BAB 7/ Pesan Terakhir Anin

3605 Kata
Tujuh hari setelah kepergian Anin. Pagi harinya di rumah Den masih ramai, masih banyak keluarga yang menginap setelah prosesi pemakanan Anin, malam ini sebagian akan kembali kerumah masing-masing, orang tua Den dan orang tua Anin pun akan kembali kota solo. Ibu Anin meminta izin pada Den untuk melihat barang-barang Anin, termasuk baju Anin karena untuk mengingat anaknya ibu ingin meminta barang Anin dibawa pulang olehnya. “Den, kalau boleh ibu ingin melihat barang Anin, ibu ingin punya kenangan untuk ibu bawa pulang ke Solo.” “Boleh bu, sebenarnya pagi sebelum kecelakaan itu Anin sibuk merapikan pakaian kami di lemari, silahkan saja kalau ibu ingin membawanya sebagian.” “Baik Den, ibu izin masuk kamar kamu ya, nanti ibu minta ditemani Anne, mungkin baju Anin juga bisa sebagian Anne ambil supaya lebih bermanfaat daripada didiamkan begitu saja.” “Iya bu, silahkan.” Ibu Anin dan Anne masuk ke dalam kamar, mereka membuka lemari pakaian Anin. Terlihat semua tertata rapih. Atas izin ibu Anin, Anne membongkar sebagian pakaian dalam lemari untuk dikeluarkan dari lemari dan dia bawa. Satu persatu tumpukan baju itu dibongkar, namun Anne terkejut saat melihat ada amplop putih diantara tumpukan baju Anin. Amplop itu tertulis “Teruntuk Suamiku Denendra Saguna.” dan “Dari istrimu Anindya Friska.” “Bu.. Bu.. Lihat ada surat untuk Mas Den dari Mba Anin.” Ucap Anne antusias. “Cepat, berikan pada Den, mungkin ada pesan yang Anin ingin sampaikan untuk Den.” Anne berlari keluar kamar sambil berteriak, teriakannya membuat seisi rumah panik bahkan membangunkan Rangga yang saat itu masih tertidur. “Mas Den.. Mas Den.. Mas.. Mas.” Teriaknya. “Dimana sih nih orang? mas..” Anne masih belum juga menemukan kakak sulungnya. “Ada apa Anne, kamu pagi-pagi teriak membuat panik seisi rumah.” tanya ibunya pada Anne disusul omelan Rangga karena Anne sudah membuatnya terbangun. “Mas Den dimana bu?’ Belum sempat menjawab dari belakang Anne tampak sosok Den. “Itu Mas Den.” ucap Rangga sambil menunjukan Den yang menghampiri Anne. “Mas.. Mas lihat deh, aku menemukan ini ditumpukan baju mba Anin.” ucap Anne antusias. Yang lain tak kalah antusiasnya setelah mendengar ucapan Anne. “Buka.. buka.” ucap mereka kompak. Den mengambil surat itu dari tangan Anne kemudian dia duduk dan melihat suratnya. Dibagian depan surat tertulis “Teruntuk Suamiku Denendra Saguna.” ada emoticon love disampingnya. Den membuka suratnya, ternyata benar tulisan tangan Anin dan isi surat itu cukup panjang. “Jakarta, 12 Juli 2019.” artinya dia menulis malam hari sebelum kecelakaan itu terjadi gumam Den dalam hati. Tampak Rangga dan Anne berebut berdiri di belakang Den karena ingin ikut membaca isi surat itu. Den mulai membaca isi surat itu dalam hati. “Mas, entah kenapa malam ini pikiranku gundah sekali, berkali-kali aku keluar masuk kamar anak-anak hanya karena ingin memeluk dan mencium mereka, mereka adalah malaikat kecil yang Tuhan kirim sebagai bukti cinta kita, kita yang tidak punya garis keturunan kembar bisa mempunyai anak kembar secara normal menurutku adalah sesuatu yang harus kita syukuri terlebih lagi mereka laki-laki dan perempuan. Aku sangat bahagia dengan kehadiran mereka dihidupku.” “Karena suasana hatiku sedang galau tapi aku tidak tahu harus melakukan apa sedangkan kamu sudah tertidur pulas aku putuskan untuk menulis surat ini, tapi sebenarnya aku sendiri tidak berharap kamu menemukan surat ini karena jika kamu menemukan surat ini itu artinya aku sudah pergi dari hidupmu, surat ini akan menjadi kenangan untukmu yang bisa aku berikan.” “Mas, ingatkah kamu bagaimana kita akhirnya bisa menikah? Sebenarnya aku yang mencintaimu lebih dulu tapi karena sifat kamu yang kaku dan tidak memberikan respon padaku akhirnya aku menjalin hubungan dengan mantanku tapi Tuhan takdirkan kita untuk bersama, kamu melamarku langsung di depan kedua orang tuaku tanpa ada pernyataan secara pribadi padaku terlebih dahulu, aku sangat bahagia saat itu sampai tidak menunggu lama aku langsung iya kan lamarannya.” “Setelah bertahun-tahun menikah ternyata sifat kakumu tidak berubah, aku tidak pernah mendengar kamu menyatakan cinta padaku, memanggil aku dengan panggilan sayang, kadang aku iri dengan teman-teman yang bercerita tentang suaminya yang romantis dengan mengajak mereka makan malam romantis, memberikan mereka bunga atau sekotak coklat tapi aku sadar setiap orang tidak harus sama, tanpa kamu melakukan itupun aku tahu kamu sebenernya mencintai aku dengan tulus, untuk itu melalui surat ini aku ingin menyampaikan terima kasih mas, terima kasih karena telah menjadi suami dan ayah yang baik, terima kasih karena telah menjadi patner kerja dan hidup yang baik untuk aku, terima kasih karena sudah membimbing aku, menemani aku bertumbuh menjadi Anin dengan kepribadian yang baru, karena kamu sekarang aku bisa mandiri.” “Entah surat ini butuh berapa lama untuk kamu temukan, seminggu? Sebulan? Setahun? Puluhan tahun? Atau mungkin surat ini tidak pernah kamu temukan karena sesuai harapan aku bahwa kita masih bersama sampai saat itu.” “Tapi jika ternyata kamu menemukan surat ini, aku berharap saat itu kamu sudah tersenyum kembali setelah kepergianku, entah bagaimana caraku meninggalkanmu tapi yang terjadi pada kita adalah takdir yang sudah Tuhan gariskan jadi aku minta kamu lanjutkan hidupmu dengan baik, jangan ada rasa penyesalan, rasa bersalah atau bahkan rasa kecewa didalam hati mas Den karena hanya dengan cara itu aku bisa pergi dengan tenang.” Den meneteskan air mata saat membaca kata-kata Anin, kemudian mengusap air matanya dan melanjutkan membaca surat yang ternyata masih panjang. “Saat kamu menemukan surat ini entah kamu sudah memiliki penggantiku atau belum, tapi aku ikhlas mas, justru aku berharap kamu sudah bisa menata hatimu lagi, mau membuka hati untuk orang lain agar bisa masuk dan menjadi bagian dari hidupmu, seperti yang aku yakini bahwa akupun pasti menjadi bagian dari hidupmu. Entah kenapa yang terlintas dalam benakku saat ini wanita yang cocok menggantikan posisiku adalah mba Diandra, dia wanita yang sangat baik, yang selalu tulus, aku bisa melihat dia sayang dengan tulus kepada anak-anak kita, aku juga percaya kamu dengan mudah akan mencintainya karena sifatnya, begitu pula aku yakin mba Diandra akan dengan sangat mudah mencintai kamu karena sifat kamu.” “Tapi itu hanya sekedar harapanku, jika ternyata kamu sudah memiliki wanita lain tak masalah buatku, aku yakin kamu akan memilih wanita yang tepat, wanita yang bukan hanya menjadi istrimu tapi juga menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita, kita serahkan semuanya kepada takdir Tuhan.” “Mas, tolong sampaikan terima kasihku pada ibu dan bapakku, mereka adalah orang tua terbaik dan pada kedua orang tuamu karena mereka adalah mertua terbaik. Terima kasih untuk semuanya yang sudah menjadi bagian dari kehidupanku, tolong ikhlaskan kepergianku agar akupun bisa pergi dengan damai.” “Mas, aku minta padamu tolong terus dampingi anak-anak kita, bimbing mereka agar mereka bisa menjadi manusia yang baik seperti yang kamu lakukan padaku, buat mereka menjadi orang yang mandiri seperti yang aku rasakan setelah aku mengenalmu.” “Mas, jaga kesehatanmu agar kamu bisa menemani anak-anak kita sampai mereka menjadi orang-orang sukses, sampai akhirnya kamu bisa bermain bersama cucu-cucumu, saat itu mungkin aku sudah tidak ada bersama kalian tapi aku akan melihat kalian dengan tersenyum bahagia dari atas sana.” “Mas, aku mencintaimu bahkan sampai akhir hayatku, satu yang aku minta kamu harus berjanji akan bahagia bahkan setelah kepergianku.” “Dari istrimu, Anindya Friska yang selalu mencintaimu.” Itu isi surat Anin ditutup kata-kata manis. Den, melipat kembali surat itu dan meletakkannya diatas meja kemudian dia masuk ke kamar si kembar. Sementara di ruang keluarga, Anne dan Rangga berebut surat itu karena tadi tidak berhasil ikut membaca suratnya saat Den sedang membaca surat itu. Akhirnya surat itu berkeliling ke tangan orang-orang yang ada di ruang keluarga, setelah membaca surat itu reaksi mereka sama yaitu menangis haru. Meraka tidak menyangka bahwa Anin sudah mempersiapkan surat perpisahan untuk suaminya. Kata-kata manis Anin begitu membekas dihati mereka yang membaca, tapi disurat itu ada poin lain yang menjadi perhatian mereka, secara tidak langsung Anin meminta Den memilih Diandra sebagai penggantinya. “Aku setuju kalau mba Diandra menikah dengan mas Den.” celetuk Rangga. “Iya, aku juga setuju, mba Diandra baik, si kembar juga sudah dekat dengan mba Diandra.” tambah Anne. “Ssttts.” ucap Ibu mereka sambil melirik ke arah ibu dan bapak Anin. Rangga dan Anne baru menyadari mungkin kata-kata mereka menyakiti hati kedua orang tua Anin, baru tujuh hari setelah kepergian anaknya adik-adik menantunya menyetujui jika menantunya menikah lagi. “Maaf Bu.. Pak.. Bukan begitu maksud kami, kami bukan bermaksud menyetujui mas Den menikah secepat itu dan secepat itu menggantikan posisi mba Anin di hatinya, aku yakin bahwa mba Anin akan selalu ada dihati mas Den dan tidak akan pernah terganti oleh siapapun. Tapi, aku juga setuju dengan apa yang mba Anin katakan, mba Diandra adalah wanita yang tepat menjadi pendamping mas Den membesarkan si kembar. Kita sudah lihat sendiri selama seminggu setelah kepergian mba Anin bagaimana mba Diandra memperlakukan si kembar, mba Diandra menepati janjinya pada mba Anin untuk menjaga si kembar bahkan saat dia tidak bisa datang dia mengirim makanan untuk si kembar, dia menemani si kembar sampai tertidur walaupun hanya melalui video call. Bukankan itu menjadi bukti kalau mba Diandra wanita yang baik.” Rangga mencoba mengutarakan pendapatnya. “Betul, aku setuju.” sambung Anne setuju dengan semua yang dikatakan Rangga. “Iya, ibu mengerti maksud kalian, tapi ibu pikir Den tidak harus menikah secepat itu setelah kepergian Anin. Makam Anin masih basah kenapa kita harus membahas sosok penggantinya sekarang.” Ucap ibu Anin dengan mimik muka kesal kemudian pergi meninggalkan mereka semua, suaminya pergi bergegas menyusul Ibu Anin. Den yang berada di dalam kamar si kembar mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan di luar, pikirannya menerawang dia tidak menyangka Anin sudah mempersiapkan salam perpisahan yang manis melalui surat yang dia buat bahkan disurat itu Anin menguatkan suaminya seolah dia tahu kepergiannya menyisakan rasa bersalah yang begitu dalam pada diri suaminya, perasaan bersalah karena menyebabkan kecelakaan sehingga membuat istri dan janin dalam perut istrinya meninggal bersamaan. Den sadar dari lamunannya setelah merasa ada tangan yang membelai lembut wajahnya, ternyata tangan mungil Raine. Wajah Raine yang begitu mirip dengan istrinya akan menjadi pengingat sosok Anin bagi Den. Mungkin ini kado yang Tuhan berikan padanya sebagai kenangan yang akan selalu ada agar Den dapat selalu mengingat sosok Anin. Kehadiran si kembar menjadi berkah baginya, sama seperti yang Anin katakan dalam surat. Den sangat bersyukur dengan adanya si kembar dalam hidupnya terlebih lagi saat sekarang dia sedang berada dititik terendah dalam hidupnya, saat dia kehilangan sosok yang dia sayangi disaat bersamaan, ternyata Tuhan sudah menghadirkan si kembar lebih dulu sebagai penguat Den untuk dapat melewati semuanya. Pikirannya terus menerawang, dia memikirkan hari-hari kedepan setelah kepergian Anin, bagaimana Den dapat menjalani hidupnya tanpa sosok Anin mendampinginya, bagaimana dia membesarkan anak-anak mereka tanpa figur seorang ibu, apakah dia mampu mendampingi anak-anaknya sampai mereka sukses seperti harapan Anin. Akhirnya Den sadar dari lamunan setelah mendengar ucapan lembut anak bungsunya. “Ayah?” Ucap Raine sambil mengelus lembut kedua pipi ayahnya. Den menatap wajah mungil anaknya kemudian memeluknya, hatinya kembali hangat setelah mendapat pelukan dari anaknya. Dia peluk erat anaknya, Raine hanya terdiam karena belum memahami kondisi ayahnya yang sedang tidak baik-baik saja. “Ayah.” Ucapan Raine kembali. Den melepaskan pelukannya kemudian membelai rambut putri kecilnya. “Kenapa nak?” tanya Den. “Ayah nangis?” tanya Raine setelah melihat mata Den yang memerah karena menahan tangis. Den mengusap matanya kemudian menggelengkan kepalanya. Tak lama Radhi tampak terbangun dari tidurnya setelah mendengar Den dan putrinya berbincang, Radhi langsung mendekati Ayah dan adiknya. Di luar kamar Anne dan Rangga masih berbincang tentang surat dari Anin sementara ibu Den menghampiri Ibu Anin untuk berusaha menjelaskan bahwa keluarganya tidak bermaksud langsung melupakan Anin dalam waktu singkat. Setelah mendengarkan ucapan ibu Den akhirnya ibu Anin mau mengerti. Anne dan Rangga masih asik berbincang saat tiba-tiba pintu kamar si kembar terbuka, mereka langsung menghentikan obrolan mereka karena takut Den dan si kembar mendengar nama Anin disebut-sebut. “Haii sayaang, ponakan-ponakan tante.” Ucap Anne menyapa si kembar. Si kembar langsung berlari menghampiri tantenya sedangkan Den pergi ke teras rumah. Saat Den sedang duduk, ibunya menghampiri. Ibu mengelus pundaknya dari belakang membuat Den terkejut. “Bu, bagaimana barang-barang ibu udah siap semuanya? Ada yang perlu Den belikan lagi untuk ibu bawa ke Solo?” “Ndak, sudah semua Den.” Ibu meletakkan surat Anin di atas meja. “Kamu simpan surat ini, ini akan menjadi kenangan yang akan kamu baca lagi saat kamu merasa kangen pada Anin.” Ucap ibu. “Iya bu, nanti aku simpan baik-baik surat ini.” “Kamu harus ingat apa yang dikatakan Anin dalam surat itu, kamu harus bahagia, jangan juga kamu merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Anin, kecelakaan itu adalah takdir Tuhan Den, memang dengan cara seperti itu Anin pergi meninggalkan kita tapi semua bukan salahmu, kita harus ikhlas menerima semunya supaya Anin juga tenang disana.” “Mengenai ucapan Anin tentang Diandra, ibu menyerahkan semua keputusan padamu, tapi secara pribadi selama beberapa hari ibu mengenal dia, dia perempuan yang baik. Sopan, ramah, sabar dan yang terpenting dia juga terlihat sangat menyayangi si kembar, terlebih lagi kita sudah sama-sama melihat Anin sendiri yang menitipkan si kembar pada Diandra, jadi ibu minta kamu juga pikirkan tentang ucapan Anin itu.” “Tapi ibu rasa ibu Anin kurang senang jika posisi Anin langung terganti dengan kehadiran perempuan lain.” Belum sempat Den menjawab ucapan ibunya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatanganku. “Permisi.” Ucapku menyapa. “Eh Diandra, mari masuk.” jawab ibu. Aku sibuk menenteng barang dikedua tanganku kemudian aku letakkan barang-barang itu di atas meja. Aku menyalami ibu dan mas Den. “Bu, kata Rangga, ibu dan ibu Anin akan pulang ke Solo hari ini ya? Makanya aku sempatkan mampir sebentar kesini supaya bisa bertemu, ini ada sedikit oleh-oleh bu, yang ini buat Ibu, yang ini buat ibu Anin.” “Aduh kok repot-repot sih Diandra, Terima kasih ya, oya kamu sudah makan? Ayo makan dulu ibu tadi masak sayur lodeh.” “Tidak repot kok bu, sama-sama bu.” “ Radhi dan Raine kemana bu?” “Ada, mereka sedang bermain bersama Anne di kamar mereka, ayo masuk.” ajak ibu. “Tunggu bu, ada yang harus aku ambil dulu di mobil.” Aku bergegas ke mobil untuk mengambil barang itu kemudian kembali lagi ke tempat ibu dan mas Den duduk.” “Apa itu Di?” tanya ibu padaku. “Ini mainan untuk Radhi dan Raine bu.” “ Oh, ya sudah ayo kita masuk.” “Permisi mas, saya masuk kedalam dulu.” aku pamit ke mas Den yang dari tadi hanya terdiam. “ Ya silahkan.” jawabnya. Den masih duduk sambil menikmati kopi panasnya. pikirannya tertuju ke surat yang Anin tulis terutama tentang Diandra, sebenarnya dia setuju jika Diandra bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk kedua anaknya tapi dia tidak yakin Diandra bisa menggeser posisi Anin di hatinya. Sementara Den sibuk dengan pikirannya, di dalam rumah aku sedang asik menikmati makanan yang disuguhkan ibu mas Den, aku duduk ditemani ibu mas Den dan ibu Anin, aku merasa gugup entah kenapa aku merasa ada yang berbeda dengan mereka hari ini. Aku merasa semua orang memperhatikanku. “Apa ada yang aneh dengan pakaianku hari ini? Atau make up ku?” gumamku dalam hati. Setelah selesai makan, aku menuju dapur untuk mencuci piring, sebenarnya ibu melarangku tapi aku memaksa untuk mengerjakannya dan ibu mengalah. Setelah itu aku meminta izin untuk menemui si kembar di kamar mereka. Ternyata disitu masih ada Anne, si kembar dan Anne terlihat senang saat aku menghampiri mereka. “Tantee baiik.” “Hai mbaa.” Mereka menyapa kompak, aku tersenyum pada mereka. Kuberikan mainan yang kubawa tadi pada si kembar. “Terus buat Anne mana mba? “ Aku tertawa mendengar Anne merengek. Karena aku dan Anne sudah cukup dekat aku menanyakan tentang ada apa dengan orang-orang hari ini, karena aku merasa mereka memperhatikanku tidak seperti biasanya. “Pasti semua karena su.. “ ucapan Anne terhenti, dia menyadari hampir saja dia keceplosan tentang surat itu.” “Su apa Anne? “ tanyaku penasaran. “Em..” Anne berusaha mencari-cari kata yang pas untuk meralat ucapannya. “Em maksudku suasana, pasti semua karena suasana, kan hari ini kita semua akan pulang ke Solo, mungkin mereka merasa sedih harus berpisah dengan mba Diandra.” Sebenarnya aku tidak yakin dengan apa yang Anne katakan tapi karena aku pikir tidak ada gunanya berdebat tentang hal itu aku putuskan untuk percaya dengan dugaan Anne. “Oh, ya mungkin.” “Aku dan Anne asik bermain dengan si kembar.” Tiba-tiba Anne membuka topik pembicaraan denganku. “Mba, kalau kami semua sudah pulang, mba akan tetap baikkan? Maksudku mba akan tetap menjaga si kembar seperti sekarangkan?” Aku merasa heran dengan apa yang Anne katakan. “Ya tentu Anne, mba akan sebisa mungkin menjaga si kembar dengan baik seperti janji mba ke Anin.” “Syukurlah.” ucap Anne sambil menghela napas. “Kamu kenapa Anne? Lagian disini juga kan ada Atin, mbok Tina dan pak Agus yang ikut menjaga si kembar jadi kamu tidak perlu khawatir. “ “Iya sih, tapi entah kepada Anne tidak tenang meninggalkan si kembar dan mas Den, Anne sebenarnya masih ingin disini tapi kan Anne juga harus kembali ke rutinitas Anne di Solo, makanya Anne minta tolong mba jaga mereka ya.” “Siap bos.“ aku mencoba memenangkan Anne. “Anne, ayo siap-siap sebentar lagi kan kita pergi” “Iya bu.” “Oh iya bu, aku permisi pulang dulu ya bu.” “Loh kok pulang? Jangan dulu pulang Diandra ikut antar kami ke stasiun saja kalau tidak ada acara.” “Iya mba, udah ikut antar kami saja, temani mas Den.” Aku melirik mas Den, mas Den yang menyadarinya ikut bicara. “Iya Di, kalau kamu sedang ada waktu nanti malam ikut saja antar ke stasiun.” “Iya mas.” Aku mengiyakan ajakan mas Den. *** Kami duduk menunggu jam keberangkatan kereta, aku duduk dengan Anne, ibu mas Den, dan Ibu Anin sementara Den duduk dengan bapak dan bapak mertuanya. Si kembar asik bermain ditemani Atin. “Den, mengenai surat dari Anin bapak minta kamu pikirkan baik-baik. Keluarga pasti akan mendukung semua keputusanmu, bapak pribadi setuju saja jika akhirnya kamu memutuskan untuk menikahi Diandra, toh bapak lihat dia sayang pada si kembar.” ucap bapaknya saat bapak Anin sedang pergi membeli minum. “Iya Pak, tapi jujur sampai saat ini Den belum terpikir untuk menikah lagi, Den masih menata hati, sulit bagi Den kehilangan Anin secepat ini pak.” “Iya bapak paham, pasti berat untuk kamu harus kehilangan orang yang kamu sayang secara bersamaan, tapi hidup kamu harus terus berjalan, ada si kembar yang membutuhkan kamu.” Ucap bapak. “Lagi pula bapak yakin keluarga Anin tidak pernah menyalahkan kamu atas kecelakaan itu, semua sudah takdir Tuhan, benar yang dikatakan Anin agar dia bisa pergi dengan damai kita disini harus ikhlas. Si kembar juga masih kecil, bapak percaya kamu akan menjadi sosok ayah yang baik untuk mereka tapi mereka butuh sosok ibu, jangan biarkan mereka tumbuh tanpa ada sosok ibu yang mendampingi mereka. Si kembar butuh ibu sambung, mungkin untuk mengurus mereka, menyiapkan makanan kamu masih bisa dibantu mbok dan Atin tapi ada hal-hal lain yang harus diisi oleh sosok ibu.” “Bapak dan Ibu tidak akan ikut campur dengan keputusan kamu, bapak percaya siapapun yang nanti kamu pilih sudah kamu pikirkan dengan baik, bapak berharap jika kamu sudah menemukan orang itu kamu perkenalkan pada bapak dan Ibu karena orang itu yang kedepannya akan menjadi ibu sambung bagi cucu-cucu bapak. “ “Iya Pak, apapun yang akan Den putuskan untuk kedepannya pasti Den juga akan meminta izin kepada bapak dan Ibu.” Sementara Den dan bapaknya masih asik mengobrol, bapak Anin berjalan mendekat dengan membawa beberapa botol minuman yang dia beli. Sementara itu dikursi lain. “Di, terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik untuk Anin, ibu tahu kalian belum lama saling mengenal tapi ternyata kalian sudah bisa sedekat itu, terima kasih sudah menyayangi si kembar. Ibu titipkan si kembar padamu, seperti yg Anin harapkan, ibu berharap kamu bisa menepati janjimu untuk selalu menjaga si kembar dengan baik. “ ucap ibu Den sementara ibu Anin hanya mendengarkan obrolan kami. “Pasti bu, aku sebisa mungkin akan terus berada sisi Radhi dan Raine, itupun selama mas Den dan keluarga mengizinkan.” “Tentu kami izinkan Di, kami titip si kembar, ibu juga titip Den ya, kasian dia saat ini dia masih terpuruk karena kehilangan Anin jadi mungkin dia butuh teman yang bisa membantu dia terlepas dari keterpurukannya.” ucap ibu Den. Aku bingung harus merespon apa, aku menjaga si kembar menurutku wajar tapi untuk menjaga mas Den aku rasa itu bukan hal yang harus aku lakukan karena diantara kami juga tidak ada hubungan khusus. Aku hanya tersenyum. “Benar kata ibu mba, titip mas Den juga ya, semenjak kepergian mba Anin mas Den juga susah makan, aku takut kalau mas Den jadi sakit, kasian juga si kembar kalau mas Den sakit.” Terdengar suara panggilan untuk penumpang tujuan Solo, semua bangun dari duduknya. “Den kami pulang dulu, kamu jaga kesehatan jaga si kembar juga, kalau ada apa-apa bilang ke ibu dan bapak ya.” ucap bapak mertua Den. “Iya Den, tolong kabari kami jika sesuatu terjadi dengan si kembar. Ibu titip mereka.” sambung ibu mertuanya. Kami pun bersalaman, mereka memasuki gerbong kereta mereka, tak lama kereta bergerak perlahan, kami melambaikan tangan kearah mereka. Kereta berjalan menjauh dari tempat kami berdiri. “Ayo kita pulang.” ajak mas Den kepada kami. “Ayo ayah.” jawab Radhi dan Raine. Radhi digendong mas Den sedangkan aku menggandeng tangan Raine, Atin berjalan disampingku sementara mas Den berjalan di depan kami. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN