AUTHOR
"Aaaaa!!" Melody menjerit dan segera mendorong pria yang berbaring di depannya sekuat tenaga, alhasil dorongan itu membuat pria itu terjatuh dari atas ranjang ini.
Baru saja ia membuka mata tadi, di depannya ia melihat seorang pria tertidur pula, terlebih Melody sedang memeluk erat pria tersebut.
"Apaan sih lo! Pagi-pagi berisik amat! Pake dorong gue segala!" ucap pria ini kembali naik ke atas ranjang.
"Lo ngapain gue tadi malem?!" uap Melody tajam sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
"Hei! Gue gak ngapa-ngapain lo! Gue cuman kasian sama lo, jadi terpaksa gue mindahin lo tidur disini, tapi lo tenang aja, gue beneran gak ngelakuin apapun sama lo. Ogah gua ngapain-ngapain lo, baju lo aja masih lengkap kok, gaada yang gue buka," ucap Iqbaal santai.
Melody merasakan wajahnya memanas, pasti wajahnya sudah merah padam sekarang.
"Gak ngelakuin apapun? Itu tadi lo meluk gue," ucap Melody.
Iqbaal mendekatkan wajahnya ke wajah Melody, "Bukannya elo yang meluk gue?" ucapnya tersenyum miring.
Kenapa Melody begitu bodoh? Ia tak sadar kalau dirinya lah yang memeluk pria itu, sekarang ia menjadi merasa terpojok
"Udahlah! Gue mau mandi," ucap Melody sedikit mendorong Iqbaal kemudian menuruni ranjang ini dan mengambil handuk serta baju, lalu kemudian masuk kedalam kamar mandi.
"Gadis aneh," ucap Iqbaal.
*
Melody, gadis ini saat ini tengah duduk di depan meja rias ini sambil merias wajah nya agar terlihat semakin mempesona.
Sedangkan pria ini sedari tadi hanya duduk di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Ia pun kemudian melirik ke arah Melody yang tengah merias wajahnya, dan ia memutar bola matanya kesal.
"Udah sepuluh menit lo duduk disitu dan gak kelar-kelar juga, biarpun gak dandan lo cantik kok gajah," ucap pria ini tanpa sadar.
Melody berpaling dan menatap Iqbaal dengan bingung.
'Bodoh!' batin Iqbaal memaki dirinya sendiri.
Melody pun berdiri dan berjalan menuju Iqbaal.
'Dia pasti ingin ngejek gue,' batin Iqbaal lagi.
"Baal, gue mau ke kampus dulu ya. O, iya, mobil gue udah dianter kesini, kan?" Tanpa Iqbaal sangka ternyata gadis itu hanya ingin berpamitan padanya.
Iqbaal hanya terdiam dan mengangguk. Melody sedikit tersenyum lalu berjalan hendak keluar kamar.
"Mel, tunggu!" Melody pun kembali berpaling ke arah Iqbaal.
"Apa lagi?" ucapnya cuek.
"Sini dulu tas lo!" ucap Iqbaal.
"Buat apa?" Melody semakin bingung dengan tingkah Iqbaal.
"Udah sini!" Tanpa permisi, Iqbaal merebut tas tangan milik Melody.
"Ngapain sih?" ucap Melody kesal.
"Mobil, uang, kartu kredit, dan semua fasilitas mewah lo gue sita," ucap Iqbaal sambil mengambil semua kartu kredit dan uang milik Melody.
"What?!" ucap Melody sangat terkejut.
"Nih tas lo!" ucap Iqbaal melemparkan tas tangan yang hanya berisi alat make-up dan sedikit buku itu pada Melody.
"Lo gila? Gue nanti kalau mau beli sesuatu gimana! Hp gua juga udah lo sita, masih belum puas lo?" ucap Melody.
"Nih uang," ucap Iqbaal sambil meletakkan uang senilai lima puluh ribu rupiah di telapak tangan Melody.
Melody membulatkan bola matanya, "Lo gila, Baal? Lima puluh ribu kalau naik taksi dari sini ke kampus bisa langsung abis atau kurang malah! Entar gue kalau mau beli makanan di kampus gimana? Kan belum sarapan!" ucap Melody.
"Jangan naik taksi, naik yang murah-murah aja. Misalnya, Bajaj, angkot, atau ojek," ucap Iqbaal santai.
Melody pun hanya menghentakkan kaki nya kesal lalu segera keluar dari kamar ini. Ya, ia lebih memilih mengalah, karena percuma menentang keputusan Iqbaal.
*
Gadis ini menghela napasnya. "Iqbaal emang gila banget, mana nih angkot atau apapun gak ada yang lewat! Agh, bisa telat gue!" ucap Melody sambil terus berjalan ditrotoar jalan ini.
Tiba-tiba sebuah mobil sport berhenti disamping Melody dan kaca mobil itu terbuka. Melody menatap heran pada mobil itu.
"Hai, Melody 'kan?" ucap seorang Pria dari dalam mobil itu pada Melody.
Melody menyeritkan keningnya, "Emang kita saling kenal?" ucap Melody.
Pria itu hanya terkekeh, "Udahlah masuk aja dulu, gue yakin lo butuh tumpangan."
Tanpa berpikir lebih jauh, Melody pun masuk ke mobil itu dan pria itu melajukan mobilnya.
"Lo siapa sih?" ucap Melody.
Pria itu kembali terkekeh, "Lo telat mikir juga ya, pas udah didalam mobil, baru nanya gue siapa, siapa tau gue mau nyulik lo."
"Ck! Gue serius nih, bener sih gue telat mikir, tapi lo keliatan nya orang baik aja gitu. Jadi, gue tanya lagi, lo siapa?" ucap Melody.
"Lo coba inget deh, siapa kakak kelas yang dulu saat lo SMA suka banget bikin lo kesel." Melody berpikir sejenak.
Ia kemudian terbelalak, "Ha? Lo Kak Bryan Domani?" ucap Melody.
"Akhirnya lo inget juga, udahlah jangan manggil kakak," ucap pria yang di ketahui bernama Bryan ini.
"Sumpah gak percaya banget. Lo masih ngenalin gue?" ucap Melody
"Iya dong, lo aja yang gak inget sama gue. Dasar, nenek pikun," ucap Bryan terkekeh.
"Ih! Lo mah masih kayak dulu," ucap Melody mengerucutkan bibirnya.
"O,iya, Mel lo tadi kok jalan kaki?Apa lo sekarang miskin?" ucap Bryan.
"Iya! Semenjak nikah sama tu cowok gue jadi miskin, padahal mamah papah dan dia tuh kaya, tapi gue di paksa miskin, semua fasilitas gue disita," ucap Melody kesal.
"Nikah? Lo udah nikah?" Bryan terkejut bukan main.
Melody membuang napas beratnya, "Iya, beberapa hari yang lalu," ucap Melody.
Bryan hanya tersenyum, "Kayaknya suami lo ingin lo gak boros deh, jadi dia nyita fasilitas lo, dia sayang banget ya sama lo," ucap Bryan.
"Sayang? Hello, Bryan! Dia tuh sengaja nyiksa gue! Gue sama dia tuh nikah karna dijodohin," ucap Melody.
"Ha? Dijodohin? Ya ampun kasian amat lo Mel," ucap Bryan tertawa geli.
"Iya, kasian banget," ucap Melody.
"Ternyata murid baru yang gue hukum waktu MOS dulu kisah cintanya di masa depan begini," ucap Bryan terkekeh.
"Ih lo mah! O, iya lo sekarang udah punya pasangan?" ucap Melody. Ucapan gadis itu membuat Bryan terdiam.
"Jangan ngebahas itu ya?" pinta pria ini.
Melody hanya mengangguk, dan merasa bingung dengan sikap Bryan, ada apa dengan pria ini?
"Seandainya gue datang lebih awal ya, Mel?" gumam Bryan.
"Ha? Lo ngomong apa?" tanya Melody.
Bryan terkekeh, "Udah, gak penting," sahutnya.
*
"Makasih ya," ucap Melody sambil turun dari mobil Bryan.
"Iya, sama-sama. Yaudah gue mau kekantor ya, bye," ucap Bryan.
"Bye juga," ucap Melody melambaikan tangannya.
Bryan tersenyum dan segera menjalankan mobilnya.
Melody pun berjalan memasuki area universitas ini. Ia merasa seperti sudah bertahun-tahun tidak menginjak kampus ini.
'bruk'
Tiba-tiba saja ia menabrak seseorang.
"Duh, maaf," ucap Melody.
"Melody," ucap orang itu.
Melody pun merasa familier dengan suara itu danmenatap wajah orang tersebut, "Alvin," lirih nya.
Ini seperti déjà-vu beberapa tahun lalu, saat ia pertama kali bertemu dengan Alvin.
Air mata Melody hampir menetes ketika mengingat semua itu dan melihat pria yang berdiri di depannya ini.
"Iya, gak apa-apa," ucap Pria ini dingin dan segera berlalu.
Melody hanya memandang punggung pria itu yang kini mulai menjauh.
Bedanya, saat dulu mereka saling bertatapan dan salah tingkah, lalu berkenalan. Sekarang? Mereka seperti tidak pernah mengenal.
Melody menyapu air mata yang mulai membasahi pipinya, dan ia segera mempercepat langkahnya menuju kelas.
*
Gadis ini meletakkan tas tangan nya diatas meja ini dengan sangat kasar dan ia pun menghembuskan nafas beratnya. Ya, itu adalah Melody. Kedua gadis di samping nya berpaling ke arah nya dan menatap gadis ini dengan tatapan rindu.
"Mel, lo udah masuk kuliah lagi!" ucap gadis berambut pirang ini sambil memeluk Melody.
"Iya Mel, kangen banget tau!" ucap gadis lainnya ikut memeluk Melody.
"Stef, Bel! Sesak tau!" ucap Melody mendorong kedua sahabatnya ini, Steffi dan Bella.
"Galak amat sih lo. Lagi pms ya?" ucap gadis ini, Bella.
"Gila lo bel! Melody kan baru aja nikah masa pms," ucap Steffi.
"O, iya, gue lupa," ucap Bella terkekeh.
Melody hanya memandang aneh kepada kedua gadis ini.
"Lo berdua gak ada yang bener!" ucap Melody.
"Maksud lo?" ucap Steffi dan Bella serentak.
Melody pun menghela napasnya, "Gue gak lagi pms dan gue juga masih perawan!" tegas Melody.
"APA?!" Kedua gadis ini sangat terkejut.
"Gimana bisa?" ucap Bella.
"Ya, bisa lah!" ucap Melody.
"Lo gak pernah gitu-gitu sama dia?" ucap Steffi.
"Gak, ogah," sahut Melody singkat.
"Apa? Emang nya suami lo gak nafsu liat lo?" ucap Bella.
"Ih kalian berdua! Stop deh! Jijik gue dengernya. Gue kan sama dia gak saling suka makanya kita gak pernah lakuin itu, tidur aja pisah. Ya, walaupun tadi malem sempat satu ranjang," ucap Melody.
"Gak saling suka tapi tadi malem satu ranjang?" tanya Steffi bingung.
Melody menghela napasnya, "Jadi gini, kan gue udah pindah ngikut dia ke rumahnya, jadi dia balas dendam tuh sama gue, gue disuruh tidur di sofa, kan gila tuh. Terus tiba-tiba saat gue bangun tadi pagi gue ada di kasur dan lagi meluk dia! Ya ampun untung dia gak ngapa-ngapain gue, dia katanya agak kasian gitu liat gue di sofa," jelas Melody.
"Duuh, so sweet," jerit Bella.
"So sweet, ndas mu!" semrpot Melody.
"Bener loh Mel! dia tuh so sweet, buktinya dia peduli sama lo, jangan-jangan dia mulai naksir sama lo," tebak Steffi.
"Ngelantur deh lo! Gak! Dia cuman sebatas kasian sama gue! Buktinya dia nyita semua fasilitas gue kecuali baju, dan dia ngasih gue uang sehari cuman lima puluh ribu! Bayangin coba!" ucap Melody.
"Iya sih, keterlaluan, lima puluh ribu? terus tadi lo berangkat naik angkot gitu? Atau lo jalan kaki?" ucap Bella.
"Enggak sih, untungnya tadi pagi gue ketemu sama Bryan," ucap Melody.
"Bryan? Maksud lo Bryan Domani kakak kelas kita waktu SMA? Yang dulu nya ketua OSIS itu?" ucap Steffi.
"Yang ganteng itu?" timpal Bella.
"Iya! Kaget 'kan lo pada?" ucap Melody terkekeh.
"Kak Bryan yang gue taksir dulu? Kak Bryan yang dulu waktu MOS sering ngehukum kita bertiga?" ucap Bella.
"Iya Bella. Hm, btw kira-kira kalau lo ketemu lagi, naksir gak?" ucap Melody.
"Ya gimana ya, kan gue udah ada Fenly," ucap Bella.
"Aih, bener juga ya," sahut Melody.
"Lo inget gak Mel? Waktu kak Bryan nembak lo di depan semua murid dan lo nolak dia,"cap Steffi.
Melody terdiam dan kemudian terkekeh.
"Iya inget. Aduh sumpah saat itu gue kasihan banget sih sama dia, apalagi saat itu kita baru kelas sepuluh sedangkan dia kelas duabelas, gue agak takut sih sebenarnya," ucap Melody.
"Iya, dan lo berdua inget gak gue hampir mau nyebur ke danau gara-gara liat itu," ucap Bella terkekeh.
"O, iya! Ingat, gue ingat!" jerit Steffi terbahak.
"Kita konyol amat ya waktu SMA," ucap Melody.
Ketiga gadis ini pun asik berbincang-bincang dan sesekali tertawa.
"Aduh temen-temen! Gue baru inget kalau belum sarapan," ucap Melody sambil mengelus perutnya.
"Lo laper?" ucap Steffi.
Melody hanya tersenyum sambil menunjukkan deretan rapi gigi putihnya.
Bella berdecak, "Ck, kode lo basi Mel, kenapa gak bilang dari awal kalau laper? Ayolah ke kantin, gue juga laper," ucap Bella.
"Tapi traktir ya," ucap Melody sambil memelas.
"Ck! Iya iya bawel," ucap Steffi.
"Maacih," ucap Melody merangkul kedua sahabatnya.
"Udah ah, ayo!" ucap Bella menarik kedua sahabatnya.
Ketiga gadis ini pun segera menuju kantin.
*
"Apa? Jadi, lo tadi nabrak Alvin?" tanya Bella sambil meminum Milkshake nya.
"-dan itu mirip kejadian waktu pertama kalian kenal, kan?" tanya Steffi.
"Iya, rasanya tuh déjà-vu banget," ucap Melody lemas.
"Sabar ya beib," ucap Steffi.
"Iya," ucap Melody lagi.
"Sejak kapan ya Alvin tunangan? Kok kita gak lernah tau," gumam Bella.
"Ya, jelas kita gak tau lah Bel, kan gue pacaran sama dia, mana mungkin dia ngasih tau kalau udah tunangan," ucap Melody mengaduk-aduk Milkshake miliknya.
"Terus ceweknya itu, lo kenal?" tanya Steffi.
"Baru kenal kemarin sih, namanya Afrisa,"
"—udahlah, gak usah ngomongin dia lagi," ucap Melody bete, ia mendesah kesal.
"Haduh, pucing deh pala belbi liat kisah cinta lu," ucap Bella.
"Jiah, sok Barbie lo," ucap Melody.
"Lha? Emang kan? Secara gue cantik, putih, imut, kayak barbie lah pokoknya," ucap Bella.
"Lo tuh bukan Barbie! Tapi Anabelle," timpal Steffi terkekeh.
"Jahat banget sih lu, Stef," ucap Bella memasang ekspresi sedih.
"Bener lho, Bel. Nama lo kan Bella jadi bukan boneka Anabelle tapi Anabella," ucap Melody.
"Iya, tapi parasnya tetep aja Anabelle," ucap Steffi.
"Ih! Biarin deh gue Anabelle, lo berdua Chucky!" ucap Bella.
"Maksud lo, Chuckynya tuh disini?" ucap Steffi sambil menepuk dadanya.
"Itu sakitnya tuh disini, Stef," ucap Melody.
"Gersek lu berdua," ucap Bella mengerucutkan bibirnya.
"Lha? Kita mah ketularan lo. Iya kan, Mel?" ucap Steffi menyenggol bahu Melody.
"Iya, Stef," sahut Melody terkekeh.
"Tau ah!" Bella semakin mengerucutkan bibirnya.
"Ih, Anabelle ngambek," ucap Melody gemas.
"Lo moyong-moyong gitu, bibir lo ntar dower lho, Bel," ucap Steffi terkekeh.
"Ih! Tadi Anabelle sekarang dower. Sedih deh barbie," keluh Bella.
Ketiga gadis ini pun tertawa atas tingkah konyol mereka.
Tiba-tiba-
'Byur'
Sebuah cairan berwarna cokelat dan rasanya manis-Milkshake- mendarat mulus diatas kepala Melody dan mengaliri rambut gadia itu.
"Ouw, sorry gak sengaja," ucap gadis ini, kedua gadis yang lain pun hanya tertawa.
Melody, Bella dan Steffi pun langsung berdiri dan menatap ketiga gadis didepannya dengan tatapan marah.
"Eh! Lo sengaja ya?" ucap Bella.
"Eh! Lo tuli ya? Kan tadi Amanda bilang dia tadi gak sengaja," ucap gadis ini.
"Eh, parasit lo pikir kita b**o? Mandot pasti sengaja!" ucap Steffi.
"Eh kambing hutan! Kalau iya kenapa?!" ucap gadis bernama Amanda ini.
Ya, ketiga gadis itu diketahui bernama Amanda, Hanggini, dan Beby.
"Eh, Amanda! Lo kenapa sih suka banget nyari ribut sama gue?" ucap Melody.
"Karna apa lo bilang?! Lo masih pura-pura b**o, Mel? Gue gak suka sama lo karna lo dulu rebut Alvin dari gue!" ucap Amanda.
"Hei! Rebut? Emangnya Alvin pernah pacaran sama lo?" ucap Bella.
"Ya, enggak sih! Tapi, dulu Melody tau gue naksir sama Alvin, tapi kenapa dia nerima cintanya Alvin? Inget ya Mel, sampai kapan pun gue benci sama lo!" ucap Amanda.
"Oh my God. Kasian amat sih lu Man, maksain banget. Seandainya Melody nolak juga gak nentu Alvin mau sama lo," cibir Steffi.
"Ya tapi, tetep aja Melody tuh jahat sama Manda," ucap Beby.
"Lo kudet? Gue kan gak ada hubungan apa-apa lagi sama Alvin! Udah ah guys kita pergi aja, gara-gara mereka kita jadi pusat perhatian," ucap Melody sambil berlalu bersama kedua sahabatnya.
"F*ck! Sampai kapan pun gue pasti benci sama lo!" ucap Gadis ini berteriak.
"Nih, Man minum dulu," ucap Beby menyodorkan botol air mineral miliknya.
"Agh! Lo juga ngeselin!" Amanda pun pergi meninggalkan dua gadis ini.
"Salah gue apa?" ucap Beby.
"Ah! Lo lemot amat! Ayo dah kita susul Manda," ucap Hanggini menarik Beby.
*
"Duh, Mel ini milkshakenya lengket-lengket di rambut lo," ucap Bella.
"Ya, gimana gak lengket, kan ada gula," ucap Melody.
"Tau nih Bella," ucap Steffi.
Ya, ketiga gadis ini sedang berada di toilet untuk membersihkan rambut Melody yang di tumpahi milkshake oleh Manda.
"Gak sempet nih, makul pertama udah mau mulai," ucap Bella.
"Iya nih gimana?" ucap Melody panik.
"Yaudah Mel, kita kesalon aja!" usul Bella.
"Lo gila? Kan ada makul, Bel," ucap Steffi mengingatkan. Melody hanya mengangguk.
"Sekalian aja bolos," ucap Bella.
"Tapi kan—"
"Sttt! Gue setuju sama Bella daripada lo lengket kayak gini, mending kita ke salon aja, udah lama gue gak ke salon," ucap Steffi.
"Tapi kan makul ini penting, gue juga lagi gak punya uang," ucap Melody. "Udah deh Mel, sekali-kali lo bolos, lagian lo 'kan pinter, kita juga ya lumayan lah, entar pas ujian kita pasti bisa kok," ucap Bella.
"Soal bayaran, tenang, kita bakal bayarin," ucap Steffi.
"Kalian serius?" tanya Melody.
"Apa sih yang enggak buat lo? Kita ini sahabat," ucap Bella.
"Ayolah, mau ya?" desak Steffi. "Iya deh," Melody hanya bisa pasrah.
*
'cklek'
"Gue pulang," ucap Melody.
Pria ini pun berbalik.
"Udah pulang lo?" ucapnya.
Gadis ini hanya berdecak dan berlalu dari hadapan pria itu lalu menaiki tangga.
"Gak tau diri," dumel pria ini.
Ting
Tong
Iqbaal pun segera berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Siapa yang dateng coba?" gumamnya.
'cklek'
Iqbaal pun tersenyum melihat siapa perempuan yang berdiri di depannya.