Christine dan teman-temannya sudah sampai di tempat tujuan. Tanpa rasa takut sepikit pun lima gadis itu mulai melancarkan aksinya untuk menyerang. Perlahan tapi pasti, berjalan mengendap-endap dengan pistol di genggaman masing-masing. Saat suasana mulai menunjukkan untuk di serang, tiba-tiba Christine menabrak sesuatu di belakangnya.
" Siapa di sana?" tanya seorang
" Chris lari dari sana cepat" pinta Queenzie sedikit berbisik
Sebelum melangkah jauh tangan Christine di tarik oleh seorang dari belakang. Tanpa pikir panjang, gadis itu melayangkan serangan pada lelaki berpakaian serba hitam itu. Gerakan cepat Christine membuat orang itu kualahan dan ambruk seketika.
" Wah Chris serangan yang cukup baik" puji Caroline
" Permainan yang kalian buat belum selesai cantik" ucap seseorang dengan seringai di wajahnya
" Baik jika itu yang kau mau. Ayo hajar dia" pinta Christine
Lima gadis tangguh ini memulai pertarungan mereka. Satu persatu lawannya mulai jatuh. Tapi tidak sampai di situ, masih ada banyak orang lagi yang datang. Dengan gerakan cepat Shallya menekan tombol yang ada di sabuknya. Dan beberapa orang datang untuk membantu. Tapi sayang lawan mereka terlalu banyak Lima belas mafia yang di bawanya kali ini kalah. Christina dan Caroline sudah di tangkap oleh dua orang lelaki berbadan kekar.
" Bawa mereka" pinta seorang lelaki yang memakai masker
" Hei pecundang, buka masker mu aku ingin tau lelaki pecundang yang membuat Daddy ku sakit" ujar Christine yang terus meronta
" Wah ternyata kau adalah Christine, putri tunggal tuan Dewari. Kau benar-benar cantik" pujinya
" Lepaskan aku b******k" tinta Christine
" Wah mulut kecilmu ini sangat pedas ternyata, aku jadi ingin mencicipinya"
Tanpa menunggu lama lelaki itu mencium bibir mungil Christine dengan panas. Sedangkan Christine terus meronta, karena di cium lelaki b******k itu.
" Ternyata bibirmu sangat manis dan membuatku kecanduan sayang" kata lelaki itu sambil mengusap lembut bibir Christine
" b******k jangan sentuh aku dengan tangan motormu itu" teriak Christine
" Astaga pasti senang bisa b******a denganmu, kau sangat kuat. Apa suamimu selalu puas dengan servic yang kau berikan?" Ucap lelaki itu tepat di depan wajah Christine
Christine yang merasa jijik langsung meludahi wajahnya. Dan mengumpat dengan keras, yang sukses membuat lelaki itu marah. Hingga tamparan keras mendarat di pipi mulusnya.
Di ruangan lain dua teman Christine juga di sekap, sedangkan Queenzie dan Shallya melakukan aksi mereka untuk membebaskan Jade dan Caroline. Satu persatu penjaga mereka kalahkan dengan serangan diam-diam. Sampai mereka bisa membebaskan dua temannya.
" Ayo cepat, kita harus membantu Christine" ajak Shallya
" Ayo lewat sini" tutur Queenzie
***
Alexander sampai di tempat yang di maksud anak buahnya. Dia datang bersama empat temannya dan puluhan anak buah juga bodyguardnya. Setelah memberi arahan, mereka semua menyebar ke seluruh gedung itu.
" Aktifkan GPS kalian masing-masing" pinta Alexander
" Siap" jawab temannya serempak
Dengan langkah perlahan mereka memasuki tempat itu. Dan mencari keberadaan Christine juga teman-temannya. Tanpa sengaja Joshua menabrak seseorang. Saat akan melayangkan pukulan dia menghentikan itu karena seorang gadis cantik itu tengah mengarahkan pistol ke arahnya.
" Shallya jangan" larang Caroline
" Dia teman Alexander suami Christine" lanjutnya
" Alexander, bagaimana kau tau kami di sini?" tanya Jade
" Anak buah ku yang memberitahu, dan mana Christine?" tanya Alexander, karena istrinya tak ada
" Tadi kami dan orang-orang yang kami bawa kalah aku dan Jade sempat tertangkap, Christine juga, tapi dia belum kami selamatkan" jelas Caroline
" Baiklah ayo cari Christine sekarang" ajak Queenzie
Mereka mencari keberadaan Christine dengan sedikit kesulitan karena ada begitu banyak ruang. Dan pada akhirnya mereka mendengar teriakan Christine dari salah satu ruangan. Tanpa basa-basi Alexander mendobrak pintu yang ada di sana. Membuat semua orang yang ada di sana kaget akan hal itu.
" Chris" ucap Alexander lirih, melihat pipi Christine memerah seperti habis di tampar
" Wah wah suamimu datang juga ternyata" ucap lelaki itu dengan senyum miring
" Rio beraninya kau menyentuh istriku" geram Alexander marah
" Sudah jangan banyak bicara, kalian serang mereka" pinta Rio
Aksi pukul pun di mulai. Alexander cukup pintar dalam bela diri jadi dia tidak akan mudah di jatuhkan lawannya. Sama seperti empat teman Christine yang belum mendapatkan pukulan sama sekali. Tapi Justin dan Lucas sudah mendapat pukulan di wajah tampan mereka. Karena merasa anak buahnya kalah, Rio cepat-cepat membawa Christine kabur dari tempat itu.
" Alexander.. Alex tolong aku" teriak Christine yang di tarik paksa oleh Rio, dengan tangan yang masih terikat
Alexander langsung berlari mengikuti Rio yang membawa istrinya. Dan mereka menuju gedung paling atas.
"Berhenti di situ atau aku akan melempar istrimu ke bawah" ancam Rio, saat Alexander mendekat
" Rio jangan coba-coba mencelakai istriku atau aku akan menyiksamu sampai mati" gertak Alexander
" Aku tidak takut dengan siksaan apapun saat keluarga Dewari merasa hancur karena putri satu-satunya mati" tantang Rio
" Sebenarnya apa salah keluargaku padamu?" tanya Christine sedikit bingung
" Kau tau cantik, sebelum kau di perkenalkan dengan Alexander aku telah melamar mu pada orang yang sangat kau sayangi itu. Tapi dia menolak dan mengatakan kau telah di jodohkan dengan Alexander. Aku sangat hancur saat tau kau akan menikah dengan teman kecilku sendiri. Lalu pada akhirnya aku akan membuat keluarga kesayanganmu mati satu persatu" jelas Rio sambil terus membawa Christine menuju pinggir gedung
" Jika aku tidak bisa mendapatkan dirimu maka Alexander juga tidak. Jadi lebih baik kau mati saja" lanjut Rio
" Rio jangan berani-berani membahayakan istriku" pekik Alexander
" Kau ini banyak bicara, kalau begitu matilah juga" kata Rio geram sambil mengarahkan pistol pada Alexander
Dorrrr...
Suara tembakan terdengar nyaring di telinga Christine. Seketika membuat matanya terpejam, tak mau melihat yang telah terjadi.
Bukkk
Alexander terjatuh, karena ada yang mendorongnya dari belakang. Ternyata itu Shallya salah satu teman Christine.
Dorrrr... dorrrr....
Suara tembakan kain juga terdengar nyaring disana. Dan itu adalah Queenzie yang menembak tangan dan kaki Rio dari belakang Maxie. Christine langsung mengambil pistol yang terjauh dari tangan rio, dan berlari ke pelukan suaminya.
" Sialan kau Alexander" maki Rio
" Kalian bawa dia pastikan dia mendapat hukuman karena telah berani menyentuh istriku" tutur Alexander pada anak buahnya
***
Alexander pun membawa Christine pulang dan di ikuti teman-temannya juga teman Christine. Di dalam mobil Alexander terus memeluk istrinya yang sangat keras kepala ini. Perasaannya yang tadi khawatir sekarang hilang saat sang istri sudah ada di pelukannya. Sesampainya di mansion Christine baru sadar ada darah yang mengalir di lengan kanan suaminya.
" Alex kau terluka" kata Christine dengan suara sedikit bergetar
" Tidak apa ini hanya tergores peluru tadi" ucap Alexander santai
" Ehem, apa kalian lupa kami bertamu kemari?" Sindir Justin
" Baiklah maaf, ayo masuk" ajak Christine
Christine sudah kembali ke ruang tamu menemui teman-teman mereka. Sedangkan Alexander masih berada dikamar bersama dokter. Teman-temannya tampak sudah sangat akrab dengan teman-teman suaminya. Mereka bahkan sudah tertawa nyaring saat salah satunya di ejek.
" Oh iya Queenzie kau dan Shallya tadi begitu sigap, seperti sudah biasa seperti dalam kondisi tadi, bahkan trik dan kecepatan kalian dalam melumpuhkan lawan hampir sama dengan mafia " puji Justin
" Hahaha.. Just mereka memang mafia" ucapan Caroline dengan tawa nyaring
" Benarkah?" tanya empat lelaki itu, oh lima karena Alexander sekarang sudah duduk di sebelah Christine
" Ya kami berdua keturunan mafia, orang tua ku adalah mafia terbesar di Amerika" jawab Queenzie
" Sedangkan orang tua ku mafia terbesar di Jepang" lanjut Shallya
Lima lelaki itu tampak sangat kaget, pasalnya dua gadis itu tampak manis dan anggun. Tapi ternyata mereka mafia muda yang memiliki seribu wajah. Sampai-sampai mereka semua bisa tertipu dengan mudahnya.
" Sudahlah jangan kaget seperti itu, lagi pula mereka cukup manis pada pasangannya, jika kalian tertarik" goda Caroline
" Chris aku harus pulang, mom dan dad akan kembali dari China. Jika mereka tidak melihatku di rumah, bisa-bisa aku di kirim ke China lagi" ucap Jade
" Aku juga harus pulang" pamit Caroline
" Kami juga harus pulang dude" pamit teman-teman Alexander
" Baiklah hati-hati, terimakasih atas bantuan kalian" ucap Alexander tulus
Queenzie dan Shallya menginap di mansion Christine dan Alexander. Karena mereka baru sampai tadi sebelum ke markas Rio. Jadi tidak sempat mencari hotel.
Jade dan Caroline sudah menaiki motor mereka untuk pulang. Begitu juga empat lelaki itu yang sudah siap dengan mobil masing-masing.
Image
Image
" Caroline hati-hati di jalan" ucap Justin lalu menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Alexander dan Christine
Caroline hanya diam, lalu tersenyum saat Justin sudah menghilang dari hadapannya. Sedangkan Jade terus menggodanya. Membuat pipinya memerah, karena malu.
***
Christine sedang menaruh pistol yang di bawanya tadi di laci tempat dandannya. Tiba-tiba ada tangan kekar memeluk pinggangnya dengan erat. Membuatnya sangat kaget, karena pelukan itu sangat tiba-tiba.
" Jangan pernah melakukan hal bodoh lagi Chris" bisik Alexander di telinga Christine
" Aku hanya ingin membalas orang yang berani membuat dad ku sakit" jawab Christine lirih
" Ini sebabnya aku tidak memberi tau padamu, siapa yang menyebabkan dad sakit. Karena kau itu sangat keras kepala, dan tidak pernah mau mendengar orang lain. Sebenarnya aku sudah membuat rencana. Tapi istriku sudah mendahului anak buahku" jelas Alexander
" Terimakasih Alex kau datang di waktu yang tepat tadi" ucap Christine lembut
" Sekarang tidurlah, ini sudah malam" pinta Alexander
Christine mengikuti Alexander yang sudah menaiki ranjang, lalu mulai tertidur dengan menghadap suaminya. Hal yang tak pernah dia lakukan selama ini.
Pagi-pagi sekali Christine bangun dan segera membersihkan diri sebelum turun ke dapur untuk membuatkan sarapan. Selesai mandi dan berias seadanya dia turun ke dapur dan membuat beberapa makanan kesukaan Alexander juga dua sahabatnya. Saat semuanya sudah masak ia kembali naik ke lantai dua dengan membawa muk berisi air hangat, guna mengompres luka pada lengan suaminya.
" Alexander ini sudah pagi ayo bangun " panggil Christine dengan lembut
" Ummhh lima menit lagi " jawab Alexander tanpa membuka matanya
" Alexander bangun cepat, aku sudah membuat sarapan untuk mu " kali ini Christine langsung menarik selimut agar suaminya bangun
" Benarkah kau memasak untuk ku ?" Tanya Alexander tidak percaya
" Hem, ayo buka bajumu "
" Untuk apa aku membuka baju, apa kau ingin melakukan itu ? Ini masih pagi Christine bisakah kau singkirkan keinginan kotor mu itu " cerocos Alexander
Lelaki ini tidak biasanya bersikap seperti ini apalagi di pagi hari. Dan apa katanya pikiran kotor Christine, hei bung kau yang berpikiran kotor lalu mengapa menyalahkan istrimu.
" Aku hanya akan mengompres luka mu, dan yang berpikiran kotor itu kau bukan aku " sahut Christine mulai jengkel
Alexander pun membuka kaos panjangnya dah menyisakan kaos pendek. Kemudian Christine mulai membuka perban suaminya dengan sangat telaten, lalu mulai mengompres luka pada lengan Alexander. Selama Christine mengompres dan mengobati lukanya Alexander terus menatap dalam istrinya dengan senyum lembut. Padahal mereka tidak pernah akur dan mengapa sekarang tiba-tiba saling berbuat manis. Mungkin karena kejadian semalam mereka jadi merasa menjadi lebih dekat.
" Sudah, ayo sarapan " ajak Christine setelah membalut kembali luka di lengan Alexander
Sraaakk
Alexander menarik Christine kuat hingga berada dalam pelukannya dan mencium bibir istrinya dengan lembut. Biasanya Christine selalu memberontak saat di cium apalagi secara tiba-tiba seperti ini, tapi kali ini tubuhnya terasa kaku dan menikmati ciuman Alexander. Hingga beberapa menit keduanya mulai kehabisan napas dan menghentikan acara ciuman itu. Meskipun ada sedikit rasa tidak rela untuk melepas bibir manis istrinya, Alexander tetap melepasnya.
" Ciuman itu untuk membersihkan bekas dari Rio, kau tau kan aku tak suka jika ada yang menyentuh milikku, apalagi dirimu " jelas Alexander saat Christine akan mengeluarkan protes
" Sudahlah ayo makan aku sudah sangat lapar, karena kemarin aku tidak makan sejak siang kau tau " lanjutnya guna menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba saja muncul
" Ya baiklah ayo sarapan, kau bebas makan sebanyak apapun tuan doyan makan " ajak christiane dengan sedikit menyindir Alexander yang sangat doyan makan
Mendapatkan sindiran seperti itu Alexander malah tersenyum dan mengekori Christine untuk pergi ke ruang makan. Disana sudah ada dua gadis cantik duduk menanti tuan rumah yang tak kunjung datang untuk sarapan.