“Ya, sekarang aku ingat. Dia adalah Fitri yang pernah Anin ceritakan padaku saat itu. Pantas saja sangat terlihat Fitri mencari-cari perhatian mas Den, ternyata kecurigaan Anin sepertinya benar, Fitri mencintai mas Den.” Aku berbicara dalam hati sambil menatap Fitri tanpa sadar tapi sepertinya Fitri menyadari bahwa aku sedang memikirkannya tiba-tiba dia menatapku.
Hari semakin larut, si kembar sudah tertidur di kamar mereka, sekarang hanya aku dan Fitri yang masih duduk di tempat semula sedangkan yang lain entah pergi kemana.
“Mba Diandra ini temannya mba Anin kan?” Tiba-tiba Fitri bertanya padaku.
“Iya, saya teman Anin.” Aku menjawab dengan senyum ramah tapi entah kenapa aku merasa tatapan Fitri berbeda padaku.
“Oh.” Jawabnya sinis.
Aku hanya terdiam, tapi dia melanjutkan ucapannya.
Dia bercerita tentang kenangan dia dan Anin, aku hanya mendengarkan ceritanya. Sampai tiba-tiba dia mengucapkan perkataan yang menurutku sedikit kasar.
“Lalu kenapa mba Diandra masih sering kemari? Bukannya mba Anin sudah tidak ada?” Ucap Fitri dengan nada ketus, tatapannya tajam.
Aku terkejut mendengar ucapannya tapi aku tidak mau ambil pusing, bagiku selama mas Den tidak keberatan aku datang ke rumahnya maka cukup bagiku.
Saat aku akan menjawab pertanyaanya ternyata mas Den datang menghampiri kami, Fitri langsung mengalihkan topik pembicaraan, sepertinya dia tidak mau Den tahu kalau dia bertanya hal itu padaku.
Ternyata Den hanya datang untuk mengambil gelas minumnya, setelah itu dia kembali pergi dan meninggalkan aku dan Fitri berdua.
Fitri kembali bicara saat aku masih kaget dengan pertanyaan yang dia lontarkan.
“Sebenarnya keluarga mba Anin berniat menjodohkan aku dengan mas Den, memang masih dalam pembahasan tapi semoga lancar. Doakan kami ya mba.” Ucap Fitri.
Kata-kata Fitri bagai petir yang menyambar, aku sangat kaget mendengarnya. Ini pertama kalinya aku mendengar itu bahkan ibu mas Den sendiri tidak menceritakan hal itu padaku. Saat ini aku dan mas Den memang tidak terikat hubungan tapi aku adalah orang yang paling dekat dengan mas Den dan si kembar saat ini. Sejujurnya pikiranku gundah setelah mendengar kabar itu.
“Ya jadi aku harap tidak ada rintangan yang menghalangi rencana baik dari keluarga kami. Maaf ya mba kalau saya sedikit lancang, tapi saya pikir ini sudah saatnya mba menjaga jarak dengan mas Den dan si kembar.” Lanjut Fitri.
Hatiku langsung sakit setelah mendengar ucapan Fitri, baru saja aku diminta menjauhi si kembar. Mereka yang sudah aku anggap seperti anak-anakku sendiri sekarang harus aku jauhi.
Aku tidak merespon ucapan Fitri dan tak lama aku pamit pulang. Seperti biasa mas Den berniat mengantarku sampai ke mobil.
Setelah mendengarkan ucapan Fitri membuatku menjadi lebih pendiam, mas Den menyadarinya.
“Di, kamu sakit? Kenapa jadi diam saja?”
Aku menggelengkan kepala. Setelah berpamitan pada semuanya aku langsung bergegas ke mobil.
Mas Den manatapku, dia masih penasaran kenapa tiba-tiba sikapku berubah.
“Hati-hati Di, kabari jika sudah sampai di apartemen.” Ucap mas Den sambil menutup pintu mobilku.
Ibu dan bapak yang ikut mengantarku sampai ke pagar melambaikan tangan padaku sedangkan Fitri tersenyum puas karena merasa telah berhasil membuat pikiranku kacau.
***
Selama di perjalanan aku terus memikirkan ucapan Fitri padaku, konsentrasiku pecah sampai tak sadar ada mobil di depanku berhenti mendadak dan aku belum sempat menghentikan laju mobilku, akhirnya terjadi tabrakan beruntun.
Kesadaranku hilang, entah apa yang terjadi setelah kejadian itu tapi yang aku tahu sekarang aku sudah terbaring di atas ranjang rumah sakit dan ada mas Den di samping ranjangku saat aku membuka mata.
Mas Den langsung memegang tanganku.
“Di, kamu baik-baik saja?” Mas Den menanyakan kondisiku, dia tampak cemas.
Aku hanya terdiam, dia kembali bertanya padaku.
“Ada yang sakit? Bagian mana yang sakit?”
Aku menggelengkan kepala. Dia mengucapkan syukur setelah mendengar jawabanku bahwa aku baik-baik saja.
Dokter datang memeriksa kondisiku, ternyata dokter itu kenal dengan mas Den, samar-samar aku mendengar mereka berbincang bahkan terdengar kata yang tidak aku pahami, mungkin itu istilah kedokteran dan hanya orang medis yang mengerti artinya.
Mas Den yang bertindak sebagai waliku pergi mengurus administrasi karena menurut dokter malam ini aku harus dirawat di rumah sakit.
Aku masih terbaring lemas saat mas Den kembali, disusul perawat yang akan membantuku pindah ke kamar inap.
***
“Mas, lebih baik mas Den pulang, kasian anak-anak kalau mas Den disini.”
Aku meminta mas Den pulang kerumahnya karena merasa cemas dengan si kembar jika dia tidak pulang tapi mas Den menolak dan lebih memilih tetap menemani aku di rumah sakit.
“Sudah lebih baik kamu tidur, tidak perlu pikirkan hal lain. Lagi pula di rumah ada ibu, bapak, mbok Tina dan Atin yang menjaga si kembar. Mana mungkin saya bisa meninggalkan kamu sendiri di sini.” Ucap Mas Den.
Mendengar ucapannya aku sedikit lega setidaknya di rumah banyak orang yang menjaga si kembar saat mas Den menemaniku di rumah sakit.
Aku mencoba memejamkan mata tapi aku kembali teringat dengan kata-kata Fitri tadi, kenapa di saat aku diminta menjauhi mas Den justru sekarang Tuhan mendekatkan aku dengannya.
“Mas, kenapa kamu ada disini? Bagaimana kamu tahu kalau aku kecelakaan dan ada di sini?”
Mas Den terkejut saat mendengar pertanyaanku, aku yang tadinya terpejam tiba-tiba membuka mata dan langsung menanyakan hal itu padanya.
***
Flasback
Den menerima telepon dari nomerku dia langsung mengangkatnya.
“Halo Di?”
Awalnya Den mengira bahwa aku yang menghubunginya ternyata terdengar suara laki-laki yang berbicara dengannya, Den menanyakan siapa yang sedang berbicara dengannya dan menanyakan keberadaanku.
Lawan bicaranya menjelaskan bahwa aku mengalamai kecelakaan beruntun yang menyebabkan aku tak sadarkan diri. Aku akan dibawa ke rumah sakit terdekat.
Den terkejut mendengar kabar duka itu, dia langsung menceritakan pada ibu dan meminta izin pergi menemani aku di rumah sakit. Ibu dan bapak yang mendengar kabar langsung ikut panik, mereka meminta Den agar segera pergi menemuiku untuk memastikan kondisiku baik-baik saja.
Sementara itu Fitri yang mendengar Den akan menemuiku terlihat kesal, dia tidak suka jika Den dan aku dekat.
Saat tiba di rumah sakit Den langsung mencariku, setelah menemukan aku dia terus menemaniku sampai akhirnya aku tersadar.
***
Setelah mendengarkan penjelasan mas Den aku diminta untuk segera tidur oleh mas Den, aku kembali mencoba memejamkan mataku dan akhirnya berhasil aku terlelap setelah berusaha cukup keras.
Den duduk di kursi samping ranjangku, dia menatapku yang tertidur lelap, sepanjang malam dia terjaga untuk menjagaku.
Jam dinding menunjukan pukul 02.30 wib, aku terbangun karena ingin ke kamar mandi. Mungkin saat itu Den baru saja terlelap, aku melihatnya tertidur di kursi dengan posisi kepalanya miring ke samping kanan.
Aku turun perlahan dari ranjang karena tidak mau menimbulkan suara yang bisa membuat mas Den terbangun tapi usahaku gagal, aku oleng kepalaku pusing pandanganku buyar. Saat akan terjatuh aku merasa ada tangan yang menopangku, ternyata mas Den terbangun dan membantu menjaga keseimbangan badanku dengan memegangiku.
Karena merasa pusing aku memegang kepalaku, mas Den memintaku duduk, aku menuruti permintaannya.
“Kamu mau kemana?” tanya mas Den cemas.
Tanpa menjawab aku hanya menunjuk kamar mandi, mas Den mengerti maksudku. Dia mencari kursi roda tapi tidak dia temukan, akhirnya tanpa aba-aba dia langsung menggendongku.
Aku terkejut dengan tindakannya.
“Mas.. Mas.. Turunkan aku.” Aku mencoba melepaskan diri darinya tapi tidak berhasil kerana tubuhnya yang lebih besar membuat aku tidak cukup tenaga melawannya.
Mas Den langsung menurunkan aku tepat di depan kamar mandi, dia langsung membantu aku masuk ke kamar mandi dan setelah mematikan kondisiku aman dia keluar dan menunggu di balik pintu.
“Hati-hati.” Ucap mas Den saat akan pergi ke luar.
Berkali-kali dia memanggil namaku untuk memastikan kondisiku aman.
Aku teringat ceritanya Anin, saat dia mengatakan bahwa di balik sikap suaminya yang cuek suaminya adalah sosok yang perhatian, sekarang aku bisa mengerti ucapan Anin. Aku yang hanya sekedar kenalan saja diperlakukan seperti ini apalagi terhadap Anin orang yang sangat dia cintai. Merasa cemas karena tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar mandi dia kembali memanggil namaku.
“Di.. Di??”
Merasa masih belum mendapat jawaban dia mengetuk pintu sambil terus memanggil namaku.
“Di? Diandra?”
Kali ini aku menjawab panggilannya.
“Iya mas.”
Tak lama pintu terbuka, aku keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan. Mas Den membantuku berjalan.
“Ayo pelan-pelan.”
Aku naik lagi ke tempat tidur, mas Den terus memegang tanganku sampai aku berbaring.
***
Fitri masih terjaga saat jam sudah menunjukkan pukul 03.00 wib, dia menunggu mas Den pulang tapi dari tadi orang yang dia tunggu-tunggu kedatangannya tak kunjung datang.
“Aku rasa mba Diandra itu sengaja mencari perhatian mas Den setelah aku menceritakan rencana pertunangan kami.” Ucap Fitri dalam hati.
Dia langsung bangun dari tidurnya, melihat keluar kamar, posisi kamarnya yang berdekatan dengan garasi membuat dia dapat melihat saat Den datang tapi mobil Den belum terparkir di garasi itu artinya sampai sekarang mas Den belum pulang pikirnya.
Fitri memutuskan untuk keluar kamarnya, duduk di ruang tamu menunggu Den pulang, berkali-kali dia membuka hordeng untuk memastikan apakah Den sudah datang padahal tanpa dia melakukannya harusnya suara mobil dapat terdengar saat dia datang.
***
Dokter dan suster datang ke kamar untuk memeriksa kondisiku, setelah mengecek kondisiku baru dokter akan memutuskan apakah aku harus tetap di sini atau diperbolehkan pulang.
Mas Den berdiri di belakang dokter, dia melihat aku yang sedang diperiksa dokter. Ternyata menurut dokter kondisiku sudah membaik dokter memperbolehkan aku pulang sore harinya.
Mendengar penjelasan dokter aku merasa cukup lega itu artinya aku tidak harus lebih lama membuat mas Den repot karena ikut menjagaku di rumah sakit.
“Mas, lebih baik kamu ke kantin. Kan kamu belum sarapan.”
“Iya nanti saya sarapan, kamu tidak perlu memikirkan saya yang sedang sakit sekarang itu kamu.” Jawab mas Den.
Suster masuk kedalam kamar saat aku dan mas Den masih berbincang, ternyata mereka membawakan aku sarapan.
“Terima kasih suster Hela.” Ucap mas Den yang ternyata mengenal suster yang datang membawakan makanan untukku.
Maklum aku dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja. Bahkan tanpa kami sadari ternyata ada kabar yang beredar dikalangan suster. Mereka mempertanyakan hubungan antara aku dan mas Den. Pantas saja beberapa suster memandang dengan tatapan aneh saat mereka memeriksa kondisiku.
Aku berusaha bangkit dan berganti ke posisi duduk tapi hampir terjatuh, mas Den kembali menopangku, dia membantu aku duduk bahkan dia juga membantu aku melepaskan semua plastik penutup makanan.
“Makan.” Ucap mas Den sambil memberikan sendok ke tanganku.
“Mas, tapi janji setelah aku makan, kamu juga harus makan.”
“Iya.” Jawab mas Den singkat.
Aku langsung memakan menu makanan yang disajikan rumah sakit.
***
“Silahkan masuk.”
Aku mempersilahkan orang yang mengetuk pintu masuk kedalam, ternyata polisi datang untuk meminta aku memberikan keterangan atas kejadian kecelakaan tadi.
Mas Den masih di kantin saat polisi datang. Polisi langsung menanyaiku beberapa pertanyaan, aku menceritakan kronologi sampai terjadinya kecelakaan itu.
Setelah merasa cukup mendapat informasi akhirnya polisi pamit pergi dan mengucapkan terima kasih padaku karena telah bersedia dimintai keterangan. Saat polisi akan keluar kamar mereka berpapasan dengan mas Den yang akan masuk kedalam kamar.
“Kenapa mereka kesini?”
“Mereka menanyai aku beberapa pertanyaan dan mencari informasi tentang kronologi kecelakaan itu.” Aku memceritakan pada mas Den tujuan polisi datang menemuiku.
***
Sore harinya aku bersiap pulang, mas Den sedang mengurus administrasi sedangkan aku menunggu di kamar.
“Ayo Di.” Ajak mas Den setelah mengurus pembayaran.
“Mas, mana bukti pembayarannya nanti aku transfer ke mas Den ya.” Ucapku.
“Tidak perlu.” Jawab mas Den.
Dia menolak aku membayar biaya rumah sakit, aku yang sungkan menolak dan bersikeras tetap akan membayarnya tapi mas Den juga tetap tidak mau menerima uangku. Akhirnya aku yang mengalah dan mengucapkan terima kasih padanya.
***
Mas Den mengantarkan aku masuk kedalam apartemen.
“Di, lebih baik kamu tidak masuk kerja dulu. Kamu istirahat dulu beberapa hari.” Mas Den memberikan saran padaku.
“Iya mas, aku akan ambil cuti beberapa hari.”
“Oke, kalau kamu butuh sesuatu hubungi saya. Mobil kamu sedang diperbaiki bengkel langganan saya, jadi kalau kamu mau pergi-pergi kamu hubungi saya. Paham?”
“Iya mas, Terima kasih ya mas. Kamu hati-hati di jalan.”
Mas Den pergi dari apartemenku.
***
“Hai sayang.”
Den menyapa anaknya yang sedang bermain di teras rumah. Mendengar suara Den ibu langsung keluar rumah.
“Den, bagaimana kondisi Diandra?” Tanya Ibu panik.
Den memberi isyarat agar Ibu mengecilkan suaranya karena takut anak-anaknya mendengar. Ibu memahami maksud anaknya. Den dan Ibu langsung masuk ke dalam rumah.
Ibu duduk disusul Den yang ikut duduk di hadapan Ibunya.
“Mbok, tolong ambilkan minuman untuk mas Den.” Pinta Ibu pada Mbok Tina.
“Iya bu.”
“Jadi bagaimana kondisi Diandra? Dia baik-baik saja kan?”
“Iya Bu, kondisinya sudah membaik, tadi saya mengantarkan dia pulang ke apartemennya jadi ibu tidak perlu khawatir.” Ucap Den.
“Syukurlah, tapi kasian dia tinggal sendiri. Apa tidak sebaiknya dia tinggal di sini sampai kondisinya pulih?” Tanya Ibu.
“Den tidak yakin dia mau menerima tawaran kita, tapi Ibu bisa bicarakan padanya kalau Ibu mau.” Ucap Den.
“Oke, ya sudah sana kamu mandi.”
Den langsung masuk ke dalam kamarnya.
***
Aku menghubungi Novi untuk memberitahu bahwa beberapa hari aku tidak masuk kerja karena sakit dan meminta dia mengirim semua pekerjaan ke email.
Novi langsung menyanggupi permintaanku dan mendoakan agar aku segera pulih.
Setelah menghubungi Novi, aku langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Ada pesan masuk di hpku, ternyata Angga yang mengirim pesan menanyakan kabarku karena beberapa hari kami tidak ada kontak. Aku membalas pesan Angga dan memberitahukan bahwa kondisiku baik-baik saja, aku tidak mau membuat semakin banyak orang terbebani oleh kondisiku sehingga aku putuskan untuk merahasiakannya dari Angga.
Aku dan Angga beberapa kali berbalas pesan, tanpa sadar aku tertidur. Kondisiku sebenarnya sudah membaik tapi hanya perlu beristirahat untuk memulihkan tubuhku.
Jam dinding menunjukkan pukul 22.00 wib ternyata aku tertidur cukup lama, aku terbangun setelah mendengar suara dering telepon. Mama ternyata beberapa kali menghubungiku, mas Den dan Ibu mas Den juga menghubungiku tapi karena sudah cukup malam akhirnya aku putuskan untuk menghubungi mereka besok pagi. Selain panggilan tak terjawab banyak pesan masuk untukku, salah satunya dari mas Den. Dia memberitahuku bahwa dia mengirimkan makanan untukku dan karena yang mengirim makanan tidak dapat menghubungiku maka makanan dititipkan di resepsionis.
Aku tersenyum bahagia, disaat perut lapar ternyata mas Den sudah menyiapkan makanan untukku, Lagi-lagi aku sependapat dengan Anin tentang mas Den, karena kondisiku masih belum sepenuhnya pulih aku menghubungi resepsionis untuk meminta bantuan membawakan makanan yang dititipkan untukku.
Makanan dari mas Den langsung aku santap habis, perutku sudah terisi penuh.
***