Pamit (Ajeng's POV)

1548 Kata

Aku tidak tahu apa yang sudah mas Barga katakan pada mas Adit, tapi yang pasti adalah sejak hari itu mas Adit tidak lagi menghubungiku setelah tekadnya yang bulat dengan mengatakan kalau dia akan merebutnya dari mas Barga. Aku cukup penasaran, tapi tidak berani untuk menanyakannya pada mas Barga. Hubunganku dengan mas Barga semakin dekat. Bahkan kaki mengaku kalau kami melanggar janji kita berdua. Seharusnya tidak bertemu, tapi mas Barga malah datang ke rumah seminggu sekali untuk mengantarku ke pasar. Pun juga dengannya yang memberikanku nafkah. Sudah seperti suami-istri pada umumnya, hanya saja berbeda rumah. Seminggu lagi, tepat dimana aku dan mas Barga mengucapkan janji itu. Janji untuk tidak bertemu selama satu tahun lamanya, akan berakhir. Dan ya, tidak ada alasan lain lagi untukk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN