-Pertemuan pertama selalu menjadi kesan; antara yang akan jadi kenangan atau yang diusahakan hilang dari ingatan.-
Pagi yang cerah ini tak seperti hari biasanya, sedikit mendung. Sebab semalaman hujan melanda tanpa henti. Talitha berencana untuk mengikuti car free day yang hanya ada di hari Ahad. Tapi sedikit kendala, kesayangannya ini diajak mandi susah. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 pagi.
Masih ada waktu, memang. Tapi jika seperti ini terus bisa bubar duluan acaranya.
"Mama."
Talitha tersenyum senang, berharap anaknya ini mau diajak mandi. "Mandi?"
Abizard menggeleng. "Ais, Mama."
"Mandi dulu, baru mama kasih es krim," ujar Talitha, ia tak melarang anaknya untuk makan es krim. Sebab, ia tahu semakin dilarang anak akan semakin tertantang untuk mencoba.
"Abiz ais, Mama." Abizard memaksa. Bahkan ia melempar mainannya—puzzle.
"Iya, tapi mandi dulu." Talitha mengambil mainan Abizard dan meletakkan di dalam kardus yang digunakannya sebagai tempat mainan Abizard. "Mandi dulu, ya? Mama mau jalan-jalan."
"Jalan, Mama?" Talitha mengangguk pasti. Lalu tersenyum berharap kali ini Abizard mau mandi. "Ikut, Mama."
Senyuman Talitha tak pudar sedikit pun. "Berarti harus mandi dulu." dan ya, kali ini Abizard mau. Usaha Talitha berhasil.
Langsung saja, Talitha membawa Abizard ke kamar mandi. Sudah tak ada lagi waktu untuk memasak air terlebih dahulu. Sekali-kali memandikannya dengan air dingin tak masalah.
Tak butuh waktu lama untuk Talitha memandikan Abizard, ia pun segera bergegas memakaikan baju yang sebelumnya diolesi minyak telon pada bagian tubuhnya. Setelah itu dipakaikan jaket dan sepatu Abizard yang baru saja dibelinya beberapa waktu lalu. Ritual terakhir yaitu mempolesi bedak pada wajah Abizard.
Talitha tersenyum puas, ia pun mencium pipi Abizard sayang. "Gantengnya kesayangan mama."
Setelah itu Talitha mengenakan hijabnya, tinggal pakai. Lalu mereka pun siap pergi dengan mengendarai motor matic miliknya. Dan membelah ruas jalanan sejauh tiga kilometer.
Dan begitu sampai, Talitha pun memarkirkan motornya terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia jalan-jalan bersama yang lain, banyak yang ikut meramaikan acara car free day ini. Yang dimulai pukul 6 hingga pukul 9 pagi. Selain itu banyak yang berjualan dari mulai makanan, perabotan, accesoris, baju de el el. Dan para penjualnya itu berada di trotoar sisi jalan.
Baru saja beberapa langkah, Abizard sudah merengek meminta gendong. Tapi Talitha tak langsung mengindahkannya, ia mengalihkan dengan yang lain. Dan mau melangkahkan kaki mungilnya kembali.
Namun lagi-lagi ia merengek bukan meminta gendong melainkan meminta naik odong-odong. Kali ini Talitha pun menurutinya, segera ia mengantri untuk Abizard.
Lima belas menit menunggu, Talitha memakan camilan yang dibawanya tadi dan berbagi juga pada Abizard. Sesekali ia mengambil gambar Abizard yang sedang naik odong-odong.
Mati kebosanan!
***
Sementara di tempat lain, Zufar dipaksa oleh teman-temannya untuk mau diajak car free day. Tapi Zufar tampak ogah-ogahan, jelas dilihat dari wajahnya yang muka bantal. Mereka membawa mobil Galang sekaligus yang jadi sopirnya. Ada Zufar, Aldo, Galang dan Iffan.
Diantara mereka yang masih single Iffan sama Zufar, Galang sudah menikah sementara Aldo akan menyusulnya—sudah bertunangan.
"Zuf, yang semangat dong!" seruan Aldo membuatnya kesal, pasalnya ia baru saja terlelap tadi usai salat subuh. Semalaman ia melembur untuk mengerjakan design gambarnya.
"Kali aja lo ketemu jodoh disini," timbrung Iffan disambung kekehannya yang terdengar mengejek itu.
"Heh, mblo. Lo lupa status?" cibir Aldo sembari menoleh ke belakang.
"Nggak, status katepe gue belum nikah aja bukan jomlo, gengs," sahutnya.
"Kamvert, miwon keles." Aldo menyahut sementara Galang terkekeh dan geleng-geleng kepalanya. Temannya ini memang butuh belaian buntut kuda.
"Turun!" titah Galang menginstrupsi teman-temannya. Karena ia selesai memakirkan mobilnya.
"Kita lari di lapangan dulu, ya. Nanti baru jalan-jalan sama cari sarapan." sambung Galang lagi setelah keluar dari mobilnya.
Semua tampak setuju dengan usulan Galang barusan dan langsung saja mereka masuk ke lapangan yang sudah ramai itu. Tentu para orang-orang yang meluangkan waktunya untuk olahraga. Sedikit pemanasan, mereka pun baru berlari.
Tidak serius, sedikit mereka menciptakan candaan.
Yawis ben dadi jomblo sing lillah
Yawis ben jomblo ora masalah
Sering gae salah tingkah
Naning ora pengen susah
Baru menyanyikan sebait lagu bojo galak yang diganti liriknya, Iffan langsung dicibir oleh Aldo. "Sabar, mblo. Banyak-banyak amalan sono!"
"Kalian berdua nggak bisa diam? Nggak malu?" Zufar bersuara.
"Nggak!" serempak jawaban Aldo dan Iffan.
Zufar mendengkus keras, putaran kedua ia pun langsung keluar dari lapangan. Ia memilih untuk jalan-jalan sembari menikmati keramaian walaupun hanya pandangan saja.
"Bujang lapuk baperan," celetuk Iffan.
"Lo juga bujang lapuk!" sambar Aldo.
Sesekali ia melirik ke sekitar dan indera penglihatannya menangkap sosok yang mencuri perhatiannya. Sosok tersebut sedang membeli balon yang berbentuk macam-macamnya.
Namun fokusnya harus teralih karena ponselnya berbunyi, ada notifikasi disana. Dari Reno. Buru-buru Zufar membukanya, ada foto wanita yang diinginkannya, kemarin.
Kandidat pertama, bernama Inna yang memiliki paras manis bahkan memiliki lesung pipi. Wajahnya bulat dan mempunyai pipi sedikit tembam. Usianya 21 tahun. Baru lulus kuliah.
Kandidat kedua, bernama Ines yang memiliki paras cantik dengan wajah ovalnya dan bulu matanya lentik. Usianya 23 tahun, sebagai guru SMP.
Kandidat ketiga, bernama Intan yang memiliki wajah baby face dengan mata yang sipit dan mempunyai lengsung pipi. Usianya 22 tahun, perawat di rumah sakit swasta.
Yang terakhir Zufar sempat mengumpat dikiranya anak lulusan SMA, ternyata bukan. Tak ada minat untuk mengajak salah satunya kencan, maka Zufar pun memutuskan untuk tidak memilih semuanya. Ia tak berselera.
Kenapa pula inisial namanya semua berawalan I. Apa bagusnya. Ck,
Dibalaslah chat Galang itu.
Me: batalkan semua.
Setelah itu tanpa menunggu balasan Galang, ia pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam celana dan saat melihat sosok yang tadi ia sudah tak menemukannya. Malah Zufar dikejutkan dengan anak kecil yang tiba-tiba memeluk kakinya. Bersamaan dengan itu pula, teman-temannya datang juga terkejut melihat sosok mungil itu.
"Zuf, e-lo?" Aldo bersuara.
Zufar menatap teman-temannya lantas menggeleng. "Sumpah, ini bukan anak gue." seakan paham dengan maksud tatapan teman-temannya.
"Tap-tapi, dia—" Iffan ucapannya menjadi gagap dan menggantung. Saking terkejutnya.
"Dia mirip lo mukanya." Galang menyambung ucapan Iffan dan langsung diangguki oleh Aldo tanda setuju. “pantesan juga nolak, ternyata ....”
"Tapi, sumpah! Bukan anak gue, nikah juga belum."
"Mama," ucapan anak kecil sontak membuat keempat lelaki itu melongo. Lalu detik kemudian Aldo bersuara.
"Balikin ke emaknya, gih! Kalau emang bukan anak lo."
"Apa mau gue bantu, Zuf?" Galang menawarkan diri. Oh ya, diantara keempatnya Galang ini tipe orang pendiam dan diamnya ini menghanyutkan. Buktinya, dia yang lebih dulu melepaskan masa lajangnya. Tanpa pacaran, lho. Dia banyak bertindak daripada ucapan.
Katanya, pacaran itu boros. Iya, boros di uang buat beli pulsa. Selain itu lelah hati, niatnya cinta untuk memiliki namun malah terhianati. Sakit, ‘kan?
"Nggak usah, deh. Biar gue sendiri aja," sahut Zufar.
"Iya, kalau si emaknya janda biar lo aja yang ambil, ‘kan?" Iffan menceletuk dengan menepuk pundak Zufar.
"Eh, pintar sekali Bang Iffan ini." Aldo berkomentar membuat Iffan mendengkus.
"Udah, nanti keburu dicari sama Mamanya." Galang melerai Aldo dan Iffan. Lalu Galang menatap Zufar. "Buruan, gih! Cari Mamanya, kalau beneran janda gebet aja." sambungnya diakhiri dengan kekehan pelan.
"Sementara Zufar cari emaknya si bocah, gimana kalau kita cari sarapan dulu? Laper gue." keluh Iffan seraya mengelus perutnya yang terasa lapar, katanya.
"Bye, Zufar!" kata Aldo yang terdengar menjijikkan.
Akhirnya mereka bertiga pun meninggalkan Zufar dengan anak kecil itu.
"Mama."
***
Talitha tampak frustasi, ia mencari keberadaan Abizard yang entah kemana. Setelah membayar odong-odong, ia kelimpungan mencari Abizard.
Semua berawal ketika Abizard merengek meminta dibelikan balon yang ada di seberang jalan. Dan Talitha sudah memberi peringatan jangan kemana-mana selama mamanya itu membelikan balon. Tapi ketika Talitha berada di tempat penjual balon, Abizard meminta turun dari odong-odong dengan menangis. Ah,yang namanya anak kecil memang belum paham betul. Tetap yang salah dirinya. Berkali-kali Talitha menyalahkan dirinya sendiri. Karena merasa lalai menjaga Abizard.
Hampir saja Talitha menangis dibuatnya, selama mencari keberadaan Abizard ia merutuki kecerobohannya. Celingukan kesana-kemari berharap bisa secepatnya bertemu dengan Abizard.
Dan, ya! Tepat di jarum satu, Abizard terlihat oleh indera penglihatannya. Buru-buru ia melangkahkan kaki dengan cepat agar segera memeluk putra kecilnya itu.
"Mama!" pekik Abizard membuat Talitha tersenyum dan terus mempercepat langkahnya.
"Abizard." Talitha tak peduli itu siapa, ia langsung merebut anaknya untuk dipeluk. Tanpa malu Talitha menangis dengan terus menciumi wajah Abizard.
Bahkan ada yang menatapnya dalam diam hingga hatinya menghangat. Yang terlintas dalam benaknya adalah—apa benar sosok di depannya ini janda?
Jika diperhatikan sedari tadi tak ada sosok yang lain, selain dua makhluk ini. Zufar tersenyum dalam hati. Hei, apa dia lupa dengan ucapannya kemarin? Bukannya dia mencari isteri dan perawan. Dan kenapa juga dia tersenyum seperti itu, jahat sekali. Harusnya ia prihatin. Zufar sialan.
Lamunan Zufar bubar seketika kala mendengar suara Abizard yang menyebutnya, "Papa."
Hal itu sontak membuat Talitha melebarkan matanya seraya menggeleng. "Itu bukan Papanya Abizard."
Zufar tersenyum tak merasa keberatan, tangannya terulur untuk menyentuh kepala Abizard lantas mengelusnya. Sementara Talitha merasa tak enak hati, ia pun meminta maaf.
"Maaf, Pak," ujarnya kalem dengan sedikit meringis.
Dalam hati Zufar merutuki ucapan wanita di depannya ini. "Apakah sudah terlihat tuanya?" kekehnya menahan kesal sebenarnya. Lagi-lagi Talitha meringis tak enak. Sembari menghapus jejak air matanya
Sedikit terfikirkan, siapa yang mengajarkan anaknya ini memanggil dengan sebutan papa pada seorang pria dewasa. Sedangkan dirinya tak pernah sekalipun menyenggol sosok itu di dalam hidup Abizard. Karena interaksinya dengan lain, mungkin.
Menghilangkan kecanggungan itu, Zufar mengulurkan tangannya. "Zufar."
Talitha yang paham dengan maksud tersebut segera menjabat tangan Zufar. "Talitha."
"Terima kasih dan maaf jadi repot."
Zufar tersenyum tipis. "Nggak masalah."
Talitha menganggukkan kepalanya singkat. "Eum, kalau ada waktu mari mampir ke rumah. Sarapan bersama, mungkin."
Tanpa berpikir panjang Zufar langsung mengangguk. "Boleh."
"Saya nggak bawa kendaraan," sambung Zufar untuk memberitahu.
"Ya udah, kalau gitu kamu bonceng, ya. Saya bawa motor," sahut Talitha.
"Oke, dimana motornya?" tanya Zufar langsung.
"Disana, deket sama penjual durian. Soalnya tadi rencana mau beli pas balik, bentar ya," kata Talitha dengan segera melangkahkan kakinya cepat. Dan Zufar pun mengikutinya dari belakang.
Begitu sampai di tempat penjual, Talitha pun memilih dan menawarnya. Tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, Abizard menyukai buah berduri tajam itu. Makanya Talitha mau merogoh sakunya untuk membelikan untuk Abizard.
Zufar sibuk dengan ponselnya untuk mengabari teman-temannya. Dan, sukses ia mendapat cibiran karena langsung menerima ajakan Talitha tanpa pikir panjang. Fix, pikiran teman-temannya adalah Talitha ada seorang janda.
Selama memilih buahnya, Abizard sibuk merengek meminta gendong. Padahal pun sudah diberikan balon juga tetap tak bisa teralihkan. Dunianya hanya pada mama.
"Mama," rengeknya dengan tangan yang diulurkan.
"Anaknya mama bisa diam, nggak?" kata Talitha lembut namun terdengar tegas. Namun, Abizard tetap saja merengek membuat Talitha pun mengalah dengan menghembuskan napas pelan lalu menggendong Abizard.
Sementara Zufar mendadak terpana dengan sifat keibuan Talitha, jika memang benar Talitha seorang janda bolehkah Zufar meminangnya? Ah, lagi-lagi yang dipikirkan Zufar ini janda.
Hingga Zufar tersentak karena ajakan Talitha. "Ayo!"
Zufar mengangguk lalu mengikuti langkah Talitha untuk menuju ke parkiran—tempat motornya berada. Lalu begitu tiba, Talitha langsung menyerahkan kuncinya dan Zufar memakai helm Talitha—terkesan cewek tapi bukan pinky.
Setelah itu, mereka pun siap menelusuri jalan menuju ke rumah Talitha. Dengan posisi Talitha yang dibonceng Zufar, sementara Abizard berada diantara mereka.