Dirumah keluarga Anin.
“Pak, bagaimana ya kabar si kembar?” tanya ibu Anin pada suaminya.
“Pasti baik-baik saja bu, Den pasti merawat anaknya dengan baik.”
“Bukan begitu, ibu hanya takut kalau mereka tumbuh tanpa ada sosok ibu di hidup mereka.”
Obrolan suami istri itu terus berlanjut sampai muncul ide dari sang istri untuk menjodohkan Den dengan Fitri, fitri adalah sepupu Anin.
“Bapak setuju-setuju saja asalkan Den sendiri bersedia.” Ucap bapak Anin.
“Iya, nanti coba ibu bahas dengan ibu Den.”
***
Si kembar masih asik melihat binatang yang ada di depan mereka, mas Den dengan sabar menemani mereka.
“Hallo pak. “ ucap Den setelah mengangkat VC di HP nya.
“Den, kamu apa kabar?” tanya orang di panggilan VC yang samar-samar aku dengar.
“Baik Pak, bapak dan ibu apa kabar?” Den balik bertanya.
“Kami disini baik semua, si kembar bagaimana?”
Mas Den langsung mengarahkan HP nya ke si kembar, tenyata orang yang menghubungi mas Den adalah orang tua Anin, aku yang ikut terlihat di layar HP ikut menyapa mereka.
Mereka berbincang dengan cucu mereka, si kembar asik bercerita tentang apa yang mereka lihat di kebun binatang pada kakek dan neneknya. Setelah beberapa saat akhirnya mereka menyudahi panggilan VC.
Kami kembali berkeliling melihat binatang lain.
***
“Pak, kenapa Diandra ikut bersama mereka? “ tanya ibu Anin.
“Ya mungkin kebetulan Diandra sedang ikut, atau si kembar yang mengajak Diandra ikut.” Ucap Bapak Anin.
“Ya tapi ibu kurang suka kalau Diandra itu jadi dekat dengan Den dan cucu kita.”
“Bu, sudah lah kita sendiri dengar kalau Anin sendiri meminta agar Diandra ikut menjaga cucu kita, sekarang kenapa kamu tidak suka? “
“Tapi kan lebih baik kalau Den bisa bersama Fitri, jadi hubungan keluarga kita juga tidak putus. Pokoknya ibu harus segera bahas dengan keluarga Den. Lusa tolong bapak antarkan ibu ke rumah mereka ya.”
“Iya, boleh.” Jawab suaminya singkat kerena malas berdebat.
***
“Radhi.. Raine.. Sudah sore kita pulang ya.” Ucap mas Den.
“Iya, kita pulang ya sayang.” Sambung ku.
Walau dengan sedikit memaksa akhirnya si kembar bersedia diajak pulang, mungkin karena kelelahan si kembar tertidur. Radhi tidur di belakang sedangkan Raine tidur di pangkuanku.
“Di, Terima kasih kamu sudah menemani kami hari ini.”
“Iya, sama-sama mas. Lagipula aku senang kalau tidak di ajak kalian mungkin aku belum pernah melihat binatang secara langsung lagi. “
Mas Den tersenyum. HP ku berdering karena takut membuat Raine terbangun aku langsung menerima panggilan itu, ternyata dari Angga.
“Hallo? “ ucapku.
Aku berbicara dengan Angga di telepon, sesekali aku lihat mas Den melirik ke arahku, setelah beberapa saat akhirnya panggilan telepon kami tutup.
“O iya kabar ibu dan bapak bagaimana?”
“Mereka baik Di, minggu depan rencananya mereka akan ke Jakarta.”
***
Akhirnya mobil mas Den tiba di apartemenku.
“Di, maaf saya tidak bisa mengantar kamu masuk kedalam karena anak-anak tertidur.”
“Iya, tidak apa-apa mas, Terima kasih untuk hari ini.”
Mobil mas Den melaju meninggalkan apartemen.
Aku bergegas masuk ke dalam rumah mencari mama tapi tidak aku temukan. Mungkin mama belum pulang pikirku.
Setelah mandi aku berbaring di sofa menunggu mama pulang, tak lama terdengar suara pintu terbuka aku langsung bangkit dan menghampiri mama. Mama langsung masuk ke dalam kamar untuk mandi sedangkan aku menyiapkan makanan yang mama bawa tadi.
Perutku sudah keroncongan tapi belum ada tanda-tanda mama keluar dari kamar mandi.
“Maa, masih lama?”
Aku berbicara pada mama yang masih mandi.
“Hmm, kenapa Di? “ tanya mama.
“Aku lapar ma. “
“Ya sudah kamu makan saja duluan.” Ucap mama.
Aku langsung ke meja makan dan melahap makanan yang mama bawa tadi tak lama mama datang.
“Di, bagaimana tadi? Kalian kemana saja? “ tanya mama.
“Kami ke kebun binatang ma.”
“O iya, gimana pertemuan dengan tante Jihan ma? “
Aku dan mama melanjutkan obrolan kami sampai larut malam.
***
Di rumah orang tua Denendra.
Ibu Den melihat mobil berhenti tepat di depan rumah mereka, tak lama tempak Ibu dan bapak Anin turun dari mobil dan berjalan masuk ke halaman rumah.
Ibu Den langsung menghampiri mereka untuk menyambut kedatangan besannya. Ibu Den dan ibu Anin berpelukan sedangkan bapak Anin tersenyum ramah. Mereka masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh bapak Den.
“Mari silahkan masuk.” Ucap bapak Den.
Pembicaraan di mulai dengan menanyakan kabar mereka masing-masing, mereka saling bercerita tentang aktivitas mereka. Setelah beberapa saat Ibu Anin mulai berbicara tentang tujuannya datang.
“Bu, sebenarnya saya kesini ada yang ingin saya bahas tentang Den.” Ucap Ibu Anin.
Ibu Den mendengarkan apa yang Ibu Anin katakan, setelah mendengarkan ucapan Ibu Anin, Ibu Den melihat ke arah suaminya.
“Terus terang bu, saya sendiri menyerahkan semua keputusan itu pada Den, kami sebagai orang tua hanya bisa merestui jika memang sudah menjadi keputusan Den karena saya yakin jika Den sudah mengambil keputusan berarti itu yang terbaik menurutnya.” Ucap Ibu Den.
Bapak Anin dan bapak Den hanya mendengarkan apa yang istri mereka katakan.
“Iya, tapi saya harap coba Ibu bahas dengan Den masalah ini.” Sambung ibu Anin.
“Iya nanti coba saya bicarakan dengan Den, tapi kami tidak bisa memaksakan kehendak kami pada Den apalagi usia Den yang pasti sudah bisa mengambil keputusan sendiri tanpa kami arahkan.” Ucap bapak Den.
Mereka berempat melanjutkan obrolan mereka, sampai sore hari dan orang tua Anin akhirnya pamit pulang.
“ Pak, bagaimana cara kita sampaikan kepada Den.” Ucap Ibu Den pada suaminya.
“Ya nanti kita coba bicarakan pelan-pelan saat kita kesana.” Jawab suaminya.
“Jujur sebenarnya ibu kurang setuju dengan keinginan orang tua Anin pak, Den itu sudah dewasa jadi pasti dia bisa mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri tanpa kita minta.”
“Iya bapak sependapat, tapi kita coba saja bahas niatan orang tua Anin ini kepada Den. Lagipula kita belum mengenal Fitri kan, kalau ternyata Den merasa cocok kita tinggal mendukung keputusannya.”
“Sebenarnya ibu setuju jika Den memilih Diandra, dia perempuan yang baik jadi ibu pikir dia bisa mendampingi Den dan menjadi ibu sambung untuk si kembar bahkan Anin sendiri yang meminta Den mempertimbangkan Diandra sebagai istrinya.” Jelas Ibu Den.
Belum sempat suaminya berbicara ibu Den melanjutkan ucapannya kembali.
“Lagipula kenapa ibu Anin begitu bersemangat menjodohkan Den dengan keponakannya, kita sebagai orang tua Den saja tidak berani membahas tentang pernikahan dengan Den karena takut melukai hati Den.” Sambungnya.
“Iya, tapi kita juga harus memaklumi mereka bu, mungkin maksud keluarga Anin baik dengan memberikan saran agar Den dan anak-anaknya ada yang mengurus, lagipula pasti mereka tidak akan melakukan ini jika mereka tidak yakin kalau orang yang bernama Fitri itu baik.”
“Sudah kita tidak perlu membahas ini lagi, lebih baik kita tidur ini sudah malam. Masalah Den kita bahas saja nanti.” Sambung bapak Den.
***
Sementara itu di perjalanan pulang ibu Anin dan Bapak Anin membahas hal yang sama, ibu Anin masih bersemangat menjodohkan Den dengan Fitri.
“Pak, kalau ibu perhatikan ibu Den itu tidak sependapat dengan saran yang ibu berikan. Ibu merasa dia tidak ingin kita menjodohkan Den dengan Fitri.”
“Hmm, tapi bapak dengarkan katanya nanti mereka coba bahas dengan Den terlebih dahulu.” Jawab suaminya.
“Iya, tapi ibu merasa itu hanya sekedar basa basi karena merasa sungkan ke kita pak, terlihat sekali kalau ibu Den sering mengalihkan pembicaraan saat ibu bahas tentang perjodohan Den dan Fitri, padahal maksud ibu kan baik lagi pula tidak mungkin ibu melakukan ini jika ibu tidak yakin Fitri bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak dan cucu mereka.” Ucap ibu Anin kesal.
“Sudah bu, kita tidak perlu bahas ini lagi. Jangan sampai niatan baik ibu menjodohkan Den dan Fitri agar hubungan kekeluargaan antara keluarga kita dan keluarga Den tetap terjalin malah memutus hubungan baik kita dengan keluarga mereka karena perbedaan pendapat, lagipula Den memiliki hak untuk memilih sosok yang menjadi istrinya kelak kalau orang tua Den saja tidak ikut campur untuk keputusan anaknya apa kita punya hak mengatur keputusan yang harus Den ambil? “ucap bapak Anin
“Hmm pokoknya ibu tetap ingin Den menikah dengan Fitri. Pak, kenapa tidak kita sendiri saja yang membahas masalah ini dengan Den?”
“Jangan, kita tunggu saja orang tua Den yang bicara pada Den. “
“Tapii... “
Belum sempat istrinya melanjutkan ucapannya bapak Den langsung meminta pembicaraan ini diakhiri karena jika dilanjutkan mungkin akan memicu pertengkaran diantara mereka dengan berat hati istrinya mengikuti keinginan sang suami.
***
Di rumah Den.
Mbok Tina membantu membukakan pintu kamar si kembar agar Den bisa masuk dan menidurkan kedua anaknya yang masih tertidur nyenyak. Den membaringkan si kembar lalu mengecup kening mereka.
“Mas, mbok sudah siapkan makan malam untuk mas Den. “ ucap mbok Tina.
“Terima kasih mbok, saya mandi dulu ya.” Jawab Den.
Den masuk kedalam kamarnya sedangkan mbok pergi menuju dapur. Selang beberapa saat Den keluar kamar dan menuju meja makan untuk makan malam.
HP nya berdering, ternyata dari ibunya.
“Hallo bu.” Ucap Den
Dia menghentikan makan nya sejenak untuk menerima telepon dari ibunya.
“Hallo Den.” Jawab ibunya.
“Kamu sedang dimana? Mana si kembar?” sambung ibunya lagi.
“Saya sedang makan di rumah bu, si kembar sudah tidur mungkin mereka kelelahan karena seharian mereka melihat binatang di kebun binatang.” Cerita Den pada ibunya.
“ Oh kalian pergi bertiga?”
“Tidak bu, kami pergi bersama Diandra.” Jawab Den.
Ibu Den yang mendengar ucapan anaknya bicara dalam hati.
“Apakah Den dan Diandra sudah semakin dekat? Apa mereka menjalin hubungan seperti yang Anin harapkan?”
Lamunan ibu buyar setelah Den memanggilnya.
“Bu??” ucap Den.
“Yaa?” Jawab ibu Den.
Ibu Den yang awalnya akan bercerita tentang orang tua Anin yang datang dan membahas niatan mereka menjodohkan Den dan Fitri langsung mengurungkan niatannya.
“Tumben ibu telepon malam hari, ada apa bu?” Tanya Den penasaran dengan tindakan ibunya yang tidak seperti biasanya.
“Hmm.. “ ibu Den masih mencari-cari jawaban yang tepat untuk dia jawab ke anaknya.
“Iya, ibu cuma mau mengingatkan kamu beberapa hari lagi bapak dan ibu kan ke rumah kamu, kamu mau dibawakan apa?” tanya ibu.
“Tidak perlu repot-repot bu, kami sudah senang sekali ibu dan bapak kesini. Radhi dan Raine pasti senang di kunjungi kakek dan neneknya. “ ucap Den.
“Baiklah, o iya bagaimana kabar Diandra? Dia masih sering ke rumahmu?” Tanya ibu Den, seolah mencari informasi sejauh mana hubungan anaknya dengan Diandra.
“Iya bu, sesekali Diandra masih sering ke rumah, anak-anak juga cukup dekat denganya.” Jawab Den.
Setelah mendengar ucapan anaknya ibu Den kembali berpikir tentang niatan keluarga Anin untuk menjodohkan Den dengan Fitri sepupu Anin.
“ Bukankan jika si kembar sudah dekat dengan Diandra lebih baik Den menikah dengan Diandra saja?” pikir ibu Den dalam hati.
“Bu?? “
Lagi-lagi Den menyadarkan ibunya dari lamunan.
“Ibu kenapa dari tadi banyak diam?” tanya Den penasaran.
“Tidak apa-apa, ya sudah kamu lanjutkan makanmu. Oya, salam untuk Diandra ya." ucap Ibu Den sebelum mengakhiri panggilan telepon mereka.
Setelah telepon terputus Den melanjutkan makan malamnya.
***
Di rumah orang tua Den.
Setelah menelpon anaknya ibu Den mencari-cari keberadaan suaminya.
“Pak, tadi ibu baru selesai menelpon Den.”cerita istrinya.
“Hmm” bapak Den yang sedang asik menonton pertandingan sepak bola hanya terlihat datar menanggapi ucapan istrinya.
“Pak? “ ucap Ibu Den, tapi suaminya masih tetap fokus ke layar televisi di depannya.
Dengan tampang sewot ibu Den langsung mengambil remote televisi yang ada di depannya dan menekan tombol Off, seketika televisi langsung mati dan pandangan bapak Den tertuju ke istrinya.
“Ibu, kenapa dimatikan? Bapak kan sedang menonton.” Protes bapak Den kepada istrinya.
“Dari tadi ibu bicara tapi bapak lebih fokus ke televisi bagaimana ibu tidak kesal? “ protesnya.
“Iya, kenapa? Ada apa dengan Den?” tanya bapak Den mencoba menunjukan antusiasnya agar sang istri tidak marah padanya.
“Tadi ibu telepon, Den cerita tadi siang Den dan si kembar pergi ke kebun binatang.”
“Lalu? “ tanya bapak Den makin penasaran.
“ Iya, jadi mereka bertiga pergi ditemani Diandra pak.”
“Oh.” Respon singkat bapak Den.
“Kok cuma oh? “protes istrinya.
“Lalu bapak harus bagaimana?"
“Ya maksud ibu berartikan antara Den dan Diandra sudah cukup dekat kan?"
“Mungkin.” Jawab suaminya.
Ibu Den yang merasa kesal dengan jawab singkat suaminya langsung memasang muka kesal kepada suaminya tapi sang suami tidak menyadari gelagat istrinya, ibu Den langsung meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke dalam kamarnya, sedangkan bapak Den lebih memilih melanjutkan menonton pertandingan bola dari pada menghampiri istrinya yang sedang kesal.
***