Flasback.
Saat itu suasana rumah orang tuaku ramai, kami sedang sibuk dengan persiapan pernikahanku, karena aku tidak menggunakan jasa WO membuat aku dan keluarga lebih sibuk dengan semua persiapan yang harus diurus.
Mama sedang sibuk memisahkan undangan yang baru saja kami terima siang harinya sedangkan aku masih berusaha menghubungi mas Dimas, dia adalah calon suamiku, karena dia bekerja diluar pulau membuat dia tidak terlibat dengan segala persiapan pernikahan kami, sesekali dia hanya menanyakan perkembangan persiapannya padaku.
Sudah hampir tiga tahun kami berpacaran sampai akhirnya memutuskan untuk menikah, di tahun kedua kami berpacaran dia harus keluar pulau karena dipindah tugaskan ke kantor pusat perusahaan tempatnya bekerja kenaikan jabatan menjadi salah satu pertimbangannya menerima tawaran itu, awalnya aku keberatan dengan keputusannya tapi setelah aku pikirkan kembali sebagai pacarnya aku harus mendukung semua keputusannya, akhirnya kami menjalin hubungan jarak jauh dan intensitas pertemuan kami berkurang tapi hampir setiap hari kami selalu berkomunikasi lewat telepon sampai setelah 4 bulan dia disana akhirnya kami memutuskan untuk bertunangan dan sampai akhirnya sekarang kami melanjutkan ke rencana pernikahan kami.
“Di, sudah berhasil menghubungi Dimas?” tanya mama.
“Belum ma, mungkin karena sinyal.” Jawabku.
***
Beberapa hari aku terus mencoba menghubungi mas Dimas tapi nihil, aku tetap tak mendapatkan jawaban darinya bahkan pesan yang aku kirim masih belum dibaca olehnya, sebenarnya aku cukup merasa cemas takut terjadi sesuatu padanya, karena merasa cemas aku berusaha menanyakan kondisinya ke Tiara yang kebetulan bekerja ditempat yang sama dengan mas Dimas tapi ternyata akupun kesulitan menghubungi Tiara.
Aku berusaha menyembunyikan kepanikkanku agar tidak membuat mama ikut panik. Waktu itu seminggu sebelum acara pernikahanku dan seharusnya mas Dimas datang untuk fitting baju pengantin tapi aku masih belum mendapat kabar darinya.
Aku pergi dengan Ning ke hotel lokasi pernikahanku akan di gelar. Ning adalah adik sepupuku, jalanan cukup padat membuat aku harus melajukan mobilku dengan perlahan. Hotel yang kami sewa berlokasi di jalan yang memang terdapat banyak hotel. Tiba-tiba pandanganku tertuju di sebuah hotel yang kami lalui, aku merasa melihat sosok yang sangat aku kenal. Aku mengamati sosok itu dan menurutku memang dia orang yang aku kenal.
Tanpa berpikir panjang aku langsung menghentikan laju mobilku dan meminta Ning pergi ke hotel tujuan kami dan aku kan menyusulnya nanti, sebenarnya Ning berusaha mencegahku dan menanyakan aku akan kemana tapi karena dia panik melihat jalanan yang macet karena ulahku dia langsung melanjutkan laju mobil sementara aku langsung masuk ke hotel tadi.
Aku mengamati dari kejauhan apakah benar sosok yang aku lihat, betapa terkejutnya aku ternyata sosok itu benar-benar mas Dimas, orang yang beberapa hari coba aku hubungi, aku semakin terkejut saat melihat sosok wanita yang dia rangkul, ternyata wanita itu Tiara sahabatku sendiri. Tubuhku langsung lemas, kakiku bergetar hebat setelah melihat pemandangan dihadapanku, aku melihat mereka berjalan berdua menuju kamar. Aku yang masih panik memilih duduk di lobby hotel dan berusaha menenangkan diri. Hpku terus bergetar, Ning beberapa kali mencoba menghubungiku tapi teleponnya aku abaikan. Pikiranku masih tertuju pada apa yang baru saja aku lihat.
Setelah merasa cukup tenang aku berjalan ke hotel untuk menyusul Ning, pihak hotel menjelaskan tentang review susunan acara resepsi, aku berusaha mendengarkan tapi konsentrasiku terpecah sampai diakhir pembicaraan aku tidak memahami apa yang mereka bicarakan, nampaknya Ning menyadari perubahan sikapku. Dia memegang tanganku yang bergetar hebat, sampai saat pulang Ning memutuskan mengambil alih untuk menyetir, selama di perjalanan kami membisu, terlihat beberapa kali Ning melirik padaku tapi tidak berani memulai pembicaraan.
Sampai di rumah aku langsung masuk ke dalam kamar, kembali mencoba menghubungi mas Dimas, setelah menunggu beberpa saat akhirnya aku mendapatkan jawaban darinya.
“Maaf Di, aku sedang sibuk. Aku masih di Kalimantan, lusa baru pergi. Sudah dulu ya, aku sedang sibuk.” Isi pesan mas Dimas.
Tangisku langsung pecah, kenapa dia membohongiku? Padahal jelas-jelas dia ada di hotel bersama Tiara tadi, kenapa mereka berdua disana? Kenapa dia bilang masih di Kalimantan padahal sekarang sudah ada disini? Mereka sedang apa di hotel? Begitu banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku membuat tangisku semakin pecah.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
“Di, ayo makan. Yang lain sudah tunggu kamu loh.” Ajak mama.
“Ma, makan duluan saja. Aku masih kenyang.”Jawabku.
“Nanti kamu makan ya, jangan sampai tidak makan nanti kamu sakit. Sebentar lagi kan acara pernikahanmu.” Lanjut mama.
“Iya ma.”
Aku kembali membenamkan wajahku diatas bantal, menagis tapi berusaha agar tak didengar oleh orang-orang diluar kamar.
***
Keesokan harinya aku sengaja bangun pagi-pagi dan keluar rumah saat yang lain masih tertidur. Dari pagi aku sengaja menunggu diparkiran hotel, setelah beberapa saat akhirnya aku putuskan menunggu di lobby hotel. Seluruh tubuhku lemas, pikiranku menerawang ke berbagai hal, yang paling membebaniku adalah jika ternyata dugaanku benar bagaimana nasib keluargaku. Tak lama mereka yang aku tunggu datang, mereka berjalan bergandengan mendekat kearahku. Aku berusaha menahan tangis yang hampir pecah.
“Mas Dimas.” Ucapku saat dia tepat berada disampingku tapi karena mereka sedang asik berbincang berdua sehingga tidak menyadari kehadiranku.
Suaraku sontak membuat mereka terkejut, mereka langsung melepaskan gandengan tangan mereka, mas Dimas langsung mendekatiku sementara Tiara terlihat menjauh.
“Bisa kita bicara sebentar?” ucapku dengan suara bergetar karena menahan tangis dan amarah.
Mungkin jika di sinetron akan ada adegan aku menampar wajah Tiara atau menyiram wajah mas Dimas dengan segelas air, tapi aku sudah putuskan untuk membicarakan semuanya baik-baik.
Mas Dimas berusaha memegang tanganku tapi aku langsung menghindarinya.
Kami duduk bersebelahan sedangkan Tiara masih berdiri mematung di depan kami.
“Tiara silahkan duduk.” Ucapku.
Tiara kemudian duduk dihadapanku.
Aku menghala napas, berusaha manahan emosi.
“Jadi sudah berapa lama kalian berhubungan?” Tanyaku langsung ke inti pembicaraan.
Mas Dimas berusaha menjelaskan bahwa dia dan Tiara tidak ada hubungan, mereka berdua di hotel karena urusan pekerjaan.
Aku tidak percaya dengan apa yang mas Dimas katankan sehingga aku terus mendesaknya untuk berkata jujur padaku, tapi mas Dimas terus mengelak.
“Tiara, aku minta kamu jujur. Sudah berapa lama kalian berhubungan?” Tanyaku.
Tiara hanya terdiam, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Melihat reaksi Tiara aku langsung bisa mengartikan bahwa mereka benar-benar menjalin hubungan. Aku menunggu cukup lama untuk mendapat jawaban dari mas Dimas atau Tiara, tapi mereka berdua hanya diam dengan tatapan kosong.
“Tiara, aku minta waktu bicara berdua dengan mas Dimas, jadi tolong tinggalkan kami berdua.” Ucapku.
Tanpa berkata apapun Tiara langsung pergi meninggalkan kami berdua.
“Mas, cukup. Aku bukan anak kecil yang tidak bisa mengartikan situasi yang terjadi sekarang. Jadi sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?” desakku.
Merasa terpojok akhirnya mas Dimas menjawab pertanyaanku.
“Enam bulan.”jawabnya singkat.
Tubuhku semakin lemas mendengar jawabannya, sebenarnya dari semalam aku sudah memiliki firasat bahwa mereka menjalin hubungan dibelakangku tapi mendengar jawabannya langsung membuat pikiranku semakin tak karuan.
Aku kembali mengingat, artinya mereka berhubungan tak lama setelah Tiara bekerja ditempat yang sama dengan mas Dimas. Aku tidak menyangka akan mengalami hal ini, Tiara sahabatku sediri begitu tega merebut calon suamiku padahal akulah yang mengenalkan Tiara pada mas Dimas, aku yang memintan mas Dimas membantu mencarikan pekerjaan untuk Tiara dan sampai akhirnya mereka bekerja di tempat yang sama. Aku tidak menyangka lelaki yang sudah tiga tahun menjalin hubungan dengaku berselingkuh dengan sahabatku sendiri.
“Itu artinya kamu memutuskan untuk tetap menikahiku padahal saat itu kamu sudah menjalin hubungan dengan Tiara? Lalu apa rencanamu sekarang? Kenapa kalian begitu tega kepadaku? Kamu tetap akan menikahiku dan tetap menjalin hubungan dengan Tiara?”
Mendengar begitu banyak pertanyaan dariku Dimas berusaha meminta maaf dan memintaku memberinya kesempatan kedua untuk tetap melanjutkan rencana pernikahan kami. Aku terdiam sesaat sampai keluar kata yang sebenarnya sudah aku persiapkan dari semalam jika ternyata mas Dimas benar-benar berselingkuh.
“Hubungan kita berakhir mas, aku minta kamu datang bersama kedua orang tuamu besok. Kita akhiri semuanya baik-baik.” Ucapku.
Aku langsung bergegas meninggalkan mas Dimas yang masih duduk, dia ikut bangkit dari duduknya dan berusaha mengejarku. Tiara hanya tertunduk saat aku melewatinya.
Selama diperjalanan pulang aku menangis kencang, semua kekesalan aku luapkan di dalam mobil sebelum aku harus menahannya kembali saat tiba di rumah.
Di halaman rumah aku masih terdiam di dalam mobil, aku menguatkan hatiku sebelum membicarakan semuanya kepada kedua orang tuaku. Setelah cukup lama akhirnya aku putuskan masuk kedalam rumah.
Terlihat mama dan papa sedang duduk menonton TV, aku menghampiri mereka.
“Pa.. Ma, bisa kita bicara sebentar? Ada hal serius yang ingin aku bahas.”
Merasa ada yang berbeda denganku mama langsung terlihat cemas.
“Kenapa Di?” Tanya mama panik.
“Apapun yang akan aku katakan nanti aku minta mama dan papa menerima keputusanku dengan lapang d**a. Ini sudah aku pikirkan baik-baik jadi tolong hargai keputusanku.”
Merasa apa yang akan aku katakan adalah hal serius papa langsung mematikan TV.
“Pa.. Ma, aku percaya dengan apa yang sering papa katakan. Bahwa di setiap kejadian Tuhan pasti punya rencana lebih indah untuk umatNya.”
Mendengar ucap aku membuat mama semakin cemas.
“Cepat katakan, kamu kenapa? Apa ada hubungannya dengan rencana pernikahanmu?” tanya mama cemas.
Aku menghela napas.
“Aku dan mas Dimas memutuskan mengakhiri hubungan kami dan membatalkan rencana pernikahan kami.”
Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku.
“Apa maksud kamu? Kamu mau membuat malu keluarga kita? Persiapan pernikahan kalian sebentar lagi selesai, acara tinggal beberapa hari lagi.” Ucap mama.
Papa berusaha menenangkan istrinya.
“Aku minta maaf ma, tapi ini sudah menjadi keputusanku. Masalah lain aku janji akan selesaikan semuanya sebaik mungkin.” Jawabku.
“Aku sudah meminta mas Dimas dan keluarganya datang besok. Aku minta mama dan papa menerima keluarga mas Dimas dengan tangan terbuka. Kejadian yang menimpa aku dan mas Dimas bukan kesalahan mereka, jadi tolong hargai mereka saat mereka datang kemari.”
“Sekali lagi aku maaf ma, pa. Nyatanya aku kembali menjadi beban untuk mama dan papa.”
Aku langsung masuk ke dalam kamarku, tangisku kembali pecah. Dari dalam kamar terdengar perbincangan mama dan papa, papa berusaha menenangkan istrinya dan memintanya untuk mendukung semua keputusanku.
***
Entah sampai jam berapa aku terjaga semalam tapi pagi ini aku terbangun dengan kondisi cukup kacau, mataku sembab karena menangis semalaman.
“Di, ayo kita makan.” Ajak papa.
“Pa, aku masih kenyang. Papa dan mama makan duluan ya.” Jawabku.
Papa mulai merasa cemas dengan kondisi ku.
“Diandra, kamu dengarkan baik-baik. Papa dan mama pasti mendukung semua keputusan kamu. Jadi kamu jangan terlalu berpikir berlebih ya.” Ucap papa.
“Iya Pa, Terima kasih pa.”
Terdengar langkah kaki papa menjauh dari kamarku.
Seharian aku berbaring diatas ranjang dengan air mata yang terus mengalir dari mataku.
Sore harinya terdengar suara bel, mama langsung membukakan pintu, ternyata mas Dimas dan keluarganya yang datang. Mama mempersilahkan mereka masuk kemudian mama menuju kamarku sedangkan papa menemani mereka diruang tamu.
“Di, ada Dimas dan keluarganya datang.” Ucap mama.
Mendengar ucapan mama aku langsung bangkit dari ranjang dan sedikit merapihkan diri agar tidak terlihat kacau. Setelah merasa cukup baik aku langsung keluar kamar, menghampiri mas Dimas dan keluarganya.
Ibu mas Dimas langsung memelukku erat saat melihat aku datang, air matanya tumpah aku mencoba menenangkannya. Mama yang melihat kami tampak heran dengan apa yang dia lihat.
Ayah mas Dimas memulai pembicaraan mereka.
“Pak, saya sebagai orang tua Dimas meminta maaf yang sebesar-besarnya. Jujur saya sendiri kecewa dengan apa yang anak saya lakukan. Dari semalam ibunya tak berhenti menangis setelah mendengar perlakukan Dimas ke Diandra.” Ucap ayah mas Dimas.
“Kami sebagai orang tua Dimas sebenarnya berharap agar Diandra memberikan kesempatan kedua untuk Dimas, tapi saya menyadari kesalahan yang anak kami perbuat, berselingkuh adalah tindakan yang sulit di maafkan sehingga kami menyerahkan semua keputusan pada Diandra.” Ucap Ibu mas Dimas.
Mama yang mendengar ucapan ibu mas Dimas sontak terkejut.
“Dimas selingkuh?” ucap mama.
“Loh jadi ibu belum tahu?” tanya Ibu mas Dimas.
Aku menggelengkan kepala.
Terlihat wajah mama langsung berubah, ada kekesalan saat menatap mas Dimas. Mama langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri mas Dimas. Mama menampar wajah mas Dimas sambil meluapkan kekesalannya.
“ Dimas, sampai tadi pagi Diandra tidak menceritakan penyebab dia membatalkan rencana pernikahan kalian, saya sampai memarahinya karena membuat keluarga malu tapi ternyata dia mengambil keputusan yang tepat saya sebagai ibu nya tidak rela mendapat perlakuan ini dari kamu. Kamu tahu Dimas? Selama tiga tahun kalian menjalin hubungan tidak pernah sekalipun dia menunjukkan sisi burukmu. Dia begitu membangga-banggakan kamu di depan keluarganya tapi ternyata perlakuan kamu terhadapnya seperti itu.” Ucap mama.
“Ma, cukup ma. Sekarang beri aku kesempatan untuk bicara, aku tahu ini pasti sulit untuk kita semua, tapi bukankan seharusnya aku yang paling terpuruk dengan kondisi ini? Tapi aku memilih mengakhiri semuanya dengan baik. Semua yang terjadi pada aku dan mas Dimas memang sudah menjadi takdir kami, aku yakin kejadian ini juga ada andil dari kesalahanku, mungkin ada hal lain yang Tiara bisa berikan sedangkan aku tidak. Tiga tahun bersama bukan waktu yang sebentar, banyak hal yang sudah aku dan mas Dimas lalui bersama, banyak hal juga yang sudah mas Dimas berikan padaku. Terima kasih mas Dimas, Terima kasih ibu dan ayah yang sudah menerima aku dengan tangan terbuka bahkan saat pertama kali aku datang ke rumah. Tapi aku putuskan hubungan aku dan mas Dimas berakhir sekarang, aku doakan mas Dimas selalu bahagia.” Ucapku.
Mendengar ucapanku mama tak tahan menahan tangis, dia langsung memelukku kemudian pamit masuk kedalam karena tidak tahan setelah mendengar kenyataan yang terjadi pada anaknya.
Mas Dimas terus meminta maaf padaku dan papa, ibu mas Dimas menangis sementara ayah dan papa tertunduk, akau bisa melihat kekecewaan di wajah papa tapi aku yakin papa pasti menahan amarahnya.
Akhirnya aku memberikan semua barang dan mengembalikan semua yang mas Dimas berikan padaku untuk acara pernikahan, awalnya mereka menolak tapi karena akupun menolak dan meminta mereka menerima akhirnya mereka membawa semuanya.
Setelah pembicaraan selesai, aku dan ibu mas Dimas berpelukan sebelum mereka pamit.
Akhirnya aku merasa lega setelah membahas semuanya, aku kembali ke kamar sementara papa masuk ke kamarnya untuk menenangkan mama.
Butuh beberapa minggu sampai samua masalah terselesaikan, aku meminta keluarga tidak menyudutkan mas Dimas atas batalnya pernikahan kami.