Pagi hari seperti bisa Anin menyiapkan sarapan untuk suaminya, kali ini Anin membuat bubur ayam kesukaan suaminya. Sementara suaminya sarapan dia merapikan baju-baju di lemari dan memandikan anak kembarnya, suami Anin merasa ada yang berbeda dengan istrinya hari ini, Anin sedikit pendiam tidak seperti biasanya yang ceria.
Dari suaminya bangun tidur, Anin hanya sedikit berbicara itupun bicara tentang hal-hal yang tidak biasa seperti suaminya harus menjaga kesehatan supaya bisa mendampingi anak-anaknya sampai dewasa nanti, menanyakan apakah dia akan menikah lagi jika ternyata Anin yang meninggal duluan dan pertanyaan lain yang menurut Den aneh.
“Kamu kenapa Bun?"
“Tidak apa-apa cuma pengen tahu aja, kamu nikah lagi tidak jika bunda sudah tidak ada?"
“Bicara apa sih kamu, kita akan terus sama-sama mendampingi anak-anak kita sampai mereka menikah nanti, jadi jangan mikir yang aneh-aneh.”
“Bukan aneh, kalau bunda sudah tidak ada, tidak apa-apa ayah menikah lagi, bunda ikhlas asalkan ayah menikah dengan orang yang tepat, yang sayang ke anak-anak kita dan keluarga kita.”
“Bunda ngomong apa sih, makin ngaco deh.”
Siang harinya mereka berdua pamit ke Radhi & Raine untuk pergi ke rumah sakit, tidak seperti biasanya Anin memeluk kedua anaknya sambil menangis, lama sekali Anin memeluk mereka seakan tidak ingin meninggalkan kedua anaknya.
***
Di RS.Mitra Sejahtera.
“Siang dok.”
“Siang. Hai adik cantik, sakit apa ini? “
Anin menyapa pasiennya sebelum memeriksa kondisinya.
“Ayo dokter periksa dulu ya."
kondisi kandungannya yang sudah besar membuat dia sedikit kesulitan untuk bergerak, bulan depan rencananya baru dia ambil cuti melahirkan. Anin cukup terkenal sebagai seorang dokter anak, setiap jadwal praktik ruang tunggu pasti full oleh pasien-pasiennya.
Hari ini dia menerima banyak sekali pasien, mungkin karena kondisi cuaca saat ini membuat anak-anak sakit, satu per satu pasien dipanggil suster untuk diperiksa Anin.
Akhirnya sekarang pasien terakhir dihari ini, setelah 5 jam Anin memeriksa pasiennya.
“Diminum obatnya ya sayang, semoga lekas sembuh.”
Anin memberikan semangat pada pasien terakhirnya, setelah anak perempuan berusia 5 tahun dan ibunya meninggalkan ruangan, Anin melepas jas dokternya dan mengantungkannya lagi di tempat biasa, karena lama menunggu suaminya
menjemput, Anin memainkan handphonenya.
“O iya, sudah lama aku tidak hubungi mba Diandra ya, gimana kabarnya ya?” Ucap Anin dalam hati.
Dia mencari nomerku.
Terdengar nada sibuk saat Anin meneleponku, akhirnya dia memutuskan bermain games di Hpnya agar tidak bosan saat menunggu suaminya datang.
“Kok mas Den lama sekali ya? “protesnya dalam hati.
Dia mencoba menelpon suaminya, terdengar nada tunggu tapi entah kenapa suaminya tidak menjawab.
Anin sudah mulai bosan menunggu, dia mencoba menghubungi Diandra kembali tapi masih nada sibuk yang terdengar, selang beberapa saat terdengar ketukan pintu yang ternyata suaminya yang datang menjemput.
“Kok lama sekali mas? Dari tadi aku sudah mulai bosan menunggu.”
“Maaf tadi di depan apotik aku ketemu dokter Tegar dan kami berbincang sebentar.”
“Oh kamu tidak angkat telepon aku karena sedang mengobrol dengan dokter Tegar ya? “
“Kamu telepon? Mungkin handphone aku tertinggal di mobil.”
“Oh, ya sudah ayo pulang, kasian si kembar kelamaan kita tinggal.”
Mereka berdua berjalan berdampingan, rumah sakit seperti rumah kedua bagi mereka, karena selain di rumah mereka banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Di dalam mobil Anin sibuk berbalas chat denganku, kami menanyakan kabar masing-masing. Obrolan terus berlanjut namun tiba-tiba aku terkejut dengan chat Anin.
“Mba, Terima kasih mba sudah menjadi sahabat yang baik untukku, kita memang baru sebentar saling mengenal tapi aku sudah anggap mba seperti kakakku sendiri.”
“ Terima kasih mba sudah sangat sayang pada si kembar, aku bisa melihat kalau mba tulus sayang pada mereka.”
“Nin?? Kamu baik-baik saja kan? “
“Baik mba, kenapa memang? “
“Tumben kata-kata kamu di chat kok terkesan kita akan berpisah, kamu tidak akan pindah keluar kota kan?” Tanyaku.
“Tidak mba, ini aku baru pulang praktik lagi jalan bareng suamiku."
“Syukur deh.”
“Tapi mba, aku boleh minta sesuatu pada mba?”
“Hmm, lagi pengen apalagi nih? Lagian perasaan kamu hamil sudah besar tapi kok masih sering ngidam ya? Atau cuma alasan aja bawa-bawa ngidam.” protesku dengan menambahkan emoticon meledek.
“Bukan makanan yang aku minta sekarang mba, aku titip si kembar ya mba.”
“Boleh, memang kamu mau keluar kota?"
“Bukan mba, maksudku kalau sesuatu terjadi padaku dan aku tidak bisa mendampingi anak-anaku, aku minta mba ikut menjaga si kembar. Aku tahu mba sayang pada mereka."
“Jangan bicara yang aneh-aneh deh Nin, apaan sih kamu?? Koq kesannya kamu mau kemana aja.”
“Aku sayang sama Radhi & Raine tapi sebaik-baiknya orang yang paling baik dan pantas menjaga mereka ya kamu bundanya.”
“Ya kan aku bilang kalau mba, janji yaa.”
“Apaan sih Nin? “
“Pokoknya harus janji, bilang dulu mba janji akan ikut jaga anak-anakku? “
“Iyaaa.” jawabku singkat.
“Aku juga minta maaf ya mba kalau aku ada salah sama mba.”
“Iya sama-sama, aku juga minta maaf kalau aku ada salah.”
Aku merasa ada yang aneh dengan Anin hari ini, tapi karena dia sedang hamil aku pikir itu hal yang wajar karena perubahan moodnya. Obrolan kami di chat terhenti dengan balasanku tadi.
Den mengendarai mobil sambil menelepon, tapi tangannya menyenggol sesuatu dan menyebabkan benda terjatuh, sialnya entah mengapa Den berinisiatif mengambil benda yang terjatuh itu, dia sedikit menunduk untuk menjangkau barang yang terjatuh tanpa dia sadari mobil di depannya berhenti mendadak, Den berusaha menghindari mobil di depannya dengan membanting setir ke arah berlawanan namun naas justru mobilnya menabrak pembatas jalan. Mobilnya terpental beberapa meter.
Sementara di kantor aku terus memikirkan Anin, rasanya ada yang aneh dengan Anin, aku mencoba menelepon tapi tidak mendapat jawaban, aku coba berkali-kali akhirnya mendapat jawaban tapi bukan Anin yang menjawab.
“Hallo? "
Suara laki-laki yang menjawab telepon Anin, ku pikir dia suami Anin.
“Maaf, bisa bicara dengan Anin? “
“Ibu Diandra ini siapa bu Anin? “
Tanya orang itu padaku.
“Saya temannya, maaf bapak ini siapa ya? “
Saya dari kepolisian, ibu Anin dan suaminya baru saja mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol.
Aku terkejut mendengar itu.
“Kecelakaan? Lalu bagaimana kondisi Anin dan suaminya pak? “
“Mereka berdua akan kami bawa ke RS. Mitra Sejahtera, sekarang sedang proses evakuasi.”
“Tapi kondisi Anin baik-baik saja kan pak? “
“Nanti tim dokter yang akan memastikan kondisi mereka bu.”
“Baik Pak, Terima kasih informasinya, saya akan menuju rumah sakit sekarang.”
Aku bergegas keluar ruangan.
“Nov, hari ini saya pulang cepat tolong handle semua urusan, hubungi saya untuk hal-hal yang memang tidak bisa kamu handle saja. “
“Ba.. baik bu.” jawab Novi terkejut karena melihatku panik.
Aku mengendarai mobil dengan tergesa-gesa dan akhirnya tiba di rumah sakit, di depanku ada dua mobil ambulans, mungkin ambulans itu yang membawa Anin dan suaminya pikirku. Segera aku parkiran mobilku tak jauh dari pintu utama rumah sakit. Aku perhatikan kedua ambulans itu, satu ambulans terlihat membawa seorang laki-laki berpakaian rapi, namun aku hanya bisa melihat dengan jelas kakinya saja sedangkan wajahnya terhalang tubuh perawat, satu ambulans membawa perempuan hamil tubuhnya penuh dengan darah bahkan sampai ke bagian lakinya. Aku perhatikan perempuan itu dan betapa terkejutnya aku tenyata memang Anin.
Aku berlari mengikuti dari belakang, dari dalam rumah sakit sudah banyak perawat dan dokter yang menunggu, mungkin karena Anin dan suaminya bekerja disini sehingga semua rekan kerjanya sebisa mungkin untuk membantu. Sepintas kulihat Anin dan suaminya diperiksa oleh dokter, tapi kenapa Anin dibawa ke ruangan lain, aku menanyakan pada suster yang ada disitu.
“Sus, maaf Anin mau dibawa kemana ya? Kondisinya baik-baik saja kan? “
“ Maaf ibu ini siapanya dr.Anin? “
“Saya sahabatnya Sus.”
“dr.Anin kritis sekarang dokter akan melakukan tindakan pada dr. Anin.”
Kakiku langsung lemas.
Dari arah belakangku ada suara lari, aku menoleh kebelakang ,terlihat seorang laki-laki muda yang mungkin kerabat Anin dan suaminya.
“Sus, gimana kondisi dr. Anin dan dr. Denendra? “
“Maaf, anda siapa? “
“Saya adik dr. Denendra.”
“dr.Denendra ada di UGD, sedangkan dr. Anin sedang dilakukan tindakan operasi.” Jelas suster pada laki-laki itu.
Terlihat laki-laki itu memegang kepalanya kemudian mengambil handphone dari dalam saku celananya, ku lihat dia berkali-kali sibuk menelepon mungkin dia sedang menghubungi anggota keluarga yang lain. Setelah aku lihat laki-laki itu lebih tenang dan sedang duduk, aku menghampirinya.
“Permisi, maaf tadi saya tidak sengaja mendengar kalau anda adik dari suami Anin? “
“Benar, maaf anda siapa? “
“Saya Diandra, sahabat Anin tadi saya menelepon Anin tetapi yang mengangkat ternyata polisi dan polisi tersebut menceritakan bahwa Anin mengalami kecelakaan, saya bergegas kesini setelah mendengar kabar itu.”
“Oh iya, Terima kasih, perkenalkan saya Rangga. “
Saya dan Rangga sangat meras cemas dengan kondisi Anin di dalam, tiba-tiba lampu dari ruang operasi padam, dokter keluar dari ruangan dan menanyakan kepada suster dimana pihak keluarga dr. Anin. Suster tersebut menunjuk Rangga.
“Maaf anda siapnya dr.Anin? “
“Saya adik iparnya dok, saya adik dr. Den.”
Dokter menghela napas, aku merasa cemas menunggu apa yang akan dokter sampaikan kepada Rangga.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin pak, bahkan semua rekan kerja dr. Anin dan dr.Den sekarang berkumpul sebisa mungkin untuk membantu kondisi dr. Anin tapi Tuhan berkehendak lain, dr. Anin pergi bersama anak dalam kandungannya.”
Rangga langsung terkulai lemas, dokter dan saya yang berdiri dibelakang Rangga berusaha membantu Rangga berdiri.
Dokter dan suster pergi meninggalkan kami sementara Rangga tidak dapat menahan tangisnya.
“Maaf, saya tahu anda sedih tapi bukankah sebaiknya anda ke UGD untuk melihat kondisi kakak anda? “
Setelah mendengar ucapanku, Rangga bergegas ke UGD sedangkan saya masih duduk di tempat yang sama.
Pikiranku menerawang,
“Apa ini maksudnya Anin menitipkan anak-anaknya jika terjadi sesuatu padanya?"
“ Apa Anin sudah mempunyai firasat sebelumnya?"
Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri.
***
Sementara di kantorku.
“Permisi, saya sudah ada janji dengan ibu Diandra.”
“Maaf bapak siapa? Dan dari mana?”
“Saya Erlangga Permadi, sampaikan saja kalau saya sudah datang karena kami sudah membuat janji tadi.”
“Maaf Pak, tapi ibu Diandra sedang tidak ada, tadi beliau pergi dengan tergesa-gesa.”
“Apa ada sesuatu yang terjadi? “
“Saya kurang tahu pak.”
“Sudah berapa lama ibu Diandra pergi? “
Novi melihat jam tangannya dan mengingat kapan aku pergi.
“Kurang lebih satu jam.“
“Baik, Terima kasih.”
Angga melangkah pergi sambil memegang handphonenya, dia mencoba menghubungiku tapi tidak aku angkat karena aku masih sibuk dengan lamunanku sehingga tidak sadar ada suara dari Handphone di dalam tasku. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya aku tersadar bahwa ada suara telepon dari dalam tasku.
“Hallo Dii. “
“Kamu dimana?”
“Hallo Angga, sorry-sorry saya lupa ada janji sama kamu hari ini, saya sedang di rumah sakit."
“Kamu sakit? Apa yang sakit? Kamu kenapa? Di rumah sakit mana? “
Angga memberondong pertanyaan padaku, padahal belum satupun pertanyaan aku jawab.
“Saya tidak sakit Angga, saya tidak apa-apa, saya sedang menjenguk teman yang kecelakaan.”
Aku tidak menceritakan pada Angga bahwa aku baru saja kehilangan sahabat.
“Di rumah sakit mana? Biar saya temani kamu.”
“Tidak perlu Angga, Terima kasih lagipula saya merasa tidak enak jika terlalu banyak yang berkunjung."
“Sorry ya Angga, kira pergi makan lain kali saja ya, maaf tadi saya tidak mengabari kamu dulu karena saya panik tadi."
“ Oke tidak apa-apa, kita bisa reschedule acara kita, kamu hati-hati ya info kalau kamu butuh apa-apa. “
“Oke Angga, thanks ya.. Bye.”
Aku berjalan menuju UGD karena penasaran dengan kondisi suami Anin tapi ternyata di depan UGD sudah ada beberapa orang yang berdiri bersama Rangga, Rangga yang melihatku menghampiri.
“Mba, ayo biar saya kenalkan pada kedua orang tua mba Anin, mereka baru saja tiba dari Solo bersama dengan kedua orang tuaku."
“Terima kasih Rangga, tapi saya pikir lain waktu saja pasti ini bukan waktu yang tepat."
“Tapi kalau tidak keberatan boleh saya meminta no telepon Rangga? Saya butuh info kapan Anin dikebumikan dan dimana nanti.“
“Oh iya tentu boleh mba.”
Akhirnya kami bertukar no telepon.
***
Den membuka matanya perlahan, mungkin karena pengaruh obat dia masih belum sepenuhnya sadar.
“Bu, bagaimana kondisi Anin?” tanya Den pada ibunya.
Ibunya merasa kebingungan dengan apa yang harus dia katakan pada Den, tidak mungkin dia berbohong sedangkan pemakaman Anin akan dilakukan besok.
“Kamu istirahat saja Den, masalah Anin kita bahas besok saja.”
“Anin kenapa bu? Tolong jelaskan sekarang juga.”
Ibunya menghela napas.
“Buu.. Ayo jelaskan Anin kenapa bu??"
“Baik, ibu ceritakan tapi apapun yang terjadi dan setelah kamu mendengarkan cerita ibu kamu harus tenang, janji??"
“Iya bu, Anin kenapa? Anin dimana?"
“Den.”
Ibunya memegang tangan Den.
“Anin kenapa bu?” Den terus mengulang pertanyaanya karena belum juga mendapat jawaban dari ibunya.
“Anin pergi membawa anak kalian.” Ucap ibu dengan menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Maksud ibu??” Den tidak melanjutkan ucapannya tapi langsung bangkit dari tidurnya, dia langsung mencabut selang infus yang masih terpasang di lengan kanannya.
“Anin dimana bu??” ibu nya tidak menjawab.
Den keluar UGD, di depan UGD beberapa orang termasuk ayah mertuanya berusaha mencegah namun gagal.
***
Di kamar jenazah.
Petugas kamar jenazah yang mengenal Den langsung mempersilahkan dia masuk, Den langsung tersungkur dihadapan jenazah istrinya. Dia menangis tersedu.
Sampai waktunya jenazah Anin dibawa ke rumah duka, Den menemani jenazah istrinya di dalam mobil jenazah sementara keluarga yang lain mengikuti dengan mobil pribadi.
Setibanya di rumah duka sudah terpasang bendera kuning di pagar rumah. Den ikut mengangkat jenazah Anin dan anaknya. Radhi dan Raine menghampiri Den yang duduk disamping jenazah istri dan anaknya, beberapa keluarga dan kerabat yang melihat ikut menangis.
“Ayah, kata uti bunda dan ade bayi pergi ke surga ya? “
Rupanya ibu Anin sudah menjelaskan kepergian anaknya pada cucu kembarnya.
“Iya sayang, bunda dan ade bayi pergi ke surga.”ucap Den.
“Maafkan ayah ya nak.”
Den memeluk kedua anaknya dengan erat.
Aku yang sudah mendapatkan informasi dari Rangga bahwa hari ini pemakanan Anin memutuskan datang ke rumah duka dahulu untuk menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga. Terlihat bendera kuning sebagai tanda rumah duka yang aku cari, aku parkiran mobil di samping rumah Anin, sudah banyak mobil berjejer, mungkin tamu yang datang ke rumah Anin.
“Nin, aku tidak menyangka bahwa aku datang kerumahmu disaat kamu sudah tidak ada.” Ucapku dalam hati
Aku turun dari mobil, berjalan memasuki rumah Anin, dan aku melihat Rangga duduk bersama anggota keluarga yang lain.
Rangga menghampiriku.
“Mba Diandra, silahkan masuk, mari saya kenalkan ke suami mba Anin dan keluarga yang lain.”
“Terima kasih Rangga.”
Kami memasuki ruang tamu, terlihat beberapa orang melantunkan ayat suci begitu pula denganku. Setelah selesai aku mencari Rangga kemudian memanggilnya.
“Rangga.”
Rangga menoleh ke arahku.
“Sudah mba? “
“Iya.”
“Mari mba.”
Aku mengikuti langkah Rangga dari belakang, tampak beberapa orang berkumpul sambil terlihat menangis sedih mungkin mereka keluarga Anin yang merasa kehilangan atas kepergian Anin. Dari semua sosok yang aku lihat ada satu sosok yang mencuri perhatianku.
“Bukannya itu mas Denendra? “ gumamku dalam hati.
“Apa dia benar-benar Mas Denendra yang aku kenal dulu?? “
Tiba-tiba aku tersadar setalah mendengar Rangga memanggilku.
“Mba kenalkan ini orang tua mba Anin.”
“Bapak.. Ibu.. Ini mba Diandra, sahabat mba Anin, mba Diandra juga ada di rumah sakit menemani saat mba Anin operasi.” Ucap Rangga.
Aku mengucapkan rasa duka citaku kepada mereka. Rangga bercerita bahwa sebelum meninggal Anin menghubungiku, awalnya Rangga akan menunjukkan pasan yang ada di handphoneku tapi karena pemakaman Anin sebentar lagi dimulai Rangga meminta waktuku sebentar untuk datang ke rumah lagi setelah pemakamannya selesai, aku menyanggupi. Setelah Rangga mengenalkan aku dengan kedua orang tua Anin, giliran aku dikenalkan pada kedua mertua Anin, Rangga menceritakan hal yang sama dengan yang dia ceritakan pada kedua orang tua Anin.
Tiba-tiba Radhi dan Raine menghampiriku.
“Tante baiik.”
Mereka memelukku sambil terisak, aku langsung memeluk mereka.
“Mas, ini mba Diandra, sahabat mba Anin.” Ucap Rangga.
Ternyata yang ada didepanku memang Denendra yang aku kenal dulu, dia sahabat kakak sepupuku mas Fredy.
***
Flashback
“Diandra, kebiasaan!! ketuk pintu dulu donk kalau mau masuk kamar.”
Mas Fredy selalu marah saat aku langsung masuk kedalam kamarnya.
“Maa, si Diandra kebiasaan main nyelonong masuk kamar.”
Mas Fredy mengadu kepada tanteku. Aku bergegas menutup kembali kamar mas Fredy.
“Ikh main ngadu mulu, ya maaf sih aku kan lupa pikir mas Fredy ga ada di kamar.”
“Lagian kenapa sih lo, seneng banget tidur di kamar gua, kan lo udah ada kamar sendiri di rumah ini masih aja ngerecokin gua.”
Itu saat pertama aku melihat Mas Denendra, dia tersenyum ramah saat aku ketahuan nyelonong masuk kamar Mas Fredy. Semenjak kejadian itu kami jadi sering bertemu di rumah Mas Fredy bahkan saat dia menginap kami sering makan bersama, akhirnya karena kami sering bertemu perasaan suka itu muncul. Aku mencintai dia, aku salah paham dengan sikap dia padaku saat itu. Aku mengira bahwa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Ternyata aku salah, dia memang baik, tapi itu dia lakukan ke semua orang. Sampai suatu hari aku tersadar saat dia mengajak seorang wanita ke rumah Mas Fredy.
Aku sedang sibuk di kamar, Mas Ferdy memanggilku.
“Dii, sini sebentar.”
“Apaan sih, lagi sibuk nih.”
“Buatin minum donk.”
“Apaan sih kan bisa buat sendiri.”
“Denendra mau kesini loh.”
Mas Fredy memang menyadari bahwa aku ada rasa ke Mas Denendra itu sebabnya dia sering memanfaatkanku jika dia butuh bantuan.
Aku langsung keluar kamar.
“Serius Mas Denendra mau kesini?” aku antusias bertanya pada Mas Fredy.
“Serius, ngapain gua bohong, kenapa? Lu seneng ya?? “ goda mas Fredy.
“ Apaan sih Mas, biasa aja. “ aku mencoba mengelak walaupun aku yakin itu tidak akan berhasil.
“Yakin?? “ goda Mas Fredy
“Cepat buatkan minuman.”
Aku masuk ke dapur, saat di dapur aku mendengar suara motor sport mas Denendra. Setelah minumannya siap, aku memastikan penampilanku dengan bercermin dulu sebelum menyajikan minumannya, memastikan bahwa tidak ada yang aneh pada wajahku. Aku membawa minuman itu ke ruang tamu.
Aku terkejut ternyata ada sosok wanita yang duduk disamping Mas Denendra. Aku hanya tersenyum padanya sedangkan mas Fredy menatapku.
“Silahkan diminum, saya permisi dulu.” aku masuk ke kamar, di kamar aku menangis setelah Mas Denendra pulang Mas Fredy masuk ke kamarku.
***
Aku kembali tersadar dari lamunan.
“Denendra.”
“ Mas, saya turut berduka cita atas kepergian Anin, semoga Anin diberikan tempat terbaik disisi Tuhan.”
“Aamin, terimakasih." jawabnya.
“Hai sayang, aku memeluk Radhi dan Raine.”
“Tante, bunda dan Ade sudah ke surga kata Uti.” ucap Raine polos
Sementara Radhi memegang tanganku erat.
“Iya sayang, bunda dan Ade bayi sekarang ada di surga. Radhi dan Raine disini tidak boleh nakal, tidak boleh menangis, harus nurut sama ayah supaya bunda di surga seneng, ya?”
“Iya tante.”
“Mas, sudah waktunya kita ke pemakaman.”
“Ya.”
“Ayo nak.”
Mas Den mengajak kedua anaknya untuk ikut mengantar bundanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
“Adek mau sama tante baik ayah.” ucap Raine
“Kakak juga ayah.” sambung Radhi.
“Kalau memang diizinkan biar anak-anak dengan saya saja mas."
“Baik, saya nitip anak-anak mba Diandra.”
“Pasti mas.”
“Radhi dan Raine boleh ikut tante baik tapi jangan nakal ya.”
“Iya ayah.”
***
Di TPU kamboja.
Proses pemakaman Anin dan bayinya berjalan lancar, aku ikut mendampingi si kembar. Sangat terlihat mas Den begitu terpukul atas kepergian Anin dan bayinya. Radhi dan Raine menaburkan bunga diatas kuburan Anin dan adik mereka.
Setelah proses pemakaman selesai.
“Mba bisa ke rumah dulu?” tanya Rangga.
“Iya Rangga, sekalian antar si kembar."
“Ayo nak, kita pulang, ajak mas Den ke anak-anaknya tapi mereka tetap ingin pulang bersamaku.
“Aku maunya sama tante baik ayah.”
“Aku juga ayah.”
“Tidak apa-apa mas, biar saya antar, anak-anak ikut mobil saya saja.”
“Maaf merepotkan mba Diandra.”
“Saya tidak merasa direpotkan mas, Anin sahabat saya.“
“Kalau tidak keberatan boleh saya ikut mobil mba Diandra saja, biar saya yang menyetir. “
“Oh silahkan mas.’
Aku memberikan kunci mobilku.
Selama diperjalanan aku bercanda dengan si kembar, setidaknya hari ini aku merasa menepati janjiku pada Anin untuk menjaga anaknya. Mas Den fokus menyetir, sesekali dia melihat ke arah kami.
“Apa dia benar-benar tidak ingat padaku?” gumamku, tapi menurutku ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan apakah dia mengenaliku atau tidak.
***
Di rumah mas Den.
Entah kenapa si kembar tidak mau lepas dariku, bahkan sampai mereka tidur aku diminta menemani mereka, setelah mereka tidur aku keluar kamar.
“Mba, sini duduk. “ ajak Anne adik perempuan mas Den.
Padahal baru kali ini aku bertemu mereka tapi entah mengapa aku merasa sangat diterima dikeluarga ini.
“Sini duduk Mba Diandra” ucap Ibu mas Den.
“Iya bu, Terima kasih."
Disitu semua keluarga berkumpul.
Rangga memulai pembicaraan, dia menceritakan bahwa sebelum Anin meninggal Anin sempat menghubungiku dan menyampaikan pesan padaku. Aku menunjukan pesan yang dikirim oleh Anin padaku.
“Mungkin ini firasat Anin akan kepergiannya.” ucap Ibu mas Den, sementara ibu Anin menangis.
Mas Den teringat pagi itu Anin juga menunjukkan sikap yang tidak seperti biasanya, bahkan Anin membahas agar mas Den menikah lagi jika sesuatu terjadi pada Anin. Saat itu aku juga menceritakan awal mula pertemuanku dengan Anin sampai akhirnya kami bersahabat, mereka mendengarkan ceritaku dengan serius. Karena hari sudah malam aku pamit untuk pulang, Mas Den mengantarku sampai ke mobil.
“Mba, terima kasih hari ini sudah banyak membantu kami, Terima kasih sudah menemani si kembar.”
“Sama-sama Mas, jangan sungkan kalau butuh sesuatu yang berkaitan dengan si kembar, karena seperti yang mas Den tahu, Anin memintaku ikut menjaga anak-anaknya itupun jika keluarga tidak keberatan.”
“Iya Mba, Terima kasih."
“ Saya permisi pulang mas.”
“Iya silahkan hati-hati."
Mobilku berjalan makin menjauh dari tempat mas Den berdiri, aku melihat mas Den dari kaca spion sampai akhirnya mas Den tidak terlihat lagi.
***