BAB 8 / Perkenalan Mama dengan Angga

2541 Kata
Suasana stasiun masih ramai, banyak orang berlalu lalang disekitar kami, kami berjalan menuju tempat parkir mobil mas Den. “Ayah, Radhi lapar.“ “Nanti di rumah makan ya, kita pulang dulu.” Radhi menggelengkan kepalanya dan meminta agar segera makan. Mas Den mengamati sekitar. “Ya sudah mau makan disana? “ tanya mas Den pada Radhi sambil menunjuk salah satu restoran dekat stasiun. “Mau.. Mau ayah.” “Di, kalau kita makan dulu tidak apa-apa?“ tanya mas Den padaku. “Tidak apa-apa kasian juga Radhi lapar.“ Kami berjalan ke restoran itu. Pelayan memberikan buku menu kepada kami, setelah kami memilih giliran kami menunggu pesanan kami disajikan. “Mas, saya ke toilet dulu sebentar. “ “Silahkan.” jawab mas Den. “Radhi dan Raine mau ke toilet?” Mereka menggelengkan kepala. “Atin, saya ke toilet dulu ya.“ “Iya bu.” Jawab Atin. Aku berjalan meninggalkan mereka menuju toilet yang terletak di bagian belakang restoran. Handphone yang aku letakkan di atas meja berbunyi, ada panggilan masuk. Mas Den melirik ke arah handphoneku. “Erlangga.” ternyata orang yang menelpon ku Angga. Beberapa kali Angga mencoba menghubungiku tapi tidak terjawab karena aku masih di toilet dan Mas Den sungkan untuk menjawab teleponnya. Saat aku berjalan kembali dari toilet, terdengar suara handphoneku berbunyi. Aku menjawab panggilan masuk itu. “Hallo Angga.” Karena suara restoran berisik, aku tidak dapat mendengar suara Angga dengan jelas, aku putuskan untuk berpindah tempat agar suara Angga lebih terdengar. “Sebentar Angga.“ “Mas, saya ke depan dulu angkat telepon.” “Iya, silahkan.” ucap Den mempersilahkan aku untuk berpindah tempat. Aku berjalan mencari tempat yang lebih sunyi. Mas Den ternyata memperhatikanku. “Hallo Angga?“ “Saya sedang di statiun, tadi aku antar teman ke statiun.” “Tidak usah Angga.” Aku kembali ke meja makan setelah mengakhiri telepon dengan Angga, mas Den memperhatikan langkahku. Aku lihat makanan pesanan kami sudah siap diatas meja, tapi mereka belum mulai makan. “Maaf.. maaf saya lama ya? “ “Iya tante lama sekali, Radhi sudah lapar, tapi kata ayah kita tunggu tante dulu baru makan.“ “Maaf ya Radhi.. Raine ayo kita makan.” Setelah selesai kami langsung pulang ke rumah mas Den. Sesampainya di rumah mas Den aku pamit untuk langsung pulang tapi Radhi dan Raine melarang. “Tante jangan pulang, tidur disini saja.” rengek Raine. “Iya tente.” Lanjut Radhi. Mereka berdua merengek dan menarik tanganku. Mas Den mencoba merayu kedua anaknya agar mengizinkanku pulang, tetapi si kembar tetap melarangmu pergi. Aku putuskan untuk menemani mereka sampai tertidur. “Tante temani sampai kalian tidur ya?? “ “Iya tante. “ Mereka terlihat sangat senang ketika mendengarku bersedia menemani mereka tidur. *** “Kalian mau tante bacakan dongeng apa?” Mereka memberikan buku cerita dan memintaku membacakannha. “Oke kita baca dongeng ya. “ Aku membacakan dongeng, sesekali menepuk lembut, dan membelai rambut mereka sampai mereka tertidur. Jam dinding sudah menunjukan pukul 23.45 WIB, aku keluar kamar si kembar. Di ruang keluarga ada mas Den duduk menunggu. “Mas, anak-anak sudah tidur, saya pulang dulu ya mas.” “Ini sudah malam Di, saya antar kamu.” “Tidak perlu mas, biar saya pulang sendiri.” Sebenarnya mas Den memaksa untuk mengantarku tapi karena aku bersikeras menolak akhirnya dia menyerah. Mas Den mengantarkan aku sampai ke depan rumah, dia membukakan pintu mobil untukku. “Terima kasih Di, kamu sudah menemani anak-anak semenjak Anin pergi. Maaf kalau kami sering merepotkan kamu.” Ucapnya. “Sama-sama mas, saya tidak sedikitpun merasa repot jadi selama mas Den mengizinkan saya untuk menemani anak-anak pasti saya akan ikut mendampingi mereka seperti janji saya pada Anin.” Jawabku. Mas Den tersenyum padaku, senyumannya mengingatkan aku pada masa itu masa dimana aku mencintai mas Den dalam diam. Senyum manisnya yang aku yakin bisa membuat wanita lainpun akan terpesona padanya. Akhirnya aku pamit untuk pulang, mas Den mengangkat telapak tangannya saat mobilku perlahan menjauh dari tempatnya berdiri. *** Aku bangun terlambat hari ini mungkin karena semalam aku tidur pukul 00.30 WIB, aku langsung bersiap pergi ke kantor karena tidak ingin datang terlambat. Lift apartemen menunjukkan lantai 1, aku bergegas keluar. Setibanya di kantor aku langsung menuju ruangan kerjaku, hari ini aku harus fokus dengan pekerjaanku untuk mengejar beberapa pekerjaan yang sedikit terabaikan karena sibuk dengan urusan keluarga Anin. “Hallo bu, ada telepon.” “Baik, Terima kasih Nov.” “Hallo?” “Loh kenapa mama telepon ke kantor? “ tanyaku saat menyadari orang yang menelpon ternyata mamaku. Aku langsung mengambil handphone dari dalam tas, memastikan kondisi Hp ku setelah mendengar ucapan mama bahwa HP ku dalam kondisi mati. “Maaf ma, baterainya habis, ada apa ma? Tumben pagi hari mama telepon aku?“ “Bukan begitu maksudku ma.” “ Tentu boleh ma, mama tidak perlu izin ke aku, mama boleh kapanpun datang ke apartemenku.” “Nanti aku jemput di bandara ya ma.” Setelah mama menutup teleponnya, aku mengisi baterai handphoneku yang mati dan ku nyalakan, ternyata banyak pesan masuk, satu persatu aku buka. Dari Angga, “Di, kamu sudah pulang ke apartemen?" “Di, kamu baik-baik aja kan?" “Di, kenapa HP kamu mati?” Ternyata Angga beberapa kali mencoba menghubungiku, sekarang aku harus membalas pesan Angga. “Angga, maaf semalam HP mati, baterai habis, sekarang aku sudah di kantor.” Isi pesan yang aku kirim pada Angga. Pesan dari Anet. “Di, Kemana aja lo? seminggu ini lo ga ada kabar?” “ Net, sorry gw sibuk banget seminggu ini. Setelah membalas semua pesan masuk aku kembali melanjutkan pekerjaanku. *** Jam dinding menunjukan pukul 20.00 WiB, aku masih sibuk membersihkan apartemen dan memastikan semua dalam kondisi rapih karena mama akan menginap. Aku merapihkan semuanya dengan teliti, maklum lusa mama datang, aku malas mendengar mama berkomentar jika kondisi apartemen berantakan. “kenapa ini berantakan? kenapa ini kotor? kenapa ini berdebu? ” itu rentetan pertanyaan yang paling sering aku dengar jika mama menginap di apartemen, padahal aku yakin mama tahu jawaban dari semua pertanyaan itu sama “karena aku malas bersih-bersih, karena aku tidak ada waktu bersih-bersih." tapi entah kenapa pertanyaan itu selalu diulang jika mama datang. Anehnya lagi jika mama akan datang aku selalu berusaha merapihkan semuanya dengan teliti tapi entah bagaimana mama pasti selalu menemukan ada debu yang tertinggal dan mama menyadari itu. Jika sudah begitu aku hanya pasrah mendengarkan ocehan mama. *** Pukul 13.00 wib, Aku bersiap untuk menjemput mama ke bandara, tiba-tiba bel berbunyi. Aku bergegas untuk membuka pintu. “Angga??” Tanyaku heran. Seperti sudah bisa membaca rasa penasaran Angga langsung mengatakan bahwa dia datang untuk mengantarkanku ke bandara, aku semakin terheran setelah mendengar ucapan Angga. “Anet bilang kamu memintaku untuk mengantarkan kamu ke bandara?” Ucap Angga. Aku langsung bisa memahami situasi ini, Anet yang sengaja meminta Angga mengantarku ke bandara. *** Flashback Aku berkali-kali melihat jam dinding untuk memastikan agar aku tidak terlambat menjemput ibu di bandara. Jam dinding masih menunjukan pukul 11.30 wib. Aku duduk santai di sofa sambil memainkan HP, ada notifikasi pesan masuk. “Anet.” “Lo lagi apa Dii? Hari ini mama datang ya? “ “Iya, sebentar lagi gw jalan ke bandara jemput mama.” “Oh, memang lo ke bandara jam berapa?” “ Jam 13.00 wib, lo lagi dimana? “ “Gua lagi di salon, nemenin Sandi potong rambut nih.” “Oh.” Jawabku singkat. “Oke deh, salam buat mama ya.” Sambung Anet. Percakapan kami pun terputus dan aku bergegas bersiap untuk menjemput mama. *** “Ehmm, pantesan dia tanya aku berangkat jam berapa, ternyata ini rencananya? Tuh anak kebiasaan deh, awas aja lo Net.” pikirku dalam hati. “Dii?? Diandra??” “Sorry Angga, silahkan masuk.” Aku persilahkan Angga duduk. “Angga, sorry sebelumnya, tapi sebenenarnya aku tidak meminta Anet agar kamu mengantarkan aku ke bandara.” Angga yang mendengar penjelasanku menggelengkan kepala dan tertawa, kami tersadar bahwa Anet sengaja merencanakan ini. “Anet.. Anet, bisa-bisanya tu anak ya, sya sampai cancel meeting dengan client.” “Sorry Angga, bener gw gak tahu apa-apa.” “Santai Di, lagipula saya seneng juga kalau bisa antar kamu dan bisa ketemu dengan mama kamu.” Aku terdiam. “Kasihan juga kalau Angga datang percuma.” Gumamku dalam hati. Akhirnya aku menyerah dan membiarkan Angga mengantarku ke bandara untuk menjemput mama. *** Selama diperjalanan menuju Bandara hatiku tidak tenang, aku membayangkan bagaimana reaksi mama saat tahu aku datang bersama laki-laki. Pasti mama akan berpikir macam-macam tentang aku dan Angga. Aku mulai menerka-nerka pertanyaan apa yang akan mama tanyakan. “Siapa dia?” “Pacar kamu?” ”Berapa umurnya?“ ”Kerja dimana?” Karena membayangkan kepalaku menggeleng tanpa kusadari, Angga yang melihat merasa heran dan bertanya padaku. “Kenapa Di? Kamu sakit kepala? Mau beli obat dulu?” Tanya Angga cemas. “Tidak perlu, saya baik-baik saja.” Mobil melaju melewati jalanan yang padat, aku masih sibuk dengan pikiranku sedangkan Angga masih fokus dengan jalanan didepannya. Setibanya di bandara, aku jalan beriringan dengan Angga, hatiku makin tidak karuan, takut melihat reaksi mama saat aku datang dengan Angga. Kami duduk menunggu mama datang, ku perhatikan sekeliling. Tak lama aku melihat sosok yang sangat aku kenal, mama melambaikan tangan padaku saat melihat aku dari kejauhan. Aku bediri, disusul Angga yang ikut berdiri saat melihatku berdiri. Mama berjalan menghampiriku, ku sambut dengan pelukan erat saat kami semakin dekat. “Mama.” sapaku sambil memeluk erat. Saat kami berpelukan terlihat mama lebih tertarik dengan sosok laki-laki disampingku dibanding dengan diriku, aku yang menyadari hal itu langsung melepas pelukanku. Aku perkenalkan Angga padanya. “Mama, kenalkan ini Angga, temanku.” Sengaja aku tambahkan kata teman, agar mama tidak berpikir aneh tentang aku dan Angga. “Tante, saya Angga.” Mama terlihat tersenyum ramah pada Angga, sesekali mama melirik padaku dan seolah memberi isyarat menanyakan siapa Angga sebenarnya, aku yang sebenarnya menyadari reaksi mama langsung mengalihkan pandanganku. “Saya bantu bawa barangnya tante.” ucap Angga sembari mengarahkan tangannya untuk mengambil barang yang mama bawa. “Terima kasih Angga.” Aku dan mama jalan beriringan sedangkan Angga mengikut kami dibelakang sambil membawa barang-barang yang mama bawa tadi. Sesampainya di parkiran, aku yang awalnya akan membukakan pintu mobil untuk mama didahului oleh Angga. “Silahkan tante.” “Terima kasih Angga.” Mama masuk kedalam mobil, disusul aku yang duduk di depan sedangkan Angga masih sibuk memasukkan barang mama di bagasi mobil. Selama perjalanan terlihat mama dan Angga sudah mulai asik mengobrol, karena aku merasa diabaikan aku lebih memilih sibuk dengan handphoneku, sementara mama dan Angga masih sibuk membahas berbagai topik obrolan bahkan sesekali kudengar mama dan Angga tertawa bersama. “Tante mau makan dulu sebelum ke apartemen? Daerah sini ada restoran yang makananya enak tan.” Ucap Angga. “Tidak Angga, nanti kita makan di apartemen saja, Angga juga jangan dulu pulang ya, ikut makan dulu.“ Mungkin Angga menyadari kalau aku dari tadi hanya terdiam, dia melihatku. “Di? Kenapa? Kamu masih sakit kepala?” Tanya Angga padaku. Mama yang mendengar ucapan Angga langsung ikut bertanya padaku untuk memastikan kondisiku. “Di, kamu sakit? Kenapa kamu tidak bilang kalau sedang sakit? Kalau kamu bilang mama kan bisa pergi ke apartemen kamu naik taxi.” “Tidak ma, aku baik-baik saja.” “Yakin kamu baik-baik saja? Mau kita ke dokter sekarang?” Tanya Angga. “Iya, benar kata Angga kalau kamu sakit ayo sekarang kita ke dokter ya??” Sambung mama menyetujui ucapan Angga. “Tidak perlu.” Jawabku singkat. Selama perjalanan Angga dan Mama tetap asik dengan obrolan meraka, dari topik jalanan, makanan, hobi, politik, bahkan sampai masalah hukum. Sementara mama dan Angga sibuk berbincang, aku masih sibuk dengan handphoneku. Ada balasan pesan dari Anet, dia mengirim banyak emoticon tertawa terbahak, sepertinya itu ungkapan rasa puasnya karena telah berhasil membuat aku tidak berkutik menerima Angga untuk mengantarku ke bandara. *** Aku menawarkan bantuan pada Angga untuk ikut membantu membawa barang mama tapi Angga menolak, akhirnya aku dan mana berjalan masuk ke aparteman sedangkan Angga masih sibuk di parkiran. “Permisi.” ucap Angga saat sudah tiba di depan pintu yang sengaja aku biarkan terbuka agar Angga bisa langsung masuk. “Ma.” Baru saja aku akan mengucapkan masuk untuk mempersilahkan Angga masuk ternyata mama dengan antusias mendahului. “Masuk Angga.” Antusiasme mama bukan hanya terlihat dari jawabannya tapi dari reaksi berlebihan yang mama perlihatkan, saat mendengar suara Angga, mama yang tadinya duduk langsung berdiri dan menghampirinya, Angga masuk sambil membawa barang-barang mama di kedua tangannya. “Mau disimpan dimana tante?” tanya Angga untuk memastikan dimana dia harus meletakkan barang-barang itu. “Simpan disini saja.” Mama meminta Angga meletakkan barang bawaannya di lantai dekat meja TV. Setelah Angga menyimpan sesuai arahan mama, mama langsung mempersilahkan Angga untuk duduk. “Di, buatkan minum untuk Angga.” “Angga mau minum apa?” sambung mama. “Air putih juga boleh tante.” Aku yang dari tadi mendengarkan mama dan Angga diam membisu, merasa apakah aku salah masuk apartemen? Aku merasa asing di rumahku sendiri. Mama menyuruhku untuk menyiapkan minuman dan cemilan untuk Angga. “Sebenarnya siapa sih yang anak mama? Aku atau Angga? Jadi tujuan mama kesini karena kangen denganku atau bukan?” Aku menggerutu dalam hati, kehadiran Angga langsung menyingkirkan posisi aku yang sudah menjadi anak mama selama 32 tahun. “Angga jangan dulu pulang ya, makan malam disini, nanti tante masak.” “Tidak perlu repot-repot tante.” “Tidak rapot, oh Iya sekalian undang Anet saja, tante juga sudah kangen sama dia, sudah lama kami tidak bertemu.” Aku yang mendengar ucapan mama langsung bergegas keluar dapur dan menuju ruang TV sambil membawa minuman dan cemilan untuk kami bertiga. “Jangan ma, lain kali saja, Anet kan pasti sibuk.” Aku mencoba menghalangi mama mengundang Anet. Tiba-tiba HP Angga berbunyi. “Waah panjang umur nih anak, ini Anet video call tan.” ucap Angga. Aku yang mendengar ucapan Angga menghela napas. “Ya ampun tu anak, bisa aja nongol diwaktu yang tidak tepat.” gumamku dalam hati. Angga mengangkat VC dari Anet. “Halo Net?" “Lo dimana Angga?" “Apartemen Diandra, ini ada mama Diandra.” Angga langsung mengarahkan layar HP nya ke arah mama. “Hallo tantee.. Apa kabar? sudah lama kita tidak pernah ketemu ya tan?” “Hallo Anet, iya kita sudah lama tidak ketemu ya, kamu sedang dimana Anet?" “Ini sedang dijalan Tan, kenapa tan?" “Mampir kesini ya, nanti kita makan malam sama-sama, ajak juga pacar kamu, siapa namanya? Tante lupa." “Sandi tante, ini orangnya ada disamping aku.” Anet langsung mengarahkan layar HP nya ke arah Sandi. “Hallo Tante.” sapa Sandi ramah. “Hai Sandi, kalian kesini ya?" Anet langsung mengarahkan kembali layar HP ke arahnya. Aku yang berdiri dibelakang mama memberikan isyarat menggelengkan kepala agar Anet menolak undangan mama. Anet melihatku, bukannya mengikuti isyaratku untuk menolak tawaran mama dia malah melaporkan ulahku ke mama. “Tapi aku dilarang datang oleh Diandra tan, itu Diandra di belakang tante meminta aku untuk menolak undangan tante." ucap Anet. Mama langsung menoleh kebelakang dan melotot padaku, aku hanya tersenyum sedangkan Angga dan Anet tertawa. “Pokoknya kamu dan Sandi datang ya, tante tunggu disini." ucap mama dan akhirnya Anet bersedia untuk datang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN