BAB 20 / Peringatan Kedua Dari Fitri Untuk Diandra

2338 Kata
Aku berjalan mendekat, Fitri sudah duduk sambil menatap layar hpnya sehingga dia tidak menyadari kehadiranku. “Hai Fitri.” Aku menyapanya lebih dulu, mendengar sapaanku dia mengalihkan pandangannya. “Hai mba Diandra, silahkan duduk.” Fitri mempersilahkan aku duduk, di atas meja sudah tersaji dua gelas minuman bisa aku tebak minuman di depanku pasti Fitri pesan untukku. “Mba, aku sudah pesan minuman untuk mba Diandra.” Ucap Anin. “Iya, terima kasih. O iya, apa yang ingin kamu bahas dengan saya?” “Bagaimana kondisi mba Diandra? Sudah lebih baik?” Tanya Fitri. “Saya sudah membaik Fitri, jadi apa yang ingin kamu bicarakan?” “Oke mba, saya langsung ke inti pembicaraan yang ingin saya katakan ya mba.” Ucap Fitri. “Iya, silahkan.” Aku mempersilahkan dia bicara. “Maaf kalau saya tidak sopan mba, tapi sekali lagi saya minta mba menjauh dari keluarga mas Den. Seperti yang sudah saya katakan, keluarga kami akan menjodohkan saya dan mas Den jadi tolong jangan ganggu kami, saya tidak mau melihat mas Den dan si kembar terlalu dekat dengan mba Diandra.” Ucap Fitri. Aku terdiam, ucapan Fitri kembali menyadarkan aku. Posisiku di keluarga mas Den memang tidak lebih dari teman Anin mungkin Fitri sebagai calon istri mas Den merasa kurang nyaman melihat kedekatan aku dengan keluarga mas Den terutama mas Den dan si kembar. Di satu sisi aku sangat memahami perasaan Fitri tapi di sisi lain hati kecilku merasa sedih jika memang harus menjaga jarak dengan mereka. “Mba.. Mbaa.. Mba Diandra.” Fitri memanggil namaku. “Iya??” “Saya harap mba paham dengan apa yang saya katakan.” Lanjut Fitri. Aku hanya terdiam, seolah tanpa perlawanan menerima semua ucapan Fitri. “Saya ini sepupu mba Anin, jadi wajar saja kalau keluarga kami mengharapkan agar hubungan keluarga kami dan keluarga mas Den terus terjalan dengan cara perjodohan ini, lagi pula saya lihat respon dari mas Den dan keluarganya cukup baik jadi saya minta mba untuk menjaga jarak dengan mereka. Kalau masalah si kembar saya yakin bisa menjaga mereka dengan baik selayaknya mba Anin menjaga mereka.” Jelas Fitri. Aku hanya bisa tertunduk sambil kedua tanganku memegang tepi meja untuk mencoba menghilangkan rasa cemas yang sedang melanda. “Saya tidak minta mba menjawab permintaan saya, cukup lakukan saja mba.” Ucap Fitri seolah mengancam aku agar mengikuti keinginannya. *** Pintu kamar aku tutup kembali, tubuhku langsung aku baringkan di atas kasur. Pikiranku menerawang ke ucapan Fitri, apakah aku mampu menjauh dari si kembar. Beberpa bulan terakhir aku banyak menghabiskan waktu dengan mereka tapi sekarang aku harus menarik diri dari mereka. Saat aku masih sibuk dengan lamunan ada suara yang berasal dari dalam tasku, ternyata dering hpku. Ibu yang menelponku tapi setelah mendengar permintaan Fitri membuat aku ragu menerima telepon darinya. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan akhirnya setelah beberapa saat aku mengikuti hati kecilku, aku menerima telepon dari ibu. “Halo Bu?” “Iya, aku sudah membaik Bu. Ibu tidak perlu khawatir aku baik-baik saja.” “Terima kasih Bu, tapi aku rasa tidak perlu lagi pula besok mungkin aku sudah berangkat kerja.” Ibu menanyakan kondisiku, karena merasa cemas Ibu menawari aku untuk tinggal di rumah mas Den sementara waktu sampai kondisiku benar-benar pulih tapi aku langsung menolak tawaran Ibu dengan halus. Ucapan Fitri menyadarkanku bahwa mungkin sudah waktunya aku menjaga jarak dari mereka, aku tidak boleh berharap lebih dan ada baiknya aku mulai menjauh dari sekarang agar saat mas Den dan Fitri menikah aku sudah terbiasa dengan situasi itu. “Sekali lagi terima kasih Bu, aku baik-baik saja.” Awalnya Ibu masih terus merayu agar aku bersedia tinggal di rumah mas Den tapi pendirianku sudah bulat aku menolak dengan halus tawaran Ibu dan akhirnya Ibu menyerah. *** Mas Den sudah berada di ruang kerjanya, tiga puluh menit lagi jam praktiknya dimulai, saat mas Den tiba di ruang tunggu sudah ada pasien yang datang seperti biasa dia selalu menyapa mereka dengan ramah. Saat masih menunggu jam praktik dimulai mas Den teringat padaku, dari semalam aku memang tidak membalas pesan darinya dan tidak menghubunginya lagi padahal beberapa kali mas Den menelponku. Mas Den mencoba menelponku kembali dan sebenarnya aku menyadari tapi aku memilih untuk mengabaikannya Beberapa kali dia menghubungi aku tapi tetap aku abaikan sampai akhirnya dia mengirim pesan padaku, mas Den menanyakan kabarku dia berpesan untuk tetap beristirahat sampai pulih sepenuhnya. “Saya baik mas, terima kasih.” Aku hanya menjawab singkat untuk pertanyaan mas Den. Setelah membaca pesan yang aku kirim mas Den merasa heran kenapa aku tidak menerima panggilan telepon darinya dan membalas singkat pesannya. *** Angga datang menjemputku, kami langsung menuju restoran yang Anet pesan, saat tiba ternyata Anet dan Sandi sudah datang lebih dulu mereka melambaikan tangan agar kami menghampiri mereka. Sandi langsung menanyakan kondisi jalanan pada Angga, memang jalanan sangat padat mungkin karena weekend. Makanan datang tak lama setelah aku dan Angga duduk, Anet memang sengaja memesankan terlebih dahulu untuk kami. “Di, lo sakit? Muka lo pucat.” Tanya Anet cemas. Angga langsung menoleh ke arahku untuk memastikan ucapan Anet. “Ngga, gw baik.” Jawabku. Kondisi tubuhku memang sudah pulih tapi beban pikiran yang sedang aku tanggung membuatku sedikit terbebani, hampir seminggu aku menahan diri dan menjauh dari keluarga mas Den, beberapa kali mereka menghubungiku bahkan Atin ikut menelponku, aku yakin Atin menghubungiku atas permintaan si kembar. Aku terkejut ketika ada tangan memegang keningku ternyata Angga yang melakukannya untuk memastikan kondisiku, Anet dan Sandi yang melihatnya tersenyum penuh arti padaku. “Kamu sakit?” Tanya Angga cemas. “Tidak.” Jawabku. Melihat kondisiku akhirnya Angga pamit pada Anet dan Sandi untuk bisa pulang lebih cepat, mereka memakluminya. Angga langsung merangkulku pergi menjauh dari Anet dan Sandi. “Sayang, mereka cocok sekali ya.” Ucap Anet pada Sandi saat dia melihat Angga yang begitu perhatian padaku “Iya, semoga mereka bisa bersatu.” Jawab Sandi. *** Selama di perjalanan aku hanya terdiam dengan tatapan kosong, mataku memang memandang lurus jalanan yang ada di depan tapi sebenarnya aku hanya berusaha untuk tetap tampak baik-baik saja di depan Angga. Beberapa kali Angga melirik ke arahku tanpa memulai pembicaraan denganku. Dia terus mengendarai mobilnya, tanpa aku sadar jalanan yang dilalui Angga bukan jalanan ke arah apartemenku, mobil Angga berhenti di area parkir rumah sakit ternyata dia membawaku ke rumah sakit. “Angga, kenapa kita kemari?” Aku menanyakan maksudnya membawaku ke rumah sakit. “Kita ke dokter untuk memeriksa kondisi kamu. Ayo kita turun.” Saat akan turun Angga membukakan pintu mobil untukku, dia membantuku turun dan merangkul aku untuk memastikan agar aku dapat berjalan dengan baik. Kami langsung masuk ke IGD, dokter jaga langsung memeriksa kondisiku sedangkan Angga terus menemani aku di samping ranjang. Setelah dokter mengecek kondisi tubuhku Angga langsung menanyakan hasilnya pada dokter. “Bagaimana dok? Kondisinya baik-baik sajakan?” "Untuk malam ini lebih baik pasien mendapatkan perawatan dulu di sini. Saya berikan beberpa vitamin untuk memulihkan kondisinya.” Jelas dokter. “Tapi tidak ada sesuatu yang buruk kan dok.” “Tidak, tapi memang kondisi pasien sedang tidak fit jadi butuh waktu untuk beristirahat dan tolong jangan sampai stress karena beban pikiran adalah salah satu faktor yang sangat bisa membuat tubuh kita drop.” Dokter memberikan penjelasan pada Angga tentang kondisiku, aku hanya mendengarkan penjelasannya tanpa berkomentar. *** Den memarkirkan mobilnya di area parkir dokter, dia bergegas masuk kedalam karena datang terlambat. Jam operasi dimulai sepuluh menit lagi itu sebabnya dia langsung berlari begitu turun dari mobilnya. Ruang operasi sudah siap, begitu pula dengan perawat yang akan membantu Den saat melakukan operasi mereka sudah masuk kedalam ruang operasi hanya Den saja yang masih mempersiapkan diri. Setelah Den datang lampu ruang operasi menyala tanda operasi sedang berlangsung, kali ini mereka sedang mengoperasi korban kecelakaan, seperti biasa Den memimpin doa sebelum operasi dimulai. Satu jam tiga puluh menit berlalu, lampu operasi masih menyala, di luar ruangan keluarga pasien menunggu dengan cemas bahkan beberapa diantaranya terus menangis suasana sangat haru. Setelah beberpa saat lampu padam, Den keluar ruang operasi. Keluarga pasien yang menyadari dokter keluar langsung menghampiri Den dengan wajah cemas berharap Den memberikan kabar baik bahwa anggota keluarganya selamat. “Operasinya berjalan dengan lancar, kondisi pasien stabil.” Penjelasan dari Den langsung disambut ucapan syukur oleh semua orang yang ada di situ. Mereka semua mengucapkan terima kasih pada Den. Ucapan yang selalu Den dengar saat operasi berlangsung lancar. Den membalas ucapan terima kasih mereka kemudian pamit pergi. Saat berjalan melewati lorong rumah sakit perhatiannya tertuju pada perempuan yang tidak asing baginya, perempuan itu tertidur di atas brankar. Dua perawat mendorong brankar itu menuju ruang rawat inap, Den terus memperhatikan perempuan itu untuk memastikan apakah yang dia lihat memang benar orang yang dia kenal. Den berusaha mengejar tapi tiba-tiba seorang suster memanggil namanya sehingga Den kehilangan jejak. “Apa tadi benar-benar Diandra?” Tanya Den dalam hati. Kerena merasa penasaran akhirnya Den menanyakan pada bagain informasi tentang pasien dengan nama Diandra dan ternyata dugaan Den benar ada pasien bernama Diandra. Setelah mengetahui kamar rawat inap dia langsung bergegas pergi untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Den sudah berdiri tepat di depan kamar rawat inapku saat akan masuk seorang perawat keluar sehingga pintu terbuka. Dari celah pintu yang terbuka Den dapat melihat dengan balas bahwa perempuan yang berbaring di atas ranjang memang aku. Dia langsung berniat masuk tapi niatnya langsung dia urungkan saat melihat seorang laki-laki mendekat padaku dan mengelus lembut rambutku. Dari balik pintu Den hanya menyaksikan pemandangan di depannya kemudian memilih pergi. Sedangkan di dalam kamar aku mencoba memejamkan mataku. Mungkin Angga mengira aku sudah tertidur, aku merasakan belaian lembut tangan Angga, baru kali ini aku kembali merasakan sentuhan perhatian dari laki-laki perhatian yang sangat aku butuhkan di saat kondisi psikologisku sedang tidak baik. Angga menarik selimutku memastikan seluruh tubuhku tertutup, hal itu membuatku merasa hangat bukan hanya tubuhku tapi sejujurnya hatiku juga merasakan hal yang sama. Dia langsung duduk kembali di kursi yang berada di samping ranjang, Angga terus memandangiku yang dia pikir sudah tertidur pulas padahal aku hanya memejamkan mata dan belum tertidur. Sementara itu di ruang kerjanya Den duduk sambil memikirkan apa yang baru saja dia lihat, aku yang ditemani seorang laki-laki membuat Den mengira laki-laki itu adalah sosok spesial dalam hidupku, Den tahu bahwa laki-laki itu pasti bukan kakak atau adikku karena aku anak tunggal. “Mungkin itu pacar Diandra, itu sebabnya akhir-akhir ini Diandra menjauhi aku dan si kembar. Mungkin pacar dia merasa kurang nyaman saat Diandra dekat dengan keluargaku.” Pikir Den mencoba menerka-nerka apa yang sedang terjadi padaku. Den adalah sosok pintar, mungkin dia memang terlihat cuek tapi dia sangat memperhatikan semua yang terjadi di sekitarnya seperti yang sekarang terjadi padaku, Den sadar bahwa aku memang sengaja menghindarinya tapi yang masih membuat Den bingung adalah alasanku melakukan hal itu. Cukup lama Den berdiam diri di ruangannya sampai karena sudah terlalu larut malam dia putuskan untuk pulang, kakinya melangkah ke arah berlawanan dengan jalan keluar rumah sakit, tanpa dia sadari dia justru berjalan ke arah kamar inapku, alam bawah sadarnya ternyata masih penasaran dengan apa yang tadi dia lihat. Den melihat kondisi kamar dari kaca yang ada di pintu, terlihat aku yang sudah tertidur sedangkan laki-laki yang dia lihat tadi tertidur di kursi dengan posisi kepala miring ke kanan. Den terus memperhatikan kondisiku, dia merasa penasaran dengan sakit apa yang sedang aku cerita sebenarnya dokter yang menanganiku adalah teman Den terlintas dalam kepalanya untuk menanyakan kondisiku padanya tapi karena sudah larut malam Den menundanya dan baru akan menanyakan hal tersebut besok. *** Fitri duduk sambil terus memperhatikan si kembar yang sedang bermain sepeda di halaman depan rumah, dia memang masih berusaha mendekatkan dirinya pada keluarga Den. Kepulangannya ke Solo yang diundur membuat dia memiliki waktu lebih banyak untuk mengenal lebih dekat semua keluarga Den termasuk Radhi dan Raine. Dua anak kecil yang dia harapkan akan menjadi anaknya setelah Den menikah dengannya. Fitri melambaikan tangan pada Radhi dan Raine tapi si kembar masih tampak acuh padanya padahal sudah cukup lama Fitri menginap di rumah Den, ternyata dia masih belum berhasil mendapatkan hati si kembar berbeda dengan aku yang langsung bisa akrab dengan mereka saat pertemuan keduaku dengan Anin. Den menghampiri mereka, Fitri melihat Den mendekat langsung tersenyum pada laki-laki yang sudah mencuri perhatiannya. Fitri memang sudah mencintai Den dari pertama kali mereka bertemu tapi saat itu cintanya terhalang karena status Den sebagai suami kakak sepupunya sekarang setelah kepergian Anin, mendengar perjodohan yang ibu Anin rencanakan dia merasa sangat senang dan berusaha sangat keras agar perjodohannya terjadi. “Mas hari ini ke rumah sakit?” Tanya Fitri. Seperti biasa Fitri selalu memulai pembicaraan lebih dulu “Iya, nanti siang saya ke rumah sakit. Kenapa?” Den balik bertanya pada Fitri “Tadinya saya mau mengajak mas dan si kembar pergi keluar, saya ingin mentraktir makan malam sebagai ucapan terima kasih karena telah memperbolehkan aku tinggal di sini.” “Kami tidak perlu repot-repot Fitri lagi pula saya mengizinkan kamu karena kamu sepupu Anin jadi wajar kalau saya menolong kamu.” Jawab Den. “Tidak mas, tolong sekali ini saja terima ajakan saya.” Fitri memohon agar Den mau menerima undangannya, ini bukan pertama kalinya Fitri mengajak Den keluar tapi selalu Den tolak dengan berbagai macam alasan yang sengaja Den cari-cari. Radhi mendekati Den yang masih berbincang dengan Fitri. Dia menceritakan pada ayahnya tentang permainan baru yang ada di area bermain di sebuah mall. Radhi mengajak ayahnya pergi kesana katanya di sekolah hanya dirinya yang belum mencoba permainan itu. Mendengar ucapan Radhi membuat Fitri berpikir bahwa ada kesempatan untuknya dapat pergi dengan Den dan si kembar sehingga dia memberikan saran pada Den untuk pergi mengantar si kembar pergi dan bisa sekaligus makan malam dengannya. “Mas, kasihan anak-anak lebih baik mas antar mereka sekalian aku mau ikut untuk traktir mas.” Ucap Fitri. “Ayah.. Ayo kita pergi ya Ayah. “ Raine merengek meminta agar keinginannya dituruti, kalau sudah begini Den pasti akan menuruti putri kecilnya. “Iya, nanti kita pergi ya." Den berjanji pada Raine. Mendengar jawaban Den pada anaknya membuat Fitri senang, itu artinya dia bisa berusaha dekat dengan Den dan si kembar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN