Tersenyum itu terciptanya rasa yang membuncah dengan mendominasi. Tak perlu bertele-tele menyewa badut untuk menghibur diri, karena dengan lingkungan sekitar sudah bisa menciptakan bibir berbentuk simetris.
"Ini apa ini?" tanya Abizard menunjukkan mainannya yang berbentuk hewan itu.
"Harimau."
Abizard yang mendengar jawaban itu memiringkan kepalanya. "Haimau?"
Zufar mengangguk.
"Haimau, apa?"
Zufar berfikir keras mencari jawaban, memangnya ada jenisnya? Zufar bermonolog dengan hatinya. Kemudian ia teringat. "Harimau Sumatera."
"Haimau syumata?" Zufar mengangguk saja, daripada ditanya lagi. Tapi nyatanya, hingga sepuluh kali Abizard bertanya dan hal itu jelas membuat Zufar tambah gemas. Kesal, sih lebih tepatnya.
Tapi kalau mau dapat emaknya, kudu baik sama anaknya.
Lalu Abizard mengambil crayonnya dan juga buku gambar. "Gambal layang-layang, Papa." pinta Abizard.
Zufar tak masalah dengan panggilan tersebut, alih-alih bermasalah yang ada dalam fikirannya adalah dimana kebaradaan bapak si bocah ini. Fix, Talitha janda. Sorak dalam hati Zufar. Dalam sehari sejak bertemu berapa kali mengatakan hal itu. Ada-ada saja. Memangnya kalau janda, Talithanya mau diajak nikah?
"Gambal layang-layang!" seru Abizard kesal membuat Zufar tersentak lalu terkekeh. Ia merasa gemas, malah.
Zufar pun menerima crayon dan buku gambar Abizard, kemudian ia pun memulai menggambar. Karena ia seorang arsitek tak sulit rasanya jika hanya menggambar layang-layang. Simple. Bahkan di buku gambar itu, ia menambah anak kecil yang sedang memainkannya. Zufar tersenyum puas dengan hasil gambarnya. Perfect.
"Sudah," ujar Zufar seraya memberikannya pada Abizard yang tampaknya kurang setuju. Langsung saja ia ambil paksa dan mewarnai—lebih tepatnya mencoret dengan warna lain hingga gambar tersebut tak lagi terlihat.
Huuft, Zufar menghela napasnya. Lalu menatap ke arah dapur, terlihat punggung Talitha yang jelas membelakanginya karena sibuk berkutat dengan perabotan memasak. Hatinya tersenyum hangat, apa seperti ini rasanya jika sudah berumah tangga kelak. Ia menemani anaknya bermain, sementara sang isteri sibuk memasak untuk menyiapkan makanan.
Zufar tersentak, karena dipukul oleh tangan mungil. Ia mengalihkan atensinya menoleh si biang kedelai—eh keladi maksudnya. "Abizard mau apa?" tanyanya kalem. Bapakable banget.
Abizard diam malah ia menatap Zufar dengan tatapan polosnya, lalu tangan mungilnya bergerak menyentuh pipi Zufar—mengelusnya. Kemudian tiba-tiba Abizard tertawa kecil.
Merasa gemas, Zufar pun menciumi pipi Abizard. "Ini siapa?"
"Abijan Abiz."
"Mbah Mijan?" ulang Zufar bertanya.
"Atafaish palsya abijan." jelas Abizard dengan gaya menggemaskan. Walaupun usianya dua tahun tapi fasih dalam mengucapkan tiap katanya, kecuali ada huruf R.
"Siapa?" Zufar mendadak bingung dengan ucapan Abizard hingga kemudian suara lain menyahut, "Athafariz Parsa Abizard, Om."
Zufar menoleh menatap Talitha yang menghampirinya dengan celemek yang menggantung indah di tubuhnya. Begitu saja, Zufar sedikit terpana—tetap terlihat cantik.
"Mari sarapan dulu!" ajak Talitha kemudian. Ia pun beralih pada Abizard dengan mengulurkan jari telunjuknya. Abizard menolak dengan mengulurkan kedua tangannya. Talitha pun menggendongnya.
Ah, Mama jendes.
Lalu mereka pun berjalan menuju belakang—yang satu ruangan dengan dapur, ruang makan. Duduk di kursi yang berjumlah empat buah dan meja yang sudah penuh dengan makanan. Sederhana, memang. Tapi tampak begitu menggiurkan di lidah Zufar. Ada sayur asam, sambal terasi, ayam balado, tempe dan kerupuk udang.
"Maaf, adanya gini aja," ujar Talitha begitu ia selesai mengambil seporsi makan.
Zufar menoleh sebentar lantas mengangguk, lalu tangannya bergerak untuk segera mencicipi masakan ala rumahan itu. Setelah beberapa suapan Zufar sangat menikmatinya, ia pun bertanya dengan apa yang terlintas dalam otaknya.
"Kalau boleh tahu, Ayahnya Abizard kemana?"
Talitha yang tadinya fokus menyuapi Abizard itu menoleh ke arah Zufar. "Nggak ada," jawab singkat Talitha.
Tapi Zufar tak puas dengan jawaban tersebut, karena sudah jelas tak tampak berarti tidak ada keberadaannya. "Apa nggak masalah kalau ada laki-laki lain yang datang berkunjung seperti ini?"
"Asal tau sopan-santun dan norma, nggak masalah," sahut Talitha berusaha tersenyum walaupun ia sedikit terusik sekarang karena kehidupannya ingin diketahui orang lain. Apalagi orang tersebut baru saja ditemuinya beberapa jam yang lalu.
"Oh, oke. Maaf," kata Zufar kemudian merasa tak enak.
***
Begitu selesai sarapan, Zufar menemani Abizard kembali. Sejenak. Karena Talitha harus mencuci piring-piring kotor yang tadi pakai untuk sarapan.
Dan saat Zufar mengetahui Talitha menghampirinya—ah—menghampiri Abizard, maksudnya. Zufar memberikan senyuman tipis.
"Abizard minum s**u dulu, Sayang," ujar Talitha.
Abizard, namanya yang terpanggil itu langsung mendekati mamanya. Begitu mamanya duduk di sofa, Abizard pun masuk ke dalam pangkuan mamanya. Lantas kemudian ia meminum susunya sembari tiduran di pangkuan mamanya. Sebab, ia tak bisa meminum s**u dengan posisi duduk.
Dan adegan kecil itu juga masuk dalam indera penglihatan Zufar, ia mengamatinya. Ada rasa bahagia tersendiri dalam dirinya.
"Makasih sarapannya," ucap Zufar membuka percakapan, sebab Talitha masih sibuk memperhatikan Abizard yang sedang minum s**u. Takut jika nanti dibuat mainan.
Talitha mendongak—menatap Zufar lantas tersenyum kemudian menjawab, "Sama-sama, makasih juga udah nemu Abizard."
Zufar mengangguk seraya tersenyum.
"Kalau boleh tahu, rumahnya dimana?" tanya Talitha.
"Jalan Sunan Giri, tahu?"
"Oh, daerah situ. Tahu, kok. Soalnya ada langganan rumahnya daerah situ juga,"
"Langganan?" Zufar membeo. Talitha mengangguk saja tanpa memberi penjelasan tepat.
"Mama abis," beritahu Abizard dengan melepas botol susunya. Talitha mengalihkan pandangannya pada Abizard, lalu tersenyum dan mencium pipinya.
"Pinter banget kesayangan mama."
Zufar yang tadinya menatap ponsel itu langsung mengalihkan pandangan dan langsung tersenyum melihat mereka, ibu dan anak. "Eum, Talitha. Kalau gitu, aku mau pamit dulu."
Talitha menatapnya. "Naik apa?"
"Tadi pesen taksi online."
Talitha mengangguk. "Hati-hati, sekali lagi makasih.”
Dan Zufar pun berdiri diikuti Talitha yang juga menggendong Abizard. Sebab, batita itu mendadak heboh karena ia tahu ada yang hendak pergi. Selalu seperti itu, kebiasaan.
"Ikut!" serunya.
"Eh, ikut kemana, kok? Mama nggak kemana-mana."
Abizard menunjuk ke arah Zufar. "Papa balik."
Sebenarnya daritadi fikiran Zufar berkecamuk, sebab panggilan Abizard untuknya. Apa mungkin Talitha ini janda. Ah, lagi-lagi yang terlintas dalam otaknya hanya janda. Memangnya kalau benar adanya janda, mau diapakan.
Janda mulu!
"Omnya mau—“
"Ayo!" ajak Zufar seraya mengulurkan tangannya yang langsung disambut Abizard. Membuat Talitha mengerjapkan matanya. "Aku ajak jalan-jalan sebentar, boleh?"
"Eng, nggak usah nanti malah repot," tolak Talitha.
"Nggak, daripada dia nanti nangis."
Talitha pun hanya bisa terdiam, sebab ia bingung hendak menjawab apalagi. Ia pun membiarkan Zufar membawa Abizard, sebab taksi pesanan Zufar sudah berada di depan rumahnya.
***
Beberapa menit berlalu hingga berubah menjadi jam. Talitha bingung dan frustasi, ia merasa terkena hipnotis karena membiarkan orang asing membawa anaknya. Bahkan berkali-kali ia merutuki kebodohan dan kecerobohannya ini. Kenapa percaya dengan orang baru?
Talitha berkali-kali bangun-duduk di kursi, ia benar-benar gelisah memikirkan Abizard. Hingga, suara lain mengalihkan perhatiannya. Perasaannya seketika lega. Abizard kembali.
"Assalamu’alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Talitha menatapa Abizard yang terlelap di gendongan Zufar.
"Sepertinya dia kelelahan, makanya tidur."
Tak memberi tanggapan apapun, Talitha langsung mengambil alih Abizard dari gendongan Zufar. Lalu setelahnya Talitha membawa Abizard masuk dan tak lupa mengunci pintunya.
Zufar yang bingung hanya menghembuskan napas. Kemudian ia memilih untuk pergi dari rumah Talitha. Agar tidak menimbulkan masalah karena ketidaknyamanan kehadirannya.