*
"Hai kenalin gue Michael, bisa lo panggil Mike, gue temen kecilnya Melody," ujar pria itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Iqbaal.
"Gue Iqbaal," kata Iqbaal balas menjabat tangan pria itu.
Mike pun lalu memalingkan wajahnya kearah Melody.
"Mel, lo baik-baik aja 'kan disini?" tanya Mike.
Melody melemparkan senyumnya pada Mike. "Iya, baik kok," sahutnya
Iqbaal merasakan panas di d**a nya saat Melody dan Mike saling berpandangan.
Ya ampun Baal! kenapa tiba-tiba lo jadi ngerasa panas gini sih? Ingget Lo gak cinta sama Melody! Gak cinta! batin Iqbaal meyakinkan dirinya. Tapi ia tak dapat berbohong hatinya benar-benar terasa sakit dan panas.
"Udah ah, ayo pulang! Mamah pasti udah nunggu tuh dirumah," sela Salsha.
Iqbaal pun menghembuskan napas leganya karena ucapan Salsha itu membuat Mike dan Melody berhenti saling tatap.
Dengan kasar Iqbaal menggamit jemari Melody lalu nenggenggamnya erat dan ia pun kemudian menarik tangan Melody.
Melody mengerutkan dahinya. Ni anak kenapa sih? Aneh banget, batin gadis ini.
*
"Hallo tante," sapa Mike langsung memeluk seorang wanita paruh baya.
"Hei sayang, kamu makin ganteng ya," puji Sinta.
Mike hanya terkekeh, "Iya tante, terima kasih. Mamah kirim salam." Mike berujar ramah.
"Semuanya, aku kekamar ya," ucap Iqbaal dingin sambil berlalu pergi.
"Kenapa tuh si Iqbaal? Mel lo ikutin deh tuh suami lo," kata Salsha. Melody menghembuskan napasnya dan segera melangkah menaiki tangga.
"Kenapa ya adik ipar kamu, Sal?" ucap Sinta.
Salsha mengangkat kedua bahunya "Entah mah, masuk angin kali."
"Mungkin tuh," timpal Mike.
*
Iqbaal menghempaskan bokongnya diataa tempat tidur dengan lemas. Ia menarik napasnya dalam-dalam.
Apa bener gue cemburu liat Melody dan Mike? batin Iqbaal. Ia menghembuskan napasnya lalu memejamkan matanya sejenak.
"Lo kenapa sih?" Suara itu membuat Iqbaal tersentak dan langsung membuka matanya.
Ia pun menggelengkan kepalanya, "Everything is okay," jawab Iqbaal.
"Lo gak perlu bohong Baal," ujar Melody.
Iqbaal mendengus, "Iya deh iya! Mel, lo setuju kan, kalau lo gue ajak tinggal di rumah gue. Ya, pisah sama orangtua gitu," ucap Iqbaal.
"Lo kalau mau pisah, pisah aja sendiri. Ngapain ngajak gue?" ucap Melody terkekeh.
"Lha? Kan lo sekarang istri gue?"
Melody menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Iya juga ya? Ah, tapi gue gak mau!" jawab Melody tegas.
"Mel, Ini tuh biar kita mandiri, kan gak enak juga kalau tinggal disini terus, rasanya gue terkesan numpang sama mertua," ucap Iqbaal.
"Gue gak mau ninggalin mamah! Okay?" Melody segera keluar kamar.
Iqbaal menghembuskan napasnya dan menjambak kesal rambutnya. Sesuatu tiba-tiba terlintas dikepalanya, ia pun kemudian tersenyum miring.
"Lo gak bakal bisa nolak, Mel," gumam Iqbaal.
"Gue gak rela lo deket-deket sama Mike," geram Iqbaal, kedua tangannya mengepal.
**
"Apa? Jadi papah sama Mamah manggil aku dan ngomong bertiga gini cuman buat ngomongin itu?" ucap Melody.
Sinta pun mendekati Melody, lalu memegang pundak anak gadis nya itu.
"Sayang, kamu udah dewasa, udah menikah. Jadi, tugas kami menjaga kamu itu udah selesai, sekarang yang bertugas menjaga kamu adalah suami kamu," ucap Sinta.
"Iya sayang, walaupun kami juga tidak ingin berpisah sama kamu, tapi kamu harus nurut sama suami. Itu baru istri yang baik," ucap Afri—ayah Melody, angkat bicara.
Melody hanya terdiam sambil menunduk.
*
MELODY
Gila! Aku kesel banget! Bisa-bisanya itu cowok rese minta ke Mamah dan Papah buat bujuk aku tinggal sama dia. Dengan sangat terpaksa, aku setuju buat ikut Iqbaal.
Agh, sumpah! Bisa-bisa nanti dia jadiin aku pembantu dirumahnya itu.
Aaa, aku gak mau!
Udah, lah. Daripada aku mikir yang enggak-enggak, mending aku ke kamar aja, pengen tidur aja! Soalnya aku bangun percuma! Semua ngeselin.
Aku pun langsung berjalan menaiki tangga dan menuju kamar.
'cklek'
Baru saja masuk kamar, aku dikejutkan dengan keadaan kamarku sekarang.
"Hei! Lo ngapain?" tanyaku pada pria yang sedang berada di depan lemari itu, siapa lagi kalau bukan manusia ngeselin itu—Iqbaal.
"Lo buta? Gue ngeberesin barang-barang lah," sahutnya nya cuek sambil terus melanjutkan aktifitasnya memasukan beberapa barang ke koper.
Nyebelin amat coba!
"Iya gue tau, tapi maksud lo apa?" tanyaku lagi memandang nya dengan tatapan geram.
Ia pun balas menatapku dengan malas, ck! Nyebelin!
"Hari ini kan lo bakal ikut gue pindah," jawabnya santai.
WHAT?! Demi apa? Hari ini? Gila!
"Lo gila! Masa hari ini?!" ucap ku semakin geram.
"Ck! Jangan banyak bacot! Mending lo bantuin gue. Inget gue suami lo, lo harus patuh sama gue," tegasnya.
Weh, enteng banget tu mulut ngomong! Ya, mau gak mau aku harus nurut sama suami yang nyebelin ini.
Tapi ini 'terpaksa'
Inget gue bantunya pakai tanda kutip.
AUTHOR
Melody pun dengan terpaksa membantu Iqbaal membereskan barang-barang mereka.
"Oke, semua udah selesai, sekarang lo bantu gue ngangkat semua koper ke mobil," ucap Iqbaal.
"What?! Hei gue ini cew—"
Iqbaal meletakkan jari telunjuk dibibir Melody, "Patuh sama s-u-a-m-i," ucap Iqbaal sambil menekankan dan mengejakan kata 'suami'. Melody pun berdecak kesal.
Melody dan Iqbaal mengangkat satu persatu koper yang berisi barang-barang mereka.
"Ada yang bisa gue bantu?" ucap pria ini ramah ketika tanpa sengaja mereka berpapasan
"Mike. Iya, lo bisa ban—"
"Gak! Kita berdua aja bisa kok ngangkat semua nya." Lagi lagi Iqbaal menyela ucapan Melody, dan itu membuat Melody sangat geram.
"Ayo sayang, nanti keburu sore," ucap Iqbaal dengan sengaja.
"Sorry ya, Mike," ucap Melody mengikuti Iqbaal. Mike hanya mengangguk dan menunjukkan fakesmilenya.
*
Di dalam mobil ini, Melody menyilangkan kedua tangannya di d**a nya. Ia terus mengumpat Iqbaal di dalam hatinya.
"Ngapain sih lo komat kamit gitu? Baca mantra?" tanya pria ini sambil tetap fokus ke jalan raya di depan sana.
Melody berdecak, "Ck! Jadi manusia kepo amat," ucap Melody.
"Whatever, lagian bukan urusan gue juga lo mau ngapain kek," ucap Iqbaal.
Saat ini Melody sungguh geram pada Iqbaal, seandainya ia tak ada di dalam mobil ini, ia pasti sudah menggulung mobil ini ke jurang.
*
Iqbaal memberhentikan mobilnya dihalaman depan rumah mewah yang tentunya besar ini.
"Kita udah sampai," ucap Iqbaal sambil melepaskan sabuk pengaman.
Melody melakukan hal yang sama, ?mereka berduapun kemudian keluar dari mobil ini.
Melody memandang rumah di depannya dengan kagum.
"Berapa banyak uang yang Bunda sama Ayah keluarin buat bikinin lo rumah ini? Rumah ini lebih besar dari rumah gue," ucap Melody.
"Lo bilang berapa banyak uang yang dikeluarin Ayah sama bunda?" Iqbaal membeo.
Melody mengangguk, "Iya,emang kenapa?"
Iqbaal hanya menggelengkan kepalanya "Nol persen, gue beli rumah ini dengan uang sendiri lah," sahut Iqbaal sambil melangkah ke dalam rumah.
"Apa? Lo serius?" ucap Melody mensejajarkan langkahnya dengan Iqbaal.
"Bi, bawain semua barang diluar ke dalam ya," bukannya menjawab pertanyaan Melody, Iqbaal malah menyuruh asisten rumah tangganya untuk membawakan barang mereka. Ia pun segera menaiki tangga dan meninggalkan Melody.
Melody merasakan emosi nya sudah sangat memuncak
"Agh! Seandainya gue bukan istri cowok rese itu! Gue pasti udah ngebunuh dia," gumam Melody kesal.
Ia pun menaiki tangga dan menuju kekamar yang Iqbaal masuki tadi.
'cklek' Melody masuk kedalam kamar ini
Mata Melody membulat melihat Iqbaal yang sedang telanjang d**a memamerkan otot perutnya yang terbentuk sempurna.
Melody pun menjerit dan segera menutup mata dengan kedua telapak tangannya.
"Iqbaal! Lo kalau mau buka baju di kamar mandi dong!" jerit Melody.
"Lo nya aja yang b**o, gue udah nutup pintu, lo main masuk aja," ucap Iqbaal santai.
"Udahlah, sekarang buruan pakai baju lo!" ucap Melody dengan masih menutup mata dengan telapak tangannya.
"Gue udah pakai baju," ucap Iqbaal.
Melody pun dengan perlahan membuka matanya, "Gitu dong," ucap Melody sambil duduk di sofa yang berada di kamar ini.
Iqbaal pun segera berbaring ke kasur, "Karna ini rumah gue, jadi gantian. Gue tidur di Kasur, dan lo di sofa itu," ucap Iqbaal.
Melody membelalakan kedua bola matanya.
"What? Lo serius?"
MELODY
Ini bener-bener gak bener! Masa, aku cewek tidur di sofa? Oh tidak!
"Iyalah, gue serius," ucap pria itu cuek. Sumpah ini keterlaluan banget!
"Apa gak ada tawaran lain?" ucapku, aku sangat gak terima cewek kayak aku tidur di sofa saat dirumah suaminya. Harus nya cowok dong yang ngalah! Iya kan?
"Emangnya lo mau kita tidur berdua?" ucapnya menatap ku.
"Ya, eng-gak sih," sahutku pelan.
"Yaudah, lo disitu aja," ucapnya
"Ehm, gue tidur di kamar lain aja ya? Ada kan?" ucapku ingin keluar dari kamar ini.
"Sayangnya semua kunci kamar ada sama gue."
Aku menghentikan langkahku dan menghela napas kesal. Sialan! Dia sengaja nyiksa aku.
"Baal! Please! Jangan siksa gue kayak gini dong! Sini salah satu kunci kamarnya," ucapku pada cowok yang super duper nyebelin ini.
Cewek mana coba yang gak kesel di perlakukan begini?
"Pokoknya gue mau malam ini lo tidur di sofa itu!" tegas Iqbaal.
Ya tuhan, ini orang minta aku cakar-cakar emang.
"Baal," lirihku dengan puppy eyes.
'bruk'
Bukannya kasian Iqbaal malah melempar kan bantal ke wajah ku. Ada gak sih cowok sekejam dia? Kayaknya cuman dia yang paling kejam dan nyebelin!
"Itu bantal buat lo! Dan kalau lo mau guling sama selimut ambil sendiri nih," ucap nya.
Aku beneran kesal. Aku pun mengambil guling dan selimut itu dengan kasar.
"Sopan dikit kali! Lo numpang disini,"
Kata-kata itu! Sangat membuatku geram. Numpang? Aku kan istrinya! Masa numpang? Yang ngajak kesini siapa coba?! Sumpah aku kesal banget.
"Terserah!" ucapku sambil berjalan menuju sofa. Sialnya, dengan cueknya pria itu membalikkan badannya dari hadapanku.
Agh, rasanya dia pengen kumutilasi! Ya Tuhan, terpaksa malam ini aku tidur di sofa ini. Huaa Mamah! Kenapa Mamah nikahin aku sama cowok nyebelin ini.
*