BAB 15 / Nasehat Mama Untukku

2316 Kata
Keesokan harinya. Aku sengaja bangun lebih pagi karena hari ini adalah hari terakhir mama disini. Mama sedang menyiapkan sarapan saat aku keluar kamar. “Di, ayo sarapan.” Ajak mama. Aku langsung menghampiri mama, duduk dihadapannya, mama menyajikan makanan di piringku. “Ma, maaf ya semalam aku tidak membantu mama merapikan barang-barang mama.” Semalam memang aku merasa sangat lelah terlebih lagi setelah Angga mengutarakan perasaannya membuatku lebih memilih tidur daripada bersama mama karena takut mendapat banyak pertanyaan dari mama tentang Angga. Tampaknya kali ini aku tidak dapat menghindarinya lagi, mama pasti akan menanyakan hal yang aku hindari. “Di, semalam kemana kamu pergi dengan Angga?” seperti dugaanku mama mulai menanyakan tentang Angga. “Ke café ma.” Aku hanya menjawab singkat pertanyaan mama. “Lalu bagaimana?” tanya mama. “Bagaimana apanya ma?” aku balik bertanya pada mama. “Ya, jawaban kamu untuk Angga.” Aku terkejut mendengar pertanyaan mama, apa yang dimaksud mama dengan jawaban untuk Angga. Apakah mama mengetahui bahwa Angga mengutarakan perasaannya padaku. Aku bertanya seolah tidak mengetahui maksud pertanyaan mama tadi. “Maksud mama? “ Mama tersenyum ketika mendengar pertanyaanku padanya. “Kamu tidak perlu berbohong, mama sudah tahu Di.” Mama menjawab pertanyaanku dengan mulut penuh makanan. Aku yang awalnya akan memasukkan makanan ke dalam mulutku langsung mengurungkannya. Ku tatap mama dengan wajah terkejut, mana menyadarinya. “Iya, mama sudah tahu kalau semalam Angga menyatakan perasaanya padamu.” Sambung mama. Aku hanya terdiam. “Jadi sebelum dia berbicara denganmu, Angga meminta izin pada mama.” Aku terkejut mendengar penjelasan mama, memang Angga sosok sopan tapi aku tidak menyangka sebelum berbicara denganku justru dia berani meminta izin terlebih dahulu pada mama, menurutku itu menunjukkan keseriusannya padaku. Sekali lagi aku tersentuh olehnya, laki-laki baik yang pasti bisa menjadi sosok suami yang ideal tapi lagi-lagi hal itu tidak cukup untuk menumbuhkan rasa cintaku padanya. Sebenarnya aku sendiri masih ragu akan arti seorang Angga bagiku, itu kenapa aku meminta waktu padanya untuk memikirkan keputusan terbaik tapi tanpa menghalangi dia untuk memulai hubungan dengan perempuan lain jika dia menemukan sosok lain yang bisa dia cintai dan mencintainya tentunya. Sejujurnya aku masih tidak bisa memahami apa yang terjadi padaku saat ini. Angga dan Den datang bersamaan, mereka adalah sosok di masa laluku. Den pria yang pernah aku cintai sedangkan Angga adalah laki-laki yang pernah mencintaiku. Belum lagi cara Tuhan yang mempertemukan aku dengan mas Den melalui Anin. Entah takdir apa yang akan aku jalani kedepannya. “Di, kok kamu melamun?” Ucap mama. Aku langsung tersadar dan tersenyum pada mama. “Iya, Angga memang menyatakan perasaanya padaku ma.” “Lalu?” tanya mama penasaran. Tanpa menjawab pertanyaan mama aku justru bertanya pada mama. “Memang apa yang Angga katakan pada mama?” Mendengar pertanyaanku mama kembali mengingat apa yang dia bicarakan dengan Angga sebelum Angga menyatakan perasaanya padaku. *** Flashback Mama masih sibuk merapikan baju-baju yang akan dia masukkan ke dalam koper, bell berbunyi mama langsung bergegas memeriksa siapa yang datang, ternyata Angga berdiri di depan pintu dia menyalami mama kemudian mama mempersilahkan masuk. Awalnya mama mengira bahwa Angga sudah memberitahuku kalau dia akan datang ke apartemenku ternyata saat itu Angga justru menanyakan keberadaanku pada mama. Setelah Angga duduk mama ke dapur, mengambilkan minuman dan kue untuk disuguhkan. “Angga, ayo diminum.” “Iya, Terima kasih tante.” “O iya tante kapan pulang?” “Besok. kamu baru pulang kerja?” “Iya tante, saya kesini karena ada hal yang harus saya bicarakan dengan Diandra tapi saya pikir saya harus meminta izin terlebih dahulu pada tante.” Angga menjelaskan tujuannya datang ke apartemenku. Setelah mendengar ucapan Angga mama langsung mempersilahkan Angga melanjutkan ucapannya. “Jadi begini tante, sebenarnya saya dan Diandra itu teman lama. Kami kuliah di kampus yang sama hanya berbeda jurusan, saat itu di kampus ada acara donasi itu awal mula saya dan Diandra bertemu. Seiring berjalannya waktu kami semakin dekat beberapa kali bahkan Diandra menemani saya pergi. Rasa nyaman tumbuh, saya ternyata menyukai Diandra saat itu. Saya berusaha mendekatinya tapi ternyata saat itu perasaan saya tak terbalas, setelah mengetahui saya menyukainya perlahan Diandra menjauh.” Ucapan Angga terhenti, dia menarik napas panjang sedangkan mama terus menyimak ucapan Angga. “Dari kabar yang saya dengar saat itu ada laki-laki lain yang Diandra suka, akhirnya entah bagaimana sampai kami lulus kuliah kami kehilangan kontak, beberapa kali saya mencari informasi tentangnya tapi nihil, saat itu saya juga merasa heran kenapa sosok Diandra menghilang begitu saja.” Mama sesekali menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa mama masih mendengarkan cerita Angga. “Beberapa tahun berlalu akhirnya saya menjalin hubungan dengan wanita lain, tapi saya tidak bisa membohongi hati kecil saya, masih ada nama Diandra di dalam hati saya, karena takut menyakiti pacar saya saat itu akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri hubungan kami secara baik-baik dan untungnya ternyata pacar saya saat itu menerima keputusan saya dengan besar hati.” Ucap Angga. “Setelah itu saya kembali berusaha mencari informasi tentang Diandra tapi tetap tidak saya dapatkan. Sampai suatu hari secara tidak sengaja saya bertemu dengan Anet, itu awal mula saya bisa bertemu kembali dengan Diandra. Ternyata Tuhan mendengarkan harapan saya.” “Di awal-awal sangat sulit bagi saya menjalin komunikasi dengan Diandra karena sangat terlihat bahwa dia selalu menghindari saya, tapi hati ini tidak bisa berbohong tante. Saya masih mencintainya, cinta yang sempat tertunda sekian lamanya kini makin tumbuh di hati saya untuk itu saya berniat mengutarakan perasaan saya pada Diandra malam ini. Saya harap tante memberikan izin pada saya.” Lanjut Angga. Mama tersenyum pada Angga, sebenarnya dari tadi mama mendengarkan sambil mengingat-ingat kembali cerita Anet tentang aku dan Angga, ternyata apa yang Angga cerita sama persis dengan apa yang Anet ceritakan pada mama saat itu. Dari situ mama semakin menilai positif sosok Angga, mama menilai Angga sosok jujur dan sopan. Mama sangat merasa senang karena akhirnya ada laki-laki yang meminta izin padanya untuk mengutarakan perasaan pada anak semata wayangnya. Mama menepuk pundak Angga. “Terima kasih Angga.” Ucap mama sambil air matanya menetes. Angga yang melihat mama menangis tampak terkejut. “Tante kenapa?” Tanya Angga cemas. Mama mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. “Tante tidak apa-apa, justru tante sangat senang saat ini.” Lanjut mama. “Terima kasih karena kamu telah memilih mencintai Diandra, Terima kasih karena kamu tetap membiarkan Diandra mengisi hati kamu, Terima kasih karena kamu mau berjuang kembali untuk mendapatkan cinta Diandra.” Ucapan mama terhenti, air matanya kembali menetes. Kali ini Angga ikut mengusap pipi mama dan menghapus air mata yang mengalir. Mama melanjutkan ucapannya. “Tante harap kamu jangan salah paham pada Diandra, tante tahu sangat sulit bagi Diandra membuka hatinya kembali setelah penghianatan yang diterima. Penghianatan dari laki-laki yang dulu sangat dia cintai, kenyataan bahwa sahabatnya tega merebut laki-laki yang dia cintai.” Mama mencoba menjelaskan kondisi ku pada Angga. Angga terkejut mendengar cerita mama, dia tidak menyangka bahwa aku mengalami hal yang sangat menyakitkan. Kini dia paham ucapan Anet saat itu. Angga kembali mengingat ucapan Anet tentang aku padanya. Saat itu Anet meminta Angga untuk bersabar dan tidak menyerah jika ternyata sulit bagiku menerimanya. Kini setelah mendengar cerita mamaku Angga memahami ternyata ada luka yang membekas dalam dihatiku, luka yang akhirnya membuat aku kesulitan percaya pada laki-laki, dan ketakutan untuk memulai menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Angga merasa penasaran dengan cerita pahit yang aku alami, dengan berhati-hati dia menanyakan pada mamaku apakah tidak keberatan menceritakan kejadian itu padanya. Akhirnya mama bersedia menceritakan semua yang aku alami tapi dengan syarat Angga tidak menceritakan padaku bahwa mama bercerita padanya tentang kejadian itu dan Angga menyanggupi syarat yang mama berikan. Angga tampak serius saat mendengar cerita mama tentang kejadian itu, dari awal mula cerita aku berpacaran sampai keputusanku mengakhiri hubunganku dengan Dimas, mama ceritakan tanpa ada yang terlewat, Angga menghela napas panjang saat cerita mama berakhir. Cerita mama terhenti saat ada suara pintu terbuka dan langkah kaki yang mendekat, ternyata saat itu aku datang, Angga dan mama langsung terdiam karena takut aku mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. *** Mama tersadar dari lamunannya setelah aku menepuk pelan lengannya sebenarnya aku sudah beberapa kali memanggilnya tapi mama masih diam dengan tatapan kosong. “Ma, apa yang mama dan Angga bicarakan?” Mama masih terdiam. “Sepertinya saya tidak perlu mengatakan pada Diandra bahwa saya sudah menceritakan kenangan pahitnya pada Angga dan Anet, maaf Diandra mama hanya ingin kamu segera lepas dari kenangan itu. Dengan mama menceritakan pada Anet mama berharap dia bisa membantumu dan Angga bisa memahami dan bersabar dengan kondisimu saat ini.” Ucap mama dalam hati. “Mama??” Tampaknya Diandra cukup kesal karena menunggu jawaban dari mama. “Hmm, mama dan Angga tidak terlalu banyak bicara. Awalnya mama pikir dia datang kesini karena sudah membuat janji denganmu tapi ternyata mama salah. Justru dia tidak tahu kalau kamu tidak ada di rumah. Angga berbincang dengan mama sambil menunggu kepulanganmu sampai akhirnya dia meminta izin pada mama karena akan menyatakan perasaannya padamu.” Jelas mama. “Lalu?” aku penasaran dengan kelanjutan pembicaraan mama dan Angga. “Ya lalu mama memberikan dia izin, sebenarnya tanpa meminta izin pada mama pun dia berhak mengutarakan perasaannya padamu tapi dia memang laki-laki santun, dia memilih meminta izin pada mama padahal kalian bukan anak kecil lagi.” Lagi-lagi mama memuji Angga di depanku, Angga tampak begitu menarik perhatian mama, terlihat dari reaksi mama saat membahas tentangnya mama begitu bersemangat. “Di, mama pikir sekarang waktunya kamu memikirkan masa depan kamu, mau sampai kapan kamu seperti ini? Kamu tidak bisa merubah masa lalu tapi masa sekarang dan masa depan masih bisa kamu jalani dengan baik. Mama tahu tidak mudah untukmu terlepas dari semua kenangan buruk itu, tapi mama lihat Angga laki-laki yang baik, jadi tidak ada salahnya kamu memberikan dia kesempatan.” Ucap mama. Aku mendengarkan ucapan mama sambil menikmati menu sarapan pagi ini. “Di, buka sedikit hati kamu untuk Angga. Setidaknya berikan kesempatan padanya untuk perlahan memasuki hati kamu, mengobati luka hati kamu.” Ucap mama dengan mimik wajah sedih. Aku yang melihat wajah mama ikut sedih. Takut pembicaraan kami semakin melebar akhirnya aku mencoba mengalihkan topik obrolan kami tapi mama bersikeras menanyakan jawabanku pada Angga. “Jadi apa keputusanmu?” desak mama karena penasaran dengan jawabanku. Aku masih ragu dengan jawaban apa yang harus aku katakan pada mama, karena mama masih terus mendesak akhirnya aku putuskan untuk menjawab pertanyaannya. “Aku belum memberi jawaban pada Angga ma.” “Maksud kamu? Kenapa kamu belum memberikan jawaban padanya? Tanya mama, mama yang terkejut dengan jawabanku langsung menghentikan makannya. Aku melanjutkan ucapanku tapi sebelumnya aku mengambil gelas dan meminum air putih yang ada di dalamnya. Tenggorokanku masih terasa mengganjal padahal aku sudah minum air cukup banyak. “Aku meminta waktu pada Angga untuk memikirkan keputusan apa yang akan aku buat ma, karena sejujurnya aku masih belum yakin apa arti sosok Angga dalam hidupku.” Mama menatap wajahku, dia langsung meletakkan sendok makannya kemudian kedua tangannya meraih kedua tanganku. Mama tersenyum padaku sambil tangannya menggenggam erat tanganku. “Iya, tidak apa-apa. Keputusan kamu tepat, kamu berhak meminta waktu padanya untuk memikirkan keputusan apa yang akan kamu ambil. Lagi pula mama yakin Angga pasti tidak akan semudah itu menyerah, mama yakin kalau dia akan bersedia menunggu jawaban dari kamu.” Mama berusaha menghiburku dengan mengatakan bahwa keputusanku sudah tepat. Aku balas menggenggam tangan mama sambil mengucapkan terima kasih karena selama ini mama dan papa selalu mendukungku, mama yang terus bersabar karena keinginannya memiliki cucu masih belum dapat aku wujudkan. Takut pembicaraan kami makin melebar, aku kembali mencoba mengalihkan topik obrolan. “Ada barang yang perlu mama beli untuk mama bawa pulang?” Tampaknya mama menyadari kalau aku berusaha mengganti topik obrolan tapi karena takut membuatku sedih akhirnya mama menjawab pertanyaanku. “Tidak, semua sudah selesai mama siapkan. Pesanan papa juga sudah ada.” Jawab mama. *** Sore harinya, aku bersiap untuk mengantar mama. “Ma, sudah siap?” Belum sempat mama menjawab pertanyaanku terdengar bell berbunyi, aku langsung bergegas untuk membukakan pintu. “Hai Di.” Sapa sosok laki-laki tampan yang berdiri di depan pintu. “Angga?” Aku cukup terkejut dengan kedatangan Angga di apartemenku. Setelah kami saling terdiam sesaat aku persilahkan dia masuk dan memintanya duduk. “Kamu pasti terkejut saya datang kesini? Saya sengaja datang karena ingin ikut mengantar tante.” Angga menjelaskan tujuannya datang ke apartemenku. “Oh.” Sebenernya aku tidak merasa heran dengan apa yang Angga katakan mengingat mama dan Angga cukup dekat jadi sangat memungkinkan untuk Angga berniat mengantarkan mama. “Angga, kamu sudah datang?” Ternyata mama datang menghampiri kami. Mendengar pertanyaan mama pada Angga membuatku tersadar bahwa ternyata mama sudah mengetahui jika Angga akan mengantarnya. “Iya tante, sudah siap?” Tanya Angga. “Sudah, ayo kita berangkat.” Ucap mama. Angga langsung membawa barang-barang mana sedangkan aku dan mama mengikuti langkahnya di belakang. *** Kami bertiga duduk di kursi tunggu sampai terdengar suara memanggil penumpang dengan tujuan kota kelahiranku. Mama bangkit dari kursinya, kami langsung berpelukan karena artinya aku akan kembali berpisah dengan mama. Aku memeluk erat mama sedangkan mama mengelus lembut rambutku, Angga tersenyum saat melihat kami berpelukkan. Pelukan kami terlepas karena akhirnya mama harus segera bergegas pergi, sebelum pergi mama berbicara pada Angga, entah apa yang sedang mereka bicarakan karena mama sengaja meminta waktu padaku untuk bisa berbicara berdua dengan Angga. “Angga, Terima kasih selama tante disini kamu selalu menolong tante. Untuk hubungan kamu dengan Diandra tante doakan semoga lancar tapi seperti yang sudah tante sampaikan sebelumnya tante minta kamu bersabar menghadapi Diandra, beri sedikit waktu untuk dia memikirkan keputusan yang akan dia ambil.” Ucap mama. “Iya tante, sama-sama. Terima kasih juga karena selama ini tante begitu baik pada saya. Tante juga memberikan dukungan pada saya untuk terus berusaha mendapatkan cinta Diandra.” Ucap Angga. Angga dan mama langsung menghentikan obrolan mereka saat menyadari aku datang mendekati mereka. Setelah melambaikan tangan, mama tak tampak lagi dari pandangan mataku. Aku dan Angga langsung pergi menuju parkiran. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN