Setiap minggu pagi Den pasti mengajak si kembar bermain di taman komplek, hal yang dulu selalu Anin lakukan saat dia masih ada kini tugas itu langsung digantikan oleh Den walaupun dia tetap harus dibantu Atin menjaga si kembar.
Den duduk dikursi taman sambil memperhatikan si kembar yang sedang asik bermain di arena permainan yang ada, tampak bebarapa anak seusia si kembar ikut bermain, sekilas tak ada yang berbeda diantara mereka kecuali perbedaan dimana hanya si kembar yang bermain diantar ayahnya sedangkan anak-anak yang lain ditemani ibu mereka.
Si kembar terlihat senang bermain bersama teman seusianya, Den yang melihat dari kejauhan ikut tersenyum bahagia melihat anak-anaknya.
HP Den berdering, dia mengambil HP yang ada di saku celananya. Tampak tulisan ibu di layar HP Den.
“Halo bu?”
“Berangkat jam berapa?”
“Baik, nanti Den jemput ya bu. Ibu dan bapak hati-hati.” Ucap Den sebelum mematikan HPnya. Setelah mendapat telepon dari ibunya Den langsung menyimpan kembali HPnya disaku celananya.
“Ayaah.” Teriak Raine sambil melambaikan tangan ke arah ayahnya.
Mungkin karena Raine anak perempuan dia lebih manja kepada ayahnya dibanding Radhi.
Den membalas lambaian tangan Raine dan tersenyum.
“Hati-hati nak, pelan. Awas jatuh.” Ucap Den memperingatkan Raine agar berhati-hati saat bermain.
Setelah merasa cukup lama Den mengajak kedua anaknya pulang, Raine dan Radhi awalnya menolak tapi setelah Den terus membujuknya dengan mengatakan hari ini kakek dan nenek mereka akan datang akhirnya mereka menuruti ayahnya untuk pulang.
***
Mama sedang sibuk merapikan beberapa hiasan rumah yang ada di lemari, membersihkan satu persatu hiasan keramik yang aku koleksi sedangkan aku sedang menonton TV sambil asik memakan keripik singkong kesukaanku. Toples yang awalnya berisi penuh sekarang tersisa setengahnya saja setelah tanpa sadar aku terus memakannya, mataku tertuju pada TV sedangkan tanganku terus aktif mengambil keripik dari dalam toples dan memasukkannya kedalam mulutku.
Sesekali mama menoleh kearahku, dia menggelengkan kepalanya. Mungkin mama masih merasa heran dengan sikapku diusia yang tak muda lagi.
“Diandra, kamu bukannya bantu mama malah asik disitu.” Protes mama.
Aku tersenyum pada mama dan langsung bangkit dari duduk, aku menghampiri mama dan ikut membantu mama membersihkan lemari. Aku berpikir jika hiasan-hiasan ini bisa berbicara pasti mereka akan mengatakan ucapan terima kasihnya pada mama karena semenjak mama ada disini mungkin hampir setiap hari mereka dibersihkan sedangkan olehku saja paling cepat aku bersihkan sebulan sekali.
“Kamu Jangan malas jadi perempuan, harus rajin bersih-bersih.”
Selama aku ikut membantu mama terus menasehatiku, aku hanya mendengarkan ucapan mama sambil sesekali mengangguk.
***
Di rumah orang tua Den, ibu dan bapak sedang sibuk merapikan barang-barang yang akan mereka bawa kali ini mereka membantai barang karena akan menginap di rumah Den cukup lama.
“Pak, setelah ini ayo kita pergi ke toko oleh-oleh.” Ajak ibu Den kepada suaminya.
Suaminya merasa heran dengan ajakan istrinya karena sebelumnya mereka sebenarnya sudah membeli oleh-oleh untuk dibawa ke rumah Den dalam jumlah yang cukup banyak tapi sekarang istrinya memintanya mengantarkan lagi membeli oleh-oleh.
“Kemarin kan kita sudah beli bu, ini sudah banyak loh.” Ucap bapak Den sambil menunjuk tas besar berwarna biru yang berisi penuh oleh-oleh untuk mereka bawa.
“Iya, tapi ibu ada yang lupa. Ibu ingin membelikan sesuatu untuk Diandra. Selama ini kan dia sudah membantu Den menjaga anak-anak, waktu kita pulang juga dia membawakan kita oleh-oleh pak.” Ucap Ibu.
Merasa sependapat dengan istrinya bapak Den akhinya menyetujui untuk mengantar istrinya.
***
“ Raine.. Radhi.. Ayo makan dulu.”
Den masih berusaha membujuk anaknya untuk makan. Si kembar masih terus menolak makan.
“Kalau kalian tidak makan ayah tidak ajak kalian jemput kakak dan nenek ya.” Ucap Den.
Seteleh mendengar ucapan ayahnya mereka langsung bersedia makan, Atin membantu menyuapi si kembar sementara Den sendiri makan.
Malam harinya.
Si kembar yang biasanya sudah tertidur malam ini masih terjaga karena ingin ikut menjemput kakek dan neneknya.
“Ayah, kapan kakek dan nenek datang? Ucap Raine.
“Sebentar lagi kita berangkat jemput kakek dan nenek ya.” Jawab Den.
***
“Raine.. Radhi..”
Ibu dan bapak Den memanggil si kembar saat mereka melihat cucu mereka dihadapan mereka.
Raine langsung berlari memeluk kakeknya sedangkan Radhi memeluk neneknya. Ibu dan bapak Den langsung mencium pipi kedua cucunya.
Den menghampiri kedua orang tuanya, setelah saling menyapa mereka pergi ke area parkir.
Di dalam mobil si kembar aktif bercerita sedangkan kakak dan neneknya mendengarkan mereka dengan antusias.
Setibanya di rumah mereka langsung masuk kedalam rumah. Den menggendong Raine sedangkan Radhi di gendong bapak Den, ternyata si kembar tertidur saat perjalanan.
Setelah mengantar Raine dan Radhi ke kamar mereka Den dan kedua orang tuanya berkumpul diruang TV. Ibu Den mengeluarkan oleh-oleh yang dia bawa.
“Mbok, ini tolong simpan ya. Mbok juga ambil saja, saya bawa banyak kok.”
“Iya bu, Terima kasih. “ jawab mbok Tina.
Mbok Tina pergi dengan membawa barang di kedua tangannya.
Den dan bapaknya berbincang tentang kabar yang sedang terjadi di Solo sementara ibu Den masih sibuk merapihkan barang yang dia bawa. Ibu Den keluar masuk kamar mereka, menata pakaian di dalam lemari.
“Pak.. Bu.. Sudah malam, lebih baik bapak dan ibu istirahat dulu ya.” Ucap Den.
Akhirnya mereka bertiga masuk kedalam kamar mereka masing-masing.
***
Di kantor aku masih sibuk dengan tumpukan pekerjaan yang ada dihadapanku.
“Bu, hari ini ada meeting jam 1 dengan PT. JKT.” Ucap Novi.
“Baik Nov, bahan meeting sudah ada?” tanyaku.
“Ada bu, sudah saya kirim ke email ibu.” Jawab Novi.
“Baik, nanti saya cek dan sya feedback segera.”
Novi langsung meninggalkan ruanganku sedangkan aku kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti tadi.
Dari dalam tas terdengar suara HP ku berdering. Ternyata telepon dari Den. Aku langsung menerima panggilan telepon darinya.
“Halo mas. “
“Oh, ibu dan bapak sudah sampai?”
“Bisa mas, nanti sepulang kerja saya mampir ya.”
Obrolan kami terhenti saat aku mematikan telepon.
***
Di rumah Den, ibu sedang sibuk menyiapkan sarapan dibantu mbok Tina.
“Mbok, bagaimana Den dan si kembar setelah ditinggal Anin? “ tanya ibu Den kepada mbok Tina.
“Baik bu, mas Den memang sesekali masih sering melamun sendiri di teras tapi mau bagaimana lagi kan sekarang mas Den tidak ada teman mengobrol paling sesekali berbincang dengan pak Agus. Kadang juga mas Den pulang malam kalau ada jam praktik di rumah sakit.” Jelas mbok Tina.
“Kalau si kembar bagaimana?” lanjut ibu Den.
“Mereka nurut kok bu, sesekali menanyakan bundanya tapi begitu mas Den memberikan pengertian mereka mengerti.” Jawab mbok Tina.
“Hmm, kalau Diandra masih sering kesini?”
Seolah sedang mengumpulkan informasi ibu Den terus bertanya kepada mbok Tina.
“Masih bu, anak-anak sangat dekat dengan mbak Diandra bahkan kadang mereka tidur ditemani mbak Diandra.” Lanjut mbok Tina.
“Diandra menginap disini?”
“Tidak bu, melalu video call. Mbak Diandra menemani mereka bermain, membacakan cerita untuk mereka dan menemani sampai mereka tertidur.” Ucap mbok Tina.
“Oh.” Jawab ibu.
Obrolan mereka langsung terhenti saat melihat Den mendekati mereka.
“Masak apa bu?” tanya Den.
“Ibu buat bubur ayam, sebentar lagi siap. Kita sarapan bareng ya.” Jawab ibu.
“Iya bu.”
“Kamu ada praktik hari ini Den.”
“Ada bu, nanti siang.”
“Oh, o iya Den tolong kamu hubungi Diandra kalau dia ada waktu minta dia mampir sore ini. Ibu bawa sedikit oleh-oleh untuknya, bilang saja ibu ada disini dan ingin bertemu dengan dia.”
“Baik bu.” Jawab Den.
Den pergi ke ruang TV dan terdengar dia sedang berbicara dengan Diandra di telepon.
Ibu dan mbok Tina membawa bubur yang sudah mereka buat ke meja makan.
“Pak, ayo kita sarapan.”
Ibu Den memanggilnya suaminya yang masih ada di dalam kamar, tak lama bapak Den keluar kamar mereka.
Mereka bertiga menikmati menu sarapan mereka pagi ini. Saat memakan bubur Den teringat dengan Anin, dulu Anin sering sekali membuatkan bubur ayam untuk menu sarapan Den karena tahu bubur ayam adalah makanan kesukaan Den.
“Den, boleh ibu bicara hal yang serius?” ucap ibu Den.
Den tersenyum dan mempersilahkan ibunya bicara.
“Jadi sebelum ibu dan bapak kesini sebenarnya orang tua Anin datang ke rumah.”
“Oya? Bagaimana kabar ibu dan bapak Anin bu? Mereka sehat kan? “ tanya Den.
“Mereka sehat dan menitipkan salam untukmu.” Jwab ibu Den.
“Tapi, sebenarnya ada yang mereka bahas dengan bapak dan ibu saat datang ke rumah.”
“ Ada apa bu? “ tanya Den penasaran.
“ Jadi mereka bermaksud mengenalkan kamu dengan Fitri, sepupu Anin. Mereka berniat menjodohkan kamu dengan dia. Menurut mereka supaya hubungan keluarga kita tidak terputus ada baiknya jika kamu menikah dengan anggota keluarga mereka.” Jelas ibu Den.
Terlihat bapak Den melirik ke arah anaknya dan meperhiatikan respon anaknya setelah mendengar istrinya bicara.
“Oh.”
Den tidak melanjutkan ucapannya. Mendengar jawaban singkat dari anaknya bapak Den langsung ikut melanjutkan ucapan istrinya.
“Bapak dan ibu sebenarnya tidak mau ikut campur dengan urusan kamu, kami mendukung semua keputusan yang akan kamu buat. Kamu menikah sekarang atau tidak semua terserah padamu, kamu yang menjalani.” Ucap bapak Den.
“Iya Pak, saya paham.”
“Bapak juga minta kamu jangan salah mengartikan tentang niatan keluarga Anin, mungkin mereka merasa kasihan melihat kamu harus membesarkan anak-anak tanpa sosok istri yang mendampingi, mungkin mereka kasihan kepada si kembar yang butuh sosok seorang ibu disamping mereka.”
Bapak Den berusaha berbicara bijak kepada anaknya tentang situasi yang sedang mereka bahas saat ini.
“Iya Pak, saya mengerti maksud keluarga Anin. Saya bersyukur mereka memikirkan saya dan anak-anak tapi sampai saat ini saya masih belum memikirkan menikah kembali setelah kepergian Anin, lagipula di rumah ini Adan mbok Tina dan Atin yang membantu mengurus anak-anak.” Jelas Den kepada bapaknya.
***
Flashback
“Mas, ini Fitri. Sepupu aku.” Ucap Anin.
Den dan Fitri pertama kali berkenalan saat Den berkunjung ke rumah Anin beberapa hari sebelum pernikahan.
Di hari pertama Fitri dan Den berkenalan terlihat Fitri sangat agresif, dia sangat aktif membuka topik obrolan dengan Den.
Fitri adalah anak bungsu dari tante Hana, adik ibu Anin. Fitri yang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta di kota Solo memang terlihat lebih senang memakai make up dibanding Anin, dia memang tergolong wanita cantik dengan kulit putih bersih ditambah lagi dengan style berpakaiannya pasti banyak laki-laki yang suka kepadanya.
Berbeda dengan Den yang sama sekali tidak tertarik pada Fitri walaupun beberapa kali sikap Fitri terkesan menggoda Den saat Anin tidak ada bersama mereka.
Setelah pertemuan pertama itu memang beberapa kali Den kembali bertemu dengan Fitri, bahkan pernah suatu hari Fitri mendatangi tempat praktik Den dengan alasan ingin memeriksakan kondisi kesehatannya padahal saat itu di ruang praktik Fitri lebih sering membahas masalah pribadinya dibanding masalah kesehatannya.
Gelagat Fitri sebenarnya disadari Den, dia curiga kalau Fitri sebenarnya menyimpan rasa padanya. Sikap Fitri padanya kadang justru membuat Den merasa risih sehingga beberapa kali dia berusaha menghindari Fitri saat ada acara keluarga, nampaknya Fitri menyadari bahwa Den menghindarinya tapi justru dia semakin berusaha mendekati Den saat Anin tidak ada.
Bagi Den yang memiliki sifat kaku melihat sikap agresif Fitri justru membuatnya tak nyaman. Awalnya dia ingin membahas hal tersebut dengan Anin tapi dia urungkan niatnya karena takut membuat hubungan Anin dan Fitri memburuk.
***
“Kamu kenal dengan Fitri?” Tanya ibu pada Den.
“iya bu, tahu. Beberapa kali kami bertemu saat ada acara keluarga Anin.”
“Oh, lalu menurut kamu dia bagaimana?” tanya ibu Den sementara suaminya hanya mendengarkan obrolan istri dan anaknya.
“Hmm, baik.” Jawab Den singkat.
“Terus? “ tanya ibu lagi.
“Saya tidak mengenal Fitri lebih dekat bu, kami hanya bertemu beberpa kali jadi saya tidak tahu Fitri seperti apa orangnya.”
Den tidak membahas lebih tentang Fitri pada kedua orang tuanya karena dari awal Den sebenarnya tidak tertarik dengan perjodohan dirinya dan Fitri.
“Lalu bagaimana pendapat kamu tentang usulan orang tua Anin agar kamu menikah dengan Fitri? “ tanya bapak Den.
Merasa takut salah bicara Den menjawab halus pertanyaan bapaknya.
“Saya akan pikirkan baik-baik pak, tapi saya tidak ingin memberikan harapan berlebih untuk niatan orang tua Anin karena jujur saya belum terpikir menikah lagi dalam waktu dekat.” Jawab Den.
“Iya, kamu pikirkan dulu saja baik-baik. Kalau kamu berniat ingin mengenal lebih dekat dengan sosok Fitri kamu tinggal bicara langsung dengan ibu mertuamu.” Ucap ibu Den.
“Iya, tapi bapak pesan jangan sampai kamu terpaksa, jangan sampai kamu menerima hanya karena merasa tidak enak pada orang tuan Anin.” Lanjut bapak Den.
“ Kalau menurut ibu Anin, Fitri dan kedua orangnya sudah tahu tentang rencana perjodohan ini dan mereka menyetujui jika ternyata perjodohan ini benar-benar terjadi, sekarang semua keputusan tinggal dari kamu.”
Mendengar ucapan ibu sejujurnya Den tidak terkejut karena dari dulu Den menyadari bahwa Fitri menyukainya, bahkan beberpa kali setelah kepergian Anin, Fitri mencoba menghubungi Den dan mengirim pesan yang berisi bentuk perhatiannya pada Den dan si kembar.
***