Den keluar dari kamarnya.
“Den, ayo makan. Ibu sudah siapkan.” Ajak Ibu pada anak sulungnya.
Dari arah luar terdengar suara ayah berbicara dengan pak Agus, rupanya ayah baru saja tiba. Ibu langsung keluar untuk menyambut kedatangan suaminya.
Ibu langsung mengajak ayah masuk kedalam rumah dan memintanya untuk ikut makan bersama Den.
Akhinya mereka bertiga bersiap makan malam, menyadari Fitri belum ada Ibu langsung meminta Atin untuk memenggil Fitri tapi ternyata Fitri belum pulang, karena merasa cemas Ibu meminta Den menghubungi Fitri.
“Den, ini sudah malam dan Fitri belum pulang. Lebih baik kamu coba hubungi dia, Ibu takut sesuatu terjadi padanya. Selama Fitri di sini dia menjadi tanggung jawabmu.” Ucap Ibu dan Ayah menyetujui ucapan istrinya.
Akhinya Den bersedia menghubungi Fitri, sebenarnya selama ini Den berusaha menjaga jarak dengan Fitri karena tidak mau Fitri berharap lebih padanya.
“Halo Fitri, kamu dimana? Ini sudah malam, jam berapa kamu pulang?” Ucap Den langsung keinti pembicaraan.
Ternyata saat ini Fitri masih di kantornya, dia akan pulang tapi menurutnya dari tadi tidak ada taxi yang mau mengambil orderan darinya. Itu sebabnya sampai sekarang dia belum pulang, menurut Den sebenarnya alasan Fitri tidak masuk akal tapi tidak mungkin baginya untuk berdebat hal itu dengan Fitri.
Seolah mendapat kesempatan untuk dapat berduaan dengan Den, Fitri meminta bantuan Den untuk menjemputnya karena takut sampai larut malam dia tidak mendapatkan taxi sedangkan saat ini kantor sudah semakin sepi sehingga dia merasa takut kalau harus menunggu sendiri disana.
Den memutuskan untuk membantu Fitri, dia bersedia menjemput Fitri di kantornya. Den yang belum sempat makan langsung pamit pada Ibu dan Ayahnya.
“Ayah.. Ibu.. Den pergi jemput Fitri dulu, katanya dia kesulitan mendapat taxi makanya sampai sekarang dia belum pulang juga.
“Ya sudah, kamu jemput dia. Tidak baik perempuan malam-malam sendiri.” Ucap Ibu.
“Hati-hati.” Sambung Bapak.
“Iya.” Jawab Den.
Dia bergegas pergi dari rumahnya menuju kantor Fitri, saat tiba dari kejauhan Den dapat melihat Fitri berdiri sendiri di sudut kantornya.
Den membuka kaca mobil memanggil Fitri, mendengar ada seseorang memanggilnya Fitri langsung melihat dan setelah menyadari Den yang memanggilnya dia langsung masuk ke dalam mobil Den.
“Maaf ya mas, saya ngerepotin.” Ucap Fitri basa-basi padahal dalam hatinya dia sangat merasa senang karena mendapat kesempatan berdua dengan Den tanpa ada si kembar yang mengganggu.
“Tidak apa-apa, lagi pula bahaya kalau kamu sampai malam sendirian.” Jawab Den.
Selama hampir sebulan dia menginap di rumah Den ini pertama kalinya mereka pergi berdua sehingga kesempatan ini akan Fitri manfaatkan sebaik mungkin, dia memutar otak memikirkan cara agar dia dapat berdua dengan Den lebih lama.
“Mas sudah makan?” Tanya Fitri.
“Belum, tadi saya mau makan tapi saya pikir lebih baik saya menjemput kamu lebih dulu.” Jelas Den.
“Maaf mas, gara-gara saya mas Den jadi terlambat makan.” Ucap Fitri.
Merasa rencananya berhasil dia melanjutkan ucapannya.
“Mas, saya juga lapar. Kita mampir sebentar untuk makan ya?” Ucap Fitri.
“Tidak perlu, kita makan di rumah saja lagipula Ibu masak.”
Fitri memutar otaknya agar dapat merayu Den agar mau ikut makan di restoran.
“Tapi mas, ada restoran yang sangat aku ingin coba katanya makanannya enak tapi aku belum kesana karena tidak ada teman untuk makan disana. Kita makan disana ya mas? Lagi pula sebentar lagi saya pulang ke Solo, saya takut kalau saya tidak mempunyai kesempatan lagi datang kesana.” Jelas Fitri.
Akhirnya Den mengikuti keinginan Fitri, Den melajukan mobilnya sesuai arah Fitri sampai dia tiba di sebuah restoran yang cukup ramai. Mereka berdua turun dari Mobil dan berjalan beriringan. Pelayan mengantar kami ke meja yang masih kosong, beruntung karena masih ada meja kosong bisanya untuk dapat makan disini harus pesan minimal beberapa jam sebelum kedatangan.
Fitri dan Den duduk berhadapan, pelayan langsung menghampiri mereka dan memberikan buku menu untuk mereka. Setelah memesan, pelayan pergi sedangkan Den dan Fitri menunggu menu yang mereka pasan datang.
Seperti biasanya Den hanya diam, Fitri merasa kurang nyaman dengan suasana hening yang terjadi.
“Mas, gimana kalau hari Sabtu kita ajak anak-anak jalan-jalan? Kebetulan ada film kartun baru tayang di bioskop atau kita pergi ke tampat wisata outdoor mas, kasihan anak-anak pasti bosan dengan rutinitas sekolah.”
Fitri berusaha mendekatkan diri dengan Den dan si kembar.
“Boleh saja kalau anak-anak memang mau pergi.” Jawab Den.
“Nanti aku bicara dengan mereka ya, pasti mereka senang.” Ucap Fitri.
Mendengar ucapan Fitri membuat Den teringat saat dia dan si kembar pergi ke kebun binatang denganku, itu adalah saat terakhir si kembar jalan-jalan, karena kesibukkan Den lupa kalau sudah lama dia tidak mengajak anaknya pergi jalan.
Tanpa sadar Den juga teringat padaku, dia merasa hubungan kami semakin menjauh bahkan saat aku datang kerumahnya aku pergi tanpa menunggu Den pulang. Sebenarnya ada sedikit rasa kangen yang Den rasakan padaku tapi dia belum menyadarinya atau bahkan mungkin dia menolak rasa itu. Dia selalu mengatasnamakan kasian anak-anak saat dia berusaha menghubungiku.
Sambil menunggu menu datang Den lebih memilih memainkan hpnya daripada berbincang lebih jauh dengan Fitri.
Den mengirim pesan padaku, dia mengucapkan terima kasih karena sudah menemani si kembar tidur, tanpa sadar Den berkali-kali melihat layar hpnya karena menunggu jawaban dariku tapi sampai makanan datang aku belum membalas pesan yang dia kirim.
Den daan Fitri mulai memakan makanan di hadapan mereka tapi dering telepon membuat Fitri menghentikan makannya. Ternyata Ibu Anin yang menghubungi Fitri.
Fitri langsung mengangkat telepon, Ibu Anin menanyakan kabar Fitri, dia menjawab bahwa kabarnya baik-baik saja. Fitri juga bercerita kalau saat ini dia sedang makan malam bersama Den. Ibu Anin sangat senang mendengar cerita Fitri, dia berpikir bahwa itu berarti hubungan Fitri dan Den semakin dekat dan kemungkinan perjodohan semakin besar.
“Ibu mau bicara dengan mas Den?”
Fitri menawarkan Ibu Anin untuk berbincang di telepon dengan Den, Ibu Den menerima tawaran Fitri.
“Mas Den, ini telepon dari ibu.” Ucap Fitri sambil memberikan hpnya pada Den.
“Halo Bu.” Den menyapa mertuanya.
Ibu Anin membalas sapaan Den dan menanyakan kabarnya dan si kembar.
“Aku dan si kembar baik Bu, Ibu dan Bapak apa kabar?”
Den menanyakan kabar Ibu dan Bapak mertuanya.
Ibu Anin mengucapkan terina kasih pada Den karena mau menampung Fitri di rumahnya selama Fitri di Jakarta. Den mengatakan bahwa dia dan keluarganya tidak merasa direpotkan karena Fitri termasuk keluarganya juga.
Mendengar ucapan Den, Ibu Anin dan Fitri berpikir hal yang sama, disatu sisi mereka senang karena itu artinya Fitri diterima dengan baik oleh Den dan keluarganya tapi disisi lain mereka berpikir bahwa Den menganggap Fitri hanya sebagai bagaian dari keluarga mereka.
“Ibu dan Bapak kapan ke Jakarta? Radhi dan Raine pasti sangat senang kalau Bapak dan Ibu kesini.” Ucap Den.
Ibu mertua Den mengatakan jika ada waktu mereka akan datang ke Jakarta untuk bertemu dengan cucunya.
Den memberikan hp Fitri setelah panggilan telepon dirinya dan Ibu Anin berakhir. Fitri dan Den melanjutkan makan mereka.
“Ayo lanjut makan supaya kita bisa cepat pulang.” Ucap Den.
Fitri menuruti ucapan Den walau dalam hatinya dia merasa kesal karena menganggap Den merasa terburu-buru untuk pulang saat pergi berdua dengannya, padahal Fitri berharap bisa lebih lama dapat berdua dengan Den.
***
Dimas dan aku masih duduk di satu meja yang sama, kami masih berbincang padahal hari sudah cukup larut dan sebentar lagi mungkin restoran akan tutup, sebenarnya beberapa kali aku berusaha pamit untuk pulang duluan tapi Dimas terus berusaha menahanku pergi, aku yang terbiasa sulit menolak permintaan orang lain padaku terpaksa harus menuruti keinginan Dimas untuk lebih lama berbincang dengannya.
Aku bahkan menemaninya saat dia menghabiskan makanan yang dia pesan padahal aku sudah selesai makan dari tadi.
Jika Mama tahu mungkin dia akan marah padaku karena masih bersikap begitu sopan pada Dimas setelah apa yang dia lakukan padaku. Mama pasti akan memintaku menjauhinya, dan melarangku bersikap baik padanya tapi bagiku saat ini Dimas tak lebih dari masa lalu yang sudah aku buang jauh walaupun butuh waktu lama untuk melakukannya dan meninggalkan bekas yang mendalam dihatiku.
“Di, nomer telepon kamu berapa?”
Dia meminta no teleponku dengan alasan akan memberikan nomerku pada Ibunya. Aku yang tidak ingin terlibat lagi dengan Dimas memilih meminta nomer Ibunya agar dapat menghubunginya langsung jika ingin berbincang dengan ibunya.
“Kamu keberatan memberikan nomer telepon kamu padaku?” Tanya Dimas.
Sejujurnya aku ingin mengatakan bahwa aku merasa kurang nyaman dengan situasi ini bahkan sebenarnya aku ingin agar kami tidak perlu lagi saling berhubungan.
“Sejujurnya iya, tidak ada hal yang perlu kita bahas lagi. Jadi lebih saya tidak memberikan nomer teleponku pada kamu.” Ucapku.
Dimas terdiam mendengar ucapanku, seolah dia mendapat penolakan dariku.
Sementara di meja lain Den dan Fitri sudah selesai makan, Den pamit pergi ke toilet pada Fitri sebelum mereka pulang.
Ternyata arah ke toilet melewati meja aku dan Dimas, awalnya Den tidak menyadari bahwa orang yang sedang berdebat di depannya adalah aku, Den hanya melihat sepintas dan pergi ke arah toilet tapi beberapa langkah saat akan tiba di toilet dia baru menyadari kalau dia seperti melihat sosok yang dia kenal tadi, dia langsung berbalik arah untuk memastikan kembali apakah benar orang yang dia lihat memang orang yang dia kira.
Dari balik dinding Den memperhatikan aku dan Dimas yang sedang berbincang, Den merasa heran melihat aku bersama laki-laki lain lagi. Setelah yakin bahwa orang yang dia lihat ternyata aku, Den masuk kedalam toilet.
Den keluar dari toilet tapi saat dia akan kembali ke mejanya dia tidak menemukan aku lagi karena aku dan Dimas pergi saat Den masih di dalam toilet tadi.
Di luar restoran aku berpisah dengan Dimas, aku berjalan ke mobilku terparkir sedangkan Dimas lebih dulu keluar karena mobilnya parkir lebih dekat dengan pintu keluar.
Den yang masih penasaran dengan keberadaanku terlihat mengamati restoran, dia berusaha mencari aku tapi tidak dia temukan akhirnya Den putuskan kembali ke mejanya dan mengajak Fitri pulang.
“Fitri, ayo kita pulang.” Ajak Den.
Den awalnya akan menuju kasir tapi Fitri mencegahnya karena ternyata Fitri sudah membayar tagihannya.
Masih merasa penasaran setelah melihatku tadi Den terus mengamati area parkir, dia mencoba mencari mobilku yang mungkin terparkir tak jauh dari mobilnya. Fitri menyadari kalau seolah Den sedang mencari sesuatu.
“Mas, kamu kenapa? Ada yang kamu cari?” Tanya Fitri.
Menyadari kalau Fitri memperhatikannya Den kembali fokus mengendarai mobilnya, sampai mobil Den keluar dari area parkir restoran Den tidak menemukan mobil aku terparkir disana.
Selama perjalanan Den memikirkan aku, dia berbicara dalam hati.
“Diandra sedang bersama siapa lagi? Kenapa laki-laki tadi berbeda dengan laki-laki yang di rumah sakit saat itu? Apa dia teman Diandra? Kenapa malam-malam Diandra pergi dengan laki-laki?” Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala Den saat ini, tanpa sadar Den mulai penasaran dengan apa yang sedang aku alami, dan dengan siapa aku pergi.
Sekali Fitri melirik kearah Den sedangkan Den sedikitpun tidak menyadari kalau dari tadi Fitri memperhatikan dia.
***
Setibanya di rumah, Den dan Fitri masuk ke kamar mereka masing-masing. Den masih bersikap acuh pada Fitri. Di dalam kamar Den terus memikirkan aku, dia masih penasaran dengan apa yang baru saja dia lihat.
Matanya sulit terpejam karena rasa penasaran, dia mengambil hp dan mencoba menghubungiku karena tidak ingin terus terpikir hal yang membuatnya penasaran, lebih baik dia mencari jawabannya langsung dariku.
Terdengar nada tunggu tapi tidak ada tanda-tanda aku menjawab teleponnya. Berkali-kali Den mencoba sampai telepon yang keenam akhirnya aku mengangkat telepon darinya.
“Halo Di, kamu dimana?”
Tanpa basa-basi Den langsung menanyakan lokasi keberadaanku.
Aku mengatakan bahwa aku sedang di apartemen, setelah menjawab pertanyaannya aku balik bertanya padanya. Aku merasa cemas karena malam-malam Den berkali-kali menelponku, aku takut sesuatu terjadi pada si kembar itu sebabnya aku memutuskan untuk menerima telepon dari Den.
“Tadi kamu pergi ke restoran Panorama ya?” Tanya Den.
Aku merasa heran kenapa Den bisa tahu kalau aku baru saja dari sana. Aku membenarkan dan bertanya bagaimana dia tahu kalau akau tadi dari sana.
“Tidak sengaja tadi saya melihat kamu bersama laki-laki.” Ucap Den.
Aku hanya menjawab singkat kalau yang dia lihat memang aku tanpa memberitahukan siapa laki-laki yang datang bersamaku.
Den merasa penasaran, berkali-kali dia berniat menanyakan siapa laki-laki itu tapi berkali-kali juga dia mengurungkan niatnya. Sampai akhirnya dia tidak bisa menahan diri.
“Siapa laki-laki yang bersama kamu?” Tanya Den.
Akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari mulutnya.
Mendapat pertanyaan itu dari Den membuatku merasa heran, kenapa tiba-tiba Den peduli padaku.
Aku menjawab bahwa laki-laki itu teman lamaku, kami tidak sengaja bertemu di restoran tadi.
Tanpa disadari Den merasa lega setelah mendengar penjelasan dariku.
“Sudah malam, lebih baik kamu cepat tidur.” kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Den sebelum obrolan kami berakhir.
***