BAB 25 / Mengunjungi Makam Anin

2164 Kata
Aku berlari kecil di taman apartemen, karena kesibukan lain sudah cukup lama aku tidak berolahraga tapi hari ini sengaja aku luangkan waktu untuk jogging. Setelah semua kejadian yang aku alami beberapa hari kebelakang menikmati suasana taman di pagi hari dengan udara sejuk cukup mampu menyegarkan pikiranku kembali, aku merasa hidupku kembali. Suara lagu yang aku dengar, angin yang bertiup dan mengenai wajah dan rambutku membuat aku merasa tenang. Sejenak aku melupakan beban pikiran yang selama ini menggangguku. “Hai Di.” Jane tetanggaku menyapa saat kami berpapasan, dia berolahraga dengan suami yang baru dinikahinya. Aku balas sapaannya, memang tinggal di apartemen dan statusku sebagai wanita karir yang tidak setiap hari ada di apartemen membuatku hanya mengenal sedikit penghuni apartemen lainnya. Hampir satu jam aku berkeliling taman, entah berapa putaran aku mengelilingi taman ini, dari pagi gelap dengan sedikit orang sampai sekarang taman sudah cukup padat karena semakin banyak pengunjung yang datang, kalau sudah begini aku pasti akan memilih pulang. Aku menyiapkan secangkir kopi dengan roti bakar sebagai menu sarapan, hidup sendiri selama bertahun-tahun membuatku menikmati hidup dengan cara praktis, menu sarapan yang aku pilih selalu makanan simple yang mudah dibuat. Rintik hujan mulai turun saat aku duduk di balkon, pemandangan langit yang sedikit mendung, jalanan yang sedikit senggang karena hari minggu menjadi hiburanku hari ini. Kesendirian lebih mudah bagiku untuk tiba-tiba memikirkan banyak hal, kali ini aku teringat pertemuanku dengan Dimas. Orang dimasa lalu yang berhasil aku lupakan tiba-tiba kembali hadir dihidupku. Tanpa kuduga ternyata Dimas dan Tiara tidak bisa mempertahankan hubungan mereka, saat mendengar Dimas menceritakan berakhirnya hubungannya dengan Tiara sejujurnya aku ikut merasa sedih, dari awal aku memutuskan mengakhiri hubunganku dengan Dimas aku mendoakan yang terbaik untuk mereka tapi ternyata pernikahan mereka pun tak bertahan lama. *** Radhi dan Raine bangun lebih pagi hari ini, mereka keluar kamar bersama menghampiri kakek dan neneknya di halaman rumah. “Kakek.. Nenek.. “ Sapa Raine. Ibu dan Bapak langsung menyambut cucu-cucu mereka dengan pelukkan. “Cucu-cucu nenek besok ulang tahun ya?” Diusia si kembar sebenarnya mereka belum mengerti perayaan ulang tahun tapi kebiasaan Anin merayakan ulang tahun mereka membuat Den harus melakukan hal yang sama untuk mereka walau Anin sudah tiada. Den dan Ibunya berencana membuat perayaan ulang tahun untuk si kembar di sekolahnya besok tepat di hari ulang tahun mereka. Ucapan Ibu ternyata bukannya membuat si kembar senang, mereka justru sedih karena teringat bundanya. Ini tahun pertama bagi mereka merayakan ulang tahun tanpa sosok Anin bersama mereka. Menyadari cucunya sedih Ibu langsung menghibur mereka dan mengatakan akan meminta Ayah mereka untuk mengantar ke makam Anin nanti sore. Si kembar tampak senang setelah mendengar ucapan ibu. “Nenek, kita ajak tante baik ya.” Ucap Radhi. “Iya nek, kita ajak tante baik ya.” Sambung Raine yang setuju dengan ucapan kakaknya. “Boleh, tapi kita tanya dulu ke tante baik ya. Tante baik bisa ikut tidak.” Jawab Ibu. “Kalau begitu kita telepon tante baik saja nek.” Radhi memberi usulan pada neneknya. “Boleh.” Jawab Ibu sambil mencari nomer telpon ku di hpnya. Radhi dan Raine langsung berebut telepon neneknya agar dapat berbicara denganku. “Halo tante.” Ucap Raine dan Radhi kompak, Ibu memutuskan untuk meloudspeaker suara HP agar mereka dapat berbicara denganku langsung tanpa berebut. Aku menjawab sapaan mereka. “Tante baik main kesini ya, hari ini kita mau ke rumah bunda.” Ucap Raine. Rumah adalah sebutan untuk makam, si kembar yang masih terlalu kecil membuat mereka belum mengerti arti pemakanan sehingga Den memberikan istilah rumah untuk makam Anin agar dapat lebih dipahami oleh anak-anaknya. Aku langsung mengerti apa maksud ucapan Raine. Raine juga bercerita kalau besok adalah hari ulang tahun mereka. Awalnya aku berniat menolak permintaan mereka karena aku teringat dengan pesan Fitri agar aku menjauh dari mereka tapi setiap kali mendengar suara si kembar aku tak kuasa menolak permintaan mereka belum lagi besok adalah hari istimewa mereka, di saat seharusnya ada Anin yang menemani mereka justru Anin tiada, aku teringat akan janji yang sudah aku ucapkan pada Anin untuk menjaga si kembar. Ibu yang menyadari aku terdiam ikut bicara. “Di, kamu ikut ya ke makam Anin. Kasian si kembar ingin kamu ikut bersama kami.” Pinta Ibu. Permintaan Ibu semakin membuatku tak kuasa menolak permintaan mereka, tapi aku masih bingung menghadapi Fitri jika aku bertemu dengannya nanti. Setelah berpikir sejenak akhinya aku putuskan untuk menerima permintaan Ibu dan si kembar, aku berjanji akan datang ke rumah mereka dan ikut ke makam Anin. *** Anet sedang bersantai di kamarnya, hari Minggu menjadi hari paling ditunggu bagi kami karena dihari itu kami bisa bangun lebih siang, bisa bersantai lebih lama dan tidak harus mengejar waktu untuk dapat sampai tepat waktu di kantor. Hp Anet berdering, ternyata ada panggilan dari mamaku. Menyadari yang menelpon adalah mamaku Anet langsung bangun dari tidurnya dan merubah posisi duduknya agar lebih nyaman. “Halo tante.” Ucap Anet. Anet dan Mama berbincang, mereka menanyakan kabar masing-masing sampai Mama mengutarakan maksudnya menghubungi Anet. Mamaku menanyakan bagaimana perkembangan hubunganku dan Angga. “Setahu aku Angga masih sangat berharap perasaannya diterima oleh Diandra tante, tapi Diandra belum menerima Angga sebagai pacarnya.” Jawab Anet. Mamaku mengartikan ucapan Anet bahwa hubunganku dengan Angga belum ada kemajuan, Mama berpesan pada Anet untuk membantu mempersatukan Angga dan Aku, Anet menyetujui permintaan Mamaku. *** Aku melihat beberapa barang yang akan aku beli untuk kado ulang tahun Raine dan Radhi. Merasa bingung dengan pilihan yang tepat aku berpikir sebelum memutuskan pilihan mana kado yang cocok untuk mereka. Pelayan toko bahkan membantuku memberikan masukan barang mana yang bagus untuk dijadikan kado, sampai akhirnya aku memutuskan baju dan mainan sebagai kado untuk mereka. Setelah membeli kado aku langsung pergi membeli donat kesukaan si kembar, aku sengaja pergi lebih awal agar dapat tiba tepat waktu di rumah mas Den. Jam 16.00 wib kami akan pergi ke pemakanan Anin jadi sebelumnya aku harus sudah tiba di rumah mas Den. Jam tangan menunjukkan pukul 15.40 wib, aku masih jalan menuju rumah mas Den, mungkin sepuluh menit lagi aku sampai di rumahnya. Saat aku tiba di rumah mas Den tampak suasana luar rumah sepi bahkan pak Agus yang biasanya ada di halaman rumah kali ini tak terlihat. Aku mengucapkan salam, mendengar salam dari luar rumah pak Agus langsung berlari dan membukakan pagar, kami saling menyapa dan pak Agus mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah. Di depan pintu aku kembali mengucapkan salam dan menunggu orang menghampiriku dan mempersilahkan aku masuk. Kali ini mas Den yang datang menghampiriku. Dia menjawab salamku kemudian mempersilahkan aku masuk. “Terima kasih mas, Radhi dan Raine mana?” Aku selalu menanyakan si kembar setiap kali datang ke rumah mas Den. “Mereka di kamar, masuk saja.” Jawab Mas Den. Belum sempat aku masuk ke dalam kamarnya si kembar justru datang menghampiriku. Kami semua sudah siap pergi ke makam Anin, karena mobil mas Den kecil sehingga tidak bisa memuat kami semua akhirnya aku menawarkan diri untuk menggunakan mobilku, mas Den menyetujuinya. Aku memberikan kunci mobil karena mas Den yang akan mengendarai mobilku, Raine dan Ibu mempersilahkan aku duduk di samping mas Den tapi aku menolak dan mempersilahkan Bapak untuk duduk di kursi depan. Fitri yang ikut tidak berkomentar, dari awal dia tidak suka ketika mengetahui bahwa aku akan ikut bersama mereka ke pemakaman Anin. Aku mempersilahkan Ibu dan Fitri duduk di kursi tengah sedangkan aku memilih duduk di kursi belakang, awalnya Ibu melarangku karena tidak sepantasnya aku sebagai pemilik mobil malah duduk di belakang tapi aku mengatakan bahwa tidak masalah buatku. Melihat aku yang duduk di kursi belakang membuat Radhi dan Raine ingin ikut duduk bersama denganku, alhasil kami bertiga duduk di bagian belakang mobil. Di dalam mobil aku dan si kembar bercanda gurau, mobil terdengar ramai karena tawa Radhi dan Raine. Ibu ikut bahagia melihat cucu-cucunya tertawa lepas, aku perhatikan sesekali mas Den melihat kearah aku dan si kembar dari spion mobil. Mas Den terus melajukan mobilku dengan hati-hati, mungkin dia merasa sungkan karena mobil ini bukan miliknya, sesekali Bapak berbincang dengan Den, mereka membahas tentang jalanan Jakarta yang selalu padat berbeda dengan Solo yang lebih senggang. Di kursi tengah justru tidak terdengar suara, Fitri lebih banyak diam sehingga Ibu juga tidak tahu harus membicarakan apa dengannya. Akhirnya kami tiba di pemakaman, Den memarkirkan mobil tak jauh dari pintu masuk pemakanan, suasana tampak sepi terlihat hanya ada dua mobil lain yang terparkir. Kami semua turun dari mobil tapi karena tadi sempat hujan membuat jalanan sedikit licin dan becek. Raine langsung meminta Ayahnya untuk menggendongnya, Radhi yang melihat adiknya digendong menginginkan hal yang sama. Bapak menawarkan diri untuk menggendong Radhi tapi dia menolak. Radhi memintaku untuk menggendongnya, mas Den dan Bapak yang mendengarkan permintaan Radhi berusaha merayu agar Radhi mau digendong Bapak tapi Radhi tetap menolak dan tetap menginginkan agar aku yang menggendongnya, sebenarnya dari awal aku tidak keberatan tapi mereka merasa tidak tega padaku karena tubuhku yang kecil harus menggendong Radhi yang tubuhnya mulai membesar sehingga pasti tubuh Radhi terasa berat jika digendong olehku. Aku berjalan perlahan mengikuti langkah mas Den. “Di, pelan-pelan jalanan licin.” Ucap mas Den. Bapak menggandeng Ibu karena takut Ibu terjatuh sedangkan Fitri berjalan sendiri di belakang Bapak dan Ibu. Mas Den langsung memintaku berjalan mendahuluinya, kini mas Den dan Raine yang berada di bagian paling belakang. Sampai juga kami di makam Anin, Bapak langsung memimpin kami untuk mendoakan Anin dan janin dalam kandunganya. Setelah berdoa kami langsung menaburkan bunga untuk Anin dan anaknya, Radhi dan Raine ikut menaburkan bunga untuk Bunda mereka. Ini kali ketiga aku mengunjungi makan Anin, saat pertama kali Anin dikuburkan, kedua kalinya saat pikiranku sedang kacau ketika Fitri memintaku menjauhi mas Den dan si kembar, sekarang ketiga kalinya aku datang bersama keluarga mas Den dan Fitri. “Anin, kali ini aku datang bersama keluargamu. Aku masih berusaha menepati janjiku padamu untuk selalu ada bersama si kembar tapi jika sesuatu terjadi dan mengharuskan aku harus menjaga jarak dengan mereka aku harap kamu tidak membenciku, aku harap kamu memaklumi keputusan yang akan aku ambil nanti, tapi apapun yang terjadi kamu pasti tahu di lubuk hatiku aku sangat menyayangi si kembar. Aku berdoa semoga kamu tenang disana dan berada di tempat terbaik.” Aku berbicara dalam hati sambil terus menggendong Radhi. Di sisi lain mas Den terus mengelus nisan Anin, dia memandang makam Anin dan berbicara dalam hati. “Anin, hari ini aku datang bersama anak-anak kita dan orang tuaku, ada Fitri dan Diandra juga. Besok adalah hari ulang tahun Radhi dan Raine, ini tahun pertama mereka merayakan ulang tahun tanpa kamu. Aku berharap aku bisa membesarkan mereka dengan baik seperti pesanmu dalam surat yang kamu tulis. Anin orang tuamu merencanakan perjodohan aku dan Fitri tapi sejujurnya aku tidak bisa menerima perjodohan itu dan berniat menolaknya, semoga kamu memaklumi keputusanku. Diandra menepati janjinya padamu, dia selalu ada disisi Radhi dan Raine saat mereka meminta, tapi permintaanmu untuk menjadikan Diandra sebagai istriku, aku masih belum bisa mengambil keputusan karena sejujurnya aku belum bisa membiarkan orang lain masuk kedalam hatiku untuk menggantikan posisi kamu.” Den mengutarakan semua isi hatinya di depan makam Anin. Ibu dan Fitri yang berdiri beriringan juga mengutarakan isi hati mereka di dapan makan Anin. “Anin, terima kasih kamu sudah menjadi menantu yang baik untuk kami, terima kasih karena kamu memberikan Ibu kado terindah dengan melahirkan Radhi dan Raine, kamu perempuan hebat jadi wajar jika Den tidak mudah melupakanmu tapi Ibu pikir Den harus memiliki pendamping hidup yang bisa menemani dia dikala suka dan duka. Keluarga kamu berniat menjodohkan Den dan Fitri tapi entah kenapa Ibu kurang sependapat dengan rencana itu, Ibu lebih setuju jika Diandra yang menjadi Ibu sambung bagi anak-anakmu tapi Ibu menyerahkan semua keputusan pada Den, apapun keputusannya nanti Ibu harap kamu setuju dan kamu dapat melihat mereka bahagia dari atas sana.” Ucap Ibu dalam hati. “Mbak Anin, Pipit datang. Maaf saat pemakaman kamu aku tidak bisa datang. Aku harap kamu tenang disana, mbak mungkin kamu tidak menyadarinya kalau dari awal aku melihat suamimu aku telah jatuh cinta padanya tapi seberapa besar usahaku saat itu tidak mungkin bagiku untuk memiliki mas Den. Takdir Tuhan menjawabnya mba, kamu pergi meninggalkan mas Den dan aku harap bisa menggantikan posisi kamu di hatinya. Aku berharap kamu setuju dengan rencana perjodohan aku dan dia ya mba.” Ucap Fitri dalam hati. Kami semua tersadar saat mendengar suara Raine berbicara lantang di depan makam bundanya. “Bunda, apa kabar? Bunda baik kan? Kata Ayah Bunda sudah bahagia di rumah Bunda yang baru. Raine dan Kakak tidak pernah bertengkar seperti kata Bunda. Besok hari ulang tahun ade dan Kakak, kata nenek nanti akan ada acara ulang tahun di sekolah kami, aku senang sekali Bunda.” Ucap Raine polos. Sementara Radhi yang masih di gendonganku tidak mengatakan sepatah katapun. “Ada yang mau Radhi katakan pada Bunda?” Ucapku. Radhi menggelengkan kepalanya, kemudian membenamkan wajahnya ke pundakku. Aku tahu dia menahan tangis, mungkin dia merasa kangen pada Bundanya, aku mengelus lembut kepala Radhi. Setelah merasa cukup kami kembali ke parkiran dan kembali masuk ke dalam mobil dengan formasi yang sama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN