BAB 22 / Perhatian Angga Pada Diandra

2161 Kata
Jam dinding menunjukan pukul 21.30 wib, ternyata tadi aku tertidur dan terbangun saat mendengar suara bell terus berbunyi. Aku langsung berlari kecil menuju pintu dan bergegas membukakan pintu. Ternyata Angga, Sandi, dan Anet berdiri di depan pintu. Wajah Anet tampak kesal dan langsung memukul tubuhku perlahan. Aku yang membukakan pintu tanpa merapikan diri langsung berlari masuk ke dalam kamar setelah melihat di kaca penampilanku tampak kacau. Anet tertawa puas melihatku yang berlari kencang karena menahan malu sedangkan Angga dan Sandi tampak berusaha keras menahan tawa. Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu, aku langsung keluar kamar setelah yakin penampilanku jauh lebih rapih dibanding sebelumnya. Aku memasang wajah polos dan tersenyum ketika keluar kamar, Anet langsung menggodaku kemudian memarahiku karena membuat mereka cemas, ternyata Anet dan Angga beberapa kali menghubungiku tapi aku tidak menjawab satupun telepon dari mereka, akhirnya mereka memutuskan untuk datang ke apartemenku untuk memastikan kondisiku baik-baik saja. Anet yang sudah kenal dengan security meminta izin diperbolehkan masuk kedalam karena merasa cemas padaku, hampir dua puluh menit mereka mencoba menekan bell tapi aku tak kunjung keluar tapi sesaat sebelum Angga berniat meminta membuka paksa pintu aku keluar dengan penampilan berantakan, saat melihatku perasaan bercampur antara lega, marah, bahkan sebenarnya mereka semua menahan tawa karena melihat penampilanku. Berbeda dengan Anet yang menyampaikan dengan nada sewot padahal aku tahu kalau dia sangat cemas Angga lebih santai saat berbicara padaku. “Kamu baik-baik saja kan Di?” Tanya Angga dengan suara lembut. “Iya, aku ketiduran tadi.” Aku mencoba menjelaskan kenapa aku tidak menerima telepon dari mereka dan lama membuka pintu. Anet terus memarahiku karena membuat mereka cemas, aku tahu maksudnya baik tapi cara dia berbicara bagi sebagian orang mungkin bisa menyebabkan orang lain salah paham tapi bagiku yang sudah terbiasa aku hanya mendengarkan ucapannya. Angga yang tak tega melihatku meminta Anet menyudahinya. “Net, sudah donk kasian Diandra, dia sakit tapi harus mendengarkan kamu terus memarahinya.” Angga berusaha membelaku di depan Anet, aku yang menyadari mendapat pembelaan dari Angga langsung memasang wajah memelas. Melihat wajahku Anet tak tahan menahan tawa. “Apaan si Di, senang ya lo ada Angga yang membela lo.” Protes Anet. Setelah melihat kondisiku baik-baik saja Angga dan Sandi memutuskan untuk pulang sedangkan Anet memilih menginap untuk menemaniku. “Sayang, kamu hati-hati ya.” Ucap Anet pada Sandi. Angga yang mendengar ucapan Anet langsung protes karena dia hanya berpesan pada Sandi sedangkan tidak padanya. Mendengar protes Angga, Anet langsung memintaku untuk mengatakan hal yang sama pada Angga. Aku dan Anet langsung masuk setelah Angga dan Sandi pergi. “Net, kok lo tahu kalau gw sakit?” Aku bertanya karena penasaran walaupun sebenarnya aku bisa menebak kalau pasti Angga yang memberitahu padanya. “Angga telepon gw, dia panik karena lo ngga jawab telepon dia.” Jawab Anet. “Oh.” “Di, gw pikir Angga bener serius ke lo Di. Dia perhatian ke lo sampai segitunya.” Jelas Anet. Sebenarnya aku sependapat dengan ucapan Anet, selama menemaniku di rumah sakit Angga memang sangat memperhatikan aku. Dia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya hanya agar dapat menemaniku. “Apa Anet tahu kalau Angga sudah menyatakan perasaanya padaku?” Aku bertanya dalam hati. “Di, lo kenapa sih? Ada yang sedang lo pikirin ya?” “Ngga, gw baik-baik saja. Memang kenapa?” Aku balik bertanya pada Anet. “Lo ngga perlu bohong ke gw, gw tahu pasti ada sesuatu kan? Angga juga tanya ke gw, dia bilang selama di rumah sakit lo banyak ngelamun.” Ucap Anet. Aku mencari-cari jawaban untuk meyakinkan Anet bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi padaku, Anet masih tidak pecaya dengan apa yang aku katakan. “Sejujurnya gw ngga percaya, pasti ada sesuatu yang sedang terjadi. Kalau lo belum mau cerita ngga apa-apa tapi kalau lo butuh teman untuk cerita atau lo butuh bantuan lo bilang ke gw.” Ucap Anet. Aku langsung memeluk Anet, dia tampak terkejut ketika mendapat pelukan dariku. “Apaan sih lo Di, lepasin gw!!” Anet berusaha melepaskan diri dariku dan pergi meninggalkan aku. Dia masuk ke dalam kamar kemudian tidur di atas ranjangku, aku langsung menyusulnya dan ikut berbaring di samping Anet. *** Den keluar dari kamar si kembar setelah menemani si kembar sampai mereka tertidur. Fitri masih duduk bersama Ibu dan Bapak. “Den, bagaimana kabar Diandra?” Ibu bertanya karena merasa khawatir padaku. “Diandra masuk ke rumah sakit lagi bu, kemarin Den ketemu Diandra di rumah sakit.” Jawab Den. “Dia sakit apa?” Tanya ibu. “Den tidak tahu bu, kemarin Den belum sempat bicara dengan Diandra. Nanti Den coba hubungi dia.” Jawab Den. Fitri tampak kesal mendengar ibu yang begitu perhatian padaku, dia hanya mendengarkan obrolan Den dan ibunya. Fitri berpikir perlu membahas tentang kedekatan keluarga Den denganku pada ibu Anin, karena merasa kurang nyaman mendengar topik obrolan tentang alu, Fitri memilih pamit untuk masuk kedalam kamarnya. Setelah Fitri pergi Den dan orang tuanya masih membahas tentang aku, Den bercerita pada ibunya bahwa beberapa hari ini sikapku berbeda bahkan Den berpikir kalau aku sengaja menghindarinya. Mendengar ucapan Den ibunya ikut merasa heran dengan apa yang terjadi padaku. “Apa kamu melakukan kesalahan yang membuat dia marah atau tersinggung mungkin?” Tanya Ibu. Den mencoba mengingat-ingat kembali kapan terakhir dia bertemu dan berbicara padaku, setelah mengingat dia yakin kalau terakhir bertemu denganku tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Mendengar ucapan anaknya ibu Den samakin penasaran dengan apa yang terjadi padaku. “Apa lebih baik ibu bicara padanya?” Tanya ibu. “Tidak perlu bu, mungkin saat ini dia ada urusan pribadi atau ada hal lain yang membuat dia harus menjaga jarak dengan kita.” Ucap Den. Setelah Den bertemu dengan aku dan Angga, dia berpikir bahwa Angga adalah pacarku, dia juga berpikir mungkin saat ini aku sengaja menghindari dia dan keluarganya atas permintaan Angga. *** Mama menghampiri Papa dan menanyakan apa saja yang Papa bicarakan denganku. “Papa bicara apa saja pada Diandra?” Tanya Mama. Papa tidak langsung menjawab pertanyaan Mama karena masih sibuk dengan hpnya, tenyata dia sedang membalas pesan teman kerjanya dulu, Papa yang sudah pensiun masih terus berkomunikasi dengan teman-teman kerjanya dulu bahkan mereka rutin bertemu. “Pa?” Masih belum mendapat jawaban dari suaminya Mama langsung menanyakannya lagi dan kali ini Papa merespon pertanyaan Mama. “Papa minta dia pikirkan baik-baik dan coba membuka pintu hatinya jika memang menurutnya Angga adalah sosok yang baik.” Ucap Papa. Dalam hatinya Mama merasa heran keran tidak biasanya Papa mau ikut terlibat dengan hal ini, biasanya Papa tidak akan mau membahas hal tersebut pada Diandra bahkan saat Mama sendiri yang memintanya tapi kali ini Papa berinisiatif sendiri tanpa Mama minta. “Lalu apa kata Diandra?” “Dia masih memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil.” Jawab Papa. “Semoga saja dia lebih mau mendengarkan ucapan Papa ya.” Ucap Mama. Setelah membahas tentangku, Mama langsung mengajak Papa sarapan. Mereka masuk ke dalam rumah beriringan. *** “Bu, saya pulang duluan.” Novi pamit pulang lebih dulu saat jam kerja berakhir, aku mempersilahkan dia sedangkan aku memilih menyelesaikan pekerjaan yang beberapa hari menumpuk karena aku sakit. Lampu kantor sengaja aku nyalakan semua, aku putar lagu sebagai teman pengusir sepi. Beberapa hari tidak masuk kerja membuatku harus bekerja lebih banyak agar semua selesai sesuai jadwal, sebenarnya aku merasa lapar tapi aku lebih memilih menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu baru membeli makanan saat akan pulang. Satu per satu pekerjaan selesai aku kerjakan, aku merapikan semua barang yang tercecer di atas meja kemudian keluar ruangan. Di lantai satu saat akan keluar kantor aku bertemu dengan pak Hasan, dia adalah salah satu satpam yang berkerja di kantor tempatku bekerja. “Selamat malam bu Diandra.” Pak Hasan menyapa aku saat kami berpapasan, dia tersenyum ramah. Usia pak Hasan sebenarnya sudah cukup tua tapi dia masih semangat bekerja untuk menghidupi keluarganya di kampung. Saat kami berpapasan pak Hasan akan berkeliling kantor untuk patroli, dia akan mengelilingi bangunan untuk memastikan semua aman. “Selamat malam pak Hasan, mau patroli pak?” Aku jawab sapaan pak Hasan dan sedikit berbasa-basi dengannya. “Iya Bu, lembur ya bu?” “Iya Pak, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan tadi.” Aku menjawab pertanyaan pak Hasan sambil mengeluarkan dompet di dalam tas, aku buka dompet dan mengeluarkan dua lembar lima puluh ribuan untuk aku berikan pada pak Hasan. “Pak, ini untuk beli kopi.” Pak Hasan awalnya menolak pemberianku tapi aku terus memaksa sampai akhirnya dia menerima dan mengucapkan terima kasih padaku. Pak Hasan memang terkenal baik dan jujur, di antara satpam yang lain dia yang paling dekat dengan karyawan lain selain karena dia satpam senior yang paling lama bekerja di sini sifatnya juga yang membuat kami menyukainya. Pernah ada kejadian bagian keuangan lupa mengunci lemari yang berisi uang perusahaan dan pintu ruangan mereka juga terbuka sebenarnya saat itu bisa saja dia mengambil uang itu tapi dia lebih memilih untuk bantu mengunci ruangan dan lemari itu. Kabar itu menyebar dikalangan karyawan sehingga sifat pak Hasan yang jujur langsung menjadi bahan pembicaraan, dia memang terkenal jujur. “Kalau begitu saya pulang duluan ya pak.” Aku pamit pada pak Hasan. “Saya antar sampai mobil Bu.” Ucap pak Hasan. Akhirnya pak Hasan mengikuti langkahku dan mengantarkan aku sampai ke parkiran, dia pergi setelah mobilku melaju pergi. Kondisi jalanan sudah cukup senggang, jam tangan menunjukan pukul 22.42 wib, kali ini aku pulang cukup malam dibanding hari-hari sebelumnya. Hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan jika aku sudah berkeluarga tapi sekarang aku masih bisa melakukannya dengan leluasa tanpa harus memikirkan keluarga di rumah dan meminta izin pada pasangan terlebih dahulu. Beberapa kali mobilku terhenti karena lampu merah yang memang aku lewati, suasana malam ini sedikit berbeda mungkin karena mulai masuk musim penghujan hawa dingin juga semakin terasa. *** Setibanya di apartemen aku menyapa satpam yang berjaga. “Malam Pak.” “Malam Bu Diandra.” Kedua satpam kompak membalas sapaanku. Salah satu satpam melanjutkan ucapannya. “Bu, ada titipan untuk Ibu.” Satpam itu menyerahkan tas kertas yang aku bisa tebak berisi makanan karena tercium aroma sedap. Aku menerima tas tersebut dan bertanya siapa pengirimnya. “Dari pak Denendra Bu.” Sambung salah satu satpam lainnya. “Baik, terima kasih pak.” Aku memberikan beberapa lembar uang untuk aku berikan pada mereka. “Ini untuk beli kopi pak.” Ucapku. “Terima kasih bu.” Mereka menjawab kompak. Setelah menjawab ucapan terima kasih mereka aku pergi meninggalkan mereka. Aku letakkan tas kertas pemberian Mas Den tadi, aku pergi mandi sebelum membuka isi tas itu. Setelah mandi dan merasa lebih segar aku langsung menuju meja makan dan membuka pemberian Mas Den. Ternyata berisi masakan yang sangat aku kenal, masakan ibu yang dari aromanya saja sudah sangat menggugah selera. Ada secarik kertas berisi tulisan tangan Mas Den. “Di, ini makanan dari Ibu, Ibu sengaja membuatkan untuk kamu karena merasa cemas padamu. Akhir-akhir ini kamu sulit dihubungi dan tidak pernah lagi datang ke rumah. Apa saya melakukan kesalahan yang membuat kamu marah? Kalau Iya, saya minta maaf. Anak-anak menitipkan salam untuk kamu, katanya mereka kangen ke kamu.” Isi surat mas Den dan diakhiri dengan nama Denendra dibagian bawah surat. Air mataku menetes setelah membaca surat itu, aku merasa kangen pada si kembar tapi selama ini aku tahan rasa itu karena takut lebih sulit lagi lepas dari mereka saat Den dan Fitri sudah menikah sehingga aku lebih memilih mulai menjauh dari keluarga Den lebih awal. Ternyata sangat menyiksa saat kita harus merelakan menjauh dari orang yang kita sayang, kedekatan yang terjalin antara aku dan si kembar membuat ikatan batin yang aku rasakan, mungkin mereka juga merasakan hal yang sama terbukti beberapa kali Atin mencoba menghubungiku tapi aku selalu mencari alasan untuk menolak telepon Atin, aku sengaja menolak berbicara dengan si kembar karena pasti akan luluh saat mendengar suara mereka jika sudah begitu aku pasti langsung pergi menemui mereka karena tak tahan. “Ternyata ibu begitu perhatian padaku” Aku memakan makanan buatan ibu sambil air mata terus menetes. Aku terus berpikir apakah sebaiknya aku pergi ke rumah Mas Den saat Fitri dan Mas Den sedang tidak ada di rumah, setidaknya aku bisa bertemu dengan si kembar dan Ibu. Setelah makan aku langsung masuk ke dalam kamar, membaringkan tubuhku di ranjang, mencoba memejamkan mata tapi sulit. Aku mengambil HP dan melihat-lihat foto yang ada di dalamnya. Ternyata hpku berisi banyak foto si kembar bahkan fotoku sendiri tidak ada, ada foto si kembar bersamaku dan Anin, ada si kembar bersamaku dan Mas Den, ada si kembar bersamaku, ibu dan Mas Den bahkan ada si kembar bersamaku, Mama dan Mas Den, aku ingat foto ini aku ambil saat si kembar dan Mas Den datang ke apartemenku. Tingkah mereka yang lucu dan tawa mereka yang manis membuatku selalu merasa kangen pada mereka. Air mataku kembali menetes saat mengingat kebersamaanku dengan mereka sampai tanpa sadar aku tertidur lagi dan terbangun esok hatinya karena suara alarm yang beberapa kali terdengar. Aku bergegas masuk kedalam kamar mandi, saat aku bercermin betapa terkejutnya aku karena ternyata mataku bengkak sisa tangisan semalam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN