Disa melangkah di belakang Adrian keluar dari unit apartemen. Suara pintu tertutup perlahan memantul di lorong panjang itu. Mereka berjalan berdampingan, tak banyak kata, hanya suara langkah kaki mereka yang beradu dengan lantai marmer dingin. Disa merapikan ujung blus putihnya yang jatuh manis di pinggul, celana jeans hitamnya senada dengan warna sepatu flat simpel yang dipakainya. Sementara di sebelahnya, Adrian tampak seperti biasa, tapi tetap saja kelihatan lebih rapi—dengan kemeja putih lengannya yang digulung ke siku, kancing atas dibiarkan terbuka, memberi kesan santai. Mereka menunggu lift dalam diam. Tak lama, pintu lift terbuka dan mereka masuk. Disa berdiri di sisi berlawanan, memandang ke arah pantulan kaca di dinding lift. Rasanya aneh… dirinya dan Adrian… senada… kayak… pasa

