Bab 4 / Lelaki Yang Mencintaiku

2243 Kata
“ Mba. Mba Diandara?” Aku terkejut setelah mendengar Anin memanggil namaku. “Iya?” “Kok mba melamun? Maaf mba,aku mengingatkan kembali ke kenangan masa lalu mba. Tapi aku yakin semua ini terjadi karena bukan mba yang tidak baik untuknya. Semua terjadi karena dia yang tidak cukup baik untuk mba.” Ucap Anin. Entah kenapa ucapan Anin membuatku sedikit merasa lega, aku yang dulu selalu menyalahkan diri sendiri atas kegagalan rencana pernikahanku dengan mas Dimas. Aku yang merasa tidak pantas bersamanya kini sedikit terhibur setelah mendengar ucapan Anin. “Bunda.” Terdengar suara si kembar. Mereka menghampiri kami setelah selesai bermain dan merasa lapar, karena si kembar lapar akhirnya kami menuju restoran. Kami sengaja memilih restoran kesukaan si kembar. Aku sibuk membantu si kembar sedangkan Anin menikmati makananya. Terdengar suara HP Anin. “Halo mas.” “Sedang makan, habis ini baru ke toko perlengkapan baby, iya tenang saja kan ada mba Diandra.” Ucap Anin. Tak lama HP dia matikan. Samar-samar namaku sempat disebut oleh Anin saat menerima telepon. Setelah selesai makan kami langsung menuju toko perlengkapan baby. Anin langsung membuka daftar barang yang harus dia beli, aku sibuk menjaga si kembar sedangkan Anin sibuk memilih barang yang dia butuhkan. Sesekali Anin meminta pendapatku saat akan menentukan barang mana yang akan dia ambil. Merasa semua barang yang kami butuhkan sudah didapat kami memutuskan untuk pulang, aku menawari untuk mengantar Anin pulang tapi dia menolak dengan alasan takut merepotkan belum lagi rumah kami yang berlawanan arah, akhirnya Anin memilih pulang menggunakan taxi, aku menemani mereka sampai taxi datang. “Mba, Terima kasih untuk hari ini maaf sudah merepotkan mba.” Pamit Anin saat akan masuk ke dalam taxi. “sama-sama Anin, aku tidak merasa direpotkan sama sekali” jawabku sambil memberikan bingkisan dari tanganku. Tanpa sepengetahuan Anin aku membelikan barang untuk bayi dalam kandungannya dan si kembar. “Terima kasih mba.” “Da.. Da.. Tante baik.” Teriak si kembar dari dalam taxi. Mereka melambaikan tangan dan aku balas lambaian tangan mereka dan tersenyum. Aku langsung menuju mobilku setelah taxi yang Anin tumpangi perlahan pergi menjauh, karena malam ini Anet akan menginap aku memutuskan mampir ke restoran untuk membeli makanan yang akan aku bawa pulang. *** Di lobby apartemen terlihat Anet duduk sambil memegang HPnya, sesekali dia mengamati sekitar untuk mencari sosok yang dia tunggu kedatangannya. Hampir 30 menit dia menunggu padahal saat ditelepon aku hanya memintanya menunggu 15 menit, tampak dia mulai kesal dan mencoba menghubungi aku lagi untuk memastikan keberadaanku. Saat dia akan menekan tombol call dia terkejut karena merasa ada tangan yang menepuk pundaknya, ternyata orang yang dia tunggu sudah berdiri tepat dibelakang dia duduk. Anet tampak protes dan bersiap mengungkapkan kekesalannya karena menunggu cukup lama. “ Di, lo kemana aja sih? Pegel gw tunggu lo.” Ucap Anet ketus. Aku yang sudah mengenal Anet dengan baik sebenarnya tidak terkejut dengan sikapnya padaku, sosok Anet yang memang ceplas ceplos memang sering membuat orang salah paham tentangnya tapi bagiku yang sudah mengenalnya dengan baik, Anet adalah pribadi yang menyenangkan, itu juga yang menyebabkan aku bisa berteman baik dengannya padahal aku termasuk orang yang sulit dekat dengan orang lain. “Ya maaf, gw mampir beli makan dulu, gw takut lo protes karena di apartemen gw gak ada makanan.” Aku memberikan penjelasan padanya sambil menunjukan bingkisan ditangan kananku. Setelah mendengar penjelasanku dia langsung tersenyum. “Di, lo dari mana sih? Lo habis pacaran ya?” Tanya Anet. Aku yang menduga bahwa dia sedang menggodaku langsung berniat membalas candaannya. “Iya, gw abis pacaran.” Jawabku. Mendengar jawabanku dengan wajah yang sengaja aku buat seserius mungkin membuat Anet semakin penasaran dengan kebenaran jawaban yang aku berikan. “Serius lo? Lo sudah punya pacar? Siapa dia? Kok lo gak cerita ke gw?” protes Anet. Anet langsung memberikan beberapa pertanyaan kepadaku sedangkan dalam hati aku merasa puas setelah melihat reaksinya. Aku berjalan cepat meninggalkan dia yang masih berada dibelakangku sambil terus merengek menanyakan hal yang sama padaku. Di dalam apartemen aku menyiapkan makan malam yang aku bawa tadi sementara Anet sedang menyimpan tasnya di dalam kamar. “Net, ayo kita makan.” Ajakku setelah makanan siap tersaji diatas meja. Tidak menunggu waktu lama Anet langsung keluar dari dalam kamar dan duduk dikursi. Disela-sela makan dia masih mencoba mencari jawaban atas pertanyaan tadi. “Di, lo serius sudah punya pacar?” ucapnya saat mulutnya masih penuh dengan makanan. Merasa berhasil mengerjainya niat usilku muncul. “Iya, sorry gw belum pernah cerita ke lo.” Tiba-tiba Anet hampir tersedak setelah mendengar jawabanku. “Lo serius punya pacar? Siapa dia?” lanjutnya semakin penasaran, karena ingin meyakinkan jawaban yang akan dia dengar Anet langsung menghentikan makannya sesaat dan hanya fokus menatapku. Aku yang melihatnya berusaha menahan tawa. Awalnya aku ingin mengatakan bahwa aku berbohong padanya, tapi karena teringat berapa sering dia usil padaku membuatku berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk membalasnya. Aku mengangguk santai sambil terus menikmati makanan. “Ya ada deh, nanti kapan-kapan gw kenalin lo ya.” Ucapku seolah aku benar-benar memiliki pacar. Dia berkali-kali menanyakan kebenarannya padaku seolah memiliki pacar adalah hal yang mustahil untukku, karena tidak tega membuatnya terus penasaran akhirnya aku tidak tahan lagi dan tertawa terbahak, menyadari bahwa aku sudah membohonginya wajah Anet langsung berubah kesal, dia mengambil bungus tissu kemudain berusaha melempar ke tubuhku tapi aku berhasil menghindarinya. “Keterlaluan ya lo, gw pikir lo bener sudah punya pacar. Ternyata lo hanya bohongin gw.” Protes Anet. Dia terus menggerutu sedangkan aku tertawa puas setelah mendengar dia terus mengomentari. “Lagian lo keterlaluan banget sih, respon lo itu seperti tidak percaya kalau gw bisa punya pacar.” Ucapku. Dia balik tertawa dan balas menggodaku. “Tapi kenyataannya lo ga punya pacar kan sekarang? Gimana gw bisa percaya lo punya pacar kan gw kenal banget lo, lo itu susah banget kan untuk membuka hati lo.” Jelas Anet. Sambil makan sesekali kami masih berdebat tentang aku yang selama ini sulit membuka hati untuk pria. “Di, lo inget Angga?” Ucap Anet. “Angga?” tanyaku. “Iya, Erlangga Permadi. Anak hukum yang dulu naksir lo.” Anet berusaha mengingatkan aku pada sosok Angga. “Inget kan lo?” Tanya Anet lagi karena tidak mendapat jawaban dariku. “Iya.” Aku menjawab singkat. “Beberapa hari lalu gw ketemu dia, dia tanya tentang lo. Lo sekarang dimana? Gimana kabar lo sekarang? Gw rasa dia masih penasaran sama lo secara dulu dia lo tolak mentah-mentah.” Ucap Anet. “Oh.” Anet tertawa mendengar jawabanku yang singkat. “Kebiasaan ya lo, gw ngomong panjang lebar lo jawab singkat.” Ucap Anet kesal. Aku tertawa mendengar protesnya, tapi memang benar aku sering menjawab ucapannya dengan kalimat singkat padahal dia selalu berbicara panjang lebar. “Lo inget kan? Jangan pura-pura lupa lo. Secara dulu kan lo sakitin dia.” Goda Anet seolah memancing agar aku jujur. “Apaan sih lo, kapan gw sakitin dia?” “Lo lupa dulu dia tunggu lo lama pas ada jam kuliah tapi ujung-ujungnya lo pergi tinggalin dia?” ucap Anet antusias seolah ingin mengingatkanku karena dulu sudah mengabaikan Angga. Mendengar ucapan Anet aku berusaha menghindar dengan bergegas pergi ke dapur. “Di, dia minta no telepon lo boleh gw kasih kan?” ucap Anet. Aku tidak menjawab pertanyaan Anet. “Diandra Gauri.” “Terserah lo.” Jawabku singkat. Terlihat Anet tersenyum dan langsung mengambil HPnya. “Gw udah kasih no lo ke Angga ya, awas loh kalau dia hubungin lo jawab.” Pesan Anet seolah dia tahu bahwa aku sering mengabaikan beberapa telepon atau pesan dari orang yang tidak aku kenal baik. “Iyaa, bawel lo.” Setelah makan aku dan Anet memilih menonton film sambil menikmati cemilan. “Net, lo sama Sandi udah pacaran berapa lama?” “10 tahun.” Jawab Anet. “Kalian gak kepikiran nikah? Kalian udah pacaran lama loh, cicilan rumah sama kendaraan mah udah lunas tuh.” Aku menggoda Anet dengan mengibaratkan hubungan mereka seperti cicilan rumah. Anet mengambil bantal dan langsung melempar ke arahku, aku tertawa puas. “Lo samain hubungan gw dan sandi kaya kreditan?” Protes Anet. “Sory.. Sory.” Aku meminta maaf pada Anet sambil tersenyum puas. “Gw serius nanya, emang kalian ga mau ke jenjang lebih serius?” “Mau, tapi kami masih tunggu waktu yang tepat.” Jelas Anet. “10 tahun masih kurang?” Anet tidak menjawab pertanyaanku. “Saran gw kalau kalian sudah sama-sama merasa nyaman mending kalian nikah.” Anet melirik kearahku. “Lo jago yah kalau nasehatin orang, giliran diri sendiri buka hati aja susah.” Ucap Anet. Aku tersenyum, karena takut obrolan kami makin panjang akhirnya aku putuskan untuk masuk kedalam kamar sedangkan Anet masih asik menonton. *** Pagi harinya aku bangun lebih dulu dibanding Anet. “Net, bangun.” Aku berusaha membangunkan Anet dengan menepuk pelan tubuhnya tapi Anet tidak merespon sama sekali dan masih terlelap tidur. Aku bergegas mandi dan bersiap jogging. “Neet, bangun donk.” Aku berteriak memanggil Anet dari dapur. Menu sarapan sudah siap diatas meja, tak lama Anet keluar kamar dengan mata masih tertutup berjalan perlahan dengan langkah pelan. “Di, Angga hubungin lo?” tanya Anet dengan mata masih tertutup. Aku tidak menjawab pertanyaannya karena masih asik mengunyah makanan di dalam mulutku, merasa tidak mendapat jawaban dariku Anet membuka matanya. “Diandra??” Lanjut Anet. “Entahlah, gw belum cek HP dari semalam.” Jawabku. “Dimana HP lo?” tanya Anet. Dia langsung masuk kembali kedalam kamarku untuk mencari Hpku. Tak lama Anet keluar kembali dengan membawa Hpku di tangannya. “Lo cek tuh.” Ucap Anet. Aku mengambil HP darinya dan melihat layar HP ternyata memang benar ada pesan masuk dari nomer yang tidak aku kenal. “Gimana? Angga hubungi lo?” tanya Anet. “Hmmm.” “Apa katanya? Cepat lo balas donk.” Tanya Anet penasaran dengan isi pesan yang Angga kirim untukku. “Lo mau ikut jogging kan? Buru deh lo mandi.” Walau kesal Anet menurutiku dan pergi untuk mandi sementara aku membalas pesan Angga. *** Di taman apartemen. Aku dan Anet sedang jalan santai sambil berbincang. “Di, Angga bilang apa?” tanya Anet penasaran. “ Kepo banget sih lo?” protesku. “Gw serius Di, dia bilang apa? Ngajakin lo ketemuan?” Anet langsung memberikan banyak pertanyaan padaku. “Dia tanya kabar gw.” Jawab aku singkat. “Terus?” Anet makin penasaran dengan kelanjutan pembicaraan aku dan Angga. Aku langsung berlari meninggalkan Anet yang masih berdiri diam. “Diandra!!” Setelah hampir satu jam akhirnya kami kembali ke apartemenku. Seharian aku dan Anet menonton beberapa film koleksi lamaku. Sore harinya dia pamit pulang. “Gw balik ya, lo pasti kesepian deh gw tinggal.” Ucap Anet dengan yakin. “Apaan sih lo, justru gw seneng banget apartemen gw jadi ga berisik.” Jawabku. Anet tertawa mendengar ucapanku, kami berpelukan dan Anet melangkah pergi setelah keluar dari apartemenku. Benar saja yang Anet katakan mendadak apartemenku terasa sangat sepi setelah dia pergi, aku langsung merapikan kamar dan membereskan sisa makanan yang ada di meja makan. Malam harinya aku terjaga, sulit bagiku memejamkan mata mungkin setelah kepulangan Anet membuat suasana apartemen berbeda, sebelumnya aku terbiasa dengan sepi tapi saat Anet menginap suasana menjadi ramai dan malam ini aku kembali merasakan sepi. Seperti biasa aku nyalakan TV sebagai pengusir sepi, ku coba mencari siaran TV yang menurutku menarik tapi tidak ku temukan semua tontonan masih sama, sinetron tentang pernikahan yang di dalamnya beberapa mengisahkan tentang perselingkuhan, aku yang pernah mengalami itu dalam hidupku membuatku merasa malas menonton karena tahu bagaimana rasanya dikhianati. Entah kenapa akhir-akhir ini banyak kejadian yang mengingatkan aku kembali ke kenangan buruk itu, kenangan saat mas Dimas menghianatiku, jika aku pikir-pikir kembali ternyata saat itu di usiaku yang masih cukup muda aku termasuk bijak mengambil keputusan, aku bisa menyelesaikan semuanya dengan baik walaupun luka itu benar-benar membekas lama di hatiku tapi setidaknya aku yang merasakan, aku tidak memilih untuk membuat luka dihati orang lain padahal jika aku mau mungkin saat itu aku bisa saja menyakiti mas Dimas dan keluarganya bahkan Tiara dengan mempermalukan mereka. Lamunanku terhenti saat ada pesan masuk di Hpku, ternyata Angga mengirimiku pesan. Dia menyapaku mengucapkan selamat malam dan bertanya kabarku hari ini, Angga memang selalu ramah pada semua orang saat kuliah dulu dia termasuk orang yang memiliki banyak teman. Flashback Saat itu aku sedang berkumpul dengan teman-teman kuliah termasuk Anet, kantin kampus menjadi tempat kami menghabiskan waktu jika tidak ada jam kuliah. Kami sedang membahas tugas kuliah yang harus kami kumpulkan sore harinya saat ada jam kuliah. Nampak tiga orang laki-laki jalan mendekat kearah kami, mereka adalah Angga dan dua temannya. Angga dan aku memang berbeda jurusan tapi kami cukup sering menghabiskan waktu bersama saat di kampus, awal perkenalanku dengan Angga adalah saat ada acara penggalangan dana untuk korban banjir yang kampus kami adakan. Angga adalah sahabat Hardi teman kuliahku, semenjak itu Angga cukup dekat dengan kami. Karena seringnya menghabiskan waktu bersama membuat aku dan Angga semakin dekat, mungkin itu juga yang menumbuhkan rasa cinta dihati Angga untukku. Sore itu sebenarnya Angga tidak ada kelas tapi dia rela menunggu hanya karena ingin mengantarku pulang, aku tidak mengingat dengan jelas kenapa saat itu aku menghindari Angga dan justru memilih pulang sendiri, meninggalkan Angga tanpa pamit padanya. Ingatkan ku kembali ke masa itu, aku teringat ucapan Anet tadi, benar saat itu tak terpikir olehku bahwa tindakanku mungkin membuat Angga sakit hati, aku menghindarinya setelah sadar bahwa Angga mencintaiku tapi di saat itu aku mencintai orang lain. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN