bc

TALITHA

book_age16+
1.6K
IKUTI
9.9K
BACA
love after marriage
fated
goodgirl
independent
boss
drama
bxg
city
secrets
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Talitha, wanita muda yang menjadi single parent dari Athafariz Parsa Abizard. Padahal Talitha belum menikah tapi takdir mengharuskan ia untuk menjadi ibu sekaligus ayah untuk Abizard yang masih balita. Ia mempunyai usaha toko roti—Fawwaz Bakery yang dibangunnya sejak beberapa tahun lalu. Kemudian ada kejadian yang membuat Talitha dan Zufar Lais Ausaf bertemu hingga keduanya menikah. Terang saja, Talitha menolak—karena tidak mencintai Zufar. Namun kehidupan itu tidak pernah ada yang tahu ke depannya, jarak itu mengikis membuat keduanya saling ikhlas. Ikhlas mencintai dan ikhlas dicintai.

chap-preview
Pratinjau gratis
Talitha Zanith
Seorang wanita muda yang berusia 24 tahun mempunyai usaha toko roti—Fawwaz bakery. Yang baru berdiri dua tahun silam, awalnya usaha roti ini berawal dari pesanan-pesanan tetangganya untuk acara tertentu dan ketika lebaran saja. Hingga akhirnya, ia berinisiatif untuk membuka toko sendiri—dengan menyewa. Hari ini, ada beberapa pesanan membuatnya ikut turun tangan untuk membantu para karyawannya yang berjumlah tiga orang. "Assalamu’alaikum," ujar Talitha menyapa saat ia membuka toko rotinya. Disana ada orang yang sedang membeli rotinya. Membuat hatinya mengucap syukur. "Wa'alaikumsalam, Mbak," sahut karyawati Talitha—Naifa namanya. Talitha mendekati Naifa. "Gimana? Lancar?" tanyanya lalu menatap sekeliling toko dan kembali beralih pada Naifa. Naifa mengangguk kemudian menjawab, "Alhamdulillah, lancar Mbak." Setelah itu Talitha menundukkan kepalanya-mencari sosok anak kecil yang tadi diajaknya. Bersamaan dengan itu ia mendengar suara teriakan yang memekikkan telinganya. "Mama!!" Talitha langsung mencari sumber suara itu, begitu menemukan sosok yang dicarinya itu alih-alih khawatir malah ia terkekeh pelan. Melihat anaknya sedang dijahili oleh pelanggan. Dicubit pipi tembamnya. "Nte nakal, Mama," adunya seraya mengusap pipi dengan punggung tangan. Nte, yang dimaksudnya adalah aunty. Berhubung masih susah untuk melafazkannya Abizard hanya menyebut bagian belakangnya saja. Malah awal mengucapkannya inti. "Abizard diapain, sayang?" tanyanya dengan menahan tawa, karena menurut Talitha anaknya ini—Abizard begitu lucu dan menggemaskan ketika merasa kesal seperti ini. Tidak menjawab, Abizard mempraktekkannya pada sang ibu yang langsung meringis sakit akibat dicubit bagian lengannya. "Sakit, Mama," adunya lagi yang kini diiringi dengan rengekan seraya meminta gendong pada sang ibu. Membuat Talitha segera menggendongnya sebelum hujan badai mendera—menangis. "Nggak usah nangis, Tante Disty baik, kok," ujar Talitha pada Abizard yang kini memeluknya erat dan menyembunyikan wajah tampannya di leher sang mama. Abizard diam membuat Talitha mengelus punggung sang anak lalu tatapannya beralih pada Disty yang mendekatinya dengan terkekeh. Melihat Abizard yang seperti itu membuatnya tambah gemas saja. "Mbak, bisa pesen brownis?" tanya Disty dengan menatap Talitha. Sebelum berangkat tadi, ia mendapat pesanan dari kakak iparnya yang mengidam ingin makan kue brownis langsung dibuat oleh pemilik tokonya. Karena Disty mempunyai toko roti langganan, ia pun memesan pada Talitha. "Bisa, emang buat acara kapan?" tanya balik Talitha. "Bukan acara, Mbak. Tapi buat kakak iparku yang lagi ngidam," terangnya yang langsung ditanggapi oh-ria oleh Talitha. "Aku ambil jam 1, gimana?" "Beres, nanti mbak usahakan," sahutnya seraya menatap ke arah jam dinding yang berada tepat di arah jam sembilan. Sekarang masih pukul 9 lewat 5 menit. "Makasih, Mbak. Kalau gitu aku berangkat ke kampus dulu, ya," pamit Disty. Lalu ia mencium pipi Abizard yang bisa dijangkaunya hingga membuat sang empu berontak marah. "Bye, Abizard!" Selepas kepergian Disty, Talitha kembali memperhatikan putranya. "Abizard mau s**u?" tawarnya. Abizard menggeleng tapi Talitha tetap membuatkannya, karena hal itu bisa membuat mood Abizard kembali ceria. Seharusnya sih tak perlu ditawari terlebih dulu sebab, sudah waktunya untuk Abizard meminum s**u. Dan segera saja, Talitha ke belakang-dapur yang ada di tokonya lantas untuk membuatkan s**u soya yang diperuntukkan bagi usia satu tahun ke atas. Usia Abizard baru saja menginjak dua tahun, tepat tiga pekan yang lalu. Tidak ada perayaan apapun, sebab mereka tak memiliki kerabat yang tinggal se-kota dengannya. Sudah pasti, mereka hanya sendirian di kota ini. Selama membuatkan s**u, Abizard terus saja merengek membuat Talitha gemas dan sebal mendengarnya. Mencoba tak membentaknya Talitha membuat susunya lebih cepat. "Mama." "Apa, sih? Kok, rewel ya, anak mama." Talitha pun segera menggendong anaknya itu dan mengajaknya masuk ke sebuah ruangan. Lantas menidurkannya disana. Waktunya Abizard tidur, makanya rewel. "Bismillah," ujar Talitha setelah membaringkan tubuh Abizard dan memberikan sebotol s**u formula yang dibuatkannya barusan. Dan benar, beberapa menit kemudian Abizard terlelap dan susunya pun habis. Membuat Talitha segera beranjak untuk membuatkan brownis pesanan Disty. Namun, sebelum itu ia benar-benar memastikan jika Abizard tidur dengan nyenyak.  *** Tepat pukul jam 12 brownis pesanan Disty telah siap untuk dijemput. Talitha sedikit kewalahan pada saat membuatnya tadi, sebab Abizard sedikit mengganggunya. Seperempat menit Talitha beranjak bangun—Abizard ikut menyusul, alhasil Talitha tak begitu leluasa saat membuat pesanan. Tangan Abizard hendak meraih ini-itu, entah loyangnya ataupun bahan yang disembunyikan dibalik punggungnya. Talitha pun mengalihkannya dengan menyuruh Abizard. Mengambilkan cokelat, misalnya. Walaupun itu sudah tersedia di hadapan Talitha. Detik ini, Talitha hendak mengambil air wudu untuk salat dzuhur. Namun terurung karena permintaan sang anak membuatnya tepuk jidat. "Mama emam." "Abizard mau emam apa?" tanya Talitha seraya mendekati anaknya itu yang sedang bermain mobil remote. "Emam lawon, Mama," jawabnya seraya meletakkan mobil remote-nya dan menatap sang mama dengan wajah polos. "Oke, ayo beli dulu!" ajaknya seraya menggendong Abizard. Membawanya ke warung depan yang menjual nasi rawon. Nasi rawon, makanan khas Jawa Timur ini adalah makanan favorit Abizard. Bumbu intinya yang bernama kluwek itu bisa menghasilkan kuah yang berwarna hitam. Dengan suwiran daging sapi apalagi dimakan sewaktu masih hangat sangat nikmat. Tapi entahlah, kenapa bisa Abizard suka dengan makanan tersebut? Tapi yang jelas ketika ditanya, makan sama apa jawabnya lawon. Walaupun kenyataannya yang dimakan setiap hari bukanlah rawon. Untuk tiba di warung nasi rawon, mereka harus menyeberang terlebih dahulu. Dan begitu sampai, Talitha segera memesan agar anaknya ini tidak harus menahan lapar lebih lama lagi. "Bu, nasi rawonnya empat bungkus." "Empat bungkus?" tanya bu Sarifah memastikan. Dan Talitha segera mengangguk untuk mengiyakan. Sembari menunggu pesanannya, Talitha duduk di kursi pelanggan. Dengan sabar juga, ia menjawab setiap Abizard bertanya sesuatu. "Ini apa ini, Mama?" Talitha melihat tangan Abizard yang menunjuk pada botol minuman teh yang berkemasan kaca. "Teh, warnanya cokelat," jelasnya seraya mengenalkan warna-warna pada Abizard untuk pembelajaran dini. "Apa namanya, Abizard?" tanya Talitha. "Teh." jawab Abizard dengan tatapan yang begitu menggemaskan, kaki mungilnya yang menggantung ia ayunkan. "Warnanya apa?" "Melah." Yang tadinya Talitha merasa senang kini pun mendengkus. Memang cuma warna itu saja yang diketahuinya. "Cokelat," beritahu Talitha kemudian diikoma Abizard. "Cokat." Setelah itu masih banyak lagi pertanyaanya, bahkan berulang kali ditanyakan lagi oleh Abizard. Alih-alih kesal, Talitha justru gemas dibuatnya dan memberikannya kecupan-kecupan sayang pada Abizard hingga merasa geli-tertawa. Tak lama, pesanan datang yang diantarkan oleh karyawan di warung tersebut. "Empat bungkus nasi rawon," ujarnya seraya memberikannya pada Talitha. "Berapa, Mas?" "Empat lima, Mbak." Si karyawan menyebutkan harga, membuat Talitha segera membuka dompetnya dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribu. Karyawan tersebut ke kasir untuk menyerahkan uang dan meminta kembalian. Setelah memberikan sisa kembalian tersebut pada Talitha. Talitha pun segera beranjak sebelum Abizard meminta yang aneh-aneh padanya. Begitu di jalan raya, ia menengok ke kanan lalu kiri dan memasatikan jalanan lenggang ia pun segera berlari kecil. "Lari!!" seruan Talitha membuat kekehan Abizard tercipta. Dan tiba di toko, Talitha segera memberikan tiga bungkus pada karyawannya. "Makan dulu, gih! Mumpung sepi," ujarnya. Andin dan Delisa cekikikan girang, karena dapat makan gratis dari sang majikan. Uangnya hari ini nyaman dan akan betah sedikit berlama-lama dalam dompet. Bekerja di toko roti ini memang tidak ada uang makannya, namun tak jarang Talitha membawakan makanan dari rumah. Merasa ada yang aneh dengan Karyawannya, Talitha pun bertanya. "Kenapa?" Andin menahan senyum lantas menjawabnya, "Makasih rawonnya, Mbak." "Iya, buruan dimakan," ujarnya setelah itu berpamitan balik, "Oh ya, kalau gitu mbak balik dulu, ya. Nanti Disty ambil brownisnya jam 1." "Oke, Mbak," sahut Naifa. "Hati-hati dijalan," timpal Delisa. Setelah itu Talitha pun balik bersama Abizard, ia tampak kelelahan dapat dilihat dari wajahnya yang sedikit sayu. Membuat Talitha tak tega untuk berlama-lama di toko. Sebab, tak ada tempat untuk beristirahat. "Assalamu’alaikum." "Wa'alaikumsalam." Tak butuh waktu lama untuk tiba di rumah Talitha yang menggunakan kendaraan roda dua. Itu hanya memakan waktu selama lima menit saja. "Mama, Mama." Talitha menoleh ke arah Abizard yang hari ini tampak manja, tak seperti biasanya. "Apa Sayangnya mama?" tanya Talitha seraya mendekat ke arah Abizard. Bocah kecil itu mengulurkan tangannya meminta gendong. "Eh, makan rawon, ya?" tawaran Talitha ditolak oleh Abizard dengan menggelengkan kepalanya. Namun tak diindahkan oleh Talitha, ia segera mengambil kain gendongan dan memilitkannya di pundak. Lalu ia menyuapi Abizard. Merasa ganjal dengan Abizard, Talitha menyentuh keningnya yang ternyata hangat. "Makan dulu nanti minum sirup, ya," ujarnya. "Tak sedap." Tak ada tanggapan apapun dari Abizard setelah menelan lima sendok suapan, ia meletakkan kepalanya di d**a sang mama. Bisa dipastikan besok Talitha tidak ke toko roti untuk memantaunya. Jika Abizard seperti ini yang ada tambah rewel dan lambat untuk sembuh.  “Jangan sakit, anak mama.” Talitha mengusap kepala Abizard dengan sayang.                            

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Happier Then Ever

read
92.7K
bc

Pengganti

read
304.0K
bc

Love Match

read
180.3K
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.7K
bc

Stuck With You

read
75.8K
bc

Ditaksir, Pak Bos!

read
149.8K
bc

Rainy

read
19.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook