Ibu langsung menyambut saat aku baru tiba di halaman rumah. Aku langsung menyalami ibu yang tersenyum ramah padaku, hari ini aku sengaja datang ke rumah mas Den karena si kembar memintaku mengantar mereka mengikuti lomba menggambar yang diadakan di sebuah mall, mas Den mamang berhalangan mengantar mereka karena ada jadwal operasi akhirnya si kembar yang memintaku sendiri untuk mengantar mereka dan aku sanggupi karena setiap hari Sabtu jadwalku kosong.
Si kembar yang sedang asik menggambar ikut menyambutku saat melihatku datang, mereka tampak senang karena aku bersedia mengantar mereka, hari ini ibu akan ikut pergi bersama kami sedangkan bapak lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah. Mas Den sudah pergi dari rumah saat aku tiba dirumahnya.
Si kembar langsung menarik tanganku dan membawa ke kamarnya, mereka menunjukkan gambar-gambar hasil mereka berlatih, semua gambar mereka terlihat bagus, aku tidak menyangka bahwa si kembar memiliki bakat menggambar. Ada dua gambar yang membuatku terkejut. Satu gambar menunjukkan si kembar bersama ayah dan bundanya dan satu gambar lagi menunjukan si kembar bersama aku dan mas Den, pada gambar yang menunjukanku tertulis tante baik, panggilan yang si kembar berikan padaku.
Aku tersentuh melihat gambar yang si kembar buat, ternyata mereka mengangap aku sebagai sosok penting dihidup mereka.
“Bagus kan tante?” tanya si kembar.
“Oya bagus sekali sayang.”
Mereka tersenyum bahagia mendengar pujianku. Saat kami bertiga masih asik menggambar ibu masuk ke dalam kamar si kembar.
“Sudah siap? Ayo kita berangkat.” Ibu mengajak kami segera pergi karena takut terlambat tiba tepat waktu.
“Sudah nenek.” Ucap Radhi.
Aku dan si kembar keluar kamar mengikuti langkah ibu. Setelah kami berpamitan pada bapak kami langsung pergi.
***
Area perlombaan sudah cukup ramai saat kami datang, Radhi dan Raine langsung duduk di tempat mereka sesuai dengan nomer yang mereka dapat saat pendaftaran.
Aku dan ibu mengamati dari kejauhan, melihat mereka membuatku sangat bahagia setidaknya aku merasakan bagaimana rasanya seorang ibu mengantarkan anak-anak mereka, tiba-tiba aku teringat Anin.
Ternyata Anin adalah orang yang memberikan kebahagian untukku, aku sangat beruntung bertemu dengannya sehingga akhirnya aku bertemu dengan si kembar mereka sudah aku anggap seperti anakku sendiri.
Lomba akan segera dimulai, Radhi dan Raine melihat kearah aku dan ibu, kami melambaikan tangan kepada mereka dan memberikan semangat untuk mereka.
Si kembar tampak serius menggambar, ibu antusias melihat cucunya. HP ibu berdering ternyata mas Den yang menghubunginya.
“Halo Den.”
“Iya ibu masih di tempat lomba, boleh. Memang kamu sudah selesai operasi?” lanjut ibu.
“Ya sudah ibu tunggu ya.” Ucap ibu lalu mengakhiri panggilan telepon.
“Di, Den sebentar lagi menyusul kemari.”
“Bukannya mas Den ada operasi bu?”
“Operasinya tidak jadi karena kondisi pasien tidak memungkinkan jadi operasinya diundur.”
“Oh.”
***
Anet mengambil hpnya, dia mencari namaku di hpnya.
“Halo Di.”
“Lo dimana?”
“Nanti malam gw ke apartemen lo ya.”
“Oke, bye.”
Setelah menghubungiku Anet kembali menelpon seseorang, kali ini dia coba menghubungi Angga tapi tidak mendapat jawaban dari Angga.
“Si Angga kebiasaan susah sekali dihubungi.” Ucap Anet.
Tak lama HP nya berdering ternyata Angga menghubunginya.
“Angga, lo kemana aja sih gw telepon tapi lo ga jawab.” Anet protes pada Angga.
Angga meminta maaf pada Anet, dia tidak mengangkat teleponnya karena tidak mendengar suara teleponnya berdering.
“Nanti malam gw sama Sandi mau ke apartemen Diandra, lo mau ikut?”
Setelah memastikan jadwalnya kosong Angga menyetujui untuk ikut ke apartemenku.
***
Mas Den kembali menelpon ibu untuk menanyakan lokasi perlombaan, setelah mendapat informasi lokasi lomba mas Den langsung berjalan menuju tempat yang dimaksud.
Dari kejauhan aku dapat melihat mas Den berjalan, aku melambaikan tanganku agar dia menyadari keberadaan kami.
Saat sudah berada bersama kami dia menyapaku dan mengucapkan terima kasih karena bersedia mengantar si kembar.
“Sama-sama mas.” Jawabku.
“Den, si kembar pasti senang kalau menyadari kamu ada disini.” Ucap ibu.
“Iya bu.” Jawab Den sambil terus memperhatikan kedua anaknya dari kejauhan.
Selama perlombaan aku duduk diapit ibu dan mas Den. Ibu berbincang dengan perempuan muda yang duduk di sampingnya.
“Ibu sedang mengantar cucu?” tanya perempuan itu.
“Iya, kalau mba mengantar anaknya ya?” tanya ibu.
Mereka berbincang sedangkan aku hanya mendengarkan obrolan mereka.
“Lucu-lucu sekali ya cucunya bu, yang disamping orang tua mereka?” tanya perempuan itu.
Awalnya aku berniat menjawab bahwa aku bukan orang tua mereka tapi ibu langsung menjawab pertanyaan perempuan itu dengan senyuman akhirnya aku memilih diam dan tidak terlibat dengan obrolan ibu.
Raine melihat kearah kami menyadari ada ayahnya dia langsung memberitahukan pada kakaknya, Radhi ikut menoleh kearah kami. Mereka melambaikan tangan kepada kami dan kami bertiga balas melambaikan tangan pada si kembar.
Waktu perlombaan berakhir semua peserta datang menghampiri orang tua masing-masing termasuk si kembar yang langung berlari menghampiri kami.
Radhi langsung berlari ke arahku sedangkan Raine menghampiri ayahnya. Melihat si kembar menghampiri kami perempuan tadi langsung memuji si kembar dan mengatakan bahwa Raine mirip denganku. Ibu hanya tersenyum mendengar ucapanya sedangkan aku dan mas Den saling pandang.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya waktu pengumuman pemenang tiba, ternyata Radhi dan Raine menjadi juara 1 & 2. Mereka sangat terlihat senang ketika mendengar namanya dipanggil. Radhi dan Raine langsung menggandengku untuk mengantar mereka keatas panggung untuk menerima piala dan hadiah.
Aku menuntun mereka menaiki panggung.
Si kembar menerima piala mereka masing-masing, pembawa acara memberikan selamat pada mereka dan juga kepadaku dengan mengatakan bahwa aku beruntung karena memiliki anak pintar seperti mereka, aku mengucapkan terima kasih.
Den dan Ibu melihat aku dan si kembar berdiri diatas panggung. Ada sesi foto sebagai pemenang.
“Den, semua orang mengira Diandra adalah ibu si kembar. Mungkin mereka melihat kedekatan antara Diandra dan si kembar selayaknya kedekatan seorang ibu dengan anaknya.” Ucap Ibu.
Den hanya terdiam, dia tidak merespon ucapan ibu.
Tiba giliran Raine dan Radhi berfoto tapi diluar dugaan pembawa acara menanyakan pada si kembar keberadaan ayah mereka. Si kembar langsung menunjuk kearah mas Den yang masih duduk, pembawa acara meminta mas Den ikut bergabung diatas panggung untuk berfoto. Akhirnya mas Den berjalan naik ke atas panggung.
Diatas panggung photograper meminta mas Den lebih dekat denganku, sejujurnya saat ini aku merasa gugup. Aku tidak menyangka sekarang aku berdiri bersama sosok yang dulu pernah aku cintai.
Setelah berfoto kami langsung turun panggung diiringi tepuk tangan dari pengunjung lainnya.
“Ayah, Raine lapar.” Ucap Raine.
Raine memang selalu manja pada ayahnya, sehingga semua keinginan Raine sangat sulit untuk Den tolak.
“Ayo, Raine dan Radhi mau makan dimana?” Tanya mas Den pada kedua anaknya sambil terus berjalan mendekati ibu.
Aku berjalan dengan mengandeng Radhi, mengikuti langkah mas Den yang menggendong Raine.
Ibu langsung mengucapkan selamat pada si kembar karena telah berhasil memenangkan lomba, ibu langsung mencium pipi si kembar.
“Bu, anak-anak lapar jadi sebelum pulang kita makan dulu ya.” Ucap Den pada ibunya.
“Iya boleh.” Jawab ibu.
“O iya kamu tidak apa-apa kalau kita makan dulu Di?” mas Den bertanya padaku karena takut aku keberatan.
“Iya mas, tidak apa-apa.”
Si kembar langsung memilih restoran favoritnya. Aku teringat saat dulu datang kemari bersama Anin dan si kembar. Tak kuduga kali ini aku datang lagi kesini tapi bukan dengan Anin, aku justru datang dengan suami dan ibu mertuanya.
Kenangan tentang Anin kembali terlintas dikepalaku, saat itu aku mengingat dengan jelas sebelum ke restoran Anin menceritakan sosok suaminya yang begitu sempurna dimatanya dan ternyata mas Den adalah sosok yang Anin bangga-banggakan saat itu.
Pelayan datang menghampiri kami, aku langsung memilihkan menu kesukaan si kembar. Mas Den tampak terkejut karena aku mengetahui menu kesukaan si kembar di restoran ini.
“Di, bagaimana kamu tahu menu kesukaan si kembar?” Tanya mas Den.
Ibu memperhatikan kami sedangkan si kembar masih sibuk dengan piala mereka masing-masing.
“Iya mas, sebenarnya saya pernah kesini bersama si kembar dan Anin.” Ucapku.
Mendengar jawabanku mas Den terdiam, mungkin kata-kataku membuat dia kembali mengingat sosok Anin, perempuan yang sangat dia cintai.
Ibu yang menyadari anaknya terdiam langsung mencoba mengalihkan fokus mas Den ke hal lain sehingga anaknya tidak terus mengingat Anin yang sudah tiada.
Menu makanan yang kami pesan datang, aku langsung membantu si kembar menyuapi makanan mereka.
Saat sedang menyuapi Raine tiba-tiba Radhi mengatakan hal yang membuatku sangat terkejut.
“Tante, tante mau jadi ibu kami?” Ucap Radhi polos.
Mas Den yang sedang makan langsung tersedak, aku melirik ke arah mas Den sedangkan ibu langsung menghentikan makannya sesaat. Mungkin Den tidak menyangka anak sulungnya bisa berkata itu.
“Iya, tante mau kan jadi ibu kami?” Raine melanjutkan ucapan kakaknya.
Mas Den dan ibu langsung menatapku, tiba-tiba bibirku kelu, aku kebingungan harus memberikan jawaban apa pada si kembar.
“Ayo malam lagi.”
Kata-kata yang keluar dari mulutku justru tidak menjawab pertanyaan si kembar. Mas Den dan ibu masih terus menatapku sedangkan si kembar menuruti ucapanku.
Mendadak aku merasa suasana menjadi kaku entah apakah hanya perasaanku saja atau memang mas Den merasakan hal yang sama tapi ibu yang menyadari aku dan mas Den manjadi canggung berusaha mencairkan suasana dengan membuat lelucon yang akhirnya kami semua tertawa.
Setelah makan kami pulang, si kembar memilih pulang bersamaku dibandingkan semobil dengan ayahnya, karena si kembar memilih pulang denganku akhirnya ibu memutuskan untuk ikut denganku juga.
Ibu duduk di depan sedangkan si kembar duduk di jok belakang, dari kaca spion terlihat mobil mas Den yang mengikuti mobilku.
“Di, maaf ya atas pertanyaan anak-anak tadi.” Tiba-tiba ibu membahas pertanyaan yang dilontarkan si kembar tadi.
“Iya bu, tidak apa-apa. Mereka kan masih anak kecil jadi pasti itu pertanyaan spontan saja. Lagipula pertanyaan itu tidak berarti mereka benar-benar menginginkan aku sebagai ibu mereka.” Jawabku.
“Tapi ibu pikir mereka serius dengan ucapan mereka.”
Ucapan ibu membuatku terkejut. Aku terdiam.
“Ibu tahu kamu pasti merasa kurang nyaman tadi tapi sejujurnya ibu pun berharap hal yang sama seperti harapan si kembar. Kamu bisa menjadi ibu sambung untuk si kembar.”
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan ibu.
Selama diperjalanan aku terus memikirkan pertanyaan si kembar bagaimana anak kecil seperti mereka bisa berpikir dan memintaku menjadi ibu untuk mereka.
***
Ternyata bukan hanya aku yang memikirkan ucapan si kembar, selama di perjalanan Den terus memikirkan ucapan si kembar.
Tiba-tiba dia teringat dengan surat Anin, surat yang berisi permintaan Anin untuk mempertimbangkan aku sebagai istrinya kali ini giliran si kembar yang secara tidak langsung memintanya menikahiku.
Sebenarnya selama ini Den selalu memperhatikan perlakuanmu pada anak-anaknya, Den menilai bahwa aku adalah wanita baik yang pantas menjadi ibu sambung untuk anak-anaknya tapi sampai saat ini ternyata aku belum mampu mengetuk hatinya, dihatinya dan pikirannya masih berisi penuh tentang Anin, perempuan yang sampai kapanpun akan menjadi wanita kedua dalam hidupnya setelah ibunya. Den sangat mencintai Anin, wanita yang sudah memberikan anak kembar yang begitu dia sayangi sehingga tidak mudah baginya menggeser posisi Anin.
Den masih sibuk dengan semua pikiran yang mengganggunya belum lagi niatan keluarga Anin yang berniat menjodohkan dirinya dengan Fitri, keinginan meraka yang jelas-jelas tidak dapat Den penuhi tapi Den masih menunggu waktu dan cara yang tepat untuk menyatakan penolakannya.
***
Mobilku berhenti tepat di halaman rumah mas Den sedangkan mobil mas Den masuk kedalam garasi rumahnya.
Den turun dari mobilnya dan menuju mobilku, dia membuka pintu belakang mobil untuk membantu anak-anaknya turun ternyata si kembar tertidur, Den langsung menggendong Raine sedangkan aku langsung menggendong Radhi.
Ibu memperhatikan aku dan mas Den yang sama-sama menggendong si kembar.
“Mereka tampak serasi saat bersama bahkan beberapa orang mengira bahwa mereka suami istri, si kembar juga meminta Diandra menjadi ibu mereka, sepertinya saya harus membicarakan ini dengan Den.” Gumam ibu dalam hati.
Aku dan mas Den masuk ke kamar si kembar untuk menidurkan mereka. Setelah mereka tertidur pulas aku pamit pulang.
“Bu, pak, saya pulang dulu.” Aku pamit pada ibu dan bapak.
“Iya, hati-hati ya Di, terima kasih untuk hari ini.” Ucap ibu.
“Sama-sama bu.”
Aku melambaikan tangan pada mereka.
***
“Hai Di.”
Ternyata Anet sudah menungguku di lobby apartemen.
Aku langsung menghampirinya, ada Sandi dan Angga yang juga duduk menunggu. Aku menyapa mereka semua dan mengajak mereka masuk.
Pintu terbuka, aku mempersilahkan mereka masuk.
“Silahkan duduk.”
Mereka bertiga duduk sedangkan aku ke dapur, menyiapkan minuman untuk mereka.
“Di, lo dari mana? Tumben banget lo keluar rumah.” Ucap Anet.
“Tadi gw ada urusan sebentar. Ada apa nih, tumben kalian kesini rame-rame padahal mama sudah pulang.”
Mereka kompak tertawa.
“Iya juga sih, habis lebih enak pas masih ada mama, gw bisa makan makanan enak. Kalau lo paling bagus cuma kasih kita minum doank.” Protes Anet.
Angga dan Sandi tertawa mendengar ucapan Anet dan melihat wajah sewotku.
Kami terus berbincang, aku perhatikan sikap Angga masih sama, dia tidak berubah setelah menyatakan perasaanya.
Setelah cukup lama mereka pamit untuk pulang, tapi sebelum mereka pulang Anet mengajak minggu depan untuk makan malam dan kami menyetujui saran Anet.
***