Mulai Bermain

1202 Kata
"Masuk!" perintah Adnan seraya menolak tubuh Anna saat mereka sudah berada di depan pintu rumah. "Mas ... kenapa sih?" Anna terlihat bingung. Seingatnya, ia tidak melakukan apa-apa dengan Romeo, kenapa Adnan bisa semarah itu? Adnan maju dan langsung mengapit dua pipi Anna dengan satu tangannya. Tatapan mata pria itu begitu mengerikan, tajam seperti elang yang siap menangkap mangsanya. Anna terkejut setengah mati. Tubuhnya sampai gemetaran mendapat tindakan kasar dari suaminya itu. "Mas ... sakit." "Kau masih bertanya kenapa? Sudah berbuat zina dengan pria lain masih tanya kenapa?!" Anna tersentak. " Zi—zina? Si—siapa yang berzina, Mas? A—aku hanya menunggu taksi dan dia datang. Aku tidak memanggilnya." Anna membela diri. "Alah, bohong! Dasar binal!" Maki Adnan. "Astaghfirullah, Mas ...." Anna menggeleng pelan. Air bening di sudut matanya tidak dapat menutupi kesedihannya. Dalam ketakutan, ia begitu terluka dan sakit hati, saat kata-kata yang keluar dari mulut suaminya itu, hanyalah umpatan dan hinaan atas dirinya. "Aku tidak mau tahu, pokoknya kau tidak boleh bertemu dia lagi. Kalau kau sampai melanggar perintahku, aku tidak akan segan-segan untuk memberimu pelajaran, lebih dari pada ini. Paham?!" bentak Adnan. Pria dewasa itu pun melepaskan pegangan tangannya dari wajah Anna dan menolaknya secara kasar. Seketika tubuh perempuan itu terjatuh ke bawah dengan perasaan hati yang hancur berantakan. Baru saja ia berbahagia atas perubahan sikap suaminya, kini semuanya sudah harus kembali seperti semula. Anna sungguh tidak mengerti, seperti apa sebenarnya suaminya itu. Ingin menduga-duga lagi, nyatanya ia terlalu takut dengan kenyataan yang ada. Sebab ia sempat berpikir, jika Adnan-suaminya, seperti pria dengan gejala psikopat akut. Anna kembali menangis sembari duduk menyangga pada tembok rumah. Rasanya kalau bisa ia berteriak, ingin ia menjerit sekuat-kuatnya. Melepaskan semua beban yang menghimpit seluruh jiwa dan raganya. Hanya saja, Anna masih berpikir untuk menyimpan aib rumah tangganya seorang diri. Bahkan tetangga-tetangganya tidak ada yang tahu seperti apa menderitanya ia sejak menjadi istri seorang Muhammad Adnan. Tak juga teman-temannya, apa lagi sang kakak, Annisa. "Kalau ada apa-apa, kasih tahu Mbak yo, Dek?" Kata-kata saudarinya itu kembali terngiang di memori ingatan Anna. Sempat berpikir untuk curhat kepada Annisa, nyatanya, Anna tidak sampai hati merusak kebahagian sang kakak yang saat ini berada jauh di negara luar sana. Lagi pula, Adnan adalah pria pilihannya sendiri, jadi dapat dikatakan, jika ia bertanggung jawab penuh atas pilihannya. Karena itulah, Anna tidak ingin orang lain terlibat dalam kisruh rumah tangganya bersama Adnan. "Agh ...!" Anna bangkit perlahan seraya memegang kepalanya. Mendadak merasakan pusing yang teramat di dalam otaknya. Barangkali ini tanda-tanda gejala stres yang mulai menyerang dirinya. Jelas saja, siapa yang tidak terguncang jiwanya mendapatkan suami seperti Adnan itu? Ping! Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Anna. Dia lalu merogoh tas sampingnya dengan cepat seraya melihat ke arah sekitar, takut, kalau-kalau Adnan kembali muncul dan mempermasalahkan ponselnya itu. "An, aku minta maaf soal tadi. Apa kau sudah tiba di rumah? Apa kau baik-baik saja, An?" tanya Romeo di pesan. Jari tangan yang sedang menggenggam ponsel itu, mendadak mengerat begitu saja. Rintik air lagi-lagi jatuh di wajah cantiknya, bersamaan dengan luka yang kembali menganga. Namun bukan Anna namanya, jika tidak pandai menutup derita. Tanpa menunda, ia pun segera membalas pesan Romeo. "Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir," tulisnya bohong. Romeo yang sudah kembali ke mini market pun membaca pesan singkat Anna dengan perasaan berbeda. Pria tampan itu masih belum bisa menepis prasangkanya jika Anna ternyata berbohong dan seperti menutupi keadaan. Dengan niatan ingin mencari tahu lebih jauh, Adnan pun bertekad untuk mengikuti Anna esok hari. Agar ia tahu, di mana perempuan berkerudung itu tinggal selama ini. Jika benar ada sesuatu yang buruk menimpa Anna, maka Romeo tidak akan tinggal diam. . . Tak jadi pergi berbelanja, Anna pun akhirnya membuat makanan yang sederhana saja. Selesai sholat Maghrib, ia sudah berjibaku di dapur guna memasak makan malam untuk Adnan. Meski dengan bahan seadanya, semangkuk sup isi sayur dan telur dadar bumbu selesai ia masak. Tak lupa Anna juga membuat lemon tea hangat berisi sereh dan irisan lemon segar untuk menghangatkan badan. Semua makanan sudah terhidang di atas meja makan. Anna sangat berharap, selesai makan perasaan marah suaminya dapat segera hilang dan mereka bisa melewati malam berdua layaknya suami-istri. Akan tetapi, apa yang Anna harapkan tak akan terjadi sama sekali. Sebab dari arah dapur, ia melihat Adnan menuruni anak tangga rumah mereka dengan penampilan yang begitu rapi. "Mas ... mau ke mana?" tanya Anna. Senyumnya mulai memudar perlahan. "Bukan urusanmu. Memangnya kalau suami mau keluar rumah, harus izin istri? Tidak kan? Kalau kau yang keluar rumah, baru ... harus atas izin dariku." Adnan kembali mengintimidasi Anna. Anna menarik napas dalam. "Ya ... tapi kan aku cuma nanyak, Mas. Masa bertanya saja tidak boleh?" Anna kembali kesal. Adnan tampak diam sejenak seraya melirik ke arah meja makan. "Aku mau makan di luar ...," jawabnya santai. "Loh, kok Mas tidak beri tahu aku kalau kita ak—" "'Kita'? Siapa juga yang mau ngajak kamu? Aku mau pergi sendiri, Anna." Adnan terdengar sangat lembut dalam mengucapkan kalimat yang menyakitkan itu. Hati Anna pecah berkeping mendengarnya. Sebab usahanya tak dihargai sedikit pun oleh Adnan. "Tapi, Mas ... aku sudah masak. Sayangkan, kalau tidak dimakan. Mubazir ...." Anna mencoba untuk membuat Adnan mengerti. "Mau bagaimana dong, An? Aku sudah janji dengan teman-temanku. Tidak enak kalau aku tidak menepati janji. Kamu kan tahu, janji itu adalah hutang." tutur Adnan sangat hati-hati. Anna mengepal erat jari tangannya. Mencoba untuk menstabilkan emosi meski di dalam sudah porak-poranda. Keterlaluan, hanya demi teman Adnan tega menolak makanan yang sudah susah payah ia buat. Apa salahnya, untuk mencicipi meski tidak banyak. Bukankah menghargai istri jauh lebih utama ketimbang bersama teman-teman? Namun, bukan Anna namanya, jika tidak pintar dalam memutar situasi. Dengan cepat ia berpikir untuk memberikan makanan-makanan tersebut kepada seseorang. Ya, seseorang. "Oh, ya sudah, Mas. Tapi ... aku boleh kan, beri makanan ini ke orang lain? Dari pada ke buang." Anna berkata dengan raut wajah manis. "Maksudmu, tetangga?" tanya Adnan. "Mungkin ... atau orang yang membutuhkan di luar sana," jelas Anna lagi. "Terserah ...." Adnan segera berlalu meninggalkan Anna yang masih berdiri seraya melihat sedih ke arahnya. Tak lama kemudian, deru mobil pun terdengar. Pertanda jika Adnan benar-benar sudah pergi meninggalkan rumah. Anna pun tak menunda lagi, dengan cepat, ia memasukkan makanan yang baru saja ia masak itu ke dalam rantang beserta nasinya. Setelah semua beres, ia pun kemudian naik ke lantai atas untuk mengganti pakai. Tidak lupa kerudung instan, agar lebih cepat dan praktis saat menggunakannya. Sesaat, Anna sudah berada di bawah lagi. Langsung mengambil rantang beserta kunci motor dan berjalan cepat ke arah luar. Segera menuju kepada motor matic-nya, duduk dan menyalakannya. Kini Anna sudah bergerak meninggalkan lokasi rumah Adnan dan sedang menuju ke suatu tempat untuk menemui seseorang. Seseorang yang ia rasa mau menerima masakan buatannya itu. Selang beberapa menit saja, ia sudah tiba di tempat tujuan. Anna pun segera membuka helm dan mengambil rantang makanannya. Kemudian berjalan masuk ke dalam sebuah mini market, yang bangunan depannya itu terbuat dari kaca transparan. Melihat Anna masuk, semua yang ada di dalam mini market tersebut melihat ke arahnya. Ia pun berdiri mematung di depan pintu seraya mengarahkan pandangan ke semua arah. Sesaat kemudian, seorang pria tampan datang menghampiri dan menyapanya. "Anna?" Anna pun mengangguk sekali seraya tersenyum manis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN