BAB 9 / Undangan Makan Malam

3618 Kata
Setelah Anet menutup telepon dan menyetujui undangan mama untuk makan malam bersama, mama memintaku untuk mengantarnya membeli bahan makanan yang akan mama gunakan untuk memasak. Awalnya mama meminta Angga menunggu di apartemen namun karena Angga menolak akhirnya mama mengizinkan Angga untuk ikut mengantar kami. Selama perjalanan Angga membujuk mama agar mama tidak perlu memasak dan cukup membeli makanan di restoran saja agar mama tidak repot, aku yang mendengar ucapan Angga langsung menyetujui usulannya tapi mama tetap pada pendiriannya akan masak sendiri. Aku dan Angga akhirnya menyerah dan mengikuti keinginan mama. Setibanya di pusat perbelanjaan mobil melaju ke area parkiran, jarak apartemen dengan tempat ini memang cukup dekat hanya butuh 10 menit untuk kami tiba. Kami langsung bergegas masuk ke dalam. Mama berjalan cepat di depan sedangkan aku dan Angga mengikuti dari belakang. Satu persatu mama mengambil semua barang yang mama butuhkan aku hanya diam melihat mama sedangkan Angga ikut sibuk karena mendorong troli. Sesekali aku dengar mama dan Angga berbincang tanpa melibatkan aku, aku hanya dijadikan pendengar oleh mereka atau bahkan keberadaanku tidak dianggap oleh mereka berdua. Menurutku kali ini sikap mama ke Angga berlebihan, melihat sikap mama pada Angga membuat aku semakin khawatir. Aku takut mama mengharapkan lebih tentang hubungan aku dan Angga, aku takut mama mengira bahwa antara kami terjalin hubungan lebih. Perlakuan mama ke Angga kembali mengingatkan aku kepada bagaimana sikap mama ke Dimas saat itu, mama begitu dekat dan perhatian pada Dimas bahkan setiap kali aku dan Dimas berselisih paham mama selalu berada dipihak Dimas. Tiba-tiba lamunanku buyar saat mendengar ucapan mama pada Angga. “Angga, maaf ya lagi-lagi tante merepotkan kamu, dari tadi kamu antar tante dan Diandra." “Aku tidak merasa direpotkan tan, justru aku senang, daripada di rumah sendiri.” “Lagipula kalau bukan karena ada tante, Diandra mana mau jalan berdua denganku.” celetuk Angga sambil melirik ke arahku. Merasa mendapat angin segar setelah mendengar ucapan Angga, mama langsung mengalihkan pandangannya ke arahku, aku hanya tersenyum tipis ke arah mama. Mama terus berkeliling mengambil barang yang mama butuhkan, Setelah mama mendapat semua barang yang dibutuhkan kami bergegas pulang. Saat perjalan ke parkiran HP aku berbunyi, ternyata dari Atin. Aku memperlambat langkahku sehingga kini aku berada di belakang mama dan Angga. “Hallo Tin?” “Bu, maaf menggangu, Radhi dan Raine ingin bicara dengan ibu.” ucap Atin sopan. “ Boleh Tin, mana mereka?” Atin langsung memberikan HP nya pada si kembar. “Hallo sayang, Radhi.. Raine.. Kok belum tidur?” “Tante, kita ga bisa tidur tante.” Celetuk Radhi. ‘Kenapa sayang? Sudah malam, Radhi dan Raine tidur dulu ya, anak kecil tidak boleh tidur malam-malam." “Bagaimana kalau tante minta mba Atin bacakan dongeng untuk kalian? Mau?" “Kenapa bukan tante aja yang kesini?" tanya Raine. Diusia mereka yang masih kecil si kembar tergolong anak yang kritis. “Malam ini tante tidak bisa sayang, tapi tante janji nanti tante main ke rumah Radhi dan Raine ya, sekarang sama mba Atin dulu ya sayang." Aku merayu mereka agar mau tidur. “Iya deh tante, sekarang sama mba Atin dulu.“ Ucap Radhi. “Oke, anak pintar. “ aku memberi pujian pada mereka. “Mba Atin mana sayang?” “Hallo bu?? “ “Atin, saya minta tolong bacakan dongeng ya, semoga mereka tertidur setelah mendengar dongeng yang kamu bacakan." “Baik bu.” “Oh Iya, memang mas Den belum pulang? Kok anak-anak kamu yang temani? “ “Iya bu, bapak sudah beberapa hari ini pulang malam terus.” “Oh oke, ya sudah tolong jaga anak-anak ya Tin, saya usahakan cari waktu untuk main kesana nanti." “Baik bu.” jawab Atin. Telepon pun aku tutup. Mama yang samar-samar mendengar aku berbicara di telepon penasaran aku mendapat telepon dari siapa. “Kamu teleponan sama siapa Di? Anak kecil ya?" Aku langsung menjelaskan pada mama siapa si kembar tak lupa aku juga menceritakan sosok Anin yang menjadi sahabatku walau dalam waktu singkat. Merasa iba mama menanyakan tentang keadaan si kembar setelah ditinggal pergi ibunya dan memintaku mengajak mereka bertemu dengan mama jika ada waktu. *** Aku dan mama sibuk memasak di dapur sedangkan Angga duduk di ruang TV, tak lama berselang terdengar suara bel, Angga meminta izin padaku untuk membukakan pintu dan aku persilahkan. Saat Angga membuka pintunya, dari balik pintu berdiri Anet dan Sandi, Angga langsung mempersilahkan mereka masuk. Anet melangkah masuk diikuti langkah Sandi. “Wah lo sekarang udah jadi tuan rumah ya Angga?" aku mendengar Anet meledek Angga dan dibalas tawa oleh Angga. Terdengar mereka berbincang sebentar, tak lama Anet menanyakan keberadaanku dan mama. Angga mengatakan bahwa Aku dan mama sedang memasak di dapur, Anet dan Sandi menghampiri kami. Anet dan Sandi menyapa mama. Melihat aku dan mama sibuk, Anet menawarkan diri untuk ikut membantu sedangkan Sandi kembali berbincang dengan Angga. “Di, kamu buatkan minuman untuk Anet dan Sandi.” ucap mama padaku. “Iya ma." Tiba-tiba Anet tertawa, mama menanyakan kenapa dia tertawa. “Kenapa Anet?" “Tan, coba kalau tidak ada tante, mana mau Anet membuatkan minuman untuku." “O ya?" tanya mama. Aku yang mendengar langsung melotot ke Anet. Setelah aku selesai menyiapkan minuman untuk Anet dan Sandi, aku meminta Anet memberikannya ke Sandi, tak lama aku menyusul ke depan dan menghampiri Anet dan berbisik pelan padanya. “Net, lu awas ya jangan ngomong yang aneh-aneh ke mama." Aku mengancam Anet, melarang dia berbicara hal aneh tentang aku dan Angga. Anet menggodaku dengan mengatakan bahwa tujuannya kesini adalah untuk itu, aku langsung merespon dengan mencubit kecil Anet. Anet kembali ke dapur untuk membantu mama sedangkan aku tetap di ruang makan untuk menyiapkan meja makan dan menata makanan yang sudah siap. “Anet, tante mau tanya tentang Diandra boleh?" “Tanya apa tante? Selama aku tahu pasti aku jawab." “Tapi tante minta kamu rahasiakan dari Diandra kalau tante tanya tentang dia ke kamu ya.” “Siap tan, kenapa tante?” “Sebenarnya saat ini Diandra sedang menjalin hubungan dengan seseorang atau tidak Net? Kerena jujur Diandra tidak pernah terbuka pada tante semenjak kejadian itu." “Setahuku saat ini Diandra masih sendiri tante, maaf kalau boleh tahu kejadian apa tan?" “Kalau Angga?” “Jujur ya tan, sebenarnya Angga itu dari dulu memang menyukai Diandra. Angga satu almamater saat kami kuliah dulu tapi beda jurusan, dari dulu Angga menunjukan perhatiannya ke Diandra, tapi Diandra menolak halus dengan mengabaikan Angga.” “Terus?” tanya mama makin penasaran. “Setahuku saat itu memang ada laki-laki lain yang Diandra suka, saat itu sedikitpun Diandra tidak mempedulikan Angga.” “Lalu?” mama makin penasaran dengan cerita Anet. “Karena Diandra mengacuhkan Angga akhirnya meraka hilang kontak begitu saja tante, sampai akhirnya beberpa minggu lalu tidak sengaja aku bertemu Angga, dan sepertinya Angga belum berubah, saat pertama kali bertemu denganku Angga langsung menanyakan tentang Diandra." “Tapi kan kita sama-sama tahu tan, Diandra sulit sekali membuka hatinya untuk laki-laki.” “Ya memang semua gara-gara kejadian itu.” ucap mama. “Maaf tante kalau boleh tahu, memang ada kejadian apa?" “Loh memang Diandra belum pernah cerita ke kamu?” “Tentang apa ya tante?” “Jadi dulu Diandra pernah gagal menikah tepat seminggu sebelum akad nikah.” “Maaf, maksudnya tante? “ Aku melangkah kembali ke dapur, Anet dan mama yang melihat aku mendekat sontak menghentikan obrolannya. “Kita lanjut nanti Anet, ada Diandra.” ucap mama berbisik ke Anet. “Iya tan, tapi janji ya nanti tante lanjutkan ceritanya.” bisik Anet. “Iya.” jawab mama singkat. Menyadari aku semakin dekat mama langsung meminta aku membawa buah yang sudah Anet siapkan ke atas meja makan. Akhirnya semua makanan sudah tersaji diatas meja makan. “Ayo makanan sudah siap, kita makan.” ajak mama ke kami Kami langsung menuju meja makan. “Terima kasih ya kalian sudah mau makan malam disini. Tante senang sekali malam ini apartemen Diandra ramai, coba kalau kalian tidak ada, pasti tante hanya makan berdua saja.” “ Sama-sama tan, kapan pun tante mengundang kami pasti kami datang, apalagi ada makanan seenak ini “ucap Anet. “Betul tante, dengan senang hati kami akan datang.” Sambung Angga. “Kalian sering-sering kesini ya, rencana tante disini seminggu.” “Siap tan.” jawab mereka kompak. Kami lanjutkan makan malam kami, sesekali kami selingi dengan obrolan. Entah kenapa aku melihat ada yang berbeda dengan Anet, aku merasa tatapannya berbeda padaku. Mama terlihat sangat senang dengan kehadiran Anet, Angga, dan Sandi. Terlebih lagi pada Angga, aku perhatikan mama memberikan perhatian lebih padanya, berkali-kali mama mengambilkan makanan dan diletakkan di piring Angga, sementara aku sama sekali tak dilirik oleh mama. Akhirnya makan malam pun selesai tak lama Angga, Anet, dan Sandi pamit pulang karena hari makin larut. Aku dan mama mengantar mereka di depan pintu. “Tante kami permisi ya, terima kasih makan malamnya.” “Sama-sama, terima kasih juga hari ini sudah temani tante.” “Angga, terima kasih hari ini sudah jemput tante ke bandara dan mengantar tante belanja, kamu sering main kesini ya.” “Iya tante, nanti aku sempatkan untuk sering kesini tante.” jawab Angga. Setelah mereka bertiga pergi aku kembali ke ruang makan untuk membersihkan sisa makan malam tadi sedangkan mama aku minta masuk ke kamar untuk beristirahat, butuh waktu satu jam untukku merapikan semuanya. Saat merasa semuanya sudah rapih akhirnya aku masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Aku mecoba memejamkan mataku ternyata sulit, ada perasaan aneh saat aku melihat ada mama tidur di sampingku, aku yang biasa tidur sendiri tiba-tiba malam ini dan beberapa hari kedepan akan ada orang lain yang tidur di sampingku. Aku berusaha keras agar bisa tertidur dan akhirnya berhasil. Pagi harinya, mama turun perlahan dari ranjang karena tidak ingin membuat aku terbangun, mama menyelimuti badanku dengan selimut yang hampir terjatuh ke lantai, jam dinding masih menunjukan pukul 03.30 WIB. Mama mengambil wudhu untuk shalat tahajud, di dalam doanya mama menyebut namaku. Mama mendoakan jodoh terbaik untukku, setelah mama sholat dia bergegas keluar kamar untuk mulai bersih-bersih rumah, memang kebiasan mama selalu bangun pagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Jam dinding sudah menunjukan pukul 05.00 WIB, aku masih belum bangun padahal sudah dua kali mama mencoba membangunkanku, mama kembali masuk ke kamarku untuk mencoba membangunkanku lagi. “Dii, bangun sudah jam 05.00 WiB.” mama terus menepuk pundakku agar aku terbangun tapi aku yang masih asik dengan mimpiku mengabaikan suara dan tepukan mama. Mama terus memanggil namaku sambil menggerutu, mama lebih terlihat seperti membangunkan anak kecil yang tidak mau bangun saat diminta berangkat sekolah, Lagi-lagi dimata mama mungkin aku masih terlihat anak berusia belasan tahun padahal saat ini usiaku kepala tiga. Setelah beberapa saat dan perjuangan panjang akhirnya aku bangkit dari ranjang, dengan mata masih tertutup aku berjalan ke arah kamar mandi karena mataku masih terpejam aku menabrak mama yang berdiri dihadapanku, mama menggelengkan kepalanya sedangkan aku tersenyum manis padanya. Mama keluar kamarku setelah merasa berhasil membangunkanku. Di dapur mama masih sibuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untukku sedangkan aku masih sholat dan menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor. Aku keluar dari kamarku dan menghampiri mama di ruang makan yang sudah duduk di kursi menunggu kedatanganku untuk sarapan bersama, tapi aku menolak karena takut terlambat tiba di kantor. Mama memasang wajah kesalnya, aku tersenyum pada mama. “Maa, tapi aku masih kenyang ma. Semalam aku makan banyak sekali bisa-bisa aku makin gendut nanti." Mama masih menatap tajam padaku, aku kembali tersenyum padanya. “Duduk!! “ ucap mama ketus padaku. Aku yang menyadari mama marah langsung tidak berkutik dan duduk dihadapan mama, sebenarnya aku hanya mencari-cari alasan agar pagi ini aku tidak sarapan dengan mama, bukan karena aku merasa kenyang tapi karena aku malas jika pagi-pagi mama membicarakan tentang aku yang masih sendiri atau tentang Angga. Aku duduk sementara mama menyiapkan makanan untukku, saat mama meletakkan piring dihadapanku mama memulai pembicaraannya. “Hari ini kamu pulang jam berapa?” tanya mama padaku. “Mungkin jam 8 ma.” “Setiap hari kamu pulang jam segitu?” Tanya mama. “Tidak ma, biasanya paling telat aku sampai apartemen jam 7 kalau dari kantor langsung pulang dan tidak ada urusan lain, tapi hari ini aku ada urusan lain jadi maaf ya ma aku pulang terlambat hari ini, tapi aku janji besok aku langsung pulang." “Memang kamu mau kemana? Pergi dengan Angga?” tanya mama penasaran. Aku berkata dalam hati, “Hmm benar kan pasti mama akan membahas tentang Angga pagi ini.” Mama memanggilku saat menyadari aku sedang melamun. “Iya Ma?? “ “Kok diem, mama tanya kamu pulang terlambat apa karena akan pergi dengan Angga?” ucap mama penasaran. “Bukan ma, aku mau pergi ke rumah Anin.” “Oh kamu mau ketemu si kembar anak sahabat kamu itu ya?” “Iya, tapi sebentar saja ma.” “Oh, mama pikir kamu akan pergi dengan Angga.” ucap mama. Aku menghela napas panjang, aku sudah berusaha mengganti topik obrolan dengan mama tapi mama masih tetap mengingat dan membahas tentang Angga, aku yakin kali ini selama mama disini Angga pasti akan sering menjadi topik obrolan kami. “Angga baik ya Di, padahal mama baru kenal tapi dia sudah mau menjemput mama bahkan sampai mengantarkan kita belanja.” “Iya.” Aku menjawab singkat karena tidak mau pembicaraan semakin melebar ke hal lain, aku coba mengalihkan pembicaraan ke topik lain. “Mama hari ini mau kemana? Mau ketemuan dengan teman mama?” “Teman mama? Siapa? “ “Itu loh yang biasa mama ajak ketemu kalau sedang disini.” Mama mengingat-ingat siapa yang aku maksud. “Oh Jihan.” “Iya tante Jihan.” “Mama belum kontak dia sih kalau mama sedang disini mungkin besok mama coba hubungi dia, tapi hari ini mama mau istirahat aja.” “Oh, ya sudah kalau mama mau istirahat tapi kalau mama merasa bosan dan mau keluar mama info ya, Hati-hati juga. O iya ma di laci lemari ada uang mama bisa pakai ya kalau kurang mama bilang ke aku, nanti aku transfer.“ “Iya, terima kasih. Di, Angga itu asli mana? Dia tinggal dimana? Orang tuanya kerja apa?" Aku sudah menduga pasti mama akan tetap membicarakan Angga walaupun sudah beberapa kali aku alihkan ke topik lain. Pasti saat ini mama sedang mencari tahu tentang bebet bobot Angga. Aku yang mulai merasa kurang nyaman dengan topik pembicaraan ini langsung menghentikan makanku dan bangkit dari dudukku. “Ma, sudah dulu ya aku takut terlambat datang ke kantor, mama hati-hati ya kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku dulu.” Aku mencium tangan dan pipi mama kemudian bergegas pergi meninggalkan mama. *** Sementara itu di rumah Denendra. Atin sedang sibuk memandikan si kembar, mas Den datang menghampiri mereka. “Wah anak-anak ayah pintar sekali ya, pagi-pagi sudah mau mandi.” puji mas Den pada kedua anaknya. “Iya donk ayah, hari ini kami senang sekali ayah.” “Senang sekali? Pasti karena kalian tahu hari ini ayah ada di rumah seharian ya?" Ucap mas Den percaya diri. Si kembar menggeleng sementara Atin tersenyum tipis. “Bukann.” Ucap mereka kompak. Mas Den menunjukan rasa kecewanya. “ Terus? Apa yang membuat anak-anak ayah begitu senang hari ini?” tanya mas Den pada si kembar. “ Hari ini tante baiik janji mau main kesini ayah.“ Ucap Raine antusias. “Iya ayah, tante baik mau datang. “ Ucap Randi tak kalah antusias dibanding adiknya. “Oh, tante baik mau main kesini. Benar Atin? “ tanya mas Den pada Atin untuk memastikan ucapan kedua anaknya. “Iya Pak, kemarin Randi & Raine minta telepon ibu Diandra katanya mereka kangen terus hari ini kata bu Diandra sepulang kerja mau mampir kesini untuk bertemu dengan kembar.” Mas Den mengangguk. “Oh jadi anak-anak ayah lebih seneng ketemu tante baik dibanding main seharian dengan ayah? “ goda mas Den pada kedua anak kembarnya. Si kembar tersenyum, kemudian mas Den pergi meninggalkan mereka yang masih asik bermain air ditemani Atin. Mas Den duduk di teras depan, tidak lama mbok Tina datang membawakan secangkir kopi dan roti bakar untuk sarapannya. “Mas Den, hari ini mba Diandra mau mampir katanya.” Ucap mbok Tina. “Iya mbok, tadi Atin sudah bilang ke saya. “ jawab mas Den. “Mba Diandra baik ya, dia menepati janjinya pada neng Anin. Dia masih sering kesini mengunjungi si kembar bahkan walaupun dia tidak sempat kesini dia sering sekali mengirimi makanan atau hadiah untuk si kembar. Sesekali mba Diandra juga yang menemani anak-anak sampai tertidur walau hanya lewat video.” Mas Den hanya mendengarkan ucapan mbok Tina. “Saya permisi ya mas Den.” “Iya mbok, terima kasih ya mbok kopi dan rotinya.” “ Sama-sama mas.” Memang setelah kepergian Anin, mbok Tina yang selalu mengurusku, menyiapkan semua keperluanku termasuk makananku sementara Atin lebih fokus membantu mengurus si kembar. Setelah mbok Tina pergi meninggalkannya, Den memikirkan ucapan yang dikatakan mbok Tina, dia setuju dengan ucapan mbok Tina memang setelah Anin pergi Diandra masih sering mengunjungi anak-anaknya, Diandra menepati janjinya pada Anin untuk ikut menjaga anak mereka. *** Di kantor Angga. Angga masih sibuk membaca berkas file yang ada di mejanya, siang ini dia harus ke pengadilan karena ada jadwal sidang untuk client yang dia bela. Dia fokus mempelajari berkas itu, tiba-tiba handphonenya berdering, dia mengangkat telepon itu. “Halo? “ “Halo, ini Angga ya? “ “Benar, maaf ini dengan siapa? “ “Saya mama Diandra, Angga sedang sibuk? “ “Oh tante, tidak tante.. Angga sedang tidak sibuk. Ada yang bisa Angga bantu tante? “ “Tidak, tante cuma mau mengucapkan terima kasih karena kemarin kamu sudah jemput tante ke bandara, antar tante belanja juga, terima kasih ya." Angga tertawa mendengar ucapan mama. “Sekarang aku tahu kenapa Diandra senang mengulang kata maaf dan terimakasih tante, ternyata karena Diandra mirip tante." Ucap Angga menggoda mama. Mama tertawa. “Sebagai ucapan terima kasih tante, nanti siang tante kirim makan siang untuk Angga ya? Boleh tante minta alamat kantor Angga? “ “Terima kasih tan, tapi lain kali saja ya, saya janji kapan-kapan datang ke tempat Diandra lagi untuk makan masakan tante karena kalau hari ini saya tidak di kantor, saya ada jadwal sidang jadi mungkin sampai sore saya di pengadilan.” “Oh seperti itu ya? Oke deh tapi kamu janji nanti kapan-kapan kesini lagi ya?" “Iya pasti tante." “Ya sudah kalau begitu, semoga sidangnya berjalan lancar ya, semoga sukses." “Aamin, terima kasih ya tan." Akhirnya sambungan telepon pun terputus, tiba-tiba saat mama akan meletakkan handphonenya ada panggilan masuk dari Anet. “Halo tantee.“ sapa Anet. “Halo Anet sayang.“ balas mama. “Tante lagi dimana? Sedang apa? Aku ganggu tidak? “ cerocos Anet seperti biasa. “Tante lagi di apartemen nih cuma nonton TV saja jadi kamu tidak ganggu sama sekali, kenapa sayang?" “Tante, aku heran deh si Diandra itu mirip siapa ya? Padahal tante ramah sekali, ceria tapi kok Diandra kaya kanebo kering gitu ya? Kakuu.“ protes Anet pada mama. Mama tertawa mendengar celoteh Anet. “Mungkin dia mirip papanya.“ jawab mama. “Oh, ya mungkin sih, mirip siapalagi ya kalau bukan mirip orang tuanya.” Ucap Anet. “Ada apa Anet, tumben pagi-pagi kamu telepon tante.” “Tante, semalam aku tidak bisa tidur kepikiran ucapan tante kemarin tentang Diandra.” “Ucapan yang mana? “ “Tentang rencana pernikahan Diandra yang gagal, maaf ya tante kalau aku tanya tapi jujur aku penasaran dan sebenarnya jika memungkinkan ingin membantu Diandra terlepas dari traumanya.“ Mama menghela napas panjang. “Oke tante ceritakan tapi tante minta kamu tidak membahas ini dengan Diandra ya.“ pinta mama pada Anet. “Siap tan.“ Anet menyanggupi permintaan mama. “Jadi dulu Diandra menjalin hubungan, awalnya hubungan mereka baik-baik saja, lelaki itu sebenarnya tante nilai cukup baik sehingga tante dan om merestui mereka menjalin hubungan yang serius. Sampai suatu saat mereka harus menjalani hubungan jarak jauh karena lelaki itu harus bekerja di luar pulau. Saat itu mereka masih pacaran tapi lelaki itu menunjukkan keseriusannya dan mengajak Diandra untuk bertunangan, singkat cerita mereka bertunangan.” “Lalu?" Tanya Anet penasaran. “Saat itu sahabat Anet sedang mencari pekerjaan, Diandra berinisiatif meminta tunangannya mencarikan pekerjaan untuk sahabatnya itu, akhirnya sahabat Diandra diterima kerja di tempat yang sama dengan tunangan Diandra.” “Diandra mengira antara tunangannya dan sahabatnya itu hanya sebagai rekan kerja saja, dan sebenarnya sudah ada kesepakatan bahwa hubungan Diandra dan tunangannya berlanjut sampai rencana pernikahan.“ “Terus?“ ucap Anet makin penasaran dengan kelanjutan cerita mama. “Seingat tante kurang lebih dua minggu sebelum acara pernikahan, seharusnya tunangan Diandra datang tapi saat itu tunangannya mengundur kedatangannya, mungkin Tuhan punya rencana lain, Diandra melihat mereka di hotel saat Diandra menuju hotel tempat acara pernikaan.” Anet menghela napas. “Lalu apa yang terjadi tan?” “ Esok harinya Diandra ke hotel itu menemui mereka, singkat cerita Diandra langsung memutuskan hubungan dengan tunangannya saat itu juga, kemudian dia pulang, Diandra pulang lalu bicara dengan tante dan om bahwa dia mengakhiri hubungan dengan tunangannya dan membatalkan pernikahan mereka. “ “Awalnya tante kecewa, hari itu Diandra sama sekali tidak menjelaskan alasan dia membatalkan pernikahan tapi esok harinya saat keluarga tunangan Diandra datang tante baru tahu bahwa anak tante diselingkuhi.“ mama mengakhiri ceritanya. “ Ya ampun, aku tidak menyangkan sama sekali kalau Diandra mengalami semua itu tan, sekalipun dia tidak pernah menceritakan hal itu padaku. Sekarang aku paham kenapa dia sangat sulit membuka hatinya.“ucap Anet. “Iya, semenjak itu dia menutup pintu hatinya rapat-rapat. Sekarang dia sulit percaya pada laki-laki, makanya tante minta kamu bantu dia." Pinta mama pada Anet. “Tentu tante, sekarang aku janji pasti bantu Diandra keluar dari traumanya itu." “Terima kasih Anet.“ ucap mama. Akhirnya pembicaraan mama dan Anet terputus, Anet melanjutkan pekerjaannya sedangkan mama membersihkan apartemen. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN