Iqbaal memasuki rumah sambil membantu Melody berjalan, gadis itu sedikit menggigil kedinginan.
"Ya ampun! Lo berdua, ngapain hujan-hujanan kayak gitu?" tanya Salsha yang kebetulan lewat didepan mereka.
"Maaf kak, gue gak bisa jawab, gue mau bawa Melody keatas dulu," jawab Iqbaal.
Salsha melirik Melody yang menggigil dengan wajah pucat. "Yaudah gue bantu bawa Melody ke atas," ujar Salsha.Mereka berduapun memapah tubuh lemah Melody kekamar, Iqbaal dan Salsha merebahkan tubuh Melody di kasurnya.
"Kak, lo gantiin baju Melody, gue mau ganti baju di toilet bawah," ucap Iqbaal. Salsha hanya mengangguk.
Lima menit kemudian Salsha telah selesai menggantikan baju gadis itu. "Lo kenapa sih, Mel?" tanya Salsha sambil duduk di tepi kasur, Melody pun bangun dan langsung memeluk kakaknya itu.
"Gue sakit hati kak, ternyata Alvin udah tunangan sama cewek lain, gue gak sanggup, apa selama ini dia menghianati gue?" jawab Melody diiringi isakan.
Salsha pun membelai rambut adiknya. "Lo yang sabar Mel, gue tau lo masih sayang sama Alvin, tapi lo harus liat masa depan lo. Salsha melepaskan pelukan Melody dan menatap lekat-lekat mata adiknya.
“Iqbaal, coba lah mencintai dia, mungkin Tuhan menakdirkan lo sama Iqbaal," tegas Salsha.
"Tapi gue sama dia gak saling su—" Salsha meletakkan jari telunjuknya di bibir Melody.
"Dek, sekarang lo boleh gak cinta, siapa tau suatu saat kalian malah saling mencintai," sela Salsha.
Melody menghembuskan napas beratnya. "Entahlah." Ia pun berbaring kembali sambil menutup badannya dengan selimut. Salsha hanya tersenyum tipis melihat adiknya itu.
Ia pun berjalan keluar kamar. Salsha tersentak melihat Iqbaal berdiri di depan pintu.
"Kenapa gak masuk?" tanya Salsha.
Iqbaal hanya tersenyum tipis. "Gue gak mau ganggu kalian," sahut Iqbaal.
"Gue udah selesai bicara sama Melody, lo boleh masuk kok, Baal," ucap Salsha seraya pergi.
Iqbaal pun segera masuk kedalam kamar, ia memandang Melody yang berbaring di kasur membelakangi nya. "Lo tidur?" tanya Iqbaal hati-hati, Melody berbalik dan menggeleng pelan.
Iqbaal hanya mangut-mangut lalu duduk di sofa.
"Baal," panggil Melody pelan.
"Ya?" Iqbaal langsung menatap Melody.
"Lo percaya cinta?" tanya Melody sambil menggigit bibir bawahnya. "Percaya sih dikit, lo sendiri?" sahut Iqbaal balik bertanya.
"Percaya, tapi gue rasanya gak mau kenal cinta lagi," ucap Melody. Iqbaal hanya tersenyum hambar mendengar ucapan Melody itu.
Gue juga berpikir demikian, Mel. Gue gak ingin kenal cinta lagi, setiap gue inget kejadian itu hati gue serasa sakit, sangat ingin gue melupakan kejadian itu, batin Iqbaal.
Melody merasa aneh melihat Iqbaal yang tiba-tiba terdiam tanpa kata. Semenjak kejadian di danau tadi, mereka berdua tak banyak bicara. Tak seperti biasanya yang seperti Tom dan Jerry.
*
Pagi telah datang, Iqbaal, pria ini sedari tadi telah terbangun. Saat ini ia sedang berada di balkon sambil memandang ponsel Melody di tangannya.
"Gue penasaran sih sama pesan pacar—eh, mantannya Melody itu, apa gue bacain aja, ya?" gumam Iqbaal.
"Ah, itu privasi Melody, gue gak usah ikut campur." Iqbaal segera memasukkan kembali ponsel Melody kedalam kantong celananya.
Ia pun masuk kedalam kamar.
Saat dikamar, diliriknya Melody masih tertidur Ia pun tersenyum jahil lalu mendekat ke arah Melody.
"Kebakaran, kebakaran!" jerit Iqbaal.
Melody bangun dan terengah-engah karena terkejut, "Kebakaran? Apa? Apa yang hangus? Tidak!" seru Melody panik sambil turun dari kasur.
"Ngakak yaampun, mimpi lo yang hangus," ujar Iqbaal terbahak-bahak.Melody memandang Iqbaal dengan geram.
'Bugh' Gadis ini mengambil guling miliknya, lalu memukulkan gulingnya ke wajah Iqbaal.
“Wah, nantang nih?" Iqbaal pun mengambil salah satu guling lainnya dan membalas memukul Melody.
"Ntee...!” Tiba-tiba saja sebuah panggilan cadel nan imut itu terdengar di telinga Melody.
Melody menghentikan aktivitasnya memukul Iqbaal, ia pun menoleh ke arah pintu, "Ember tante!" Melodypun segera meninggalkan Iqbaal dan langsung memeluk gadis kecil itu.
"Ember?" Iqbaal menyeritkan dahinya dan mendekati Melody.
"Kamu udah besar ya, sayang? Udah bisa manggil tante!" Melody memandang gadis kecil itu dengan gemas.
"Mama celing celita cama aku entang, ante. Ante antik ya."
Melody terkekeh mendengar suara cadel nan menggemaskan dari gadis kecil itu. "Ah, masa? Tante gemes banget sayang sama kamu," ucap Melody. Gadis kecil itu hanya terkekeh geli.
"Hai, cantik," sapa Iqbaal tiba-tiba saja berada disamping Melody.
"Hai uga, uncle," sahut gadis kecil itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Iqbaal gemas.
"Ember," sela Melody, sementara gadis kecil itu hanya tersenyum lucu.
"Ha? Beneran Ember namanya?" tanya Iqbaal tak percaya.
"Enggak!" Tiba-tiba saja Salsha masuk kedalam kamar ini.
"Namanya Embryl, Baal. Si Melody doang manggil Ember," tambah Salsha.
"Yee, lu sih ngasih nama anak susah banget, lebih baik gue panggil Ember, simple dan mendekati tuh sama namanya," ucap Melody.
"Se-enak jidat lo! Lo kalau gue panggil bunga bangke, mau?" sewot Salsha. Melody hanya terkekeh.
"Nama gue gak ada nyangkutnya sama tuh Bunga Bangke. Iya ‘kan, sayang, kamu suka ‘kan tante panggil gitu?" ujar Melody menatap Embryl gemas.
"Iya, nte. Embey cuka," sahutnya.
"Nah, dia sendiri aja manggil namanya, Ember," ucap Melody.
"Ini gara-gara lo sih, gue sama Aldi susah tau nyari nama buat dia," omel Salsha.
Iqbaal hanya tertawa geli melihat kedua kakak-beradik itu, "Embryl ya nama kamu, kalau Uncle, Iqbaal" ucap Iqbaal.
"Uncle Baal, ganteng," ucap Embryl, Iqbaal hanya terkekeh.
"Gede rasa deh tuh, dibilang ganteng sama Ember," cibir Melody.
"Apaan sih lo! Ngikut-ngikut aja," ucap Iqbaal. Melody hanya memeletkan lidahnya.
"Oiya kak, sekarang suami lo, Kak Aldi mana?" tanya Melody.
"Aldi masih dirumah mertua gue, masih ada urusan sama Sepupunya tuh si Royan, dia disana kerepotan jagain Embryl jadi dia nganter Embryl kesini," jelas Salsha. Melody hanya mangut-mangut.
"Nte, kok elum mandi?" tanya Embryl. "Tante males, sayang," jawab Melody. "Ih ntee! Oma biyang kita tuh halus mandi pagi bial cegel dan gak bau, nte jolok," ucap Embryl.
Iqbaal terkikik, "Kasian deh lo, diceramahin anak kecil," ejek Iqbaal. "Eh, lo tuh nyar—”
"Udahlah ayo Embryl sayang, kita keluar aja, mamah pusing disini," Salsha menyela ucapan Melody, lalu keluar kamar sambil menggendong Embryl.
"Huh! Gara-gara lo, Embryl jadi dibawa pergi tuh," gerutu Iqbaal.
"Lah? Kan gara-gara lo, jadinya kak Salsha kesel tuh!" celetuk Melody tak mau kalah.
Terus saja beradu mulut, baru kemarin berbaik-baik, sekarang? Semua telah kembali menjadi dulu, dimana kericuhan selalu terjadi dikamar ini. Memang suami istri yang tidak dewasa.
*
"Di, cewek ini siapa?" tanya pria ini menunjuk seorang gadis di dalam foto yang terdapat di layar laptop yang sedang ia mainkan itu.
Pria ini menghentikan aktivitasnya dan berbalik ke arah pria yang sedang bertanya itu.
"Oh, itu! Itu adik ipar gue Yan, namanya Melody," jawab pria ini. Ya, kedua pria itu adalah Royan dan Aldi.
"Oh, namanya Melody. Cantik! Kayak orangnya," ujar Royan.
Aldi pun terkekeh, "Lo naksir dia, Yan?" tanya Aldi "Eng–gak tuh," sahut Royan terbata-bata.
"Di mulut sih enggak, tapi di hati lain tuh," goda Aldi. Royan menatap Aldi kesal.
"Sok tau lo," ucap Royan sambil mendengus.
"Gue bukan sok tau, tapi kalau gak naksir, gak mungkin lo liatin foto Melody terus di laptop gue," ucap Aldi.
"Kayak Sherlock Holmes aja lu! Iye iye kayaknya gue naksir," ucap Royan.
"Tapi lu telat! Dia udah kawin," sahut Aldi.
Royan terbelalak, "Ha? Masa? Dia masih muda dan lebih muda dari gue, kelihatannya, masa udah kawin? Gue aja belum. Apa sebenarnya umurnya 45 tahun? Dan dia udah punya 11 orang anak?" ujar Royan.
Aldi menatap Royan dengan ekspresi aneh, "Gak sejauh itu! Dia emang lebih muda dari lo, dia nikah muda, mertua gue jodohin dia sama anak temen nya,” jelas Aldi.
“—ganteng lho,Yan, baru beberapa hari yang lalu mereka nikah, makanya gue, Salsha, dan Embryl pulang ke Jakarta," sambung Aldi.
"Hancur harapan gue, jadi Salsha kemarin pergi ke resepsi pernikahan Melody dong? Lo tau darimana suaminya ganteng? Lo pernah ketemu? Bukannya lo kemarin gak dateng karena sibuk?" tanya Royan bertubi-tubi.
"Enggak sih, gue tau dari akun sosmednya, yang dikasih tau sama Salsha," jawab Aldi. "Apa namanya? Penasaran gue pengen tau orangnya," ucap Royan sambil membuka browser dilaptop yang ada dihadapannya.
"Eh, jangan make laptop gue! Entar gue dimarahin Salsha gara-gara kouta internetnya habis!" ucap Aldi merebut laptop itu dari pangkuan Royan.
"Pelit! Udahlah gue pake hape aja! Udah, apa namanya?" ujar Royan sambil mengeluarkan ponselnya.
“Mau yang apa? Twitter? f*******:? i********:? Atau apa?" tanya Aldi.
"f*******: dulu deh," sahut Royan.
"Namanya, Iqbaal Aldino Hermawan," ucap Aldi.
"Apaan tadi? Iqbaal Albino Hewan? Aneh bener namanya.” Royan membeo.
"Ah, kuping lo! Aldino Hermawan! b**o," ujar Aldi kesal atas kebodohan sepupunya ini.
"Tulisin nih tulisin," ujar Royan menyerahkan ponselnya ke Aldi. Aldi pun mengetik username f*******: Iqbaal di keypad ponsel milik Royan itu.
"Nih, udah," ucap Aldi sambil menyodorkan kembali ponsel milik Royan.
Dengan sigap Royan merebut ponsel itu, "Terimakasih, sepupuku. "Tanpa diduga, Royan mengecup pipi Aldi. Spontan Aldi mendorong Royan menjauh.
"Dasar gay, apa-apaan sih lo! Jijik tau!" Aldi mengusap-usap pipinya yang dicium oleh Royan itu.
Royan tertawa, "Entah kenapa akal sehat gue hilang," sahutnya. Aldi hanya memandang Royan dengan kesal.
"Oh, jadi ini yang namanya Iqbaal? Suaminya Melody?" ucap Royan.
"Iya, ganteng kan? Kalah saing lo," ejek Aldi. "Tak apa-apa! Wajah tak masalah!" sahut Royan percaya diri.
"Sok lu, curut," ucap Aldi terkekeh geli.
"Siapa tau bakal Melody naksir gue juga," ujar Royan. Aldi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
*
Melody, Salsha, Iqbaal dan Embryl sedang duduk di sofa sambil menatap kelayar televisi. Melody tengah asik menonton film itu sambil memakan snack yang ada didepannya.
Sesekali juga ia melirik ke arah Iqbaal yang sedang bercanda bersama Embryl. Ia pun memutar bola matanya kesal.
"Kok lo nyebelin sih, Baal?" kata Melody.
Iqbaal menatap Melody malas, "Nyebelin apaan sih, gajah?"
"Lo tuh! Ember main sama lo mulu! Jarang sama gue!" kata Melody kesal.
"Lah? Embrylnya juga yang mau main sama gue, lo tanya nih orangnya sendiri," sahut Iqbaal.
Melody menghembuskan napas beratnya. "Ember tante sayang, sini yuk sama tante aja," ucap Melody lembut.
"—jangan mau sama uncle 'Iqbaal' yang nyebelin," sambung Melody lagi sambil menekankan kata-katanya saat menyebut nama Iqbaal.
Iqbaal menatap Melody tajam.
"Gimana? Embryl mau gak?" tanya Iqbaal menatap Embryl yang sedang duduk dipangkuannya.
Embryl menggeleng lucu, "Engga, Embey gak mau ntee, Embey maunya main cama uncle ganteng," ucap gadis kecil itu manja sambil memeluk Iqbaal.
Salsha dan Iqbaal pun hanya terkekeh melihat sikap Embryl yang menggemaskan itu.
"Oke oke! Thanks!" Melody membalikan badannya dari pandangan Iqbaal sambil menyilangkan kedua tangannya didepan d**a.
"Ngambek ya comelku?" goda Salsha sambil mencubit pipi adik nya itu.
"Au ah!" Melody memanyunkan bibirnya. Salsha hanya menggelengkan kepalanya, detik berikutnya ia menatap layar ponsel nya dan langsung terlonjak kaget.
"Mel, coba liat!" seru Salsha.
"Apaan sih kak?" Melody pun berbalik dan menatap layar ponsel Salsha.
"What? Ini beneran kak? Dia mau balik?" tanya Melody berbinar. Salsha mengganguk senang. Kedua kakak beradik ini sangat terlihat senang. Iqbaal hanya memandang mereka dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
Sementara Embryl? Oh, dia sedang sibuk dengan games di ponsel pintar Iqbaal.
"Kenapa sih?" tanya Iqbaal heran.
Melody dan Salsha pun saling berpandangan. "Secret," sahut mereka bersamaan.
Kini giliran Iqbaal yang memanyunkan bibirnya.
"Yaudah kak. Ayo siap-siap buat jemput dia!" ucap Melody.
"Ayo! Sini Embryl ikut mamah!" ujar Salsha menggandeng malaikat kecilnya itu.
Iqbaal masih tidak paham dengan tingkah kakak beradik itu.
Melody beralih menatap Iqbaal, "Oiya, pak supir! Sekitar duapuluh lima menit lagi kita kembali! Jadi jangan kemana-mana," ucap Melody, lalu ia segera menaiki tangga dan menuju ke kamar.
"Dasar cewek gila!" desis Iqbaal dengan sedikit berteriak.
*
"Ngapain sih ketempat beginian?" tanya Iqbaal sambil memperhatikan sekitarnya. Mereka saat ini sedang berada di dalam bandara, Melody dan Salsha tampaknya sedang menunggu kedatangan seseorang disini.
"Lo liat aja nanti, jangan banyak tanya," omel Melody kesal. Salsha pun hanya mengangguk tanda meng'iya'kan ucapan Melody.
"Mel, itu dia!" seru Salsha menujuk seorang pria yang tengah melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Betul! Ayo kita samperin kak!" Melody, Salsha, dan Embryl yang ada dalam gendongan Salsha pun segera menghampiri pria itu.
"Siapa tuh?" gumam Iqbaal menyusul mereka.
"Sumpah kangen banget sama lo," ucap Melody sambil mendekap pria itu.
"Gue juga kangen sama kalian. Oiya Mel, kata tante lo nikah ya? Mana suami lo?" ucap Pria ini.
"Iya, ini suami gue," kata Melody sambil melirik Iqbaal malas.
Pria itu tersenyum, "Oh, lo suami Melody? Kenalin gue—”
*****
Tbc