Sore harinya setelah pulang kerja aku pergi membeli donat kesukaan si kembar sebelum ke rumah mereka. Setibanya di rumah si kembar aku memarkirkan mobilku di depan rumah, dari dalam mobil aku dapat melihat mobil mas Den terparkir di garasi. Tak lama setelah aku menekan bel pintu rumah terbuka, dari dalam rumah terlihat mbok Tina.
“Mba Diandra, mari masuk mba.” ucap mbok Tina menyambut kedatanganku dengan ramah.
“Terima kasih mbok, mbok apa kabar?”
“Baik mba, mba bagaimana kabarnya?”
“Aku baik mbok, anak-anak kemana mbok?”
“Ada di dalam mba, dari siang mereka menanyakan jam berapa mba akan datang? Sampai mereka hari ini tidak tidur siang karena takut mereka sedang tidur saat mba Diandra datang.”
Aku tersenyum mendengar ucapan mbok Tina, kemudian mengikuti langkah mbok Tina menuju kamar si kembar. Saat berjalan menuju kamar si kembar di ruang TV ternyata ada mas Den yang sedang sibuk dengan laptopnya.
“Mas.”
Aku menyapa mas Den lebih dulu karena dia tidak menyadari keberadaanku disitu.
“Hai Di, baru pulang kerja?“ sapa mas Den padaku.
“Iya mas, saya sudah janji mau mampir hari ini kepada si kembar. Saya boleh ke kamar si kembar mas?”
Aku meminta izin pada mas Den untuk masuk kedalam kamar Radhi dan Raine.
“Silahkan, dari siang mereka antusias menunggu kamu.”
“Iya, kalau begitu saya ke kamar mereka dulu mas.”
Mas Den mengangguk tanda mempersilahkanku masuk ke kamar si kembar, tapi saat di depan kamar aku baru menyadari masih memegang kotak donat yang sengaja aku bawa untuk si kembar.
“O iya mbok, ini donat kesukaan Radhi dan Raine.”
Aku menyerahkan kotak donat itu pada mbok Tina yang ternyata masih berdiri di belakangku, mbok Tina meraihnya dari tanganku.
“Terima kasih mba, saya siapkan dulu di piring ya mba. Saya permisi ke dapur.”
Mbok Tina berjalan menuju dapur sedangkan aku mengetuk pintu kamar si kembar sambil memanggil nama mereka.
“Radhi.. Raine..“ ucapku.
Dari dalam kamar terdengar suara langkah kaki berlari mereka, mereka langsung membuka pintu kamar dan mendekat padaku kemudian memeluku dengan erat. Atin yang berdiri dibelakang si kembar tersenyum ramah padaku, sedangkan mas Den tersenyum melihat tingkah lucu anak kembarnya.
“Tantee, kenapa lama sekali?” tanya Raine padaku.
“Maaf sayang, tante baru pulang kerja.”
“Kalian sedang apa sayang?”
“Main tante.” Jawab Radhi.
“O iya tante bawa donat kesukaan kalian loh.”
“Horeee” teriak si kembar kompak karena merasa senang aku membawakan cemilan kesukaan mereka.
Tak lama datang mbok Tina membawakan donat yang sudah ditata diatas piring.
“Mau tante.“ rengek mereka padaku.
“Boleh donk sayang, yuk kita makan."
“Tapi makannya di dalam kamar tante, supaya kita bisa mainan juga." rengek Raine.
Mas Den yang mendengar ucapan putrinya langsung melarang.
“Tidak, kalian makan disini, jangan bawa makanan ke dalam kamar.“ larang mas Den kepada anak-anaknya.
Si kembar tetap merengek untuk membawa donat itu kedalam kamar sedangkan mas Den tetap melarang, aku mencoba menengahi perdebatan ayah dan anak-anaknya.
“Sayang, kita makan disitu ya? Duduk dekat ayah? Kalau makanan dibawa ke kamar kalian nanti ada semut loh, nanti kalian tidur digigit semut.”
Aku mencoba merayu si kembar dan akhirnya mereka mengiyakan. Di ruang tengah kami duduk bersama. Si kembar asik memakan donat kesukaan mereka sedangkan aku dan mas Den sibuk berbincang. Mas Den menanyakan kabarku begitu juga aku menanyakan hal yang sama, saat aku dan mas Den sedang berbincang terdengar suara handphone dari dalam tasku berdering ternyata ada video call dari mama.
“Tumben mama video call? “ Gumamku dalam hati.
“Halo ma?“
Dari layar handphone kita terlihat wajah mama, rupanya mama sedang duduk diruang makan.
“Di, kamu dimana? Kapan pulang?"
“Aku masih dirumah teman ma." jawabku.
Si kembar yang mendengar dan melihat aku berbincang langsung berdiri dari duduknya dan melangkah berdiri dibelakangku sehingga mama dapat melihat mereka dilayar handphonenya, karena sebelumnya aku sudah bercerita sedikit tentang si kembar jadi tampaknya mama tidak terkejut dengan kemunculan si kembar.
“Haloo sayang.”sapa mama pada si kembar.
Si kembar langsung melambaikan tangan mereka pada mama, mama pun terlihat membalas dengan melambaikan tangannya.
“Nama kalian siapa?” tanya mama.
Si kembar terdiam kemudian melihat ke arahku seolah menanyakan siapa sosok yang sekarang ada dihadapan mereka. Aku yang memahami maksud mereka langsung menjelaskan pada si kembar bahwa orang yang mereka lihat adalah mamaku. Setelah mereka mendengar penjelasanku mereka tersenyum pada mama sedangkan di depanku mas Den hanya duduk diam sambil memperhatikan aku dan si kembar berbincang dengan mama.
“Aku Radhi.”
“Aku Raine.”
Si kembar bergantian memperkenalkan diri mereka ke mama.
“Oh.. Radhi dan Raine, kenapa kalian belum tidur? Kan sudah malam sayang.” Ucap mama.
“Belum mau tidur oma.” Jawab Raine.
Aku dan mas Den saling tatap saat mendengar ucapan Raine yang dengan sendirinya memanggil mama dengan sebutan oma. Akhirnya obrolan mama dan si kembar berlanjut, handphoneku sudah beralih tangan ke si kembar sedangkan aku dan mas Den hanya mendengar dan melihat mereka asik mengobrol.
Ditengah-tengah obrolan mereka aku mendengar mama minta mereka untuk main ke apartemenku dan si kembar langsung menanyakan kepada ayahnya apakah mereka diperbolehkan main ke apartemenku. Mas Den yang mendengar pertanyaan anaknya menjawab dengan memberikan izin kepada anak-anaknya berkunjung ke apartemenku nanti.
Setelah cukup lama akhirnya obrolan mama dan si kembar berakhir, si kembar juga sudah mengantuk dan memintaku menemani mereka ke kamar. Setelah si kembar tertidur aku pamit ke mas Dan untuk pulang. Seperti biasa mas Den mengantarkanku sampai ke mobilku.
“Mas, aku pulang dulu ya.”
“Iya, Hati-hati. Maaf keluarga saya selalu merepotkan kamu.”
“Tidak mas, aku tidak pernah merasa direpotkan.“
“Salam buat mama kamu ya.” Ucap mas Den.
“Iya, nanti aku sampaikan. O iya kalau ada waktu si kembar main ke apartemenku ya mas, tadikan mama sendiri yang minta si kembar main.”
“Iya, nanti kapan-kapan kami mampir.”
Aku tersenyum dan masuk ke dalam mobil, mobilku melaju meninggalkan rumah mas Den.
***
Aku membuka pintu dan bergegas masuk, dari ruang tamu terdengar suara orang berbincang dari ruang makan, samar-samar aku mendengar suara yang sangat aku kenali. Mama dan Anet sedang berbincang, nampaknya mama mendengar suara langkahku masuk.
“Di?“ mama memanggilku.
“Iya ma.” aku langsung menjawab ucapan mama dan bergegas menuju ruang makan.
“Ngapain lagi..” ucapanku terhenti saat menyadari diruang makan ada Angga dan Sandi juga.
Anet yang menyadari gelagatnya langsung tertawa dan balas meledek.
“Lu pasti mau ngomel ke gw kan? Tapi lu batalkan karena ada Angga dan Sandi disini kan?" godanya sambil tertawa puas.
Mama, Angga, dan Sandi yang mendengar ucapan Anet langsung ikut tertawa sedangkan aku menahan malu, wajahku memerah sehingga membuat Anet makin menggodaku. Aku langsung menghampiri mama dan mencium tangannya, Anet yang duduk di depan mama langsung mengulurkan tangannya dan memintaku untuk mencium tangannya juga tapi langsung aku tampik.
“Ma, aku ke kamar sebentar ya.”
“Mau ngapain sih lu? Kita udah nunggu lu satu jam tahu, laper nih gua.”
Seperti biasa Anet berbicara dengan gayanya yang berani, sekilas untuk orang yang belum mengenalnya dengan baik dia terkesan orang yang menyebalkan tapi bagi aku dan mama yang sudah mengenal dia dengan baik tahu dengan jelas sebenarnya dia pribadi yang sangat baik.
“Bantar doank.“ jawabku singkat.
“Lu ga usah mandi, kan biasanya juga lu ga mandikan?” ledek Anet padaku.
Mendengar ucapan Anet aku langsung melotot ke arahnya, dia yang menyadari aku kesal langsung mengalihkan pandangannya dan berbicara pada Sandy. Setelah lima menit aku kembali ke ruang makan dan duduk di samping Angga, kami langsung memulai makan malam kami. Mama dan Anet tampaknya sudah menjalankan rencana mereka, sangat terlihat gelagat mereka yang berusaha mendekatkan aku dengan Angga.
Bagi Angga yang memang sudah sangat jelas menyukaiku mungkin bukan menjadi masalah tapi justru aku yang merasa risih dengan situasi ini karena jujur saja semenjak pertemuanku kembali dengan mas Den entah kenapa aku kembali mengingat saat itu, saat dimana aku memendam rasa pada mas Den dan anehnya situasi ini kembali terulang dengan memposisikan aku, mas Den, dan Angga bertemu di waktu bersamaan.
Aku kembali teringat saat aku mengabaikan Angga karena saat itu hatiku sudah terisi oleh nama Denendra Saguna, walaupun saat itu mas Den sendiri tidak mengetahui bahwa aku memendam rasa untuknya, karena aku yang memutuskan mundur perlahan setelah mengetahui bahwa mas Den memiliki pacar.
“Dii.” teriak mama.
Aku tersadar dari lamunanku.
“Ya ma?”
“Tolong tuangkan minuman untuk Angga, gelas Angga kosong.” pinta mama padaku.
“Tidak apa-apa tante, nanti saya bisa ambil sendiri.” Ucap Angga.
Mendengar ucapan Angga aku langsung melihat ke arah mama tapi mata mama mengisyaratkan agar aku tetap menuangkan minuman untuk Angga. Akhirnya aku menuangkan minuman untuk Angga, dan Angga mengucapkan terimakasih padaku.
Ditengah makan sesekali kami berbincang sangat terlihat Anet lah yang paling mendominasi obrolan saat itu, sedangkan aku hanya sesekali ikut menimpali obrolan mereka. Setelah beberapa saat selesai makan, mereka bertiga pamit untuk pulang.
“Tante, nanti tinggal tante ya yang main kerumah aku.“ ucap Anet pada mama.
Mama mengiyakan tawaran Anet, akhirnya mereka bertiga keluar apartemenmu.
“Maa, nanti biar aku saja yang bereskan semuanya tapi aku mandi dulu ya ma.” Ucapku.
“Iya sana kamu mandi, bau nih.” Ledek mama padaku.
Aku yang mendengar ucapan mama langsung berusaha mencium lengan bajuku karena merasa tidak pede setelah mendengar ucapan mama. Mama langsung tertawa melihat tingkahku, aku yang menyadari ternyata mama hanya menggodaku langsung cemberut dan berlalu pergi ke kamar untuk bergegas mandi.
Setelah lima belas menit berlalu aku keluar kamar, di ruang TV aku melihat mama sudah duduk santai sedangkan di meja makan dan dapur semua sudah terlihat rapih kembali.
“Maa.. Kan tadi aku bilang biar aku aja yang rapikan semuanya, kok sudah rapih.”
“Tidak apa-apa, lagi pula hanya merapikan itu saja gampang.” Jawab mama.
Aku yang melihat mama duduk di sofa langsung membaringkan tubuhku dan kepalaku bersandar di paha mama, saat ini adalah kesempatan langka untukku bisa bermanja-manja dengan mama.
“Dii.. Radhi dan Raine lucu ya? Kapan-kapan ajak mereka main kesini.” ucap mama.
“Iya ma, nanti lain waktu kata ayahnya mereka mampir kesini.”
“Kasian ya mereka masih kecil tapi sudah ditinggal ibunya.”
“Iya, kasian ma.”
“Memang apa penyebab ibu mereka meninggal? Sakit?” Tanya mama penasaran.
“Kecelakaan ma, dan posisinya ibu mereka meninggal dalam keadaan mengandung lima bulan.”
“Ya ampun, kasian sekali.”
“Iya.”
Setelah membicarakan Anin topik obrolan aku dan mama langsung beralih ke Angga.
“Dii.”
“Ya?? “
“Menurut kamu Angga gimana orangnya?” tanya mama.
“Maksud mama?”
Aku yang menyadari mama mulai membuka topik tentang Angga berusaha berhati-hati menjawab pertanyaan mama.
“Ya maksud mama sifatnya gimana? Dia baik atau tidak?”
“Baik.” Aku menjawab sesingkat mungkin.
Mama menghela napas panjang setelah mendengar jawaban singkatku.
“Kalau mama perhatikan rasanya dia suka ke kamu.“ucap mama.
“Hmmm.”
“Kamu ini diajak bicara serius cuma jawab singkat.“ucap mama sewot.
“Memang aku harus respon seperti apa ma?”
“Ya gimana kek, mama perhatikan dia laki-laki yang baik Di, dia ramah tutur katanya juga sopan.”
“Iyaa.”
“Mama berharap kamu bisa memberikan kesempatan padanya.” ucap mama.
Mama yang menyadari aku tidak merespon ucapannya memanggil namaku.
“Diii? “
“Dii? Diandra Gauri?? “ teriak mama sambil menoleh ke wajahku.
Ternyata aku sudah tertidur dipangkuan mama. Setelah cukup lama, mama membangunkanku untuk pindah ke kamar tidur, dengan langkah tertatih dan mata terpejam aku berjalan menuju kamar diikuti langkah mama di belakangku, hampir saja aku menabrak pintu kamar tapi untungnya langsung dicegah oleh mama, mama langsung menuntunku mengindari pintu kamar. Aku langsung berbaring pulas diatas tempat tidur.
***
Esok harinya, setelah sholat subuh aku bermalas-malasan diatas tempat tidur sesekali aku mendengar mama berteriak memanggilku untuk sarapan tapi aku menolak.
“Ma, aku masih kenyang.” teriaku dari dalam kamar.
Semenjak ada mama entah kenapa sifat kekanak-kanakan ku muncul, aku yang terbiasa mandiri sekarang bersikap sedikit manja.
Handphoneku berdering, nama si kembar muncul di layar handphone.
“Tantee.” teriak mereka sambil melambaikan tangan padaku.
“Hallo sayang.” sapaku pada mereka.
“Tante, hari ini kita jalan-jalan yuk? Tante libur kan?” ucap Raine.
“Iya tente, hari ini ayah juga libur jadi ayah mengajak jalan-jalan. Tante ikut ya?” sambung Radhi.
Tiba-tiba di belakang mereka muncul sosok mas Den, aku langsung bangkit dari posisi tidurku, kuarahkan kamera kearah lain sementara aku mencoba merapikan rambut dan wajahku.
“Tantee??“ ucap Radhi dan Raine mencari sosokku yang hilang dari layar handphone mereka.
Setelah merasa sedikit rapi aku langsung mengarahkan kembali kamera handphone kearahku.
“Ya sayang?”
“Kok tadi tante hilang? Aku pikir tante kemana.” ucap Raine.
Mas Den tampak tersenyum padaku, aku balas dengan senyuman.
“Tantee, nanti kita jemput ya? Bolehkan ayah?” ucap Radhi.
“Iya boleh.” Ucap mas Den.
“Oh, Radhi dan Raine mau jalan-jalan? “ tanyaku pada si kembar.
“Iya tan. “ jawab Raine.
“Di, nanti siang kami jemput ya?” ucap mas Den.
“Tapi tidak apa-apa saya ikut mas? “
“Justru si kembar dari semalam minta supaya kamu ikut.” Jawab mas Den.
“Baik mas, tapi saya izin ke mama dulu ya.” Ucapku.
“Ya silahkan.” Jawab mas Den.
***
Aku yang mulanya ingin bersantai hari ini langsung antusias bangkit dari ranjang dan keluar kamar mencari mama.
“Ma, hari ini mama jadi ketemuan dengan tante Jihan?”
“Iya, kenapa Di?” tanya mama penasaran setelah melihatku mendadak bersemangat.
“Hari ini aku juga mau jalan ya ma.”
“Jalan sama Angga ya?” tanya mama.
“Bukan ma, aku mau pergi dengan si kembar.”
“Oh, mama kira kamu mau pergi dengan Angga.” Ucap mama sedikit kecewa.
Aku langsung masuk kembali ke dalam kamar untuk bersiap.
Siang harinya mas Den menelponku. Ternyata mereka sudah tiba dibawah, aku langsung bergegas turun untuk menjemput mereka di lantai 1.
“Tantee.”
Radhi dan Raine langsung menghampiri saat melihat aku keluar dari lift, mas Den tersenyum ramah padaku.
“Ayo kita masuk dulu ke rumah tante ya, ada oma juga loh.”
Aku langsung menggandeng si kembar sedangkan mas Den mengikutiku dari belakang, setibanya aku langsung mempersilahkan si kembar dan mas Den masuk.
Mama sudah berdiri menyambut kedatangan mereka, si kembar terlihat langsung akrab dengan mama sedangkan mas Den hanya sesekali berbincang dengan mama.
“Oma ikut jajan sama kita?” tanya Raine.
“Maaf, oma tidak bisa ikut sayang. Lain kali oma ikut ya.”
“Mama pergi bertemu tante Jihan jam berapa?”
“ Ini sebentar lagi mama pergi.” Jawab mama.
Mas Den yang mendengar obrolanku dan mama langsung ikut terlibat dengan obrolan kami.
“Maaf tante, lebih baik kami antar tante dulu ke tempat yang tante akan tuju.” Ucap mas Den.
“Tidak perlu repot-repot Den, tante bisa naik taxi.” Jawab mama.
“Maa, ayo lah benar kata mas Den lebih baik mama diantar mas Den supaya aku juga tenang.”
“Iya Oma.”
Tiba-tiba si kembar kompak mengiyakan ucapanku, aku dan mas Den tertawa melihat si kembar. Akhirnya mama menyerah dan bersedia kami antar.
Aku duduk di jok depan sedangkan mama duduk di belakang dengan si kembar, mama dan si kembar asik bermain, terlihat mama sangat bahagia saat bermain dengan si kembar.
Setibanya di tempat tante Jihan mama langsung berpamitan dengan si kembar.
“Ma, Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa mama kabari aku.”
“Iya, Den terima kasih ya sudah antar tante.”
“Iya, sama-sama tante.”
Mama langsung melambaikan tangan ke si kembar dan dibalas hal yang sama oleh si kembar, mobil mas Den melaju menjauh sedangkan mama masih berdiri memperhatikan kami.
“Diandra, andai saja kamu sudah menikah dan memiliki anak seperti mereka pasti kehidupan mama sudah sangat sempurna nak.” Gumam mama dalam hati.
Lamunannya langsung buyar saat ada tangan yang menepuk pundaknya.
“Hai, kok ngelamun sih? “ ucap tante Jihan.
Mereka langsung berpelukan dan berjalan beriringan.
***
Di dalam mobil si kembar masih asik bermain, aku dan mas Den berbincang tentang mama.
“Tante, Raine lapar.”
“Loh, memang Raine belum makan tadi?”
“Sudah.” Jawab mas Den.
Aku perhatikan sekitar mencari cemilan yang mungkin mas Den bawa.
“Kamu mencari apa? “ tanya mas Den padaku.
“Mas Den tidak bawa snack?”
Mas Den menggelengkan kepalanya, aku meminta mas Den mampir ke minimarket untuk membeli snack.
“Sebentar ya mas, aku masuk kedalam carikan snack untuk si kembar.”
“Di, biar saya saja. “ ucap mas Den.
“Biar saya saja mas.”
“Tante ikut. “
Radhi dan Raine merengek meminta ikut, akhirnya kami semua turun. Di dalam minimarket si kembar sibuk memilih snack kesukaan mereka, aku dan mas Den hanya mengikuti langkah mereka. Saat akan membayar kasir mengira si kembar adalah anak-anaku, mas Den hanya tersenyum saat melihat reaksiku setelah mendengar ucapan kasir itu.
Kami langsung melanjutkan perjalanan ke kebun binatang.
***