2 : Tak Terduga

1223 Kata
* Iqbaal pun menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran berlabel AN's Restaurant di gerbang utama pintu masuknya. "Udah sampai..!" seru Iqbaal. "Menderita banget, tau gak gue," gerutu Melody seraya menghela napas. Melody pun keluar dari mobil, saat ia membaca nama restoran itu wajahnya langsung pucat dan keringat dingin keluar dari tubuhnya. "Cepetan masuk, woy! Bengong aja!" kata Iqbaal. "I-iya," sahut Melody gugup. Sial! Kenapa Iqbaal malah ke restoran tante Agnes sih! Aduh, gue gak siap ketemu tante Agnes, gimana kalau dia belum tau kalau gue sama Alvin udah putus? Gue harus bilang apa? batin Melody cemas, kedua jemarinya meremas baju bagian depannya. Iqbaal dan Melody pun memasuki restoran itu, Melody melirik ke meja yang biasa digunakan untuk manager duduk, tidak ada orang yang ia cari disana, Melody bernapas lega. Melody dan Iqbaal memilih duduk di meja bernomor kosong tiga, Iqbaal pun memanggil seorang pelayan, kemudian pelayan itu memberikan buku menu pada mereka berdua. Iqbaal dan Melody masing-masing memperhatikan buku menu di depan mereka untuk memilih menu makanan yang akan mereka makan. "Saya pesan Nicoise Salad dan Steak, minumnya jus jeruk aja, mbak. Lo mau apa, Mel?" Iqbaal beralih menatap Melody. "Saya sama kayak dia aja, mbak, cuman minumnya Milkshake cokelat," sahut Melody. Pelayan itu mengangguk dan langsung berjalan meninggalkan Iqbaal dan Melody. Sementara menunggu makanan datang Iqbaal sibuk memainkan ponselnya. Sedangkan Melody, ia hanya terdiam kesal, selain perutnya sudah sangat lapar, ponselnya juga masih Iqbaal sita. "Ah, ngeselin," gumam Melody. Iqbaal pun berhenti menatap layar ponselnya, pandangannya beralih pada Melody. "Apaan yang nyeselin?" tanyanya polos. "Gak ada," sahut Melody ketus dan cuek, ia sedang malas untuk ribut dengan pria itu. Iqbaal hanya ber'oh' ria menanggapi kata-kata Melody dan kembali menatap layar ponselnya. Melody menompang dagunya dengan tangan, tak sengaja pandangan Melody beralih pada wajah tampan Iqbaal. ' Iqbaal ganteng juga, pikir Melody. Melody sedikit terkekeh. Ah, gantengan juga Alvin, batinnya lagi. Ia pun kembali terkekeh. Iqbaal menatap Melody dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan. "Kenapa lo?" Iqbaal menatap Melody heran. Merasa Iqbaal menatapnya dengan aneh sedari tadi Melody menghentikan kekehan anehnya itu. "Gak ada apa-apa, ah! Kepo banget sih," cibir Melody. "Stres!" cibir Iqbaal balik. Melody hanya memeletkan lidahnya. Beberapa waktu kemudian pesanan mereka telah datang. Iqbaal dan Melody langsung melahap hidangan itu. Ya, mereka sudah sangat lapar. Tanpa sengaja Melody melirik ke arah Iqbaal. "Baal, diem dulu deh..." Melody lalu mengambil selembar tisu, dan mengelap saus yang melekat disisi bibir pria itu. Iqbaal, pria ini merasakan hal yang tak wajar di dadanya. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup dengan sangat cepat tak seperti biasanya, ia pun memegang tangan Melody. "Gue bisa sendiri," katanya mengambil tisu itu dari tangan Melody. Melody hanya mengangguk, Iqbaal pun mengelap sendiri saus yang masih ada sedikit di bibirnya itu. Setelah selesai menyantap hidangan-hidangan itu Melody dan Iqbaal berdiri dari tempat duduk mereka. "Ehm, lo kemobil aja, gue mau bayar dulu," ujar Iqbaal. "Gue bayar sendiri aja, Baal. Gue bawa uang kok," tolak Melody. "Gak! Yang ngajak lo kesini itu gue dan lo sekarang tanggungan gue, jadi, lo gue yang bayarin!" tegas Iqbaal. Melody menghembuskan napasnya dan mengangguk, ia pun berjalan ke luar restoran. ** Hening Itulah suasana di mobil ini, entah kenapa Iqbaal menjadi canggung di dekat Melody dan Melody juga begitu, keduanya salah tingkah. "Ehm, lo mau jalan-jalan dulu?" Akhirnya Iqbaal dapat mengucapkan sebuah kalimat. Melody melirik kearah Iqbaal, ia menggigit bibir bawahnya, memikirkan apa yang harus ia jawab, pikirannya serasa kosong, satu kata pun berasa sulit ia ucapkan. "Ehm, terserah lo aja." Melody menghembuskan napas saat berhasil menjawab perkataan Iqbaal. Iqbaal pun tersenyum tipis dan lalu fokus kembali pada jalan raya. * Iqbaal menghentikan mobilnya di sebuah jalan yang cukup sepi dan rindang penuh dengan pohon-pohon besar. Mereka pun keluar dari mobil. "Ayo, Mel..!" Iqbaal menggamit jemari Melody, lalu menariknya lembut. Melody sedikit tersentak dan ia mulai merasa nyaman saat jemari Iqbaal menyentuh jemarinya. Iqbaal menghentikan langkahnya ketika mereka berdua berdiri didepan hamparan danau yang luas. "Kita ngapain kesini?" tanya Melody menatap Iqbaal, sesekali tatapannya beralih pada jemari mereka yang saling bertautan. Iqbaal menoleh pada Melody, "Menurut lo tempat ini gimana?" Bukannya menjawab, pria ini malah balik bertanya. Melody menarik napasnya dalam-dalam, menghirup udara di sekitarnya. "Sejuk dan nyaman," sahut Melody. "Gue biasa kesini buat nenangin diri gue, baik itu saat gue sedih atau pun bimbang," jelas Iqbaal. Melody menatap Iqbaal. "Saat lo tau kita dijodohin lo juga datang kesini?" tanya Melody. Entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas dibenak Melody. Iqbaal melepaskan genggaman jemarinya dari jemari Melody, ia menatap Melody sejenak, kemudian ia mengangguk pelan. Melody ber'oh' ria, kemudian mengalihkan pandangannya menatap air danau yang tenang. "Ayo kita duduk," ajak Iqbaal. Mereka pun duduk dibangku kayu bercat putih didepan danau yang luas ini. Keduanya hanya bungkam. "Lucu Vin, lagi-lagi." Iqbaal dan Melody lalu menoleh ke sumber suara, ternyata ada orang lain disini selain mereka. Terlihat seorang gadis dan pria yang sepertinya sedang mengambil gambar. Melody menyipitkan matanya, mencoba memperjelas pandangannya. "Alvin?" gumam Melody. Gadis dan pria yang tak jauh dari mereka itupun tanpa sengaja menoleh kearah Iqbaal dan Melody. Sang gadis tersenyum dan dengan kamera DSLR di genggamannya, ia berjalan mendekati mereka—Melody dan Iqbaal. "Hai Mel, lo inget gue kan? Yang ketemu di taman dan pas saat resepsi lo itu loh, inget kan? Oiya, nama gue Afrisa," kata gadis itu sambil tersenyum pada Melody. Melody membalas senyum gadis itu, "Ah, iya. Gue rasa lo udah tau nama gue," sahut Melody. Iqbaal hanya menatap datar pada Melody, entah mengapa ia merasa bahwa Melody sedang mati-matian menahan rasa sesak didadanya. "Iya, Alvin sering cerita tentang lo tau gak, terus gue juga mau jelasin sesuatu, sebenarnya gue sama Alvin—” "Udah tunangan," potong Alvin sambil menyilangkan tangannya dan Afrisa, lalu menggenggam erat jemari gadis itu. Melody tersenyum kaku. "Oh, jadi gitu? Selamat ya, moga kalian bahagia," ucap Melody lalu berlalu meninggalkan mereka. "Gue permisi, nyusul Melody ya." Iqbaal pun segera berlari meninggalkan mereka menyusul Melody. Afrisa pun tercengang. Ia melepaskan tangan Alvin dari tangannya. "Lo apa-apaan sih, Vin! Gue mau jelasin yang sebenarnya sama Melody! Biar dia gak negative thingking sama gue, gara-gara lo, dia sekarang pasti mikir, gue rebut lo dari dia," omel Afrisa kesal. "Sa, gue cinta sama Melody, tapi gue gak mau ngehancurin hubungannya sama suaminya,  jadi gue mohon saat kita ketemu Melody lo harus pura-pura jadi tunangan gue," pinta Alvin. Afrisa melunak, ia menatap sendu Alvin, lalu mengangguk kecil. Cuman pura-pura, Vin? Yang gue inginkan itu kebenaran, seandainya dari dulu lo milih gue, lo gak bakal sakit hati gini. Kapan sih lo peka? batin Afrisa. * Sementara itu Iqbaal terus mengejar Melody. Hujan pun datang menyapa bumi, seakan memahami perasaan Melody yang sedang bersedih. Melody tak menghiraukan hujan yang baru saja turun ini, ia terus berjalan menyusuri jalan danau yang penuh rumput ini. "Mel, tunggu!" Iqbaal meraih lengan Melody dan membalikkan tubuh Melody menghadapnya. "Lo kenapa?  Lo bisa sakit kalau jalan ditengah hujan gini," kata Iqbaal cemas. Melody tertunduk air matanya langsung mengalir keluar dari pelupuk matanya, ia sudah tak sanggup menahan air matanya. "Hati gue sakit, Baal. Lebih sakit dari apapun, hal yang gue takutin ternyata bener," lirih Melody terisak. 'bruk' Iqbaal segera mendekap tubuh Melody yang sudah mulai basah. "Gue ngerti perasaan lo, lo boleh nangis. Keluarin semua kesakitan hati lo, gue siap nemenin lo disini," kata Iqbaal. Melody merasakan hangatnya dekapan Iqbaal, ia terus terisak didepan dekapan pria itu. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN