BAB 12 / Undangan Makan Malam dari Angga

2162 Kata
“Di.. Dii.. Dii.. Diandra Gauri.“ ucap mama kesal saat mencoba membangunkan aku dari tidurku, sesekali mama menggoyangkan badanku agar aku terbangun. Aku masih tertidur lelap walau sudah beberapa cara mama lakukan agar aku terbangun, karena kesal mama mengambil handphonenya kemudian memutar lagu dengan volume full tepat di samping telingaku. Aku langsung terbangun dan bangkit dari ranjang dan bergegas pergi ke kamar mandi, mama hanya bisa menggelengkan kepalanya. Di ruang makan sarapan sudah siap, aku yang sudah siap dengan pakaian rapih langsung duduk dan menikmati menu sarapan yang mama siapkan. Dering handphoneku terdengar, aku langsung menelan sisa makanan di dalam mulutku dan menerima panggilan telepon. “Hallo, iya mas?” ucapku. Mama yang mendengar aku memanggil orang yang menelponku dengan sebutan mas sontak terkejut dan penasaran dengan sosok yang sedang berbicara denganku. “Mungkin aku pulang pukul 18.00 wib, kenapa?” ucapku. “Oh boleh -boleh mas.” Sambungan telepon terputus, mama yang penasaran langsung menanyakan siapa sosok lawan bicarakan di telepon. “Mas Denendra ma.” Ucapku. “Oh, ayah si kembar?” tanya mama. “Iya, jadi si kembar dari bangun tidur terus mencariku dan meminta bertemu denganku tapi aku kan kerja jadi tadi mas Denendra bilang kalau diperbolehkan nanti sore akan kesini.” “Oh, kalau begitu nanti sore ibu masak buat si kembar ya. “ “Boleh, ibu mau belanja dimana? Tapi ibu belanja sendiri tidak apa-apa?” “Iya, tidak apa-apa nanti ibu bisa naik taxi kan.” Merasa takut terlambat tiba di kantor aku langsung pamit untuk pergi ke ke kantor. *** “ Pak, berkas klien baru sudah saya letakkan diatas meja.” Ucap Gita asisten pribadi Angga. “Baik nanti saya cek.” Angga langsung masuk ke dalam ruangannya, dia meletakkan tas dan membuka laptopnya, tiba-tiba ingatannya tertuju pada mama Diandra. “Hallo tante.“ sapa Angga pada mamaku. “Hallo Angga, apa kabar?" “Baik tante, tante apa kabar?” “Tante juga baik, o iya kapan kamu main kesini lagi?” “Iya maaf tante, beberapa hari ini jadwal ku padat jadi belum sempat ke apartemen Diandra lagi, tapi rencananya nanti malam aku ingin mengajak tante dan Diandra makan malam di restoran favoritku, tante dan Diandra bisa?” “Tante rasa kalau malam ini kami tidak bisa Angga, maaf ya, jadi malam ini rencana ada teman Diandra yang datang ke rumah.” Jelas mama pada Angga. “Anet ya tante?” tanya Angga. “Bukan, Denendra.” Angga yang sudah beberapa kali mendengar nama Denendra disebut merasa penasaran tentang sosoknya. “Denendra?” tanya Angga. “Iya, suami sahabat Diandra.” Jawab mama. “Jadi mohon maaf sebelumnya tante dan Diandra nanti malam tidak bisa makan malam dengan Angga.” “Tidak apa-apa tante, kita bisa pergi lain waktu.” Setelah berbincang beberapa saat akhirnya mereka mengakhiri panggilan mereka. Sore harinya, aku bergegas meninggalkan kantor menuju cafe untuk membeli donat kesukaan si kembar, kondisi jalanan masih macet, sebagian pengendara memaksa melaju tanpa memperhatikan kondisi disekeliling mereka. Setibanya di apatemen aku langsung menuju kamar mandi untuk bersiap menyambut kedatangan si kembar. Suara bell terdengar saat aku dan mama sedang duduk di ruang TV, aku langsung berlari untuk membukakan pintu. Di depan pintu sosok mas Den dan si kembar berdiri, mas Den membawa bingkisan di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menggandeng Raine, Radhi berdiri di depan mereka. Saat aku membukakan pintu Radhi dan Raine langsung mendekat ke arahku, mereka tersenyum dan langsung memelukku. “Tantee” teriak mereka kompak, aku langsung menyambut pelukan mereka dari dalam rumah tampak mama berjalan menghampiri kami, si kembar yang melihat mama sontak langsung melepaskan dekapan dan lari berhamburan mendekati mama, kini mereka memeluk mama. Terlihat raut wajah mama yang begitu seneng ketika Radhi dan Raine memeluknya. Aku yang melihat langsung tersenyum. “Waah, begitu ada oma Radhi dan Raine langsung lupa pada tante ya.” Ucapku seolah menyindir si kembar tapi karena mereka masih kecil mereka masih tampak datar saat mendengar ucapanku. Mas Den langsung tersenyum setelah mendengar ucapanku. Aku mempersilahkan mas Den dan si kembar masuk ke dalam dan meminta mas Den duduk di ruang tamu, dia menyerahkan bingkisan yang dia bawa padaku. “Kenapa repot-repot mas?” “Tidak.” Jawab mas Den. “Terima kasih.” Aku langsung membawa bingkisan itu ke dalam dan meletakkannya di atas meja makan. Mas Den duduk di ruang tamu sedangkan si kembar asik bermain dengan mama di ruang TV, tak lama aku membawa secangkir teh dengan beberapa toples kue. “Mas, silahkan di minum. “ Aku mempersilahkan mas Den meminum minuman yang aku bawa tadi. “Terima kasih Di, si kembar kemana? “ tanyanya. “Mereka di ruang TV, bermain dengan mama.” Setelah beberapa saat berbincang aku mengajak mas Den masuk untuk bergabung dengan mama dan si kembar. “Radhi.. Raine. Jangan nakal ya, jangan buat oma repot. “Ucap mas Den pada kedua anaknya. Ibu yang mendengar ucapan mas Den langsung menjawab bahwa si kembar tidak membuatnya repot. Kami berlima asik bermain, setelah beberapa saat bermain mama mengajak kami semua makan malam. “Radhi.. Raine.. Ayo kita makan, oma sudah masak ayam goreng. Kata tante Diandra Radhi dan Raine suka sekali ayam goreng ya? “ tanya mama. “Asiik.” Ucap si kembar kompak. Kami berlima langsung menuju meja makan. Aku membantu mas Den dan si kembar menyiapkan makanan. “Silahkan Denendra, jangan sungkan.” Ucap mama Awalnya mas Den berniat menyuapi si kembar tapi aku langsung meminta mas Den makan dan aku yang membantu si kembar. Mas Den dan mama tampak berbincang, walaupun tidak seintens dengan Angga tapi terlihat Mas Den dan mama mulai akrab, mungkin karakter Angga yang lebih ceria dibanding mas Den membuatnya lebih mudah akrab dengan mama. Topik pembicaraan mama dan Angga pun lebih banyak di banding saat mama berbincang dengan Den tapi dari raut wajah mama aku bisa melihat mama begitu senang saat ini, mungkin saat ini mama sedang berkhayal merasakan rasanya bisa berkumpul bersama anak, menantu dan cucu. “Enak?” tanya mama pada si kembar yang lahap makan. “Enak oma.” Jawab Raine sementara Radhi asik menikmati makanannya. Mama tersenyum bahagia melihat si kembar menyukai makanan yang dia buat. “Oya, tante sampai kapan disini? Tanya Den. “Mungkin sampai lusa.” Jawab mama. “Oh, kalau masih ada waktu luang silahkan mampir ke rumah kami tante.” “Iya nanti coba kalau ada waktu tante mampir ya.” Akhirnya makanan di piring kami masing-masing habis tak tersisa, aku merapikan meja makan semantara yang lain kembali ke ruang TV, terlihat si kembar kembali asik bermain dengan mama. Mereka bermain beraneka permainan bahkan sampai menonton film kartun. Setelah merapikan meja makan aku langsung bergabung dengan mereka. “Oya Di, ada salam dari ibu.” Ucap mas Den. “Ibu apa kabar mas?” “Baik, mungkin lusa ibu dan bapak akan ke Jakarta.” Ucap mas Den. Mendengar ucapan mas Den mama langsung ikut terlibat dalam obrolan kami. Setelah cukup lama mas Den mengajak si kembar pulang, aku dan mama mengantarkan mereka ke area parkir. “Terima kasih tante, maaf kami merepotkan.” Ucap mas Den pada mama. “Sama-sama Den, kami sama sekali tidak merasa direpotkan.”jawab mama. “Lain waktu silahkan tante mampir ke rumah kami.” Ucap Den. Mama mengangguk mendengar undangan dari Den. “Tante, aku pulang dulu ya.” Pamit Raine sambil memelukku. Radhi yang melihat Raine langsung ikut memelukku. “Tante kapan main ke rumah? “tanya Radhi. “Iya, nanti tante sempatkan main ke rumah kalian ya.” Jawabku sambil mengelus rambut mereka. “Da.. Da oma.” Ucap si kembar kompak sambil berjalan dan menaiki mobil ayahnya. Mobil mas Den melaju meninggalkan aku dan mama yang masih berdiri. Sambil berjalan mama memulai pembicaraan. “Di, mama senang sekali melihat si kembar. Sesaat mama mereka seolah menjadi seorang nenek, bisa bermain bersama mereka, makan di meja makan dengan mereka, bercanda dengan mereka, sekarang mama paham kenapa teman-teman mama selalu antusias saat menceritakan tentang cucu mereka.” “Mama berdoa semoga sebentar lagi mama bisa merasakan menjadi seorang nenek yang sesungguhnya. Nenek dari anak-anakmu.” “Aamiin, besok mama ada acara? “ Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar mama tidak terus membahas tentang pernikahan dan keinginannya memiliki cucu. “Hmmm, belum ada rencana. O iya, Angga telepon mama dan mengajak kita makan malam, awalnya dia mengajak malam ini tapi mama bilang kalau malam ini kita tidak bisa karena ada tamu, besok malam bagaimana? “ “Hmm, makan malam? Dalam rangka apa?” tanyaku penasaran. Mama tertawa mendengar pertanyaanku. “Dii.. Dii, jadi maksud kamu orang bisa mengajak kita makan malam hanya kalau ada acara spesial saja?” tanya mama. Aku tersenyum mendengar ucapan mama. “Bukan begitu ma, tapi aneh saja tiba-tiba Angga mengajak aku dan mama makan malam.” “Ya, katanya sebagai ucapan terima kasih atas makan malam waktu itu.” Jawab mama. “Oh.” “Di, mama lihat sepertinya Angga tertarik padamu. Terlihat dari sikapnya ke kamu. “ Aku terkejut mendengar ucapan mama. “Ma, sudah donk. Aku dan Angga tidak ada hubungan lebih. Kami hanya teman lama yang belum lama ini bertemu kembali jadi aku minta mama jangan berpikir macam-macam dan mengharap lebih tentang aku dan Angga. Kami hanya berteman, titik.” Ucapku sambil berlalu meninggalkan mama dan masuk ke kamar. Mama yang masih duduk di ruang TV hanya melihatku pergi meninggalkan mama. *** Esok harinya setelah pulang kerja aku bergegas pulang. “Di, malam ini kita jadi makan malam dengan Angga ya.”ucap mama meyakinkan agar aku tidak melupakan jadwal makan malam. “Iya ma. “ sebenarnya sudah beberapa kali mama mengingatkan hal yang sama padaku. Terlihat mama begitu antusias dengan undangan makan malam dari Angga. Jam dinding menunjukan pukul 19.30 wib, suara bel terdengar. Mama berlari kecil untuk membukakan pintu. “Silahkan masuk Angga.” Ucap mama. “ Terima kasih tante.” Jawab Angga. Aku yang mendengar suara Angga cukup terkejut dengan kedatangannya, mama tidak memberitahuku bahwa Angga akan menjemput kami. Aku langsung keluar menghampiri mereka. “Hai Angga.” Ucapku. “Hai Di.” “Di, ayo kita berangkat.” Sambung mama. “Angga, kenapa kamu repot-repot jemput? Kita kan bisa langsung ketemu di restoran.” Ucapku. “Tidak apa-apa.” Jawab Angga. Kami langsung pergi ke restoran, di restoran kami langsung disambut pelayan yang mengantar kami ke meja yang sudah Angga pesan. Pelayan langsung memberikan buku menu kepada kami. “Tante mau pesan apa? “ Setelah berpikir sejenak akhirnya kami memutuskan pesanan kami masing-masing dan tak lama pelayan meninggalkan kami. Beberapa saat kemudian makanan yang kami pesan datang. “Gimana tante, suka makananya?” Tanya Angga. “Suka, enak. Angga sering kesini? “Tanya mama “Sesekali tante. “ Mama dan Angga masih sibuk berbincang sementara aku sibuk menikmati makanan yang aku pesan tadi. “Di, gimana kamu suka makananya?” tanya Angga. “Suka, Terima kasih Angga kamu ajak kami makan malam.” “Sama-sama Di.” *** “Di, mama rasa Angga serius denganmu. Mama bisa melihat dari tatapannya saat melihat kamu, perhatiannya ke kamu bukan sekedar perhatian antar teman.” Ucap Mama. Sebenarnya aku mendengar apa yang mama ucapkan tapi aku mensibukkan diri di dapur seolah tidak mendengar apa yang mama katakan. “Diandra??” “Iya ma.” Jawabku sembari meletakkan air minum untuk mama diatas meja. “Kamu dengar apa yang mama katakan?" “ Tidak.” Jawabku. “Mama bilang Angga.. " Belum selesai mama melanjutkan ucapannya aku langsung pamit masuk ke kamar dengan alasan mengantuk. “Dii, kebiasaan ya kamu.” Ucap mama sewot. Aku langsung membaringkan tubuhku diatas ranjang, mencoba memejamkan mata tapi tak kunjung bisa tertidur, ucapan mama tentang Angga terus berada di kepalaku. Menang benar Angga adalah sosok lelaki yang baik dan pasti menjadi idaman bagi banyak wanita tapi entah kenapa hatiku sama sekali tak tersentuh olehnya padahal semua perhatiannya sudah sangat menunjukkan rasa sukanya padaku. Ternyata butuh waktu sangat lama bagiku untuk melupakan kenangan buruk itu, bahkan orang sebaik Angga belum mampu mengetuk hatiku. Kenyataan dihianati saat kita benar-benar sayang seolah meruntuhkan duniaku memang saat itu aku bisa memaafkannya tapi nyatanya sampai saat ini aku belum bisa melupakan kenangan buruk itu. Memikirkan kenangan buruk yang terjadi beberapa tahun silam membuatku kembali teringat tentang Dimas dan Tiara, entah bagaimana kabar mereka saat ini mungkin saat ini mereka sudah sangat bahagia setelah mereka menikah, mungkin mereka sudah memiliki anak-anak yang lucu, mungkin mereka sedang menghabiskan waktu bersama diatas tempat tidur mereka saat ini, saat dimana aku masih harus tidur sendiri. Sejujurnya sudah tidak ada rasa cinta untuk Angga dihatiku tapi entah kenapa masih ada rasa yang terus mengganjal dihatiku. Terdengar suara pintu kamar terbuka, mataku yang awalnya terbuka lebar langsung aku pejamkan. Mama langsung mendekat dan ikut berbaring disampingku. Terlihat mama yang sudah tertidur nyenyak sedangkan aku masih terjaga. Entah jam berapa akhirnya aku bisa tertidur seingatku saat jam dinding menunjukan pukul 23.30 wib aku masih berusaha keras agar bisa tertidur tapi mataku masih terbuka lebar mungkin karena masih ada yang menggangu pikiranku saat ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN