BAB 5

1136 Kata
Esok harinya, disaat Kiara sedang fokus belajar di kelas, dengan dosen yang tengah menjelaskan di depan. Akan tetapi, Kia menjadi tidak fokis dengan ponselnya yang terus bergetar, mendapat telepon dari orang yang tak dikenalnya. Hal itu membuat Kiara kesal dan lalu memilih menonaktifkan teleponnya, namun Kiara justru mendapat masalah dengan dosen yang marah padanya, seolah Kiara tidak memperhatikan dirinya yang tengah menjelaskan di depan. Diana melihat itu pun heran, karena Kiara tidak pernah sampai tidak fokus dengan pelajaran yang diikuti olehnya. Sampai kelas selesai, Diana menghampiri Kiara. “Ada apa, kau tidak biasa seperti ini, Kia?” tanya Diana. Kiara mengedikkan bahunya dan lalu memperlihatkan ponselnya yang kembali bergetar, sebuah telepon masuk dari nomor yang tak dikenal, setelah Kiara kembali mengaktifkan ponselnya. “Wah, siapa dia, fans barumu? selain Jhonny?” tebak Diana. “Entahlah, yang jelas aku sangat kesal dengan dia yang terus menelpon, bahkan aku heran, dari mana dia mendapat nomor ponselku!” kesal Kiara menatap ponselnya yang terus bergetar. “Benar juga, tidak banyak yang mengetahui nomormu, dan kau jangan curiga padaku ya, aku tidak pernah memberikan nomormu pada yang lain, bahkan juga Jhonny, aku akan berikan jika kau memberikan izin.” Diana tidak ingin Kiara mencurigainya, karena memang dia tidak pernah bertindak seenaknya perihal hal pribadi dari temannya itu. “Dan itu bukan nomor yang aku kenal, di ponselku pun tidak ada, aku penasaran siapa dia, angkatlah!” pinta Diana pada Kiara. Kiara menggelengkan kepalanya,” biarkan saja, mungkin nanti dia akan bosan!” Diana pun mengangguk tidak mau memaksa Kiara, “beberapa bulan lagi, kau akan segera menyelesaikan kuliahmu, aku akan sendiri lagi di sini.” “Temanmu bukan hanya aku, Di.” “Kita satu negara dan kau orang yang tidak pernah terganggu dengan kebiasaanku. Ah, aku mungkin satu tahun lagi baru bisa selesai.” Diana menatap Kiara yang kembali terdiam dan bahkan Kiara terlihat memilih membuka buku novelnya. Ada hal yang ingin Diana ketahui dari Kiara, karena Kiara adalah wanita yang sangat tertutup seolah banyak menyimpan rahasia, dan Diana melihat Kiara yang seolah menyimpan kesedihan yang tak pernah diungkit kembali olehnya. “Aku penasaran, mengapa kamu berhenti kuliah dan kembali meneruskan di negara ini? Sory aku bertanya, karena aku melihatmu saat datang, sangat terlihat berbeda dari sekarang, aku pikir kamu mengalami hal yang buruk?” tanya Diana. Pertanyaan Kiara seolah membuatnya kembali teringat hari dimana ia sangat kecewa dan sakit hati, namun Kiara memilih tetap diam, tidak mau bercerita pada Diana, karena itu hanya akan membuatnya kembali merasakan sakit dihatinya. “Baiklah, jika kau tetap diam, aku anggap kau memang sedang menyimpan sebuah masalah. Cerita lah padaku, jika kau ingin meluapkan semuanya, aku akan bersedia menjadi pendengar yang baik. Ah ya, jika kau sudah mendapat gelar S1. Apa kau akan bekerja disini atau kembali ke Indonesia?” “Aku tidak tahu,” jawab Kiara singkat. Kiara memang belum merencanakan apa yang akan ia lakukan setelah wisuda, akankah kembali ke negaranya, dan apakah ia sudah siap jika kembali bertemu dengan dua orang yang sangat ia benci. Kiara tidak tahu, namun yang jelas Kiara merasa dirinya harus bisa menghadapi semuanya dan jangan pernah lagi lari dari masalah lagi, karena kenyataannya justru ia malah terus mengingat hal yang menyakitkan tersebut. Kiara tidak mau, bayang-bayang kepahitan dalam hidupnya, terus menghantui dirinya, hingga ia tidak berani mengambil langkah apapun untuk hidupnya, karena takut akan tersakiti kembali. “Menurutmu, apa di dunia masih ada orang yang bisa kita percaya, menjaga ketulusan dari yang sudah atau akan kita berikan?” tanya Kiara tiba-tiba pada Diana. “Hemm … Mungkin ada, karena tidak semua manusia jahat,” ucap Diana. Kiara terdiam, benar apa yang dikatakan oleh Diana tidak semua orang itu jahat, namun Kiara masih perlu waktu untuk bisa kembali membuka hatinya. Bukan karena ia masih menyimpan cinta pada Daren, tapi karena ia takut akan kembali tersakiti. “Haish, ada apa dengan orang-orang itu, sangat berisik sekali di luar sana!” kesal Diana melihat ke arah luar kelas yang tampak sangat bising. “Kia, ternyata kau menolakku, karena kau sudah mendapatkan pria yang lebih kaya dariku.” Jhonny tiba-tiba datang dan berteriak pada Kiara, seolah meluapkan kekesalannya, karena Kiara selalu menolaknya tanpa alasan, dan kini ia seolah mengetahui alasan yang selama ini tidak Kira katakan. “Apa maksudmu, Jhon?” tanya Diana heran. Kia mendapatkan Pria yang jauh lebih kaya? “Ah, ternyata temannya pun tidak tahu akan hal ini, tidak heran karena kau sangat pendiam, Kiara.” Kiara, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jhon. Karena ia masih sendiri saat ini, tidak sedang berpacaran dengan siapapun. Lalu mengapa Jhonny bisa berpikir seperti itu? Sama halnya dengan Diana yang juga tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Jhonny, ia tahu Kiara seperti apa dan bagaimana, yang tidak memiliki kekasih atau pria yang dekat dengan temannya. “Hey, mengapa wanita sepertimu bisa membuatnya tertarik. Sampai membuat asistennya datang kemari, menyebalkan!” ketus seorang wanita yang berdiri di samping Jhonny. “Apa! Hey … Hey, aku benar-benar tidak mengerti, apa maksud kalian?!” tanya Diana dengan kesal karena mereka seolah menyalahkan Kiara. Bahkan mungkin berpikir Kiara bukan wanita yang baik seperti yang mereka pikirkan sebelumnya. Kiara pun berdiri dari duduknya, ia cukup kesal dengan semua pembicaraan di kelas, bahkan juga tidak mengerti, hingga mereka berpikir jika dia lebih memilih pria yang lebih kaya dari Jhonny. Siapa yang dia pilih? Bahkan ia masih sendiri sampai saat ini. Pikirnya kesal. “Aku tidak tahu apa yang kalian katakan dan aku juga tidak merasa harus menjelaskan apapun pada kalian! Jadi, silahkan pikirkan apapun tentangku. Aku Tidak peduli!” pekik Kiara dan lekas pergi meninggalkan kelas yang lalu diikuti oleh Diana di belakangnya. Kiara bergegas pergi meninggalkan kampus, perasaan dan pikirannya kembali kacau setelah mengingat masa lalu dan kedatangan Jhonny yang berpikir aneh tentangnya. Hingga ia sampai di depan kampus, ia dihadang oleh seorang wanita yang pernah menemuinya saat di Cafe, Connie. Connie dan Kiara kini berhadapan, dengan wajah sinis Connie menatap Kiara dari atas hingga bawah, dan hal itu membuat Kiara risih. “Aku tidak tahu, mengapa aku harus datang lagi padamu, dan memintamu sekarang agar kau ikut denganku, untuk bertemu dengan Tuan Xavier,” ucap Connie yang membuat Diana terkejut. “Aku tidak meminta hal itu dan aku kembali menolak ajakanmu,” seru Kiara dan memilih pergi dari hadapan Connie namun Connie kembali mencegahnya. “Apa kau bodoh, kau menolak Tuan Xavier! dan, jika kau menolak, kau pun akan mendapat hukuman!” “Hukuman?” “Ya, ku bisa saja di usir dari negara ini!” balas Connie dengan melipat kedua tangannya di d**a. Kiara berdecak kesal, siapa Xavier sebenarnya sampai berani melakukan hal itu, CEO arogan dan sombong, ia kira itu hanyalah ada di novel. Pikirnya. “Lakukan saja, aku akan lihat seberapa arogannya Tuanmu itu!” ucap Kiara yang kini benar-benar pergi dari hadapan Connie.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN