BAB 1/ Prolog
Aku, Diandra Gauri seorang wanita karir berusia 32 tahun, berkerja di sebuah perusahaan multinasional dengan jabatan cukup tinggi, pencapaianku saat ini pasti menjadi harapan bagian semua orang.
Pencapaian yang menjadi mimpi banyak orang ternyata sudah aku dapatkan di usiaku sekarang, tinggal di apartemen, memiliki mobil yang bisa membuat orang terkagum saat melihat aku mengendarainya, bisa dibilang secara finansial semua kebutuhanku sudah terpenuhi tapi memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, kekuranganku yang sangat menonjol saat ini adalah aku yang belum memiliki pasangan hidup diusiaku yang sudah tidak muda lagi. Dulu karir yang baik menjadi target bagiku dan doa yang selalu mamaku panjatkan, tapi sekarang seiring bertambahnya usiaku harapan mama langsung berubah.
Mama selalu menanyakan kapan aku menikah, berbeda dengan papa yang terlihat lebih acuh, mama justru sering mengungkapkan harapannya agar aku bisa cepat menikah dan memberikannya cucu. Sebenarnya aku sedih setiap kali mendengar mama bercerita tentang temannya yang selalu menceritakan anak cucu mereka, aku memahami perasaan mama saat itu.
Aku yang terbiasa hidup sendiri sebenarnya masih cukup nyaman dengan kesendirianku tapi setiap kali orang-orang disekitarku membicarakan tentang aku yang masih sendiri membuatku sedikit terbebani, itulah kenapa aku paling malas berkumpul saat ada pertemuan keluarga atau perkumpulan bersama teman karena disaat itu aku pasti akan mendengarkan pertanyaan yang selalu terlontar untukku.
“Kapan menikah?”
“Mana suaminya? “
“Sudah punya anak berapa?”
Pertanyaan yang sudah sering aku dengar dan pasti aku jawab dengan jawaban yang sama.
“Doakan saja semoga disegerakan.” Jawaban saat moodku sedang baik.
“Kenapa kalau aku belum menikah? Masalah?” jawaban saat aku mulai kesal untuk menjawab pertanyaan itu.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan mereka, mungkin itu bentuk perhatian mereka padaku tapi ada saatnya aku merasa lelah ketika mendapat pertanyaan berulang yang sebenarnya aku sendiri tidak mengetahui jawaban untuk pertanyaan itu.
Malam ini seperti biasa aku habiskan sendiri di dalam apartemen, membaca artikel tentang kepribadian manusia. Aku sedang membaca artikel tentang introvert, dari semua karakter manusia aku merasa tergolong ke karakter introvert.
Aku yang terbiasa dan nyaman dengan kesendirianku, aku yang merasa tidak nyaman saat bersama orang banyak dan karakter lain yang ada pada diriku mengarah bahwa aku termasuk type introvert.
Setiap weekend aku selalu menghabiskan waktu sendiri, menikmati hidup dengan caraku sendiri saat orang seusiaku menghabiskan waktu mereka bersama suami dan anak mereka.
Menonton film, mendengar musik atau aktivitas lain yang sengaja aku cari agar tidak merasa bosan.
Jam dinding sudah menunjukan pukul 01.30 wib tapi mata ini masih terbuka lebar, TV sengaja aku nyalakan sebagai pengusir sepi, tapi aku masih sibuk dengan artikel yang aku baca di layar handphoneku.
***
Tiba-tiba aku terbangun setelah mendengar suara alarm dari HP ku, ternyata semalam aku tertidur di sofa ruang TV dengan kondisi TV masih menyala.
Aku bergegas bangun dari tidurku dan masuk kedalam kamar mandi, setelah siap aku langsung keluar menuju taman apartemen untuk jogging.
Kondisi taman cukup ramai, aku amati hanya aku yang berlari sendiri sedangkan yang lain terlihat berpasangan tapi seperti biasa aku masih dapat menikmati kesendirianku. Aku berlari sambil mendengarkan musik, mencoba asik dengan duniaku sendiri.
Hampir satu jam aku di taman apartemen, setelah cukup lelah aku putuskan kembali ke apartemen untuk bersiap berangkat kerja.
***
Di rumah sakit Mitra Sejahtera.
Tampak mobil Sedan hitam berhenti di area parkir khusus dokter, nampak dua orang di dalam mobil sedang berbincang.
“Mas, pulang jam berapa nanti?” tanya sosok perempuan yang duduk di samping sang pria.
“Mungkin jam tiga.”jawab pria itu.
Mereka adalah Denendra Saguna dan Anindya Friska. Denendra adalah seorang dokter bedah umum berusia 35 tahun sedangkan Anindya adalah seorang dokter anak berusia 30 tahun. Berbeda dengan suaminya yang kerumah sakit karena ada praktik, Anin datang justru untuk memeriksakan kondisi kandungannya yang sudah berusia lima bulan.
Mereka berjalan beriringan masuk kedalam rumah sakit, sebelum ke ruangan praktik Den sengaja menemani istrinya memeriksakan kondisi kandungan anak mereka. Anin memilih dr.Luna sebagai dokter kandungannya, dr.Luna adalah teman Den sekaligus rekan kerja mereka berdua.
Den dan Anin masih duduk di ruang tunggu, menunggu nama Anin dipanggil.
“Ibu Anindya Friska.” Ucap suster
Den dan Anin bergegas masuk kedalam ruang praktik dr.Luna, karena hubungan mereka cukup dekat membuat mereka dengan leluasa menanyakan kondisi Anin dan anak dalam kandungan Anin. Mereka menyimak penjelasan dr.Luna tentang kondisi Anin dan anaknya.
Menyadari sudah cukup lama mereka didalam ruangan dr. Luna sedangkan diluar masih banyak pasien yang mengantri akhirnya mereka berdua pamit.
“Terima kasih Lun.” Ucap Den pada temannya.
“Sama-sama, sehat-sehat ya ade bayi.” Ucap dr. Luna sambil mengelus perut buncit Anin.
Akhirnya mereka berdua keluar ruangan dr. Luna dan menuju pintu utama rumah sakit, karena Den ada jadwal praktik akhirnya Anin harus pulang sendiri menggunakan taxi.
Tak lama terlihat sebuah mobil berhenti tepat didepan mereka berdiri.
“Ibu Anindya?” Tanya supir dari dalam mobil.
Anin pamit kepada suaminya dan bergegas masuk kedalam mobil.
“Hati-hati ya pak.” Ucap Den pada supir taxi.
Perlahan taxi melaju menjauh dari tempat Den berdiri. Setelah taxi tak terlihat Den kembali masuk kedalam rumah sakit.
***
Tampak dua anak kecil bermain di teras rumah mereka, anak perempuan terlihat sedang bermain boneka sedangkan bocah laki-laki asik bermain mobil-mobilan. Sesekali anak laki-laki itu menjaili bocah perempuan dan membuat bocah perempuan itu merengek.
Sebuah mobil berhenti tepat di dapan pagar rumah itu. Sosok perempuan hamil turun dari dalam mobil. Dia membuka pagar dan masuk kedalam rumah.
“Sayang.” Ucap perempuan itu.
Kedua bocah itu langsung melihat ke sumber suara, mereka langsung menghampiri dan memeluk perempuan yang ternyata bunda mereka.
“Bunda.” Teriak mereka kompak sambil berlari dan memeluk mereka.
Jika dilihat kedua anak itu memiliki wajah mirip, keduanya terlihat seumuran. Ternyata mereka adalah Radhi Putra Saguna dan Raine Putri Saguna, anak kembar dari Den dan Anin. Usia mereka 5 tahun, selisih mereka hanya 5 menit.
“Bunda, kakak nakal.” Keluh Raine pada bundanya.
“Kenapa sayang?” Tanya Anin pada kedua anaknya.
Karena merasa bersalah belum sempat Anin menegur Radhi dia langsung meminta maaf kenapa adiknya. Anin yang melihat kedua anaknya tersenyum sedangkan kedua anaknya bersalaman.
Anin mengajak kedua anaknya masuk kedalam rumah, sambil berjalan dia menasehati kedua anaknya agar selalu saling menyayangi satu sama lain, Radhi harus menjaga adiknya Raine dan keduanya mengangguk seteleh mendengarkan ucapan bundanya.
Saat masuk kedalam rumah terlihat ibu Den sedang sibuk di dapur, Anin menghampiri ibu Den.
“Bagaimana kondisi janinnya Anin?” Tanya ibu Den.
“ Baik bu, Anin dan bayi sehat.” Jawab Anin.
“ Sudah terlihat jenis kelaminnya.”
“Perempuan.” Jawab Anin.
Ibu Den terlihat sangat senang setelah mendengar jawaban anak menantunya, dia bahagia mendengar jenis kelamin cucu ketiganya.
“Kamu harus sehat-sehat, banyak makan, banyak gerak supaya bisa lahir normal.”
“Iya bu.” Jawab Anin.
***
Aku masih sibuk memeriksa materi meeting nanti siang, setelah mengecek semuanya ada beberapa poin yang aku minta Novi revisi. Novi adalah sekertarisku.
Jam meeting pun tiba, aku langsung menuju ruang meeting dan meeting dimulai.
Aku menyimak persentasi dari staffku dan ikut memberikan feedback terhadap beberpa pertanyaan vendor kami.
Setelah hampir satu jam akhirnya meeting selesai, aku langsung kembali kedalam ruangan kerjaku.
HP ku berdering, ternyata mama yang menelponku.
“Halo?”
“Iya ma, aku sedang di kantor.”
“Baik, mama dan papa apa kabar?”
“Iya, maaf aku belum bisa pulang ke rumah.”
“Belum tahu, kenapa ma?”
“Tiara?”
“Iya ingat, lihat nanti ya ma. Maaf ma, aku sedang kerja nanti kita lanjut lagi ya.”
Aku sengaja menghindari terlalu lama berbincang dengan mama karena tahu pasti mama akan membahas tentang pernikahan lagi.
Baru saja mama memberitahuku bahwa saudaraku Tiara beberapa minggu lagi akan menikah. Tiara sebenarnya kerabat jauhku, kami hanya sesekali bertemu saat ada acara keluarga besar berkumpul. Mama memintaku menyempatkan diri untuk menghadiri pernikahan mereka dan membawa pacarku untuk dikenalkan pada mama dan papaku.
Takut pembicaraan semakin melebar aku langsung memutuskan untuk mengakhiri obrolan dengan mama.
Aku berusaha fokus kembali ke pekerjaan yang sempat terhenti karena mendapat telepon dari mama tadi sampai sore jam kerja berakhir.
“Bu, saya pulang duluan.” Pamit Novi.
“Iya silahkan Nov.”
Aku mempersilahkan Novi pulang duluan sedangkan aku masih merapihkan berkas pekerjaan yang masih tercecer di meja kerjaku. Setelah merasa rapih aku bergegas pulang.
Jalanan masih padat padahal aku sengaja pulang setelah jam pulang kerja berakhir. Setelah 30 menit akhirnya aku tiba di apartemenku, perjalanan yang biasanya hanya memerlukan waktu 15 menit kini harus aku tempuh dua kali lebih lama karena jalanan yang macet.
Setelah selesai mandi aku langsung membuka kulkas karena merasa lapar tapi ternyata semua stok makanan habis, aku putuskan mengecek semua stok barang yang habis dan harus aku beli. Setelah mencatat semua kebutuhan aku bergegas pergi ke supermarket yang terletak tak jauh dari apartemenku.
***
Area parkiran cukup padat, butuh beberapa saat sampai aku menemukan area parkiran yang kosong.
Aku berkeliling mengambil barang yang ada di daftar belanjaku. Satu persatu barang sudah aku ambil dan ku letakkan di dalam troli.
Sampai waktunya ke bagian yang paling aku suka, bagian snack menjadi bagian favoritku saat berbelanja bulanan. Aku berkeliling dan memilih cemilan yang ada di depan mataku bahkan makanan yang sebenarnya tidak ada di daftar belanja tetap aku ambil.
Biskuit, keripik, wafer, coklat, semua satu persatu tak luput dari perhatianku. Di usiaku sekarang pasti orang akan berpikir aku mengambil snack itu untuk anakku tapi nyatanya semua snack itu akan aku habiskan sendiri.
Saat aku masih sibuk memilih roti tiba-tiba aku terkejut karena terkena troli, ternyata troliku terdorong oleh troli lain yang ada dibelakangku.
“Maaf.. maaf.” Ucap perempuan hamil di belakangku.
Ternyata troliku tidak sengaja tertabrak oleh troli perempuan itu, karena terlalu kencang akhirnya beberapa barang di troli perempuan itu terjatuh, aku membantu memungut barang yang jatuh dan meletakkan kembali di troli nya. Terlihat dia sangat kerepotan, selain mendorong troli yang diatasnya duduk anak perempuan cantik dia juga menggandeng anak laki-laki di tangan kanannya belum lagi kondisinya yang hamil membuat dia terlihat sangat kerepotan.
“Tidak apa-apa mba.” Jawabku sambil tersenyum padanya.
Akhinya kami berbincang sebentar.
“Lucu-lucu sekali anaknya mba. “ ucapku memuji kedua anaknya.
“Mereka kembar mba.” Jelasnya.
“Oh, pantas mereka mirip sekali. Umur berapa? “
Obrolan kami terus berlanjut sampai akhirnya dia menceritakan tentang usia kandungannya. Setelah merasa cukup berbincang akhirnya kami melanjutkan aktivitas belanja kami masing-masing.
Aku menuju tempat sayur dan buah, mengambil beberapa sayuran dan buah yang aku suka. Daftar belanja aku periksa kembali bahkan beberapa kali aku harus kembali ke tempat yang sama hanya karena terlewat mengambil barang yang ada di daftar belanja. Setelah yakin semuanya sudah aku ambil aku bergegas ke kasir.
Ternyata kasir juga padat, antrian mengular panjang, aku memilih kasir yang antriannya sedikit lebih pendek dibandingan kasir yang lain. Saat sedang menunggu antrian tak sengaja aku melihat wanita yang tadi menabrak troliku.
Dia berdiri dikasir sebelah kananku, tampak berdampingan dengan seorang lelaki yang aku pikir itu pasti suaminya, anak laki-laki digandeng olehnya sedangkan anak perempuannya digendong laki-laki tersebut, karena antrian panjang aku tidak dapat melihat wajah laki-laki itu.
Setelah cukup lama menanti akhirnya sampai juga giliranku, aku membantu kasir meletakkan barang-barang yang aku beli diatas meja kasir.
“Terima kasih atas kunjungannya.” Ucap kasir setelah memberikan uang kembalian padaku.
Aku membawa tas belanja di kedua tanganku, kali ini belanjaku cukup banyak karena stok habis bersamaan.
***
Setibanya di apartemen aku langsung merapihkan barang yang sudah aku beli tadi, mengeluarkan satu persatu dan meletakkan ditempatnya masing-masing. Hampir dua jam sampai akhirnya selesai, perutku tiba-tiba berbunyi karena merasa lapar akhirnya aku putuskan makan malam padahal jam dinding sudah menunjukan pukul 22.00 wib.
Mie instan ditambah sayur dan telur menjadi pilihan tepat saat terdesak walaupun besok pasti berat badanku bertambah bahkan mukaku pasti akan bengkak karena makan sebelum tidur.
***
Hari ini aku terlambat bangun sampai aku tergesa-gesa karena takut terlambat tiba di kantor.
“Pagi bu.” Sapa Hana, stafku di kantor.
“Pagi.” Jawabku.
Aku langsung menuju ruang kerjaku, tapi tiba-tiba aku terkejut setelah mendengar dering telepon.
“Anet.”
Ternyata yang menelpon sahabatku, Annethia Molly dia adalah teman kuliah yang sampai sekarang menjadi satu-satunya sahabat yang masih bertahan, sebenarnya kami tidak setiap hari berkomunikasi tapi setiap kami berbincang pasti kami asik dengan obrolan kami walau pasti kami saling meledek satu sama lain. Mungkin karena sudah dekat membuat kami tidak tersinggung dengan ucapan kami masing-masing padahal bagi sebagian orang mungkin ucapan kami terdengar kasar.
Anet berusia 32 tahun, dia seusia denganku. Dia juga belum menikah tapi bedanya Anet sudah memiliki pacar bernama Sandi, usia pacaran mereka sebenarnya sudah cukup lama tapi entah apa yang membuat mereka belum menikah.
“ Halo Net.”
“Baik, lo gimana?”
Aku dan Anet terus berbincang, seperti biasanya dia selalu curhat padaku tentang semua yang sedang terjadi dalam hidupnya. Karakter kami yang berlawanan membuat kami saling melengkapi. Dia yang banyak bicara sedangkan aku yang lebih banyak mendengar membuat kami cocok bersahabat.
Kali ini dia menghubungiku hanya karena ingin curhat tentang rekan kerja yang menurutnya menyabalkan, sebenarnya Anet adalah sosok perempuan baik hanya cara bicaranya yang kasar terkadang membuat orang yang tidak mengenalnya menjadi salah paham.
Anet meluapkan kekesalan terhadap rekan kerjanya padaku, aku yang sangat mengenal Anet memilih hanya mendengarkan daripada memberikan pendapat, setelah Anet merasa cukup tenang baru aku memberikan masukan padanya.
Telepon kami berakhir setelah Anet mengucapkan terimakasih padaku karena telah mendengarkan keluh kesahnya.