Fitri turun dari taxi yang mengantarnya pulang ke rumah Den, matanya langsung dia arahkan ke garasi rumah mencari tahu apakah mobil Den sudah terparkir di sana. Wajahnya langsung sumringah saat melihat mobil Den, tanpa sadar dia langsung berlari kecil karena bahagia mengetahui Den sudah pulang ke rumahnya.
Pak Agus membukakan pagar rumah, Fitri langsung masuk ke dalam tanpa menjawab sapaan pak Agus entah karena dia tidak mendengar atau memang sengaja mengabaikannya tapi hal tersebut membuat pak Agus menggelengkan kepalanya.
“Hmm, beda sekali dengan mba Diandra.” Gumam pak Agus.
Keluarga mbok Tina sudah mendengar kabar adanya rencana perjodohan Fitri dan Den termasuk pak Agus yang sudah mengetahui kabar itu dari mbok Tina istrinya, itu kenapa tanpa sadar pak Agus membandingkan Fitri dengan diriku. Bagi keluarga mbok Tina aku lebih pantas menjadi nyonya rumah tempat mereka bekerja.
Fitri langsung masuk ke dalam rumah, matanya langsung berkeliling ke setiap sudut rumah untuk mencari sosok yang dari kemarin dia tunggu kedatangannya. Sosok Den yang sudah sangat menarik perhatiannya dari awal mereka bertemu.
Kondisi rumah sepi, hanya ada bapak Den yang duduk menonton TV, menyadari Fitri berada tak jauh darinya bapak Den langsung menyapa Fitri.
“Fit, baru pulang?” Tanya bapak Den.
“Iya Pak, pekerjaan saya baru selesai malam jadi saya pulang terlambat.” Fitri berusaha memberikan penjelasan pada Bapak Den karena takut keluarga Den berpikir buruk tentangnya.
“Oh, ya sudah sana istirahat. Jangan lupa makan dulu, kamu belum makankan? Ibu sudah menyiapkan makan malam untuk kamu di atas meja makan.” Ucap Bapak.
“Iya Pak, terima kasih.” Fitri hanya mengiyakan ucapan Bapak Den tapi sebenarnya dia tidak akan memakan makanan yang sudah ibu Den hidangkan. Fitri termasuk wanita yang membatasi jam makan, itulah kenapa tubuhnya menjadi sangat ideal berbeda dengan aku yang akan makan kapanpun jika perut lapar.
Fitri masih terus mencari sosok Den, tapi tetap dia tidak temukan.
“Pak, kok rumah sepi yang lain kemana?”
Dia berusaha mencari informasi pada Bapak.
“Sudah tidur. Ibu, Den, dan anak-anak mereka semua sudah tidur.” Jawab Bapak.
Fitri tampak kecewa ketika mendengar jawaban Bapak, itu artinya seharian dia tidak bisa bertemu dengan Den padahal mereka satu rumah saat ini.
“Lalu apa bedanya dengan aku di Solo kalau begini, untuk ketemu mas Den saja susah. Semua ini gara-gara Diandra.” Fitri menggerutu dalam hati.
Bapak yang fokus melihat TV tidak menyadari kalau Fitri masih berdiri di situ. Dia bergegas masuk ke kamar dengan wajah kesal, tubuhnya langsung dia banting di atas kasur sampai tanpa sadar dia tertidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
***
Aku terbangun lebih awal mungkin karena efek obat yang diberikan membuat aku tidur nyenyak semalam, kondisiku sudah membaik. Setelah sarapan aku langsung mengambil laptop untuk memeriksa e-mail yang masuk, tapi saat melihat hpku tergeletak di atas meja aku teringat bahwa semalam belum membalas pesan yang masuk. Satu per satu aku cek kembali siapa saja menelpon dan mengirimiku pesan.
Yang pertama aku hubungi pastinya Mama, aku tidak mau membuat Mama khawatir karena semalam Mama tidak mendapat jawaban saat dia menelponku.
Aku langsung menghubungi Mama. Nada tunggu terdengar, aku menunggu sampai mendapat jawabannya tapi ternyata suara laki-laki yang mengangkat teleponku. Suara khas Papa, aku dan Papa memang sangat jarang berkomunikasi melalui telepon dari dulu aku memang selalu segan kepada Papa. Sosoknya yang pendiam namun tegas terkadang membuatku kesulitan untuk memulai pembicaraan belum lagi sifatku yang menurut sebagian orang mirip dengan sifatnya sedangkan sifat Mama yang ceria sangat bertolak belakang dengan Papa mungkin itu juga yang menyebabkan mereka masih bersama sampai saat ini.
Dulu aku ingat dengan jelas saat mereka berselisih paham, Mama lebih sering bicara sedangkan Papa selalu menjawab dengan jawaban singkat kadang itu membuat Mama semakin kesal pada Papa.
Saat itu mungkin usiaku masih belasan tahun sebenarnya Mama dan Papa selalu menghindari pertengkaran saat ada aku bersama mereka tapi sepertinya mereka tidak menyadari kalau aku sudah pulang sekolah saat itu. Mama berdiri dengan raut wajah kesal sedangkan Papa masih bisa duduk santai, entah apa yang sedang mereka perdebatkan tapi aku dapat mendengar dengan jelas bahwa Mama tidak sependapat dengan Papa.
Mama terus berbicara tanpa jeda sedangkan Papa hanya mendengarkan Mama dan menjawab singkat semua ucapan Mama, saat itu karena usiaku yang masih muda aku justru merasa kasihan pada Mama karena seolah Papa mengabaikan semua ucapan mama tapi setelah usiaku semakin dewasa dan aku mengingat-ingat kembali kejadian itu sekarang aku menilai Papa melakukan tindakan tepat.
Mungkin saat itu adalah cara yang Papa ambil agar pertengkaran mereka tidak melebar dan segera berakhir, Papaku memang seperti itu sedikit bicara tapi banyak bertindak. Papa yang pendiam bukan berarti tidak pernah marah justru aku dan Mama akan sangat ketakutan saat Papa sedang marah. Saat marah papa hanya akan menegur kami tapi jika tegurannya tidak berhasil dia akan diam, saat Papa diam itu adalah saat yang paling menakutkan bagi aku dan Mama karena itu berarti Papa sedang sangat marah. Sampai usiaku sekarang melihat atau mendengar Papa marah adalah kejadian yang sangat langka.
Pernah suatu hari aku pulang terlambat dan Papa mengetahuinya, kakiku langsung gemetar saat Papa memanggil namaku dan menegurku walaupun dengan suara rendah dan raut wajah datar tapi itu membuatku ketakutan dan akhirnya aku tidak pernah mengulangi hal serupa lagi. Papaku memang sangat disegani oleh anggota keluarganya maupun keluarga mama bahkan di lingkungan rumah, papa menjadi salah satu orang yang selalu didengar ucapannya.
“Halo pa.”
Papa menjawab sapaanku, aku menanyakan kabarnya dan akhirnya obrolan kami berlanjut ke hal lain termasuk tentang koleksi tanaman Papa yang baru.
Papa yang sudah cukup lama tidak berbincang denganku menanyakan kabarku, dia menasehati agar selalu menjaga kesehatan dan jangan terlalu sibuk dengan perkerjaan. Semenjak kejadian aku gagal menikah tak pernah sekalipun Papa menyinggung tentang pernikahan di hadapanku, mungkin Papa ingin menjaga perasaanku dan tidak mau melihat aku sedih karena terbebani.
Setelah cukup lama berbincang aku menanyakan keberadaan Mama pada Papa, ternyata Mama sedang pergi belanja sedangkan hpnya tertinggal itu sebabnya saat aku menelpon Papa yang menerima, karena Mama tak kunjung datang akhirnya aku berpesan pada Papa untuk menyampaikan pada Mama kalau aku menelpon dan ingin menanyakan tujuan Mama menelpon semalam.
***
Den keluar dari kamarnya, di ruang makan semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing termasuk Fitri yang langsung tersenyum bahagia saat melihat Den datang. Si kembar langsung mendekati Ayahnya.
“Ayah, hari ini Ayah mengantar kami ke sekolahkan?” Tanya Raine.
Den mengelus rambut Raine dan menjawab pertanyaan Raine dengan anggukan kepala.
Raine dan Radhi bersorak senang, kemudian mereka duduk kembali di kursi mereka masing-masing.
Melihat Fitri yang sudah siap dengan pakaian rapi Dan menanyakan jam berapa urusan pekerjaannya dimulai, mendengar pertanyaan Den membuat Fitri berpikir bahwa Den akan mengantarkan dia ke tempat tujuannya.
“Jam 08.30 wib Mas.” Jawab Fitri lantang.
“Oh. Ya sudah hati-hati ya, semoga pekerjaan kamu lancar.” Jawab Den singkat.
Fitri langsung kecewa saat mendengar jawaban Den, ternyata Den tidak berniat mengantarkan dia. Fitri menjawab ucapan Den dengan lirih.
Bapak yang belum sempat mendengar kabarku langsung menanyakannya pada Den.
“Den, bagaimana kondisi Diandra?” Tanya Bapak pada putra sulungnya.
“Kondisi terakhir yang saya tahu dia sudah cukup membaik pak, tapi semalam saya hubungi dia tidak menjawab telepon dan pesan yang saya kirim. Mungkin dia sudah tidur.” Lanjut Den.
“Pak, kemarin ibu bicara pada Den menurut Ibu apa tidak sebaiknya Diandra tinggal di sini selama kondisinya belum pulih? Ibu kasian padanya, dia tinggal sendiri.”
Ibu ikut bergabung dengan obrolan Den dan Bapak sementara Fitri menyimak obrolan keluarga Den, dalam hatinya tentu sangat tidak setuju dengan ucapan Ibu tapi kerana dia orang baru di keluarga Den maka dia tidak punya hak untuk ikut memberikan masukan pada mereka.
Ternyata pendapat Bapak sama seperti Den, jika aku tidak keberatan dan mau tinggal di rumah Den tidak masalah buat mereka. Bapak meminta istrinya untuk menanyakan langsung padaku apakah aku bersedia.
“Kalau begitu nanti ibu coba hubungi Diandra semoga saja dia bersedia.” Ucap Ibu.
Fitri sedikit merasa tersinggung, dia yang ada bersama keluarga Den tapi mereka justru terus membahas tentang aku. Dia berpikir bahwa dirinya tidak dianggap. Den dan Bapak yang telah selesai menyantap sarapan mereka meninggalkan meja makan, akhirnya hanya ibu dan Fitri yang masih berada di sana.
“Ibu boleh saya minta no telepon mba Diandra?” Tanya Fitri.
Ibu yang merasa heran karena tiba-tiba Fitri meminta teleponku menanyakan untuk apa dia memintanya, dia menjelaskan ingin menanyakan kabarku langsung karena merasa cemas, karena alasan Fitri masuk akal menurut ibu akhirnya ibu memberikan no teleponku pada Fitri.
Setelah sarapan Fitri langsung pamit pergi sementara si kembar sudah siap menunggu ayahnya untuk mengantar mereka ke sekolah, Fitri masih berharap Den menawarkan diri untuk mengantarkannya tapi harapannya kandas saat Den lebih memilih meninggalkan dia yang masih menunggu kedatangan taxi yang dia pesan.
“Fitri, kami pergi duluan ya.” Pamit Den pada Fitri yang duduk di teras.
Dengan berat hati Fitri menjawab.
“Iya mas, silahkan. Hati-hati. Bye Radhi dan Raine.”
Sebenarnya Fitri sudah berusaha cukup keras untuk mendapatkan perhatian si kembar, sudah berbagai macam cara dia coba dari mengajaknya bermain, memberikan mereka makan yang biasanya anak-anak suka tapi usahanya belum membuahkan hasil, si kembar masih tampak acuh padanya. Bahkan saat Fitri dengan antusias mengucapkan salam perpisahan saat si kembar akan berangkat sekolah mereka hanya melambaikan tangan tanpa melihat wajah Fitri dan menjawab ucapan Fitri, lagi-lagi dia mendapat penolakan.
Mobil Den melaju menjauh dari rumahnya saat taxi yang Fitri pesan datang, Fitri langsung masuk ke dalam taxi tersebut. Suasana rumah Den mendadak sepi setelah ditinggal pergi empat orang bersamaan. Sekarang di rumah Den hanya terlihat kesibukan dari orang-orang yang tersisa. Bapak tampak sibuk bersama pak Agus di teras rumah, Ibu dan mbok Tina masih sibuk merapikan dapur yang masih cukup berantakan karena bekas memasak menu sarapan tadi sedangkan Atin sedang di kamar si kembar, dia sedang merapihkan kamar tidur yang ditinggal pergi begitu saja oleh pemiliknya.
***
Setelah menelpon Mama walapun akhirnya aku hanya dapat berbicara dengan Papa, aku kembali mengecek e-mail yang masuk, ternyata ada e-mail masuk dari Novi, data yang harus aku cek. Aku segera mengerjakannya agar segera dapat aku kirim kembali ke Novi.
Beberpa saat mendadak pandanganku buyar karena terlalu lama menatap ke layar laptop aku memutuskan untuk beristirahat sebentar aku beranjak ke balkon apartemen untuk mencari pemandangan lain. Aku ambil hp dan mengirim pesan pada Anet.
Sapaanku langsung dijawab omelan oleh Anet, kebiasaanya masih sama menjawab satu pertanyaan dariku dengan banyak pertanyaan darinya, dia merasa sangat kesal padaku karena semalam aku tidak menjawab teleponnya padahal menurutnya entah kenapa dia tiba-tiba teringat padaku dan merasa cemas, ucapan yang dikirim Anet membuatku cukup terkejut karena mungkinkah dia merasakan firasat saat aku mengalami kecelakaan semalam.
Aku memutuskan untuk tidak memberitahu pada Anet bahwa aku baru saja mengalami kecelakaan karena takut dia cemas dan kalau sudah begitu dia pasti akan melakukan hal yang berlebihan karena rasa cemasnya padaku.
Selain karena ingin memastikan kondisiku ternyata Anet menghubungiku untuk mengingatkan aku tentang rencana makan malam yang sudah kami buat, dia berpesan agar aku tidak mencari alasan untuk menghindar dan menolak untuk pergi ke acara tersebut, Anet yang sudah sangat mengenal sosokku sudah sangat tahu kalau aku sering menghindar dan mencari alasan untuk menolak ajakan berkumpul bersama teman-teman atau keluarga.
Aku hanya tertawa kecil saat membaca ancaman darinya, dia mengancam akan melaporkan aku pada Mama jika aku menolak pergi ke acara makan malam itu.
“Dia pikir aku anak kecil, sampai mengancam melaporkan pada mama.” Aku bergumam dalam hati.
Sejujurnya aku merasa takut saat Anet mengajakku pergi, takut ada hal yang dia rencanakan padaku, seperti saat terakhir kali dengan alasan permintaan Sandi ternyata dia merencanakan agar aku bertemu dangan Angga. Kali ini entah apa lagi yang dia rencanakan padaku.
Anet langsung mematikan sambungan telepon kami saat dia sudah mendapat jawaban pasti dariku bahwa aku ikut makan malam dengan mereka.
***
Den tiba di sekolah si kembar, Atin langsung membantu si kembar turun dari mobil. Den ikut mengantar mereka sampai ke dalam sekolah sebelum dia pulang kembali ke rumah karena hari ini dia baru akan ke rumah sakit siang harinya.
“Kalian jangan nakal ya, dengar kata Ibu guru dan mba Atin. Ayah pulang dulu.” Ucap Den saat anak-anaknya harus masuk kedalam kelas karena jam pelajaran akan dimulai.
“Iya Ayah.” Jawab Radhi dan Raine kompak lalu melambaikan tangan pada Ayah mereka dan merekapun masuk kedalam kelas.
“Atin, jaga anak-anak dengan baik. Nanti jam pulang sekolah saya jemput.” Den berpesan pada Atin dan pergi menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari kelas si kembar.
***
Selama perjalanan Fitri masih terus memikirkan rencana perjodohannya dengan Den, dia berpikir jika sikap Den dan si kembar terus sulit dekat dengannya bisa jadi rencana perjodohannya gagal. Fitri berpikir keras mencari cara untuk dapat dekat dengan mereka, dia teringat pada nomer teleponku yang sudah dia minta dari ibu.
“Lebih baik aku hubungi mba Diandra.” Ucap Fitri dalam hati.
Dia mencari nomer teleponku dan langsung menghubungiku setelah menemukan nomerku.
“ Halo.” Sapa Fitri
Aku menjawab sapaannya, dia langsung memperkenalkan dirinya dan mengatakan bahwa mendapat teleponku dari ibu. Fitri menanyakan kondisiku, dan aku jawab kondisiku sudah membaik.
Setelah berbasa-basi akhirnya dia mengungkapkan tujuannya menghubungiku, ternyata dia ingin mengajakku bertemu, aku merasa heran untuk apa dia mengajakku bertemu dengannya.
“Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mba Diandra, jadi jam berapa mba ada waktu?” Fitri langsung menodongku dengan pertanyaan yang seolah aku harus menyetujui ajakannya.
Akhirnya kami sepakat untuk bertemu jam 12.00 wib di café dekat apartemenku karena kondisiku belum memungkinkan aku untuk pergi jauh.
***
Den tiba di rumahnya.
“Den, kamu sudah coba menghubungi Diandra hari ini?” Tanya Ibu karena merasa khawatir dengan kondisiku.
“Belum Bu, nanti Den coba hubungi tapi bukannya Ibu juga mau menghubungi dia?”
“Iya, nanti coba Ibu hubungin dia.”
Ibu langsung masuk kedalam kamarnya setelah berbincang dengan Den sedangkan Den pergi ke ruang kerjanya. Dia membuka laci meja kerjanya untuk mencari berkas yang harus dia bawa ke rumah sakit nanti. Saat dia berusaha mengeluarkan berkas dari laci ada amplop putih terjatuh, Den memungut amplop tersebut.
“Surat Anin.” Den berkata dalam hati.
Den menarik napas panjang, merubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Dia membuka amplop itu kemudian mengeluarkan isinya, surat sebagai salam perpisahan dari Anin.
Dia membaca perlahan surat itu sambil mengenang kebersamaannya dengan Anin, Den tidak menyangka ternyata harapan mereka pupus. Dulu Den dan Anin berjanji akan sehidup semati, harapan itu yang selalu mereka panjatkan dalam doa mereka tapi takdir Tuhan berkata lain, Anin pergi mendahuluinya dan membiarkan Den berjuang membesarkan si kembar sendiri.
Air mata Den menetes sampai saat ini Anin masih ada di hati Den jika sudah begini Den selalu menyalahkan dirinya sendiri, andai saja kecelakaan itu tidak terjadi keluarga mereka pasti sedang sangat bahagia menyambut anak ketiga Den dan Anin. Penyesalan yang akan selalu Den ingat sampai akhir hayatnya.
***