Handphoneku kembali berdering, ternyata mama menelponku.
“Halo ma.”
“iya, sedang di kantor.”
Terdengar suara lirih mama, aku bisa menebak kondisi mama sedang tidak baik-baik saja.
“Mama kenapa?” Aku bertanya karena merasa cemas dengan kondisi mama.
Akhirnya mama menceritakan padaku tentang penyebab kesedihannya, mama ternyata baru saja pulang dari acara arisan komplek rumah, di acara itu ternyata semua teman mama membahas tentang rumah tangga anak mereka dan bercerita tentang cucu mereka sedangkan mama hanya bisa mendengarkan mereka karena aku anak tunggalnya belum memiliki suami. Sebenarnya aku sangat merasa bersalah pada mama tapi terkadang aku merasa risih dengan tekanan yang datang kepadaku.
Mama menasehatiku agar aku kembali membuka hati dan melupakan kenangan buruk yang aku alami, kenangan yang telah membuat pintu hatiku tertutup rapat sekian lama. Kenangan buruk karena aku merasakan sakit yang begitu mendalam setelah tahu rasanya dihianati oleh calon suami dan sahabatku sendiri.
Aku berusaha menenangkan mama, berusaha menghibur mama semampuku.
“Ma, Diandra mohon mama jangan begini. Ini membuat Diandra sedih, aku merasa berdosa karena selalu membuat mama begini. Aku hanya minta mama doakan aku agar Tuhan segera pertemukan aku dengan lelaki yang tepat.” Ucapku sambil berusaha menguatkan hatiku sendiri.
Setelah mendengar ucapanku mungkin mama merasa sedikit tenang, akhirnya dia mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya.
Moodku langsung berubah setelah menutup telepon dari mama, mama mengingatkan kembali pada kenangan buruk yang selama ini berusaha aku buang. Aku berusaha fokus kembali ke pekerjaan yang menumpuk di atas meja. Dengan berusaha keras akhirnya hari ini berakhir, semua pekerjaan sudah aku selesaikan walau dengan mood yang buruk.
Sepulang kerja aku putuskan untuk mampir ke cafe langgananku, aku berniat membeli cemilan manis untuk menaikan moodku kembali.
Cafe amore memang terkenal dengan aneka kue yang lezat.
“Pesan apa kak?” tanya pelayan padaku.
Aku memilih beberapa potong kue dan minuman yang menjadi favoritku.
Setelah menyebutkan apa yang aku pesan aku langsung duduk di kursi untuk menunggu pesananku siap.
Dari kejauhan aku melihat sosok yang aku rasa kenal, wanita hamil dengan dua anak kembar. Aku mencoba mengingat-ingat dimana pernah melihat mereka sebelumnya.
“Oh, perempuan yang menabrak troliku waktu itu.” Ucapku dalam hati.
Seolah menyadari ada orang yang mengenalinya wanita itu menoleh kearahku, tak lama dia mendekat kearahku. Aku yang menyadari dia mendekatiku langsung bangkit berdiri, dia menyapaku.
“Mba yang dulu troli nya aku tabrakkan?” tanyanya.
“Iya, apa kabar mba?” tanyaku sambil tersenyum.
Setelah itu kami duduk bersama di meja yang sama. Akhirnya kami berkenalan, ternyata namanya Anin. Dia seorang dokter anak dan sedang mengandung 5 bulan anak ketiganya. Saat kami sedang asik mengobrol pelayan menghampiriku dan memberikan bungkusan berisi pesananku, setelah menerima pesanan itu aku langsung berpamitan pada Anin tapi sebelum aku pergi Anin meminta kami bertukar no telepon dan berjanji akan saling menghubungi.
“Bye sayang.” Aku mengelus lembut rambut si kembar.
“Da da tante baik.” Jawab Raine dan Radhi kompak.
***
Setibanya di apartemen aku langsung memakan semua kue dan minuman yang aku beli tadi, entah berapa kalori yang masuk kedalam tubuhku hari ini karena mendengar ucapan mama tentang kenangan buruk itu. Merasa belum puas dengan cemilan yang aku beli di cafe aku langsung mengambil es krim dan coklat dari dalam kulkas.
Setelah melahap habis mataku langsung mengantuk, aku bergegas masuk ke dalam kamar untuk tidur.
***
Hari ini aku mulai hari dengan berolahraga sebelum berangkat bekerja, berusaha membuang timbunan lemak yang ada ditubuhku setelah beberapa hari napsu makanku bertambah, aku berusaha membuang rasa bersalah karena akhir-akhir ini sudah memakan begitu banyak makanan manis. Setelah satu jam berlalu aku lanjutkan bersiap kerja.
Setibanya di kantor aku langsung masuk kedalam ruang kerja, meletakkan tasku diatas meja dan bersiap untuk bekerja.
Terdengar dering telepon dari dalam tasku. Ternyata dari Anin, aku menerima telepon darinya.
Anin mengajak aku bertemu saat weekend nanti, dia memintaku mengantarnya membeli perlengkapan bayi untuk calon anaknya nanti.
“Oke, aku bisa. Bye.. Sampai ketemu nanti ya.” Ucapku menyetujui ajakan Anin.
Memang semenjak pertemuan di cafe itu aku dan Anin menjadi dekat, kami sering berkomunikasi walau hanya sekedar melalui pesan singkat.
Tak lama HP ku kembali berdering, ternyata kali ini giliran Anet yang menelponku.
“Halo Net.” Ucap Anet.
Aku mendengarkan ucapan Anet.
Ternyata dia berniat menginap di apartemenku dan akan datang Sabtu sore.
“Sorry Net, tapi lo datang Sabtu malam saja ya, kebetulan Sabtu sore gw mau pergi dulu.”
Anet yang mendengar aku akan pergi saat malam minggu langsung menggodaku, dia mengatakan bahwa aku akan pergi pacaran. Mendengar tuduhannya aku hanya tertawa dan balas menggodanya.
***
Sabtu siang aku menghabiskan waktu di apartemen, manonton TV atau hanya sekedar duduk diatas balkon apartemen melihat pemandangan kota di bawah gedung, lokasi apartemenku yang terletak di pusat kota memiliki pemandangan bangunan lain yang tinggi menjulang disampingnya. Lalu lintas jalanan mereka jadi pemandangan lain yang bisa aku lihat dari atas balkonku.
Hari ini aku dan Anin berencana bertemu di Mall jam 15.00 wib, kondisinya yang sedang hamil tua belum lagi dia yang harus membawa kedua anak kembarnya membuat dia tidak bisa keluar terlalu malam.
Jam dinding menunjukan pukul 14.45 wib, aku tergesa-gesa menuju mall setelah sebelumnya aku tertidur diatas sofa dan baru terbangun pukul 14.30 wib, karena takut terlambat aku lajukan mobilku dengan cukup kencang.
***
Setibanya di parkiran mall aku mencari area parkir yang kosong untuk memarkirkan mobilku. Aku keluar dari mobil dan mencari keberadaan Anin.
“Tante baik.”
Terdengar suara si kembar memanggilku dari belakang tempatku berdiri, aku langsung menoleh dan mereka berlari memelukku. Anin hanya tersenyum melihat tingkah anak kembarnya.
“Hai mba.” Sapa Anin padaku.
Kami berpelukan tapi fokus ku kembali kepada si kembar yang menarik kedua tanganku dan meminta agar mereka segera masuk kedalam mall.
Aku menggandeng si kembar sedangkan Anin berjalan di belakang kami, sesekali aku menoleh ke belakang untuk memastikan kondisi Anin baik-baik saja.
“Tante, mau main disitu.” rengek Raine.
“Raine izin ke bunda ya.” Jawabku.
Raine langsung berlari ke arah bundanya dan meminta diizinkan bermain di area permainan. Melihat tingkah adiknya Radhi ikut merengek.
“Nanti saya ya kita mainnya, nanti kita ajak ayah. Sekarang kita pergi beli baju untuk adik bayi dulu.” Jawab Anin.
Tak puas mendengar jawaban bundanya si kembar menangis, akhirnya karena tak tega Anin mengizinkan mereka bermain.
Aku dan Anin duduk dikursi yang memang disediakan untuk orang tua yang sedang menunggu anak mereka bermain. Sifat Anin yang ceria dapat dengan mudah memulai topik pembicaraan.
Pembicaraan dimulai dengan Anin yang menceritakan kegiatannya setiap pagi hari, memandikan si kembar, membuat sarapan untuk keluarganya, menyuapi anaknya dan perkerjaan lain yang jika aku bayangkan mungkin tidak bisa aku kerjakan secara bersamaan, jujur aku sangat salut dengan sosok Anin. Usianya lebih muda dariku tapi dia bisa melakukan banyak hal yang belum bisa aku kerjakan.
Obrolan terus berlanjut sampai ke topik pembicaraan tentang awal mula dia bertemu dengan suaminya.
“Aku dan suami pertama kali bertemu di sebuah rumah sakit di kota Solo. Saat itu aku sedang koas di RS tersebut, suamiku menjadi seniorku. Intensitas pertemuan kami yang sering membuatku dari awal tertarik padanya, sosoknya yang cool sebenarnya membuat beberapa temanku juga menyukainya. Dia sosok lelaki yang baik, pernah suatu hari kami mendengar kabar bahwa dia sakit, aku dan teman-temanku berinisiatif menjenguk ke rumahnya.” Ucap Anin
Aku masih menyimak cerita Anin dengan antusias.
“Saat kami berkunjung ke rumahnya aku semakin yakin bahwa dia laki-laki yang baik, terlihat dari caranya memperlakukan ibunya dengan sangat baik. Hatiku langsung bergetar menyaksikan itu, aku semakin yakin bahwa aku menyukainya.” Lanjut Anin.
Terlihat Anin tersenyum saat mengingat kembali kenangan masa lalunya.
“Mudah bagiku menunjukan rasa sukaku padanya tapi berbeda denganya yang memiliki sifat kaku, dia selalu merespon datar atas semua perhatian yang aku berikan padanya, sampai suatu hari aku melihat dia sedang makan siang bersama seorang dokter wanita, kejadian itu membuatku berpikir mungkin sebenarnya dia sudah memiliki pacar, itu sebabnya dia tidak memberikan respon terhadap sinyal yang aku berikan, karena merasa sakit hati dan berniat melupakan dia aku memutuskan menerima temanku sebagai pacarku memang temanku sudah beberapa kali menyatakan rasa sukanya padaku tapi karena orang yang aku cinta adalah suamiku sekarang aku terus menolak temanku itu.” Ucap Anin.
“Lalu? “ tanyaku karena penasaran dengan kelanjutan cerita Anin.
“Aku dan temanku jadian, semenjak itu aku berusaha menjauh darinya. Setiap di ruang sakit aku selalu berusaha menghindarinya. Perlahan rasa suka pada pacarku tumbuh, perlahan nama suamiku terganti oleh nama pacarku. Sampai akhirnya aku serius menyukai pacarku itu. Tapi takdir Tuhan berkata lain, suatu hari aku melihat pacarku bersama wanita lain, ternyata pacarku selingkuh. Tak tahan melihat itu aku berlari kencang dan tanpa aku sadari aku menabrak orang yang ada di depanku. Ternyata orang itu adalah suamiku sekarang.”
“Semenjak kejadian itu aku kembali dekat dengannya, beberapa kali dia menemaniku saat aku masih merasa terpuruk karena penghianatan pacarku. Banyak hal yang sudah dia lakukan untukku, bahkan beberapa kali dia melakukan hal yang menurut sebagian orang perhatian kecil tapi bagiku sangat berarti. Suatu hari di meja kerjaku ada kotak makanan lengkap dengan minuman, disana tidak tertulis nama pengirimnya, aku kebingungan mencari siapa pengirim makanan itu, ternyata setelah bertanya ke beberapa teman akhirnya aku tahu kalau makanan itu diberikan olehnya. Temanku ada yang melihatnya meletakkan box makanan itu diatas mejaku, dia melakukan itu kerena tahu beberapa hari aku tidak bisa menelan makanan karena masih sedih dengan kenyataan yang aku terima.” Lanjut Anin.
“Lalu kalian jadian?” tanyaku.
Anin menggelengkan kepalanya.
“Tidak, kami sama sekali tidak pacaran. Mungkin sebulan setelah itu, tiba-tiba ada pesan masuk dan ternyata dari dia. Dia mengatakan bahwa sore harinya dia akan mampir ke rumah bersama keluarganya. Aku yang membaca pasan itu cukup terkejut, untuk apa dia mengajak kedua orang tuanya datang ke rumah ku? Sore harinya mereka benar-benar datang ke rumahku, awalnya kami saling mengenalkan diri kami masing-masing sampai akhirnya bapaknya menyatakan niatannya datang ke rumahku dan meminta suamiku mengatakan langsung kepadaku dan orang tuaku. Dia yang terbiasa tegas saat itu terlihat grogi saat mengatakan niatannya untuk meminangku. Aku sangat terkejut mendengar ucapannya, tak terbayangkan sama sekali dia memintaku menjadi istrinya. Bapakku menyerahkan semua keputusan kepadaku, tanpa berpikir panjang aku langsung menerima pinangannya. “Lanjut Anin sambil tersenyum.
“Tujuh tahun menikah sikapnya tidak berubah, dia masih kaku seperti dulu tapi aku semakin memahami bahwa aku beruntung bertemu dengannya. Dia yang telah merubahku menjadi sosok mandiri, dulu aku yang anak tunggal dapat dengan mudah mendapatkan apa yang aku mau hanya dengan meminta kepada kedua orang tuaku tapi bersamanya aku diajarkan untuk berusaha mendapatkan sendiri apa yang menjadi keinginanku. Aku bersyukur Tuhan gantikan mantan pacarku dengan sosok laki-laki yang berkali-kali lebih baik darinya. Sebenarnya sering aku merasa iri saat teman-temanku bercerita tentang romantisnya suami mereka, makan malam romantis, diberi buket bunga oleh suami mereka atau hal-hal lain yang tidak pernah aku dan suamiku lakukan tapi sering bertambahnya usia pernikahan kami aku semakin sadar bahagia tidak diukur dari semua hal romantis, aku bahagia dihidupku sekarang si kembar dan calon anak ketigaku menjadi kado terindah untukku.” Cerita Anin.
Melihat aku yang hanya terdiam Anin baru menyadari bahwa dari tadi aku hanya diam mendengarkan dia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya.
“Maaf mba, aku dari tadi asik bercerita tentang hidupku.” Ucap Anin.
“Tidak apa-apa.” Jawabku.
“Aku pun percaya suatu saat mba akan mendapatkan sosok laki-laki baik yang akan menjadi suami mba kelak.” Ucap Anin sebagai harapannya untukku.
Dalam hati aku mengamini ucapan Anin, aku berdoa semoga kelak Tuhan hadirkan laki-laki seperti suami Anin untukku. Tiba-tiba ucapan Anin menyadarkan aku dari lamunan.
“Aku percaya bahwa mantan mba tidak cukup baik untuk mba, itu kenapa Tuhan jauhkan dia dari mba, karena mba jauh lebih baik darinya dan akan ada laki-laki lain yang lebih pantas mendapatkan mba suatu hari nanti.” Lanjut Anin.
Aku yang mendengar ucapan Anin langsung teringat kembali kenangan buruk itu. Kejadian yang mungkin seumur hidupku tidak akan bisa aku lupakan.