"Zufar, mama nggak mau tau, ya. Dalam waktu sebulan kamu harus punya calon. Kalau nggak mama pecat kamu jadi anak mama."
Laki-laki yang bernama Zufar itu seketika matanya melebar—terkejut. "Allahu akbar, Mama!! Cari isteri itu bukan cari tukang ojek online, buka aplikasi langsung klik," katanya frustasi.
"Mama malu punya anak laki bujang lapuk!" ujar sang mama dan setelah itu akhirnya pun pergi meninggalkan Zufar yang mengusap wajahnya dengan kasar.
Bagaimana caranya ia bisa mendapatkan calon isteri secepat itu. Mamanya itu selalu menanyakan isteri, isteri dan isteri. Diusianya baru saja menginjak 29 tahun, membuat mamanya terus mendesak untuk segera menikah. Sementara itu ia memiliki kakak laki-laki sudah menikah dan satu adik perempuan yang masih duduk di bangku kuliah, skripsi. Kini harapan sang mama ingin dirinya membina rumah tangga dan mempunyai anak yang begitu lucu juga menggemaskan.
Ia pun mengacak rambutnya, benar-benar merasa frustasi. Segera, ia menelpon seseorang untuk membantu masalahnya saat ini. Sahabat.
"Lang, gue minta tolong cariin cewek yang siap untuk dijadikan isteri. Jangan sebutkan identitas asli, kalau bisa besok harus udah ada kandidatnya."
“Lo ini cari isteri, Bro! Bukan barang di toko. Nggak gitu caranya.”
Setelah mengucapkan panjang lebar, tak menunggu sanggahan apapun lagi ia segera mematikan sambungan tersebut secara sepihak. Lalu menelepon asistennya untuk menanyakan berapa pertemuan yang harus dihadirinya hari ini.
"Selly, ada berapa pertemuan yang harus saya hadiri. Dan jam berapa?"
Dua menit menunggu…
"Hanya ada satu, Pak. Nanti sekitar jam 1 setelah makan siang."
Setelah itu tak ada jawaban apapun dari Zufar, ia langsung memutuskan sambungan. Mencoba menggambar—membuat design tapi tak bisa. Pikirannya benar-benar kacau.
Aarrrgh!
Zufar ini, seorang arsitek termasyhur dijajaran perusahaan terkenal di Indonesia. Gambar design yang dibuatnya sudah terpakai di berbagai kota besar bahkan hingga ke negara tetangga.
Akhirnya, ia pun memilih untuk main game yang ada di ponselnya. Kekanakan memang, tapi apa salahnya untuk merilekskan fikiran sejenak dari semua hal yang ada di dunia nyata yang fana ini.
***
Ketika jam setengah 12 waktu istirahat, ia pun segera melaksanakan makan siang terlebih dahulu sebelum salat. Daripada lapar ketika salat mending makan dulu. Pikirnya.
Menikmati santapannya secara diam, lalu bermain imajinasi—membayangkan masa depannya. Jika kelak ia mempunyai isteri apakah ada hal yang berbeda seperti sekarang?
Atau malah semakin miris untuk dirasakan. Seputar pengamatannya yang ia lakukan pada beberapa temannya. Awal pernikahan pasti ada manis-manisnya lalu kemudian berangsur pahit, asin, asam semacam rasa nano-nano. Dan dia yang diciptakan sebagai kaum Adam harus mengutamakan kaum Hawa. Iya, perasaan sensitif beserta wanita itu suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Dan Zufar, bukan tipe lelaki yang mudah merayu apalagi bermain kata untuk meluluhkan hati seorang wanita.
Tanggung jawab tak berhenti untuk memberikannya nafkah saja. Juga membuatnya bahagia itu harus jika tidak suka dengan hal yang dilakukan sang isteri maka tegur dengan baik-baik dan pelan-pelan jika tidak mampu—diam adalah jalan satu-satunya. Jangan sampai, memainkan tangan untuk sekadar memukul atau hal lainnya yang bisa menyakiti fisik juga... batin.
Stop! Waktunya kerja, Zufar.
Tapi fikirannya benar-benar susah diajak kompromi untuk saat ini. Membuatnya kembali pada hal yang mengganjal tentang dunia seputar menikah.
Ditambah nanti jika memiliki anak, jadi orang tua pun tak hanya memberikan apa yang diinginkannya. Tapi, mengajarkan hal-hal yang baik. Doa sebelum makan, minimal. Ingat, tidak? Bahwa amalan yang tak pernah putus salah satunya adalah; doa anak yang sholeh dan sholehah. Nah, ketika Zufar ini sudah menjadi pemimpin keluarga, ia harus pandai-pandai mengatur dan membagi waktu untuk anak, isteri dan keluarga bahkan pekerjaan yang saat ini ditekuninya.
Unch!
Dan imajinasi Zufar pun selesai—menggantung dengan adanya ketukan pintu. Membuatnya mengalihkan atensinya pada pintu yang bercat cokelat itu.
"Masuk!"
"Sudah siap, Pak?" Zufar mengangguk lalu berdiri dan merapikan barang-barang hendak dibawanya untuk presentasi nanti.
Kemudian ia pun melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan dengan meninggalkan imajinasinya yang masih tersisa.
***
Di dalam ruangan meeting Zufar menjelaskan tentang hasil design gambarnya. Dan beberapa orang penting yang bersangkutan di sana sebagai pendengarnya—mengamati detail gambar yang terpampang di layar proyektor.
"Untuk kategori 36 ini ada dua kamar, ruang tamu dan dapur saja. Tidak ada tamannya sebab kita bisa membuatkan tempat untuk parkiran. Dengan bentuk minimalis namun terkesan elegan ini bisa dipilih oleh orang yang sudah berkelurga maupun belum. Jelas sudah pasti nyaman, material yang kita gunakan kualitasnya bisa terjamin."
Zufar menjelaskan panjang lebar seputar design-nya. Hingga selesai dan berakhir acara pertemuan tak ada yang mengajukan pertanyaan—tampaknya mereka sangat setuju dengan pemikiran Zufar. Pertemuan pun diakhiri dengan penandatanganan kontrak lalu berjabat tangan.
"Selamat bekerja sama dengan kami, Pak. Semoga anda bisa menggunakan jasa kami kembali," ujar Zufar yang diiringi dengan senyum tipis.
"Sama-sama, semangat Pak!"
Setelah itu pertemuan pun benar-benar berakhir dan Zufar tidak kembali ke kantor melainkan ke rumah temannya.
Karena tak memakan banyak waktu dan jarak, di sinilah posisi Zufar berada. Padahal yang dicari ketenangan, jika ada plus-nya juga cari pencerahan tentang permintaan mamanya. Tapi yang didapatkannya malah berkebalikan, temannya ini mencibirnya habis-habisan.
"Seorang arsitek cuma cari isteri, nggak bisa? Ck, malu sama muka gantengnya."
Zufar mendengkus lantaran mendengar cibiran Aldi, lantas ia pun membalas, "Bukannya nggak bisa, you know lah jaman now, bro. Cari wanita yang masih perawan itu kayak cari mutiara di lautan."
"Sebenernya lo itu cari isteri atau perawan, sih Zuf?"
Zufar menatap temannya itu serius lantas berkata, "Kalau bisa, ya... dua-duanya."
"Gini ya, bro! Jangan pandang seseorang dari masalalunya, kita hidup untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Kenapa juga lo mikir tentang masalalu?"
"Masalahnya bukan itu, Al. Hadist-nya itu ada, seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung." *
* (Dikutip dari kitab Mukhtar al-hadits an-nabawi hal 63 nomer 21)
"Tapi di hadits itu nggak tercantum perawan, Zuf. Please, deh. Bukannya lo udah pernah coba sebelumnya tentang hal one night stand dengan dalih atas nama pernikahan?" telak Aldo membuat Zufar terdiam. Benar sekali, dia pernah mencoba one night stand dengan seorang wanita yang baru dikenalnya. Ia melakukannya dengan dalih atas nama cinta juga nikah di bawah tangan. Kemudian ia pergi untuk mengerjakan proyek di luar kota selama berbulan-bulan. Namun saat ia ingin memutuskan kembali pada sang isteri, Zufar tidak menemukan keberadaannya. Setelah itu, Zufar tak ingin mencobanya lagi sebab ia sadar hal itu tidak baik untuk dilakukan apalagi diulang kembali.
Pahala berkurang dosa menumpuk, surga menjauh neraka melambai-lambai.
Naudzubillah
Mama dan adiknya seorang wanita jika itu terjadi pada mereka, tentu saja ia takkan terima. Zufar, benar-benar taubat cukup sekali saja mengenal hal itu.
"Rasanya adil nggak, sih? Lo aja udah nggak perjaka tapi lo carinya perawan?" tanya Aldo setelah kediaman Zufar tercipta sekian menit berlalu.
"Menikah itu menyempurnakan separuh agama, bukan mencari kesempurnaan," tutur Aldo kembali. Setelah itu Aldo pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Zufar lantas menepuk bahu sahabatnya itu dengan pelan. Lalu kemudian, Aldo pun berlalu pergi masuk ke kamarnya.
Tapi, maksud Zufar bukan seperti itu. Jika wanita itu tidak bisa menjaga kehormatannya lantas bagaimana dengan yang lainnya. Bisa saja, malah bermain api di belakangnya nanti. Zufar tak mau itu terjadi.
Eh, jika ditelaah ulang bagaimana dengan dirinya sekarang? Benarkah yang diucapkan Aldo itu?