*
"Eh, Kak Salsha," ujar Iqbaal semringah, "—hai sayang, ayo masuk," lanjut Iqbaal sambil mencubit pipi gadis kecil dalam gendongan Salsha.
"Gausah repot-repot Baal, gue kesini cuman mau nitipin Embryl," sela Salsha.
"Lho? Emang lo mau kemana?" tanya Iqbaal.
"Itu gue mau nemenin Aldi, hari ini temen kerjanya ngundang makan, susah kalau bawa Embryl, lagian Embryl juga gak mau ikut, Baal," jelas Salsha.
"Kok kesini? Emangnya Mamah kemana? Lo ‘kan tau sendiri gue sama Melody gak nentu bisa jagain Embryl," tanya Iqbaal lagi.
"Biasalah Baal, ibu-ibu, lagi pergi Arisan. Please, gue mohon," pinta Salsa.
"Iya deh," jawab Iqbaal pasrah.
"Thanks, adik ipar. Nah Embryl disini ya sama Uncle dan tante," pamit Salsha sambil menurunkan lalu mencium pipi malaikat kecilnya.
"Iya mamah, bai," sahut Embryl sambil berlari kecil dan memeluk kaki Iqbaal.
Salsha menegakkan badannya, "Yaudah Baal, gue pergi sekarang ya," ucap Salsha.
"Hati-hati, kak," sahut Iqbaal.
Ketika Salsha telah pergi, Iqbaal menutup pintu rumah ini.
"Ayo sayang kita masuk," ajak Iqbaal sambil menggendong gadis kecil ini.
Sementara sang gadis kecil sepertinya sangat senang.
"Uncle, ante mana?" tanya Embryl.
"Dikamar, sayang," sahut Iqbaal.
"Antelin Embey ke ante dong, ncle," pinta Embryl membuat Iqbaal gemas.
"Oke, kita keatas ya," sahut Iqbaal. Sambil mengendong Embryl, ia mulai berjalan menaiki satu per satu anak tangga.
*
Melody, gadis ini sedang duduk di atas sofa sambil membaca sebuah novel di tangannya. Melody pun mengalihkan pandangannya pada pintu kamar yang terbuka tersebut.
"Ante...!" panggil gadis kecil ini berlari ke arah Melody dan melompat ke pangkuan Melody lalu memeluknya.
"Embel tangen ante," ucapnya lagi.
"Iya sayang, tante juga kangen Ember. Ember kok bisa disini? Dateng sama siapa?" tanya Melody sambil mencubit gemas pipi keponakannya itu.
"Kak Salsha yang nganterin, dia katanya mau nitip Embryl disini," ucap pria ini sambil duduk di samping Embryl. Ya, itu adalah Iqbaal.
"Gue nanya sama Ember, bukan sama lo!" sahut Melody ketus, ia memandang Iqbaal dengan malas.
Iqbaal derdecak, "Ck! Gue ngasih tau doang," balas Iqbaal. Gadis kecil ini hanya terkekeh melihat Melody dan Iqbaal.
"Ante, uncle! Kita jayan-jayan yuk!" ujar sang gadis kecil dengan gaya berbicara cadelnya.
"Mau kemana sayang?" tanya Melody.
"Ke Moy, nte," sahut Embryl.
"Moy?" Iqbaal menyeritkan dahinya.
"Maksudnya Mall! Ngerti dikit dong bahasa anak kecil," sungut Melody. Iqbaal hanya mangut-mangut.
"Tante sih mau aja ngajak kamu ke Mall, tapi—" Melody menggantung ucapannya.
"—mobil tante disita sama Om jelek!" sambung Melody sambil melirik Iqbaal dan menekankan kata 'Om jelek'. Iqbaal membulatkan matanya sambil menatap Melody geram. Melody hanya memeletkan lidahnya.
"Siapa bilang gue gak mau ngajak kalian ke Mall?" tanya Iqbaal.
Melody berdecak, "Jadi lo mau ikut?" tanya Melody balik.
"Iyalah," sahut Iqbaal. Melody menghela napasnya,
"Terserah lo. Yaudah Ember tante siap-siap dulu," kata Melody. Gadis kecil ini mengangguk dan turun dari pangkuan Melody, lalu berpindah bersandar ke Iqbaal.
Sekitar lima belas menit kemudian, Melody kembali, ia menghampiri Iqbaal dan Embryl.
"Ayo! Gue udah siap," ujar Melody. Ia mengenakan dress selutut berwarna navy dengan rambut tergerai dan make up natural, sebagai pelengkap ia menggunakan flatshoes dengan warna senada. Iqbaal menatap Melody sejenak, kemudian ia kembali menatap Embryl.
"Ayo sayang," ajak Iqbaal menggandeng Embryl dan berjalan keluar kamar mendahului Melody.
"Gak sopan banget sih si Iqbaal. Gua tau dia sama gue gak saling cinta, tapi apa gak bisa dia muji gue gitu, pas liat penampilan gue? Dasar cowok nyebelin," gerutu Melody menghentakkan kakinya kesal.
*
Melody, Iqbaal dan Embryl berjalan menyusuri Mall ini.
"Nte, Embey mau beli baju!" rengek gadis kecil ini sambil melompat-lompat kegirangan.
"Iya-iya, kita beli baju buat Ember," jawab Melody sedikit kewalahan.
Embryl pun berjalan mendahului Iqbaal dan Melody. Melody menghela napasnya. Melody dan Iqbaal terus berjalan mengikuti Embryl yang sedang berlari memasuki sebuah toko pakaian.
Langkah Melody terhenti di depan toko itu. Melody memandang sebuah dress yang dipajang di depan toko tersebut, dress yang sangat indah. Ia pun kemudian hanya dapat menghela napas dan memejamkan matanya. Ya, mana mungkin ia dapat membeli dress tersebut, karna saat ini ia tidak memiliki uang sepeser pun. Jika saja keadaannya masih seperti dulu, mungkin Melody sudah menyambar dress itu.
"Lo mau?" tanya pria ini mengejutkan Melody. Melody hanya memutar bola matanya dan menghembuskan napas beratnya.
"Kalau lo mau ambil aja, mumpung gue lagi baik," ucap Iqbaal.
"Lagipula, dressnya cantik, cocok kayaknya buat lo," komentar Iqbaal. Entah itu pujian atau apa, Melody tetap hanya diam, tak menanggapi ucapan Iqbaal.
"Kalau gak mau, yaudah," ujar pria ini seolah tak acuh sambil hendak menjauh.
Melody menahan lengan Iqbaal, "Eh, iya iya mau!" ujar Melody.
Iqbaal melambaikan tangannya dan memanggil seorang pramuniaga toko tersebut.
"Mbak, dress ini tolong dibungkus, ya," perintah Iqbaal pada pramuniaga toko itu, dan dibalas anggukan oleh perempuan itu.
"Ante, Uncle!" Tiba-tiba saja gadis kecil ini mendekati Melody dan Iqbaal.
"Kamu udah selesai milih bajunya?" ucap Iqbaal sambil berjongkok didepan Embryl.
"Nte, uncle. Ayo ikut embey dulu," ujarnya sambil menarik tangan Melody dan Iqbaal.
"Ada apa sih, sayang?" kepo Melody.
"Nte ama Uncle ikut aja!" ucap gadis kecil itu.
Lalu mereka bertiga berhenti di depan tiga patung manekin keluarga yang mengenakan baju serupa bergambar Mickey Mouse.
"Embey, mau ini," rengeknya menunjuk baju tersebut.
"Yaudah kita beli ini satu yang kecil buat Embryl," ucap Iqbaal.
"Ndaa! Embey mau beli dua baju yang besal juga," sahut Embryl.
"Lho? Emang buat siapa? Buat papah sama mamah kamu?" tanya Melody heran.
"Yaudah deh, Uncle sama tante beliin juga, itung-itung hadiah buat mamah papah kamu," ucap Iqbaal.
"Bukan uncle, Embey mau Uncle sama Nte juga beli baju ini, buat kalian beldua," sela Embryl.
"Ha? Baju ini? Dih, Ember jangan ngaco ah!" ucap Melody.
"Hiks, Nte jahat!" Air mata gadis kecil ini mulai muncul dari sisi matanya.
"Oke, Uncle sama Tante beliin, tapi embryl jangan nangis, ya?" bujuk Iqbaal.
"Baal! Lo gila ya?!" protes Melody.
"Udahlah, habis beli ya gak usah dipakai aja, ini tuh buat nyenengin keponakan lo!" sahut Iqbaal geram.
"Asyik! Yaudah Ncle, Ntee, kita beltiga langcung ganti baju ya, kita pakai baju ini, bial cama," ucap gadis kecil ini. Melody dan Iqbaal membulatkan mata mereka.
"Ha? Ember! Tante gak mau!" tegas Melody. Gadis kecil ini pun terisak kembali.
"Gajah! Lo tuh mikir dong ah, kasian Embryl!" bentak Iqbaal.
"Lo yang harusnya mikir! Masa gue sama lo pakai baju couple gini, dih amit-amit," ucap Melody.
"Lo pikir gue suka? Tapi daripada dia nangis," ujar Iqbaal.
"Ya, gue tetep gak mau!" sahut Melody kekeuh.
"Lo jangan keras kepala dong!" ucap Iqbaal mulai kesal.
"Eh! Lo gak bisa ya maksa gue!" balas Melody.
"Huaaa! Ante ama Uncle jahat!" Gadis ini memperkeras tangisannya membuat semua yang ada di toko ini melihat kearah mereka.
"Aduh lo liat Mel, semuanya pada liat kesini," ujar Iqbaal panik. Melody menghela napasnya.
Ia pun memeluk Embryl. "Iya sayang, tante sama uncle beli baju ini terus pakai sama-sama," putus Melody pasrah.
"Ntee janji?" ucap gadis kecil ini. "Iya," sahut Melody.
Gadis kecil ini pun mencium pipi Melody, "Maacih nte," ucapnya. Melody hanya menunjukkan fakesmilenya.
*
Iqbaal, Melody, dan Embryl telah meninggalkan toko baju tersebut dan berjalan berkeliling Mall ini. Ya, tentu saja ada yang berbeda dari mereka. Mereka saat ini sedang memakai baju yang serupa.
Terlihat gadis kecil ini sangat girang, sementara pria dan gadis ini sangat terlihat kesal.
"Ada-ada aja ini anak Kak Salsha!" dumel Melody pelan, agar tidak terdengar oleh Embryl, bisa-bisa gadis kecil itu menangis kembali nantinya.
Iqbaal menghela napasnya, "Udah, lo sabar aja, cuman sehari kok kayak gini," ucap Iqbaal. Melody mengangguk lemas.
Si Iqbaal ternyata sabar juga ya sama anak kecil, kok sama gue dia jahat sih? batin Melody.
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Melody.
"Mel...!” Melody pun berbalik.
"Aaa, Bella, Steffi!" ucap Melody memeluk kedua gadis di depannya.
"Ciee, bajunya couple," goda Bella setelah Melody melepaskan pelukan mereka
."Kalian terlihat kayak Ayah, ibu, sama Anak," tambah Steffi.
"Iya, harmonis dan serasi banget gitu keliatan nya," komentar Bella terkekeh. Iqbaal hanya tersenyum kecut, sedangkan Melody memutar bola matanya.
"Kayaknya sayang nih kalau gak di foto," ucap Steffi terkekeh. Melody membulatkan matanya.
"Iya, ante Steffi ama nte Bella fotoin kita dong!" pinta Embryl. Melody semakin terbelalak.
"Ayolah Mel, gak apa-apa kok," ucap Bella. Melody hanya bisa menghela napasnya.
"Baal, sini hp lo!”ujar Bella. Iqbaal pun dengan malas memberikan ponsel pada Bella.
"Ayo, semua siap-siap," ujar Steffi berlagak seperti fotografer profesional.
"Satu dua tiga!" hitung Bella.
Pose pertama : Melody tersenyum paksa sambil membentuk kedua jari tengah dan telunjuknya menjadi huruf V, Embryl tersenyum lucu sambil memegang kedua pipinya, serta Iqbaal hanya tersenyum biasa;
Pose kedua : Melody menyenderkan kepala nya ke Embryl sambil tersenyum, Embryl mengembungkan kedua pipinya, dan Iqbaal tetap pada posenya yaitu tersenyum biasa.
"Oke terakhir," ujar Bella yang kini berlagak seperti seorang fotografer.
Melody memejamkan matanya sambil hendak mengecup pipi Embryl, namun Embryl menunduk sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, jadi otomatis Melody malah mengecup pipi Iqbaal.
"Bagus! Pose tidak terduga!" ujar Steffi menjerit senang.
Melody membuka kedua matanya dan terbelalak lalu langsung menjauh dari wajah Iqbaal.
Sedangkan Iqbaal hanya mengusap pipinya.
"Yang tadi difoto? Ih, hapus-hapus!" pinta Melody.
"Eh, jangan ini bagus kali," ucap Bella.
"Baal! Lo harus hapus nanti!" ujar Melody.
"Iya, pasti gue hapus," sahut Iqbaal.
"Em, supaya lo gak bisa hapus, kita kirim aja Bel ini foto ke hp lo. Gimana?" usul Steffi.
"Ide bagus!" Bella segera mengeluarkan ponselnya. Melody pun hanya bisa menepuk dahinya.
"Niat amat sih kalian!" gerutu Melody kesal, namun apalah daya, ia sudah tak sanggup melawan kedua sahabatnya.
"Oke sip! Bye Mel, kita mau balik dulu," ucap Bella sambil memberikan kembali ponsel milik Iqbaal.
"Lo bertiga keluarga bahagia have fun ya disini!" goda Steffi terkekeh.
"Dasar sahabat durhaka," cibir Melody. Kedua sahabatnya itu hanya tertawa dan pergi dari hadapan mereka.
"Agh! Yaudah deh kita pulang aja," ujar Melody badmood.
"Ntee," panggil Embryl. Melody menghembuskan napasnya kesal, "Apa lagi?" ucap Melody menahan emosinya.
"Embey lapel," lirih Gadis kecil ini.
"Yaudah, kita ke tempat makan," ucap Iqbaal.
"Engga, Embey mau makan dilumah, makan macakan ntee aja. Pasti enak," ucap gadis kecil ini.
Melody membulatkan kedua matanya.
Iqbaal menatap Melody yang terdiam seribu bahasa. "Yaudah, kita makan dirumah aja, makan masakan tante," ujar Iqbaal tersenyum miring.
"Tapi—”
"Asyik!" Embryl segera melompat kegirangan dan menarik Iqbaal.
"Rasain!" ujar Iqbaal pada Melody.
Melody hanya menelan berat ludahnya, ia kan sama sekali tak bisa memasak, ia ingat pernah membuatkan Alvin nasi goreng dan nasi goreng itu gosong, ia juga pernah membuat sup, dan sup tersebut rasanya sangat asin.
"Oh my God." Melody menepuk dahinya dan berjalan lemas menyusul Iqbaal dan Embryl.