BAB 5 / Pertemuan dengan Angga

2372 Kata
Setelah Anet memberikan nomer teleponku pada Angga hampir setiap hari kami selalu berkomunikasi melalui pesan singkat ataupun telepon, beberapa kali Angga mengajakku bertemu tapi seperti biasa aku selalu mencari alasan untuk menolak ajakannya. Entah apa yang terpikir oleh Angga tentangku, mungkin dia juga mengira bahwa aku memang sengaja menghindarinya seperti saat kuliah dulu, saat itu aku selalu menghindarinya setelah menyadari bahwa Angga menyimpan rasa untukku. Aku yang sebelumnya selalu bersedia mengantarnya main futsal atau kegiatannya yang lain tiba-tiba perlahan menjauh darinya. Semua itu terjadi karena saat itu aku mencintai laki-laki lain dan tidak mau memberikan harapan semu pada Angga. Mungkin sebagian teman akan menganggap aku terlalu kejam pada Angga tapi sebenarnya itu caraku agar tidak membuat Angga terluka terlalu dalam dengan terus mengharapkanku. Libur kerja membuatku bisa bersantai seharian, seperti yang sedang aku lakukan saat ini, aku sedang asik membaca cerita yang aku dapat dari grup SMA, cerita tentang kelebihan seorang wanita dibanding laki-laki, aku menyimak bacaan itu dengan serius. Tiba-tiba di layar Hpku muncul panggilan dari Anet. Tombol merah langsung aku geser, belum sempat aku mengucapkan sepatah katapun Anet langsung bicara dengan suara nyaringnya. “Kapan?” Tanyaku. Ternyata Anet menelpon karena berniat mengajakku makan malam, sebenarnya hari ini aku berniat untuk tidak keluar apartemen tapi Anet terus memaksaku dengan alasan Sandi yang meminta sebagai ucapan terima kasihnya kerana telah memperbolehkan Anet menginap di apartemen ku, karena terus dipaksa akhirnya aku bersedia menerima ajakan mereka. “Oke, jam 19.30 wib kita ketemu disana ya.” Ucapku untuk memastikan jam dan lokasi kami bertemu untuk makan malam. Setelah menutup telepon dari Anet aku kembali fokus ke cerita yang k****a tadi. *** Aku berlari setelah mendengar suara bel berbunyi, segera aku buka pintunya dan ternyata di luar sudah berdiri wanita yang sangat aku kenal. “Anet?? Sedang apa kamu disini?” Tanyaku karena merasa heran dengan kehadirannya di apartemenku saat ini. Bukannya menjawab pertanyaanku Anet hanya tersenyum dan tanpa aku persilahkan dia bergegas masuk. Aku sebagai tuan rumah justru mengikuti langkahnya. “Cepet, lo siap-siap.” Ucap Anet yang ternyata sudah duduk manis di sofa. “Lo, ngapain kesini? Kan kita ketemu jam 19.30 wib.” Aku yang masih penasaran kembali menanyakan tujuannya datang kesini. “Gw dan Sandi sengaja datang kesini untuk jemput lo, jadi lo tinggal duduk manis, lagian apartemen lo searah dengan restoran tempat kita makan nanti.” Jelas Anet. “Oh.” Sebenarnya aku masih merasa aneh dengan penjelasan Anet tapi kerena malas berdebat akhirnya aku putuskan menerima penjelasannya “Lo siap-siap donk.” Ucap Anet. “Gw udah siap kok. O iya, Sandi mana?” Aku yang dari tadi tidak melihat keberadaan Sandi merasa penasaran dimana dia sekarang, padahal kata Anet dia datang bersama dengan Sandi tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kedatangannya. Belum sempat Anet menjawab tampak Sandi masuk. “Yang, Diandra nyariin kamu tuh.” Ucap Anet pada pacarnya. “Apa kabar Di?” Sandi menanyakan kabarku dengan tersenyum, lesung pipit di pipinya menjadi ciri khasnya. “Baik, lo apa kabar?” aku balik menanyakan kabar Sandi. Sebelum Sandi menjawab pertanyaanku aku kembali bicara. “Lo baik-baik saja kan San? Lo masih sabar kan menghadapi sahabat gw yang bawel ini? Ucapku sambil melirik ke arah Anet. Sandi tertawa mendengar ucapku sedangkan Anet langsung berusaha melempar bantal sofa ke arah tubuhku tapi karena aku sigap menghindar bantal itu justru terjatuh di lantai. *** “Silahkan diminun San.” Ucapku sambil meletakan dua cangkir teh hangat diatas meja. Anet yang melihatku menyuguhkan minuman langsung mengambil cangkir miliknya tanpa aku persilahkan, aku melirik kearahnya. “Apa?? Ini buat gw kan?” Ucap Anet sambil meneguk minumannya. Aku hanya tersenyum geli melihat tingkahnya. “Di, lo buruan siap-siap donk.” Ucap Anet dengan sedikit nada tinggi. “Gw udah siap, memang harus siapkan apa lagi?” Aku balik bertanya pada Anet. Mendengar jawabanku Anet langsung bangkit dari duduknya dan menarikku kedalam kamar. “Yang, kamu disini dulu ya, aku ada urusan penting.”Ucap Anet pada pacarnya sambil berlalu pergi meninggalkan Sandi yang sakit duduk santai di sofa. “Lo mau ngapain sih Net??” Aku yang merasa heran dengan tingkah Anet berusaha melepaskan diri darinya. “Udah lo nurut aja, jangan banyak omong.” Protes Anet. *** Di dalam kamar Anet langsung membuka lemariku, melihat semua pakaian yang aku miliki. “Di, pakaian lo cuma ini?” Setelah melihat semua koleksi pakaianku Anet merasa heran. “Aneh banget ya lo.” Anet menggerutu. “Aneh apanya?” “Jabatan lo tinggi, duit lo banyak tapi lo ga punya gitu pakaian yang update? Lo lihat nih semua pakaian lo itu cuma kemeja. Warnanya juga semua gelap. Pantes hidup lo sepi.” Anet tertawa puas karena merasa berhasil membuatku kesal dengan ucapannya. Dia memilih pakaian yang menurutnya paling pantas aku pakai untuk makan malam dengannya, pilihannya jatuh ke dress warna navy. Dress itu adalah koleksi pakaian yang sudah sangat lama dan tidak pernah aku pakai bahkan aku sendiri lupa memilikinya. “Lo pakai ini.” Ucap Anet. “Apaan sih Net, tidak perlu lah lagian ini kan cuma makan malam biasa, ini dress juga sudah sangat lama jadi gw ga yakin masih cocok ukurannya.” Aku berusaha mencari alasan untuk menolak permintaannya menggunakan dress pilihannya. Anet terus memaksaku, akhirnya terpaksa aku menuruti keinginannya. Setelah berganti pakaian aku keluar dari kamar mandi, Anet yang melihat penampilanku terlihat kagum. “Di, lo cantik sekali. Sumpah baru kali ini gw lihat lo secantik ini.” Puji Anet. “Apaan sih lo.” Sebenarnya aku merasa senang mendengar pujian Anet, maklum baru kali ini aku mendengar kembali pujian dari orang lain untukku. Anet langsung menuntunku dan memintaku duduk, dia mendekati meja rias dan melihat peralatan make up. Terlihat dia menggelengkan kepalanya dan langsung pergi meninggalkanku di dalam kamar sedangkan dia keluar. Tak lama Anet kembali masuk dengan membawa tasnya, dia mengeluarkan peralatan make up dari dalam tasnya. Tanpa bicara dia langsung merias wajahku. Hampir 20 menit wajahku dia kuasai, aku hanya diminta menutup mataku dan tidak membukanya sebelum Anet memintanya. “Buka mata lo.” Ucap Anet. Perlahan aku membuka mataku, di cermin tampak sosok yang terlihat cantik, aku sendiri tidak menyangka bahwa sosok itu adalah aku. “Kenapa lo?” Tanya Anet sambil tertawa setelah melihat reaksiku. “Lo jangan geer, lo cantik karena gw yang jago make up wajah lo.” Ledek Anet. “Iya, gw tahu.” Anet tertawa, kemudian melanjutkan ucapannya. “Gw becanda Di, lo itu dasarnya cantik.” Ucap Anet. Aku dan Anet langsung keluar kamar, di ruang tamu Sandi yang melihat kedatangan kami terkejut setelah melihat perubahan penampilanku. Anet yang menyadari reaksi pacarnya langsung tertawa. *** Aku langsung masuk kedalam mobil Sandi, selama diperjalanan aku dan Sandi lebih banyak mendengarkan cerita Anet. Sebenarnya aku sebagai sahabatnya merasa heran dengan Anet, entah kapan energinya habis, dia selalu tampak bersemangat setiap saat bahkan saat malam hari dimana sebagian orang pasti merasa kehabisan tenaga setelah melakukan aktivitas seharian. Kondisi jalanan tampak ramai, bahkan beberapa kali mobil Sandi tak bergerak karena terjebak kemacetan. Hampir tiga puluh menit kami diperjalanan dan akhirnya kami sampai di restoran yang kami tuju, restoran dengan suasana romantis. “Apaan sih Anet, gw diajak ke restoran romantis gini. Gw harus bengong lihat mereka pacaran gitu?” Aku menggerutu dalam hati. Setelah keluar dari mobil Anet dan Sandi berjalan beriringan sementara aku mengikuti mereka di belakang. “Anet.” Aku mendengar suara memanggil Anet, tapi karena terhalang Anet dan Sandi aku tidak bisa melihat siapa sosok pemilik suara itu. Langkahku langsung terhenti setelah tiba-tiba Anet dan Sandi yang berada di depanku berhenti secara mendadak. Anet menggeser tubuhnya sehingga aku mulai dapat melihat sosok yang memanggil Anet tadi. Samar-samar aku melihat laki-laki yang duduk sambil melambaikan tangannya ke Anet dan Sandi. Aku mengikuti langkah Anet mendekati laki-laki itu, semakin dekat aku semakin merasa mengenalinya. “Angga.” Ucapku dalam hati. Sekarang aku baru tersadar bahwa aku dijebak oleh Anet dan Sandi, ternyata ini rencana mereka. Pantas saja Anet sangat antusias bahkan dia memaksaku menggunakan dress dan make up. Anet melirik kearahku, sedangkan Angga mempersilahkan kami bertiga duduk dan ikut bergabung dengannya. “Hai Di, sapa Angga sambil mengulurkan tangannya.” Aku langsung menyambut uluran tangannya sambil balas menyapa Angga. Akhirnya kami berbincang, aku yang beberapa hari ini intens berkomunikasi dengan Angga mendadak kaku, entah kenapa aku merasa canggung saat bertemu langsung dengan Angga. Anet yang menyadari langsung menggodaku, aku hanya terdiam mendengar lelucon Anet sedangkan Sandi dan Angga tertawa terbahak. “Silahkan.” Ucap pelayan setelah meletakkan semua menu makanan yang kami pesan. Kami langsung mengambil pesanan kami masing-masing dan memakannya, sesekali kami selingi dengan obrolan tentang kegiatan kami masing-masing. Saat berbincang aku dapat melihat sosok Angga yang sangat ramah dan rendah hati, dia tampak merendah padahal dari penampilannya saja sudah sangat terlihat bahwa dia termasuk pengacara sukses. Sesekali Anet tampak menyuapi Sandi, aku yang tak sengaja melihat langsung mendapat cemoohan dari Anet. “Di, lo mau suapin Angga?” Goda Anet sambil tertawa disusul tawa Angga. Aku yang kaku hanya tersipu malu. “Apaan sih Anet.” Ucapku dalam hati. Setelah cukup lama berbincang dan karena jam operasional restoran hampir selesai akhirnya kami putuskan untuk pulang. Kami berempat berjalan menuju parkiran tapi tiba-tiba Anet menghentikan langkahnya. “Di, sorry gw ga bisa antar lo balik. Mama gw nitip barang nih jadi gw harus buru-buru beli sebelum supermarket tutup.”Ucap Anet. “Oh, oke gw bisa naik taxi.” Jawabku. “Jangan donk, Angga lo searahkan sama Diandra? Lo aja yang antar dia balik ya.” Ucap Anet pada Angga. “Iya, boleh. Tenang gw antar Diandra dengan selamat.” Sebenarnya aku merasa seolah ini sudah direncanakan oleh Anet, bahkan aku merasa sebenarnya Anet hanya mencari-cari alasan agar aku bisa pergi dengan Angga. “Tidak perlu repot-repot Angga, saya bisa naik taxi.” Aku berusaha menolak tawaran Angga dengan halus. Tapi semakin aku berusaha menolak mereka bertiga semakin bersikeras agar aku pulang dengan Angga, akhirnya aku menyerah dan menerima tawaran Angga untuk mengantarku. Mobil Angga masih di parkiran sedangkan Anet dan Sandi tampak pergi mendahului kami, selama diperjalanan aku dan Angga berbincang banyak hal. Jalanan yang padat membuatku merasa waktu berjalan perlahan, empat puluh lima menit kemudian akhirnya kami tiba di apartemenku. “Angga, terimakasih sudah mengantarku. Maaf membuatmu repot.” Ucapku. “Sama-sama Di, kamu tidak merepotkan sama sekali.” Jawab Angga. Setelah beberapa saat akhirnya mobil Angga pergi menjauh. *** Aku bersiap tidur setelah berganti pakaian tidur, kucoba pejamkan mata tapi kembali terbangun saat suara HP terdengar. Ternyata Anet yang menghubungiku. Dia memastikan apakah aku sudah tiba di apartemen. Dengan gayanya yang ceplas ceplos dia berujar memastikan bahwa Angga tidak menculikku. dikesempatan ini juga aku menanyakan bahwa dari awal semua memang sudah dia rencanakan tapi Anet bersikeras bahwa tadi hanya kebetulan. Sebenarnya aku tidak mempercayai ucapannya tapi karena malas berdebat dengannya akhirnya aku berusaha mempercayainya. Aku letakkan handphone di atas laci samping tempat tidurku. Saat mencoba memejamkan mata, handphoneku kembali berbunyi tanda ada pesan masuk. “Ikh si Anet, ampun ya kan aku sudah bilang mau tidur.” Aku melihat layar handphone dan ternyata pesan itu dari Angga. “Di, saya baru sampai rumah. Kamu sudah tidur?” “Oke Angga, ini sedang siap-siap tidur. “Selamat tidur Di.” Aku meletakkan kembali handphoneku tanpa membalas ucapan selamat tidur dari Angga, aku mencoba membolak balikkan badanku berusaha agar bisa tertidur tapi aku teringat ucapan Anet tentang perasaan Angga padaku. Apakah benar dia masih mencintaiku setelah sekian lama kami tidak berjumpa, pikiranku terus menerawang sampai akhirnya tanpa sadar aku tertidur. Esok harinya aku terlambat bangun, entah karena terlalu lelah atau karena aku menyalakan lilin aromaterapi sehingga tidur lebih nyaman. Aku bergegas bersiap pergi kerja, setibanya di kantor aku langsung menuju ruang kerjaku. “Pagi bu.” “Pagi.” jawabku. Selama perjalanan keruangan berapa kali aku mendapat ucapan selamat pagi dari staff yang kutemui. *** Di ruang kerja. Aku letakkan tas diatas meja kerja, aku nyalakan komputer. Terdengar suara pintu diketuk. “Masuk.” Ternyata Novi yang mengetuk pintu. “Bu, ini report dari Departemen HRD.” “Oke, simpan saja di atas meja Nov nanti saya cek. “ “Hari ini ibu ada jadwal meeting dengan departemen Accounting jam 13.00 WIB bu.” “Oke, pastikan datanya siap.” “Baik bu, ada yang perlu saya kerjakan lagi bu?” “Tidak Nov, kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu kalau saya perlu bantuan nanti saya panggil kamu, Terima kasih Nov.” “Baik bu, saya permisi.” Aku membuka file yang diberikan Novi perlahan aku periksa berkasnya, karena terlalu fokus dengan pekerjaan sampai aku lupa waktu, jam dinding menunjukan pukul 12.00 Wib, waktunya makan siang. Novi masuk keruangan ku. “Bu, maaf ini ada kiriman makanan. Tadi ada yang mengantar katanya buat Ibu dari pak Erlangga.” “Erlangga? Maksudnya Angga?” Aku bertanya dalam hati. “Bu??” “Oh sorry-sorry Nov, Terima kasih Nov.” “Sama-sama Bu, saya permisi keluar untuk makan siang.” “Iya silahkan Nov.” Aku hentikan pekerjaanku, kubuka box makanan ternyata spaghetti dan ice bubble kesukaanku. “Dari mana Angga tahu makanan dan minuman kesukaanku?” “Pasti ini ulah Anet lagi.” Baru saja aku mengambil Handphone untuk mengirim pesan ke Anet, tiba-tiba ada panggilan masuk “Angga?” Aku angkat telepon dari Angga. “Di, kamu sudah terima makanan dan minuman yang saya kirim?” “Hai Angga, iya ini baru saya terima. Terima kasih ya.” “Semoga kamu suka, itu makanan dan minuman kesukaanku.” “Selamat makan Di.” “Sekali lagi thanks ya Angga, lain kali kamu tidak perlu repot-repot." “Saya tidak merasa direpotin Di, tapi kalau kamu sungkan mungkin kamu bisa balas dengan traktir aku makan lain kali.” Angga tertawa. “Becanda Di.” “Lain kali aku traktir kamu ya Angga.” “Oke Di, selamat makan ya.. Bye.” “Bye.” Setelah selesai makan siang, aku lanjutkan pekerjaanku, ruang meeting masih kosong saat aku datang tak lama Novi datang disusul staff yang lain. Meeting berjalan selama 1 jam, setelah meeting aku kembali ke ruanganku sedangkan semua staff kembali ke meja kerja mereka masing-masing. Jam dinding menunjukan pukul 17.00 WIB, aku bergegas menatikan komputer, memasukan handphone kedalam tas kemudian mematikan lampu ruangan dan berjalan keluar ruangan untuk pulang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN