Sepulang kerja aku bergegas menuju rumah mas Den untuk memenuhi undangan ibu mas Den yang baru datang. Saat aku datang di teras rumah tampak ibu dan bapak mas Den sedang duduk bersantai.
Menyadari kedatanganku ibu mas Den langsung menyapaku, aku langsung menyalami mereka.
“Ibu dan bapak apa kabar?”
Aku menanyakan kabar mereka, setelah mendapat jawaban dari mereka giliranku mendapatkan pertanyaan yang sama.
“Aku baik bu.” Jawabku.
“Diandra, ibu dengar kamu masih sering ikut menjaga si kembar. Terima kasih banyak karena kamu menepati janjimu pada Anin.” Ucap ibu mas Den sambil memegang erat tanganku.
“Sama-sama Bu, aku sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama anak-anak, O iya mereka kemana bu?”
Aku menanyakan keberadaan si kembar yang dari tadi tidak aku lihat kehadirannya.
“Mereka di dalam, ayo masuk.” Ibu mas Den mengajak aku masuk kedalam rumah sedangkan bapak masih asik duduk di teras.
“Hai Radhi..Raine.” aku menyapa si kembar yang sedang asik bermain, menyadari kehadiranku mereka langsung berlari memelukku.
“Kalian sedang apa?”
“Main tante.” Jawab Raine.
Aku langsung ikut menemani mereka bermain, ku amati tampaknya mas Den sedang tidak ada di rumah karena di garasi aku juga tidak melihat mobilnya terparkir.
“Di, ayo sini.” Ibu memanggilku.
Aku bergegas menghampiri ibu yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan.
“Kamu makan malam disini ya.” Ajak ibu.
“Maaf Bu, aku harus pulang cepat. Kebetulan sekarang mama sedang di apartemenku jadi aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan mama, tapi lain waktu aku janji mampir kesini lagi.”
“Oh mama kamu sedang disini? Kenapa tidak ajak kemari?”
“Lain waktu ya Bu, besok juga mama sudah harus pulang jadi malam ini aku harus bantu mama packing barang-barang mama.”
“Iya kita atur lain waktu ya. Di, ibu sudah merasa cukup dekat dengan kamu boleh ibu bertanya sesuatu? Tapi kalau pertanyaan ibu tidak mau kamu jawab juga tidak apa-apa.” Ucap ibu.
Aku tersenyum.
“Silahkan Bu, ibu mau tanya apa?”
“Maaf sebelumnya, tapi apa sekarang kamu sedang menjalin hubungan? Hmm jangan salah paham ibu hanya khawatir karena kamu sering datang mengunjungi si kembar membuat pasangan kamu terganggu.” Jelas ibu.
“Tidak Bu, tidak ada yang keberatan jadi selama keluarga mas Den memperbolehkan aku dekat dengan si kembar tidak masalah, lagipula saat ini aku tidak sedang menjalin hubungan dengan seseorang.” Ucapku.
Mendengar ucapanku ibu tampak lega, ada angin segar baginya untuk mempersatukan aku dan mas Den.
“Ya sudah, ayo kita makan dulu ya.”
***
Den keluar dari mobilnya, menghampiri ayahnya yang masih duduk di teras.
“Ibu kemana ayah? Kok ayah sendiri?”
“Ibumu sedang bersama Diandra di dalam.”
“Oh, ya sudah saya masuk dulu yah.”
Di meja makan aku masih menikmati masakan ibu sambil ditemani ibu, mungkin karena kami sudah cukup dekat sehingga sekarang aku tidak merasa sungkan saat ibu menawariku makan, berbeda dengan awal aku datang ke rumah ini ada perasaan sungkan dan malu saat ibu memintaku ikut bergabung dengan mereka, mas Den yang baru saja datang menyapaku setelah dia mencium tangan ibunya.
“Di, dari tadi?” Tanyanya.
“Belum lama datang mas, habis dari rumah sakit?” aku balik bertanya padanya dengan pertanyaan yang mungkin terkesan basa basi maklum aku sendiri bingung harus mengajukan pertanyaan apa selain hal itu.
“Iya, tadi habis operasi. O iya kenapa mama tidak diajak?”
“Sepulang kerja aku langsung kesini jadi belum sempat mengajak mama kemari mungkin lain kali aku akan ajak mama kesini.”
Ibu hanya terdiam mendengarkan aku dan mas Den berbincang, tampaknya ibu merasa heran setelah mengetahui bahwa Den mengenal mamaku.
Setelah berbincang sesaat mas Den pergi ke kamarnya, sementara ibu yang penasaran tentang mama dan mas Den langsung menanyakannya padaku.
“Di, memang Den sudah mengenal mamamu?”
“Iya bu, mas Den pernah bertemu dengan mamaku.”
“Ooh.”
Setelah mendengar jawabanku ibu berkata dalam hati tentang Den dan mama, ibu tidak menyangka bahwa mamaku dan Den justru sudah pernah bertemu hal tersebut membuat ibu berpikir bahwa hubunganku dengan mas Den ternyata sudah sangat dekat.
Beberapa kali aku coba memanggil ibu tapi ibu tetap terdiam, aku mencoba mengulanginya.
“Ibu.. Bu..”
Akhirnya setelah beberapa saat ibu merespon sapaanku.
“Ya?” jawab ibu.
Aku yang merasa heran dengan sikap ibu langsung menanyakan penyebab ibu terdiam tapi ibu menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.
“Sudah lanjutkan makannya.” Ucap ibu.
Aku langsung melanjutkan makanku sementara ibu masih tetap duduk menemaniku.
Setelah cukup lama bermain dengan si kembar akhirnya aku putuskan untuk pamit pulang. Awalnya si kembar tidak memberikan aku izin untuk pulang tapi setelah berbagai macam cara dan aku yang berjanji akan main kerumah mereka lagi akhirnya dengan berat hati menerka mengizinkanku pulang.
“Bu, aku pulang dulu. Terima kasih makanan dan oleh-olehnya.” Aku mencium tangan ibu kemudian ibu memelukku.
Si kembar langsung berlari memeluk tubuhku dan mencium tanganku sedangkan aku mengelus lembut rambut dan mencium kening mereka.
Ibu yang berdiri disampingku dan mas Den yang sedang makan di meja makan memperhatikan kami, ibu tersenyum melihat tingkah kami.
“Mas, aku pulang dulu.” Aku pamit pada mas Den, dia langsung menghentikan makannya dan langsung berdiri dari kursinya untuk mengantarkanku sampai ke mobilku, aku sudah menolaknya, memintanya untuk melanjutkan makannya dan tidak perlu mengantarku tapi dia tetap pada pendiriannya untuk mengantarku.
Bapak masih duduk di tempatnya semula dan sedang meneguk kopi dari cangkir saat aku datang menghampirinya.
“Pak, aku pulang dulu.” Aku berpamitan pada bapak dan mencium tangannya.
“Kenapa sebentar?” tanya bapak yang merasa heran karena sekarang aku pulang lebih cepat dibanding biasanya, padahal biasanya aku bisa pulang lebih malam karena lupa waktu saat bermain dengan si kembar.
“Iya Pak, lain waktu aku main lagi.” Jawabku.
“Di, salam untuk mamamu.” Ucap ibu.
Aku menyanggupi pesan ibu, setelah berpamitan pada mbok, Atin, dan pak Agus akhirnya aku pamit pulang. Mas Den mengikuti langkahku sampai di depan mobilku terparkir, dia melambaikan tangannya saat mobilku melaju pergi dari rumahnya.
Suasana jalan yang padat menjadi rutinitas yang harus aku lewati setiap hari, bahkan seringkali aku harus terpaksa berhenti beberapa saat karena jalanan macet total dan kendaraan tidak bergerak sama sekali belum lagi suara klakson yang bersahutan membuat suasana jalanan terasa semakin kacau.
Terdengar suara HP berdering, aku langsung mengambil headset dan menggunakannya sebelum menerima panggilan yang masuk, ternyata mama yang meneleponku.
“Halo ma.” Aku langsung menyapa mama saat aku sudah menggeser tombol hijau.
“Aku sedang dijalan ma.”
“Angga?”
“Iya, sebentar lagi aku sampai.”
Setelah itu aku langsung mematikan teleponnya. Mama baru saja memberitahu bahwa saat ini Angga sedang berada di apartemenku. Sebenarnya aku merasa heran kenapa Angga berada di apartemenku tanpa memberitahukan terlebih dahulu padaku.
Setelah bersabar dengan kondisi jalanan yang padat akhirnya aku tiba di apartemen, aku memarkirkan mobilku, tampak mobil Angga terparkir di tempat yang tak jauh dari mobilku. Aku langsung melangkah masuk kedalam apartemen.
Tampak Angga sedang duduk di ruang tamu di temani mama saat aku masuk kedalam apartemenku.
Aku langsung menciun tangan mama dan menyapa Angga. Setalah meletakkan tas aku langsung duduk sedangkan mama langsung pergi meninggalkan kami saat aku sudah duduk dengan alasan karena harus packing untuk persiapan pulang besok, alhasil saat ini hanya aku dan Angga yang duduk di ruang tamu.
Kami berbincang, sampai akhirnya Angga memintaku untuk keluar bersamanya sebentar, ada hal penting yang harus dia katakan.
Sejujurnya aku merasa penasaran dengan apa yang akan Angga katakan karena tidak biasanya Angga mengajakku pergi berdua.
Akhirnya aku putuskan untuk menerima ajakannya tapi aku meminta waktu untuk berganti pakaian dulu dan Angga mempersilahkan. Saat aku beranjak dari ruang tamu menuju kamar tanpa sengaja aku melihat mama berdiri di balik dinding seolah sedang mendengarkan pembicaraan ku dan Angga. Menyadari aku melihatnya mama langsung tersipu malu, wajahnya langsung memerah sedangkan aku hanya bisa menggelengkan kepala dan bergegas masuk ke dalam kamar.
Setelah beberapa saat akhirnya aku keluar kamar.
“Ma, aku pergi sebentar ya dengan Angga.”
“Iya, hati-hati.” Jawab mama.
Mama yang sudah mendengar obrolanku dengan Angga pasti sudah mendengar bahwa Angga mengajakku pergi sehingga mama tidak banyak bertanya lagi padaku.
“Tante, saya dan Diandra pergi sebentar.” Ucap Angga.
“Iya, silahkan. Hati-hati ya.” Jawab mama.
Selain ramah Angga memang sosok yang sangat sopan hal tersebut terlihat dari caranya berbicara pada lawan bicaranya. Terlebih mama sebagai sosok yang usianya lebih tua darinya sangat terlihat bahwa dia sangat menghormati mama.
Akhirnya kami keluar apartemen, Angga mengajakku ke café yang terletak tak jauh dari apartemenku.
Setelah memesan makanan dan pesanan kami tiba kami langsung memakannya dan sesekali diselingi obrolan dan canda. Sampai tiba-tiba wajah Angga tampak serius dengan ucapan yang terkesan tegas.
“Di, ada hal yang ingin saya sampaikan, saya harap kamu pikirkan baik-baik kata yang akan saya katakan ini, kamu tidak perlu langsung menjawab sekarang, yang pasti apapun keputusan kamu nanti saya jamin tidak akan membuat saya berubah terhadapmu, saya juga berharap setelah mendengar ini sikap kamu tidak berubah terhadapku.” Ucap Angga.
Aku hanya terdiam, tanganku sedikit dingin karena merasa cemas dengan apa yang akan aku dengar keluar dari mulut Angga.
“Di, sejujurnya saya sangat merasa senang saat pertamakali bertemu dengan Anet karena saat itu akhirnya saya bisa bertemu kembali dengan kamu. Saya yang sebenarnya belum sepenuhnya melupakan kamu, nama kamu yang masih tersimpan disisi lain hati saya walaupun ada wanita lain saat itu. Memang benar kita hanya memiliki sedikit kenangan bersama tapi entah kenapa semua itu terekam indah di kepalaku.”
Aku masih terdiam, tertunduk karena tidak tahu harus merespon apa pada Angga.
Melihatku tertunduk Angga kembali melanjutkan ucapannya.
“Sampai akhirnya seminggu sebelum saya bertemu dengan Anet saya memutuskan mengakhiri hubungan saya dengan pacar saya saat itu karena saya tidak bisa membohongi hati kecil saya yang masih sangat mengharapkan kehadiran kamu, dan Tuhan menjawab keinginan saya, saya bertemu dengan Anet yang membuat saya akhirnya biasa bertemu denganmu lagi. Sekarang bukan waktunya untuk menyatakan perasaan seperti anak kuliah dulu, tapi saya tegaskan bahwa saya masih menyayangi kamu seperti dulu dan sekarang seiring waktu kita bersama saya sangat merasa nyaman saat bersamamu.” Ucap Angga.
Aku langsung mengepalkankan tanganku karena merasa gugup. Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak mendengar kata-kata manis dari laki-laki setelah kenangan pahit yang digoreskan Dimas padaku dan akhirnya aku memutuskan menutup pintu hatiku rapat-rapat tapi malam ini aku kembali mendengar laki-laki menyatakan perasaannya padaku.
“Kamu bisa memikirkan dulu ucapan saya Di, dan tidak perlu langsung menjawab jika kamu sendiri masih ragu.” Lanjut Angga.
Setelah Angga menghentikan ucapannya aku langsung mengumpulkan keberanian untuk mengangkat wajah dan membuka mulutku.
“Angga, sebelumnya terima kasih karena kamu sudah berkata jujur pada saya, Terima kasih karena kamu masih mengingat saya padahal kita tidak berjumpa dalam waktu lama.”
Aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapanku.
“Saya sangat beruntung menjadi sosok yang namanya ada di hati kamu. Kamu itu laki-laki yang sangat baik, mudah bagi wanita jatuh cinta padamu. Tapi nyatanya ada beberapa wanita yang tidak mudah membuka hatinya walau laki-laki yang mengutuk hatinya adalah sosok yang begitu baik, bukan laki-laki itu yang salah tapi terkadang masa lalu membuat wanita ragu untuk membuka hatinya kembali.” Lanjutku.
Angga terdiam dan menyimak semua perkataanku. Tampak dia berusaha memahami arti kata-kataku.
“ sejujurnya saya juga merasa senang saat bersama kamu Angga, tapi untuk memulai hubungan selayaknya sepasang kekasih untuk saat ini saya belum siap, jadi saya berharap kita tepat bisa dekat seperti sekarang tanpa ada beban karena status kita yang berubah. Beri saya sedikit waktu untuk lebih meyakinkan hatiku sendiri.”
Angga terdiam, saat ku tatap wajahnya tampak sedikit kekecewaan tapi aku tahu dia berusaha menutupinya, mungkin yang terpikir olehnya saat ini tentang aku adalah aku sebagai wanita jahat yang sudah dua kali mengabaikannya tapi saat ini yang kubutuhkan adalah waktu untuk aku lebih memahami tentang diriku sendiri, apakah aku sudah cukup berani membuka hati dan memperbolehkan orang lain memasukinya lagi.
Melihat Angga terdiam membuatku merasa bersalah.
“Angga, maaf. Tapi saya minta kamu memahami kondisi saya saat ini, jika ternyata setelah ini kamu memutuskan untuk menjauh saya tidak bisa melarang walau saya berharap hubungan kita tidak berubah.”
“Saya juga tidak mau kamu menunggu sesuatu yang tidak pasti, jika kamu menemukan wanita lain yang lebih pantas bersanding dengan kamu saya akan ikut senang.”
Akhirnya aku terdiam setelah mengungkapkan semua kata yang terpikir di kepalaku saat ini, melihat aku yang terdiam kini giliran Angga yang berbicara.
“Seperti yang saya bilang tadi,saya tidak akan berubah sedikitpun. Saya akan tetap menunggu sampai kamu siap mengambil keputusan dan saya akan pergi setelah mendengar dari mulutmu bahwa kamu sudah membuka hati untuk laki-laki lain selain saya, disaat itu saya akan melepaskan kamu.”
Aku tertegun mendengar ucapan Angga, laki-laki sebaik dia nyatanya memang belum bisa mengetuk pintu hatiku.
Untuk mencairkan susana Angga langsung mencari topik lain untuk kami bahas, sejujurnya masih ada perasaan bersalah padanya tapi melihat dia yang tetap ramah seperti biasanya membuatku sedikit tenang. Aku berharap besok, lusa dan seterusnya sikap Angga tidak berubah.
Akhirnya kami keluar dari café, selama diperjalanan kami masih asik berbincang, hal itu membuatku merasa tenang.
***
“Tante, saya permisi pulang.” Angga berpamitan pada mama setelah mengantar dan memastikan aku tiba di apartemen dengan selamat.
Mama langsung menghampiri kami yang masih berdiri di depan pintu.
“Angga, kenapa tidak masuk dulu?” tanya mama.
Sebelumnya aku sudah mempersilahkan Angga masuk tapi dia menolak karena menurutnya sudah malam.
“Terima kasih tante, tapi sudah malam. Saya permisi pulang saja.” Jawab Angga.
Akhirnya Angga pergi meninggalkan kami yang masih melihat kepergiannya dari depan pintu.
Setelah Angga pergi aku langsung melangkah masuk ke dalam kamar tapi mama berusaha mencegahku.
“Di, kamu darimana?”
Aku yang sudah merasa lelah memilih masuk ke kamar.
“Ma, aku cape mau tidur.”
Ku tutup pintu kamar perlahan sedangkan mama masih sibuk merapikan barang-barang yang akan dibawa pulang besok.
***