BAB 23 / Pertemuan Diandra Dengan Dimas

2410 Kata
“Pagi bu.” Sapa Novi. Kali ini aku menjawab sapaan Novi sambil tertunduk karena berusaha menyembunyikan mataku yang bengkak. “Pagi Nov, hari ini ada meeting?” Aku memastikan jadwalku hari ini pada Novi, sejujurnya aku berharap hari ini tidak ada meeting karena aku tidak mau orang melihat mataku yang masih bengkak. “Hari ini tidak ada meeting bu, semua laporan juga sudah saya kirim ke email ibu.” Novi menjelaskan jadwa pekerjaanku hari ini. Aku sangat bersyukur dan merasa lega setelah mendengar penjelasan Novi tadi karena itu berarti aku tidak harus menyembunyikan mataku yang masih bengkak pada orang-orang yang aku temui. Setidaknya hari ini aku akan berusaha membatasi bertemu dengan orang lain sampai mataku kembali normal. Novi pamit keluar ruangan setelah selesai menjelaskan jadwalku hari ini. *** Di meja makan keluarga Den sudah berkumpul termasuk si kembar yang duduk mengapit Ayah mereka. Si kembar sedang asik menikmati menu sarapan mereka, Radhi dan Raine memang sudah terbiasa makan sendiri, Den menang sengaja mendidik mereka agar tidak bergantung pada orang lain, hal yang sama yang pernah dia ajarkan pada Anin, didikkan yang membuat sosok Anin yang manja berubah menjadi wanita mandiri yang bisa membuat orang terkagum-kagum dengan perubahan sikapnya. “Ayah, kapan kita main sama tante baik lagi? Aku kangen sama tante baik Ayah. Kenapa tante baik ngga pernah ke rumah kita lagi?” Ucap Radhi. Raine yang mendengar ucapan kakaknya ikut berbicara pada Ayahnya. “Iya Ayah, kapan tante baik kesini? Atau kita saja yang ke rumah tante baik.” Sambung Raine. Ibu dan Bapak langsung menatap Den, menunggu untuk mendengar jawaban apa yang akan Den berikan pada anak-anaknya sedangkan Fitri lebih memilih melanjutkan sarapannya karena baginya topik obrolan tentangku adalah hal yang paling melas dia dengar. “Tante baik sedang sibuk sayang, jadi tante baik belum bisa main kesini, nanti kalau sudah tidak sibuk tante baik pasti main kesini.” Den berusaha memberikan pengertian pada kedua anaknya. Si kembar yang masih kecil belum bisa memahami arti ucapan Ayah mereka, bagi mereka aku seharusnya masih bisa datang main ke rumah mereka. “Jadi kapan tante baik kesini Ayah?” Tanya Raine. Merasa terpojok karena bingung dengan jawaban apa yang harus dia berikan Den terdiam sesaat, melihat anaknya merasa terpojok bapak membantu Den. “Radhi.. Raine ayo lanjutkan makannya. Tidak baik berbicara saat makan.” Ucap Bapak. “Iya Kakek.”Jawab Radhi. Mendengarkan ucapan Kakek mereka si kembar langsung menuruti dan melanjutkan sarapannya, mereka melupakan sejenak tentang keinginan mereka bertemu denganku. Den merasa sangat terbantu oleh bapak, sehingga dia tidak harus memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan pada anak-anaknya. *** Jam kerja hampir berakhir, aku coba menghubungi Atin untuk mencari informasi apakah hari ini Den ada di rumah. “Halo Atin.” Aku menjawab sapaan Atin. Atin menanyakan kabarku dan dia bertanya kenapa aku tidak pernah datang lagi ke rumah. “Saya baik Atin, kebetulan akhir-akhir ini saya sedang sangat sibuk jadi belum sempat main kesana lagi. Kamu apa kabar?” Ucapku. Atin menjawab bahwa dirinya baik-baik saja. “Ridhi dan Raine apa kabar Atin? O iya Pak Den hari ini ada di rumah?” Menurut Atin kabar si kembar baik-baik saja tapi mereka sering menanyakan kapan aku akan main bersama mereka lagi, sedangkan mas Den menurut Atin baru saja pergi meninggalkan rumah, dia pergi ke rumah sakit. “Syukurlah si kembar baik-baik saja, kalau Fitri masih ada di sana Atin? Apa hari ini dia ada di rumah?” Ternyata menurut Atin, Fitri masih di sana tapi dia selalu pulang malam. Setelah mendapatkan cukup informasi aku mengakhiri telepon dengan Atin dan berharap dia tidak curiga mendapatkan beberapa pertanyaan dariku. Aku bergegas keluar kantor, melajukan mobilku dengan kencang berusaha mengejar waktu agar dapat tiba di rumah mas Den lebih cepat. Aku sengaja menghindari mas Den dan Fitri karena tidak mau menimbulkan masalah. *** Pak Agus yang melihat mobilku berhenti langsung berlari menuju pagar, aku keluar mobil dan berjalan mendekat kearahnya. “Malam Pak Agus, apa kabar pak?” “Malam mbak Diandra, baik. Kemana saja mbak kok sekarang tidak pernah main kemari.” Rupanya bukan hanya keluarga Den yang merasa kehilangan saat aku tidak datang kemari tapi mbok, Atin, bahkan pak Agus merasa kehilanganku. “Iya akhir-akhir ini sedang sibuk Pak, jadi baru sempat kemari. Ibu ada Pak Agus?” Aku menanyakan keberadaan Ibu. “ Ibu ada di dalam mbak, silahkan masuk.” Jawab pak Agus. Aku langsung mendekat ke pintu rumah, dari dalam rumah Atin berlari membukakan pintu. “Malam Atin.” “Malam mbak, ayo silahkan masuk.” Atin mempersilahkan aku duduk, dia pergi ke dalam untuk memberitahukan pada Ibu bahwa aku datang. Tak lama Ibu keluar dan menghampiriku. Melihat ibu mendekat aku langsung menyabut ibu, kami berpelukan. “Di, apa kabar?” Ibu menanyakan kabarku saat kami berpelukan, dia mengelus punggungku. “Baik bu, Ibu apa kabar?” Aku balik bertanya pada Ibu. “Ibu baik, ayo duduk Di.” Ibu mempersilahkan aku duduk setelah menjawab pertanyaanku. “Kamu kemana saja? Kenapa tidak pernah kesini? Radhi dan Raine kangen sekali ke kamu. Mereka selalu menanyakan kapan kamu datang.” Ucap Ibu. “Maaf bu, akhir-akhir ini aku sibuk sekali jadi belum sempat mampir kesini, aku juga kangen sekali pada Radhi dan Raine bu. O iya kemana mereka?” “Mereka ada di kamarnya, Radhi dan Raine pasti sangat senang melihat kamu datang, sebentar Ibu panggilkan mereka ya?” “Tidak perlu Bu, kalau boleh saya izin untuk ke kamar mereka saja nanti.” “Tentu boleh Di, silahkan. Kamu selalu diterima di rumah ini. Justru kami sangat kehilangan saat kamu tidak datang kemari.” Ucapan Ibu membuatku senang, aku bersyukur itu artinya aku masih diterima oleh Ibu di sini. “Bu, terima kasih kiriman makananya.” “Iya, sama-sama. Bagaimana kondisi kamu? Sudah sehat? Ibu dengar dari Den kalau beberapa hari lalu kami dirawat di rumah sakit? Sakit apa?” Tanya Ibu cemas. “Iya bu, sekarang aku sudah pulih kemarin drop karena kelelahan saja.” Kami terus berbincang tentang banyak hal, sampai aku menyadari kalau belum melihat bapak selama aku berbincang dengan Ibu. “Bapak kemana bu?” “Bapak sedang pergi sebentar, ada urusan.” Setelah cukup lama berbincang aku meminta izin menemui si kembar di kamar mereka. Ibu memberikan izin, sebelum masuk aku memberikan bingkisan yang sengaja aku bawa tadi. Ibu mengucapkan terima kasih setelah menerima pemberianku. Aku berjalan kearah kamar si kembar, di dapur aku melihat mbok sedang mencuci piring, aku langsung menghampiri dan menyapanya, mbok tampak senang melihat kedatanganku. Kami saling menanyakan kabar masing-masing dan berbincang sebentar sebelum aku masuk kedalam kamar si kembar. Di depan kamar si kembar aku berdiri dan mengetuk pintunya. Tidak ada jawaban dari dalam kamar sampai aku memutuskan memanggil nama mereka. Mungkin mereka mendengar suara yang mereka kenali, terdengar suara langkah kaki berlari dari dalam kamar dan pintu kamar terbuka. Radhi dan Raine langsung memelukku, aku balas memeluk mereka erat. Kami saling melepaskan rasa kangen yang kami tahan selama ini, setelah melepaskan pelukan si kembar memintaku masuk kedalam kamar mereka, Ibu tersenyum senang melihat cucunya begitu bahagia saat bertemu denganku. Di dalam kamar aku menemani si kembar bermain bahkan aku membacakan cerita sampai mereka tertidur. Setelah mengelus lembut mereka aku keluar kamar si kembar. Ibu masih duduk di ruang keluarga sambil menonton TV, saat akun keluar kamar ibu langsung mengambil remote dan mengecilkan volume TV. Aku mendekat pada Ibu, ibu mempersilahkan aku duduk. “Bu, aku tidak bisa lama disini, aku pamit pulang ya bu.” “Kamu tidak tunggu Den dan Bapak dulu?” Tanya Ibu. “Maaf bu, aku harus segera pulang. Jadi sampaikan salamku pada mas Den dan Bapak.” Sebenernya ibu berusaha menahan aku pulang tapi aku tetap bersikeras pulang karena sengaja menghindari bertemu mas Den dan Fitri. Akhirnya Ibu membiarkan aku pulang, ibu mengantarku sampai ke depan mobilku. Kami berpelukan lagi. “Di, kamu sering-sering kemari ya, ibu harap kamu jangan menjauh dari keluarga kami. Kalau ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Den selesaikan baik-baik. Kasian si kembar dia sangat merasa kehilangan kamu saat kamu tidak kemari.” Ucapan ibu membuatku terkejut, seolah ibu menyadari ada sesuatu yang terjadi. “Aku dan mas Den baik-baik saja bu, aku permisi pulang ya bu.” Aku langsung pamit pulang karena tidak mau obrolan kami semakin melebar. Ibu melambaikan tangan saat aku membuka kaca mobil, dan mobilku perlahan pergi menjauh dari tempat ibu berdiri. Ibu langsung memutar tubuhnya untuk masuk kedalam rumah tapi ibu langsung mengurungkan niatnya setelah melihat kedatangan mobil Den. Den yang melihat ibunya berdiri di luar rumah merasa heran kenapa malam-malam ibunya ada di luar rumah, apa ada sesuatu terjadi padanya. Karena merasa cemas Den langsung bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri Ibu. “Ibu kenapa malam-malam di luar rumah?” Tanya Den cemas. “Tidak apa-apa, ibu baru mengantar Diandra pulang, tadi dia datang kesini.” Jelas Ibu. “Diandra datang kesini bu?” tanya Den heran. “Iya, tadi dia juga menemani si kembar sampai mereka tertidur.” Jawab Ibu. “Dia datang sendiri?” Tanya Den penasaran. “Iya sendiri, memang kenapa?” Tanya Ibu penasaran dengan pertanyaan Den, karena selama ini Ibu tidak pernah melihat aku datang ke rumah Den bersama orang lain sehingga Ibu merasa heran dengan pertanyaan yang Den ajukan. “Oh. Tidak apa-apa bu.” Den hanya menjawab singkat pertanyaan yang Ibu ajukan, sebenarnya Den merasa penasaran menurutnya mungkin saja aku datang bersama laki-laki yang pernah dia temui di rumah sakit saat itu, itu sebabnya dia bertanya pada Ibu. “O iya, dia titip salam untuk kamu.” Ucap Ibu. Den hanya mengangguk pelan, baginya sikap aku memang aneh seolah aku sengaja menghindarinya. Ibu dan Den berjalan beriringan masuk kedalam rumah, Ibu langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan sedangkan Den masuk kedalam kamarnya dan menuju kamar mandi untuk mandi. *** Selama di perjalanan perutku keroncongan, hari ini dari siang aku belum makan karena sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk. Aku putuskan untuk pergi mencari makan. Pilihanku jatuh ke sebuah restoran yang aku lewati saat akan pulang ke apartemen, mobil aku parkirkan di area yang kosong. Aku langsung turun dan masuk kedalam restoran itu, salah satu pelayan menghampiri mejaku dan langsung menyodorkan menu untuk aku pilih. Setelah memesan makanan aku duduk menunggu makanan yang aku pesan datang. Sesekali aku amati suasana restoran tampak beberapa pengunjung sudah menikmati makanan mereka diselingi obrolan, interior restoran yang indah membuat suasana berbeda saat berada di restoran ini. Setiap hari aku melewati restoran ini tapi baru kali ini aku datang kesini. Pelayan datang membawa menu yang aku pesan, dia mempersilahkan aku menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja kemudian dia pamit pergi. Aku langsung menikmati makanan, sesekali aku melihat layar hp karena ada pesan masuk dari Anet dan Angga. Di luar restoran sebuah mobil berwarna putih berhenti, seorang laki-laki dengan pakaian santai tampak turun dari dalam mobil. Dia hanya menggunakan kaos, celana panjang, dan sendal tapi sangat terlihat ketampanannya. Dia langsung masuk kedalam restoran dan mencari-cari meja yang masih kosong, saat mengamati sekitar ada sosok perempuan yang sangat dia kenal. Dia terus menatap kearah perempuan itu untuk memastikan apakah yang dia lihat adalah sosok yang dia kenal, setelah merasa yakin dia langsung mendekati meja perempuan itu. “Diandra.” Laki-laki itu menyapa aku yang tidak menyadari kedatangannya karena terlalu fokus dengan HP. Mendengar namaku dipanggil aku langsung mengalihkan pandangan ke sumber suara, suara yang tak asing bagiku. “Dimas.” Aku bicara dalam hati, karena terkejut aku sampai tak sadar melepas sendok di tanganku yang menyebabkan bunyi. Aku langsung berusaha tersadar. Aku menahan diri agar bersikap biasa saja padanya, jangan sampai dia berpikir kalau hidupku kacau karena ulahnya. Aku mencoba tersenyum lebar padanya sambil menyapa dia. “Dimas?” Aku menyapa dia. Dimas langsung mengulurkan tangannya, aku sambut uluran tangannya dan akhirnya kami berjabat tangan. Dia meminta izin untuk ikut duduk bergabung denganku karena merasa tidak sopan jika aku melarang akhirnya aku membiarkan dia duduk di meja yang sama denganku. Dia langsung duduk setelah aku memberikan izin padanya. “Kamu apa kabar Di?” Tanya Dimas. “Baik, kamu apa kabar?” “Baik, kok kamu disini?” “Iya, sekarang saya tinggal di Jakarta. Kalau kamu? Sedang dinas disini?” Aku balik bertanya pada Dimas. “Tidak, sekarang saya tinggal di Jakarta juga.” Jawab Dimas. Karena merasa penasaran akhirnya aku memberanikan diri menanyakan kabar Tiara pada Dimas. “Tiara apa kabar?” Dimas langsung terdiam setelah mendengar pertanyaan dariku. “Hmm saya pikir dia baik, tapi entahlah karena sudah setahun lebih saya tidak berkomunikasi dengannya.” Jawab Den. Mendengar jawaban Den membuatku semakin penasaran, apa maksdunya mereka tidak bertemu sekian lama karena dari kabar yang aku dengar mereka menikah tak lama setelah pernikahan aku dan Dimas gagal tapi kenapa sekarang Dimas mengatakan kalau mereka tidak pernah berkomunikasi, apa artinya mereka sudah mengakhiri hubungan mereka. Aku hanya terdiam setelah mendengar jawaban Dimas, tampaknya dia menyadari aku yang merasa heran jawaban yang dia berikan. “Saya dan Tiara sudah bercerai satu tahun lalu.” Dimas menceritakan kondisi hubungan mereka. Sejujurnya aku tidak tertarik dengan apa yang Dimas ceritakan karena itu masa lalu yang sudah aku lupakan. Seolah tidak peduli dengan perasaanku Dimas terus bercerita tentang dia dan Tiara, seolah Dimas ingin mengungkapkan bahwa tindakannya dulu berselingkuh dariku adalah kesalahan besar yang dia lakukan. Dimas menceritakan sisi negatif Tiara yang menyebabkan hubungan mereka akhirnya berakhir, ucapan Dimas membuatku semakin bersyukur hubunganku dan dia berakhir, bagiku tidak selayaknya seseorang menceritakan keburukan pasangannya di depan orang lain. Aku tidak merespon cerita Dimas, tampaknya Dimas menyadarinya sampai akhirnya dia mengganti topik pembicaraan. “Kamu apa kabar Di? Sendiri disini?” Tanya Dimas. “Baik, iya saya sendiri.” “Oh, kalau kamu bagaimana? Sudah menikah?” Tanya Dimas. Awalnya aku ragu atas jawaban apa yang sebaiknya aku berikan padanya, mulanya terpikir untuk berbohong padanya. Aku berniat mengatakan bahwa aku sudah menikah untuk menunjukkan bahwa kondisiku baik-baik saja setelah penghianatan yang dia lakukan. “Belum.” Aku memilih menjawab singkat dan mengatakan sejujurnya bahwa sampai saat ini aku belum menikah. Respon Dimas tampak aneh bagiku, dari wajahnya terlihat senang setelah mendengar jawabanku. Dimas lebih banyak memulai pembicaraan sedangkan aku hanya mendengarkannya dan menjawab singkat semua pertanyaan yang dia lontarkan. Dia juga menanyakan kabar Mama dan Papa, aku mengatakan bahwa kabar mereka baik-baik saja. Obrolan kami terus berlanjut, aku juga menanyakan kabar orang tuanya. Sejujurnya situasi ini membuatku tidak nyaman, ingin rasanya aku segera pergi tapi aku merasa sungkan jika harus pergi tiba-tiba, aku takut Dimas berpikir bahwa aku masih sakit hati padanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN