"Pagi, Mas ...? Sarapan dulu." Anna meletakkan secangkir kopi dan roti di atas meja.
"Makasih, Anna ...." Adnan melempar senyum manis kepada istrinya.
Anna mengangguk pelan dan kembali berlalu ke dapur. Membersihkan nasi-nasi yang jatuh pada counter table dan mencuci peralatan masaknya tadi.
"Hari ini masuk shift apa, An?" tanya Adnan sembari mengunyah rotinya.
"Aku masih masuk pagi, Mas," jawab Anna tanpa menoleh ke arah belakang.
Adnan mengangguk sekali. "Cepat ya, Mas tunggu di depan," ucap Adnan seraya bangkit dan berlalu ke luar rumah.
Anna langsung terdiam setelah mendengar kata-kata Adnan. Kemudian ia menoleh cepat ke arah meja makan dan melihat suaminya sudah tak lagi ada di sana. Rasanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya, jika pagi ini ... Adnan mengajaknya untuk pergi bekerja bersama.
Tak menunda lagi, Anna pun segera membasuh tangan dan naik ke lantai atas. Mengganti pakaian serta memakai kerudungnya dengan cepat. Setelah selesai, ia pun langsung turun dan menuju ke teras.
"Maaf ya Mas, aku lama," ucap Anna saat masuk ke dalam mobil.
"Tidak apa-apa, Anna." Adnan kembali tersenyum lebar. Ia pun langsung menggerakkan kendaraan roda empat itu dan melaju menuju rumah sakit tempat Anna bekerja.
Selama perjalanan, Adnan hanya diam dengan pandangan lurus ke arah depan. Sedang Anna, ia terus mencuri-curi pandang melihat ke arah suaminya itu.
"Hmm ... Mas ...." Anna membuka percakapan saat mereka masih dalam perjalanan.
"Iya, ada apa?" tanya Adnan.
"Nanti malam, Mas mau makan apa? Biar aku siapin." Anna ingin mencoba keberuntungannya lagi. Melihat sikap Adnan pagi ini, ia berharap jika nanti malam adalah malam pertama untuk mereka.
"Eum ... makan apa ya? Apa saja yang kamu masak, aku pasti akan makan." Adnan lagi-lagi melempar senyum kepada Anna.
"Ya sudah, nanti pulang kerja, aku akan belanja dan masak untuk makan malam." Anna antusias.
"Terima kasih, ya ...?" Adnan kembali tersenyum.
Anna sangat bahagia melihat sikap Adnan sekarang. Ia berpikir jika suaminya itu sudah berubah, kembali kepada sifat aslinya yang seperti Anna kenal selama ini. Tutur katanya baik dan lembut, jauh dari sifat arogan dan kasar. Sebab seperti itulah yang Anna inginkan selama ini. Dan seperti itulah yang seharusnya seorang suami beri kepada istri.
Adnan sudah menghentikan mobilnya di depan rumah sakit. Anna pun segera membuka safety belt-nya dan akan segera turun. "Sampai nanti ya, Mas?" ucap Anna dengan tangan sudah berada pada handle pintu mobil.
"An ...." lirih Adnan.
Anna kembali menoleh. "Iya, Mas?"
Tanpa berkata apa-apa lagi, Adnan pun mengulurkan tangannya, meminta Anna untuk menyalami dirinya.
Anna tertegun sejenak. Setelah itu, ia pun segera menyambut uluran tangan suaminya dan mengecupnya sekali. "Aku duluan ya, Mas?" Anna tersenyum dan menarik tangannya karena akan turun.
Akan tetapi, pria itu justru menahannya dengan tidak melepas genggaman tangan Anna. "Kamu lupa sesuatu?" tanya Adnan sembari menaikkan kedua alisnya.
"Lupa?" tanya Anna tak mengerti.
"Iya ...."
Anna tertawan pelan. "Maaf Mas, tapi aku sungguh tidak ingat. Aku lupa apa ya Mas?" Anna benar-benar tidak tahu apa maksud suaminya itu.
Adnan maju dan mengecup sekali bibir Anna begitu saja. "Kamu lupa ini," bisik Adnan.
Anna bengong dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia langsung terdiam karena rasa tidak percaya dengan apa yang ia alami saat ini. Untuk pertama kalinya, seumur hidupnya, Adnan-suaminya, menciumnya dengan begitu lembut.
Anna tersenyum bahagia. Langsung menyentuh pipi pria itu dengan lembut dan tersenyum manis. "Sampai jumpa nanti ya, Mas?"
"Eum ...." Adnan membalas senyum Anna.
Usai pamit, Anna pun segera turun dan melambaikan tangannya kepada Adnan. Melepas kepergian sang suami dengan senyum manis yang merekah.
Namun ternyata, tanpa Anna ketahui, dari arah seberang jalan tempatnya berdiri, ada sepasang mata yang melihatnya berdiri.
Romeo Rayyanza, laki-laki itu menatapnya dengan tatapan pilu dan perasaan hati yang terluka parah. Tangannya mengepal, diikuti dengan mata yang berkaca-kaca. Dadanya panas, dan napasnya terasa sesak.
Romeo cemburu, sangat-sangat cemburu. Melihat wanita yang selama ini ia harapkan menjadi pendamping hidupnya, sekarang sudah menjadi milik pria lain. Ingin melupakan, tapi nyatanya Romeo tak bisa. Sebab semakin ia coba untuk mengenyahkan bayang-bayang Anna, semakin wanita itu menari-nari dalam pikirannya.
Aku mencintaimu, Anna ... tapi ku ikhlaskan kau bersama pilihan mu. Akan tetapi, jika suatu hari ku temukan ia menyakitimu, aku bersumpah, akan membawamu kembali ke dalam pelukanku.
.
.
Pukul empat sore, Anna berjalan keluar dari rumah sakit. Langkahnya terlihat pasti dengan senyum manis yang menghiasi wajah ayunya. Ia berniat mencari taksi karena akan pergi ke pasar untuk berbelanja, sebelum kembali ke rumah.
Malam ini, Anna akan membuat masakan yang spesial. Makanan yang terkenal di kampungnya dulu, nasi uduk dan ayam goreng dengan sambal yang enak.
"Hai Anna, apa kabar?" suara seseorang mengalihkan atensi Anna.
Perempuan itu pun langsung menoleh ke arah asal suara. "Romeo?" serunya
"Sudah lama ya, kita tidak bertemu?" tanya Romeo lagi.
Anna hanya diam dan langsung membuang muka, tidak mau melihat kepada pria yang dulu sangat tergila-gila kepadanya. Antara tidak suka atau memang karena tidak enak hati. Sebab sudah meninggalkan seseorang yang tulus seperti Romeo.
"Aku dengar kau sudah menikah. Selamat ya, An. Semoga kau bahagia selalu."
"Terima kasih," Anna tersenyum simpul.
"Tapi ... kita masih bisa berteman kan?" tanya pria berpakaian casual itu.
Anna menoleh perlahan. Kembali melihat kepada Romeo yang masih menatap dirinya lekat-lekat. "Kenapa kamu begitu keras kepala?" Tak menjawab pertanyaan Romeo, Anna justru bertanya balik.
"Astaga, An ... aku hanya ingin kita berteman."
"Tapi aku tidak mau, Yo. Aku ini sudah menikah, aku ini sekarang istri orang, tidak baik jika kita masih berhubungan."
"Apa silaturahmi dalam agama itu di larang ya?"
"Tidak! Tapi membatasi itu harus."
Romeo tertawan pelan. Iya hanya mengangguk-angguk kepala tanda mengerti. Ia tahu, Anna adalah perempuan yang baik, Sholeha, tahu agama. Tidak seperti pela-cur-pela-cur yang sering ia nikmati tubuhnya di kelab-kelab malam yang ada di luar sana.
"Ok, aku minta maaf. Mungkin selama ini aku sering membuatmu kesal dan marah. Sekarang ... kau sudah menjadi istri orang, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi ... jika suatu saat kau butuh bantuan ku, nomorku masih yang dulu."
Anna masih diam. Namun kepalanya terus saja berisik. Kata-kata Romeo, begitu menyentuh relung hatinya. Sudah ditolak dan di rendahkan berkali-kali, pria itu tetap memberikannya perhatian dan kepedulian.
"Kenapa kau hanya diam?"
"Jadi aku harus berkata apa?" Anna balik bertanya.
"Ya ... mana aku tahu. Mungkin kau bisa mengatakan 'terima kasih', atau 'iya'."
Anna memanyunkan bibirnya. Belum sempat menjawab, tiba-tiba saja suara klakson sebuah mobil terdengar begitu kencang dan panjang, membuat atensi Romeo dan Anna beralih.
Mobil itu adalah mobil Adnan. Melihat Anna dan Romeo berdiri dengan jarak yang cukup dekat, membuat pria berprofesi sebagai ASN itu tersulut emosi.
Brengsek!
Tanpa menunggu, ia langsung turun dari mobil dan berjalan cepat ke arah Anna dan Romeo. Wajahnya merah padam karena amarah yang membuncah. Emosinya tidak terkendalikan lagi.
"Mas Adnan?" Anna terkejut setengah mati saat melihat Adnan datang dengan raut wajah bengis dan tatapan tajam menikam.
"BADJINGAN!" teriak Adnan diikuti dengan melayangkan bogem mentah ke arah wajah Romeo.
Romeo pun terdorong ke belakang karena mendapatkan serangan spontanitas dari pria berseragam itu.
"Mas ...!" Anna berteriak shock. Tak ia duga, jika Adnan bisa memukul orang lain dengan begitu kuatnya.
"Jangan, sentuh, ISTRIKU!" teriak Adnan.
Romeo tersenyum miring. Dalam keadaan sudut bibir yang sudah berdarah dan lebam, bisa-bisanya pria tampan itu terlihat santai dan biasa saja.
"Slow, man. Aku cuma mau mengucapkan selamat atas pernikahan kalian, bukan ingin mengajak istrimu untuk berselingkuh!"
"k*****t!" Adnan kembali ingin menyerang Romeo, tapi Anna sudah lebih dulu menahannya.
"Mas ... sudah ... sudah Mas, malu dilihatin orang." Anna mencoba untuk melerai. Perhatian orang-orang yang ada di sekitaran rumah sakit pun tak terelakan lagi. Mereka bertiga sudah menjadi pusat perhatian dan tontonan khalayak ramai.
"Kau masih punya hubungan dengan laki-laki ini?" tanya Adnan dengan intonasi penuh penekanan.
Anna menggeleng. "Tidak, Mas. Tidak ...."
"Ayo pulang!" Adnan menarik kasar tangan Anna dan membawanya menuju mobil.
Sedang Romeo, ia terus memandang wanita yang dicintainya pergi dengan perasaan hati yang begitu sakit. Lebih-lebih, saat ia melihat cara Adnan memperlakukan Anna, jelas, Romeo tahu laki-laki seperti apa yang saat ini menjadi suami perempuan yang ia cintai itu.
Aku akan mencari tahu tentangmu, Anna. Pasti!