sedih. Namun, ia tahan suara isaknya karena tidak mau Adnan semakin naik darah. Padahal, batinnya sudah cukup tersiksa dengan sikap dan kata-kata kasar suaminya itu.
Dalam keadaan masih menangis, Anna pun berusaha untuk menstabilkan napasnya, yang sudah tersengal karena tekanan dari luar dan dalam.
"Kau pikir aku tidak normal? KAU PIKIR AKU GILA, IYA?!"
Anna menggelengkan kepala pelan. "De-mi Allah, Mas ... bu-kan itu mak-sudku .... To-long lepaskan Mas ... a-ku ti-dak bisa ber-napas."
Adnan melepaskan cengkraman tangannya dari leher Anna. Perempuan itu langsung terbatuk karena perbuatannya yang sudah sangat keterlaluan itu.
Anehnya, melihat Anna kesakitan dan nyaris jatuh ke bawah, Adnan pun dengan cepat menahan tubuh perempuan itu dan membawanya ke dalam pelukannya.
"An ... maaf ... maafin aku. Aku khilaf. Maaf sayang ...." Adnan membingkai wajah Anna dengan kedua tangannya.
"Aku ... aku mau tidur Mas."
"Iya. Ayo kita tidur." Adnan membawa Anna ke dekat ranjang.
Anna pun langsung membaringkan tubuhnya dan tidur dengan perasaan yang hancur berantakan. Sementara Adnan, ia lalu duduk di sisi Anna seraya membelai lembut kepala istrinya itu.
"Makanya, kamu itu jangan buat aku marah, ya? Aku begini, karena aku tidak mau kamu berdosa. Aku mau kamu menjadi istri yang Sholeha. Patuh, dengar apa kata suami. Biar nanti bisa masuk surga. Kamu ngerti kan?" tanya Adnan dengan nada sangat lembut.
"Eum ...." Anna mengangguk patuh. Padahal di dalam hatinya, ia sudah sangat ketakutan. Sosok Adnan di matanya saat ini, tak kurangnya seperti monster yang siap menyerangnya kapan saja.
"Ya sudah, tidurlah." Adnan mengambil posisi, berbaring di samping Anna.
Akan tetapi, meski Adnan sudah meminta maaf, tapi Anna tetaplah nelangsa. Ia menangis dalam diam, seperti menyesali apa yang terjadi. Semua sudah menjadi pilihannya. Ia yang sangat ingin menikah dengan Adnan, ia juga yang harus menderita.
Dulu, ia begitu meyakini jika Adnan adalah laki-laki sholeh yang bertanggungjawab. Lembut, ramah dan murah senyum. Tak akan ada yang percaya jika saat ini, sosok yang begitu sempurna itu, berubah menjadi pribadi yang begitu bengis dan arogan.
"Selamat malam, Anna. Mimpi indah."
.
.
Pagi menjelang. Alarm dari ponsel Anna berbunyi nyaring. Ia pun segera bangkit, lalu mengambil benda pipih itu dan mematikannya. Kemudian menoleh ke arah samping dan mendapati Adnan yang sudah tidak lagi berada di tempat tidur.
Ke mana Mas Adnan?
Saat Anna tengah bertanya-tanya, tiba-tiba saja terdengar derit pintu kamar mandi. Atensi Anna beralih, melihat ke arah pintu tersebut dan mendapati Adnan yang baru keluar dari sana.
"Kamu sudah bangun?" tanya pria dewasa itu.
"Su—sudah, Mas," jawab Anna gugup.
"Ya sudah, ayo sholat," ajak Adnan tiba-tiba.
Anna terperanjat. Ia tampak terkejut saat mendengar ajakan suaminya itu. Sudah hampir tiga pekan mereka menikah tanpa sholat berjamaah atau berdoa bersama. Namun pagi ini, Adnan tiba-tiba saja berubah sikap.
"Sho—sholat, Mas?" tanya Anna lagi.
"Eum ...."
"Berjamaah?"
"Iya Anna. Berjamaah," jawab Adnan lembut.
"Sebentar, Mas. A—aku wudhu dulu." Anna langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air sholat.
Selesai wudhu, ia melihat Adnan sudah berdiri di atas sajadah sembari menunggu dirinya. Anna tersenyum bahagia. Akhirnya, impiannya selama ini bisa sholat diimami suami sendiri terwujud sudah.
Usai sholat, Adnan memberikan tangannya kepada Anna untuk disalami. Dan tanpa menunda lagi, Anna pun segera menyambut uluran tangan Adnan.
Tanpa terduga oleh Anna, tangannya justru di tarik kuat oleh Adnan hingga ia jatuh dan mendarat tepat di atas pelukan suaminya itu.
Mata Anna membola, detak jantungnya meningkat pesat. Napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari jauh.
Adnan memandang Anna dengan tatapan dalam dan penuh makna. Lalu mulai menggerakkan jari telunjuknya membentuk garis lurus di wajah istrinya itu. Sehingga membuat perempuan bermata indah itu menelan ludah berat karena gugup.
"Mas ...."
"Eum?"
"Apa Mas menikahi ku karena cinta?" tanya Anna.
Adnan kembali terdiam. Hanya tangannya yang masih bergerak hingga membuka tali pengikat rukuh Anna.
Kini kepala Anna sudah tak lagi tertutup kain sholatnya. Memperlihatkan rambut panjang hitam dan lurus seperti rambut model iklan shampoo. Tatapannya masih menuntut, menunggu jawaban Adnan atas pertanyaan yang ia ajukan.
"Tentu saja, Anna. Mana mungkin aku mau menikahi mu, jika aku tidak mencintaimu."
Anna mengulum senyum malu. Mendapatkan pengakuan cinta dari orang yang dicintai memang sangat membahagiakan sekali. "Benarkah?"
"Kamu tidak percaya?" tanya Adnan balik.
"Percaya kok, Mas." Annisa mengangguk cepat.
"Ya sudah, aku mau mandi dulu. Mau siap-siap ke kantor." Adnan menepuk dua kali pipi Anna, lalu bangkit dan segera menuju kamar mandi.
Sedang Anna, ia hanya bisa melihat suaminya berlalu dengan senyum terpaksa.
Aku pikir dia akan mencium ku ....