bc

"Bos Gesrek & Sekretaris Galak"

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
HE
age gap
curse
kickass heroine
boss
drama
bxg
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Bram (ayah Raka) akan menentang gaya kepemimpinan anaknya dan nggak percaya Aruna bisa jadi pasangan atau partner kerja yang tepat untuk anaknya.Sutrisno (ayah Aruna) awalnya nggak suka kalau Aruna dekat dengan bos kaya, takut anaknya dipermainkan.Ibu mereka masing-masing justru lebih mendukung diam-diam, karena bisa lihat kalau mereka saling melengkapi.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 – Interview Kacau Balau
atar Belakang Karakter 🕶️ Raka Adinata (CEO Gesrek) Umur: 29 tahun Kepribadian: santai, humoris, cerdas tapi sering bertingkah nyeleneh. Suka bikin orang sekitar emosi karena sikapnya yang nggak bisa serius di situasi formal. Latar belakang keluarga: Anak tunggal dari keluarga kaya raya pemilik Adinata Group, perusahaan besar yang bergerak di properti & investasi. Ayahnya, Bram Adinata, adalah pengusaha serius, disiplin, dingin, dan selalu menganggap Raka terlalu "bercanda" untuk jadi penerus. Ibunya, Ratna Kusumawati, lebih lembut, penuh kasih sayang, tapi sering menutup mata terhadap kenakalan anaknya. Ratna selalu jadi penengah antara suami dan anak. --- 👓 Aruna Pramesti (Sekretaris Galak) Umur: 26 tahun Kepribadian: disiplin, perfeksionis, tegas, dan kadang terlalu galak. Sering dianggap "killer" oleh karyawan lain. Latar belakang keluarga: Anak kedua dari tiga bersaudara, keluarga sederhana. Ayahnya, Sutrisno Pramesti, adalah pensiunan PNS yang keras dalam mendidik. Ibunya, Sri Wahyuni, ibu rumah tangga yang sederhana dan sangat sayang pada anak-anaknya, tapi sering mengkhawatirkan Aruna karena sifatnya terlalu "kaku". Kakak pertamanya sudah menikah, adiknya masih kuliah. Aruna jadi tulang punggung keluarga setelah ayah pensiun, karena gajinya sebagai sekretaris eksekutif lumayan besar. ------------ Ruang rapat lantai 25 gedung Adinata Group sore itu sunyi. Meja panjang dari kayu mahoni memantulkan cahaya lampu gantung modern yang berkilau, kursi-kursi kulit hitam tertata rapi, dan aroma kopi baru saja diseduh masih menggantung di udara. Di ujung meja, seorang wanita berusia 26 tahun duduk dengan punggung tegak sempurna. Jas hitam rapi membungkus tubuhnya, kemeja putih tanpa lipatan seolah baru saja dipres, dan kacamata bulat mempertegas sorot matanya yang tajam. Dialah Aruna Pramesti, sekretaris senior yang sudah dikenal seantero perusahaan sebagai “Sekretaris Galak.” Tidak ada satu pun karyawan yang berani main-main di hadapannya. Kalau ada pegawai telat lima menit, ia akan langsung menatap dengan dingin, lalu berkata datar tapi menusuk: “Kalau Anda tidak bisa menghargai waktu, bagaimana bisa saya percaya Anda bisa menghargai pekerjaan?” Singkat, tajam, dan membuat siapa pun ingin masuk ke lubang semut. Hari ini, ia ditugaskan untuk melakukan interview terakhir bagi calon CEO baru. Sebenarnya, bagi Aruna, tugas ini aneh. CEO kan biasanya ditentukan langsung oleh dewan direksi. Tapi entah kenapa, Dewan meminta Aruna ikut melakukan “penilaian awal.” Katanya, siapa pun yang bisa lolos dari Aruna, pasti sanggup menghadapi kerasnya dunia bisnis. Aruna mendengus pelan. Dasar Dewan, suka bercanda. Memangnya saya apa? Tembok penyaring calon bos? Belum sempat ia meneguk kopi, pintu ruang rapat terbuka dengan suara kreeet panjang. Dari balik pintu, muncul seorang pria yang membuat Aruna seketika membeku. Pria itu… datang dengan kemeja putih setengah keluar dari celana bahan hitamnya, dasi kusut menggantung tak jelas, dan—oh, Tuhan—sepatu? Tidak. Dia memakai sandal jepit. Aruna hampir tersedak kopi. Pria itu berjalan santai, seolah sedang masuk warung bakso, bukan ruang rapat perusahaan miliaran rupiah. Rambutnya agak berantakan, senyumnya lebar, dan matanya berbinar penuh rasa percaya diri. Ia menutup pintu, lalu melangkah ke meja dengan gaya seenaknya. “Hei, sore. Ini ruang interview, kan?” tanyanya sambil nyengir. Aruna meletakkan cangkir kopinya perlahan. “Anda siapa?” “Nama saya Raka Adinata.” Aruna hampir terjatuh dari kursinya. Adinata? Jangan bilang… “Raka… Adinata?” ulangnya, ingin memastikan. Pria itu mengangguk, lalu duduk di kursi seberang meja. Ia menyandarkan tubuh, menyilangkan kaki—sandal jepitnya nyaris copot—dan dengan enteng berkata, “Betul. Calon CEO baru perusahaan ini. Jadi, apa kita mulai wawancaranya, Mbak Galak?” Aruna menatapnya lama. Ia bahkan sempat mengedipkan mata dua kali, seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru didengar. “Maksud Anda…” Suaranya turun satu oktaf, tajam. “Anda… adalah anak dari Pak Bram Adinata?” “Yup. Itu ayah saya.” Raka mengangguk santai. “Keren, kan? Jadi, sekarang giliran saya yang bakal ambil alih kursi CEO.” Aruna mendengus. “Dengan… sandal jepit?” Raka melirik kakinya sebentar, lalu terkekeh. “Ah, sepatu saya ketinggalan di mobil. Males balik. Lagi pula, saya pikir lebih baik kita nilai orang dari otaknya, bukan alas kakinya. Setuju, Mbak Galak?” “Mbak… Galak?” Aruna merasakan nadinya berdenyut di pelipis. Raka menyunggingkan senyum lebar, penuh kenakalan. “Iya, kan itu panggilan sayang buat Anda. Semua karyawan di bawah bisik-bisik nyebut begitu. Saya sih setuju. Aura galak Anda tuh kerasa banget.” Aruna menghela napas panjang, mencoba menahan diri untuk tidak melempar map wawancara ke wajah pria di depannya. “Baiklah, Pak Raka,” katanya akhirnya, berusaha kembali profesional. “Mari kita mulai interviewnya. Tolong jelaskan, apa visi Anda jika memimpin perusahaan ini?” Raka duduk lebih tegak, lalu mengangkat tangannya seperti orator hebat. “Visi saya sederhana. Saya ingin menjadikan kantor ini tempat yang… bahagia. Bukan cuma mesin uang, tapi rumah kedua. Orang masuk kerja dengan senyum, pulang kerja juga senyum. Semua orang nyaman, nggak takut dimarahin bos.” Aruna menatapnya datar. “Anda pikir perusahaan sebesar ini hanya taman bermain?” “Ya, kenapa tidak?” Raka mengangkat alis. “Kalau semua orang bahagia, produktivitas naik. Kalau produktivitas naik, keuntungan ikut naik. Sesederhana itu, Mbak Galak.” Aruna mencatat sesuatu di kertas. “Nama panggilan yang tidak pantas untuk atasan.” Raka terkekeh pelan. “Waduh, Anda bener-bener galak, ya. Serius banget hidupnya.” Aruna mengabaikan komentar itu. “Pertanyaan kedua: Bagaimana cara Anda menghadapi tekanan dari dewan direksi?” “Ah, gampang.” Raka mengangkat bahu. “Saya senyumin aja mereka. Orang kaku tuh biasanya butuh dicairkan dengan humor. Kalau masih ngotot, ya… saya lempar sandal.” Aruna menatapnya tajam. “Lempar… sandal?” Raka menunjuk sandalnya sambil nyengir. “Jepitnya lumayan lho, kalau kena kepala bisa langsung nurut.” Aruna memejamkan mata. Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis. Interview terus berlanjut dengan jawaban-jawaban absurd dari Raka. Tapi yang membuat Aruna makin bingung, meskipun kelihatannya seperti badut, pria ini sesekali melontarkan ide brilian yang terdengar sangat visioner. Misalnya, sistem kerja fleksibel, pemanfaatan teknologi untuk efisiensi, bahkan strategi ekspansi pasar ke generasi muda. Semua itu keluar begitu saja dari mulutnya, di sela-sela candaan konyol. Orang ini sebenarnya serius atau bercanda sih? batin Aruna. Setelah hampir satu jam, interview selesai. Aruna menutup mapnya, lalu menatap Raka lurus. “Baiklah, wawancara selesai. Terima kasih sudah datang.” Raka berdiri, merapikan kemejanya yang sebenarnya sudah tak bisa lebih berantakan lagi. “Sip. Jadi, kapan saya bisa masuk kerja?” Aruna mengernyit. “Apa maksud Anda?” “Lho, saya kan udah pasti jadi CEO.” Raka mengedipkan mata. “Interview ini cuma formalitas doang, kan?” Aruna tercekat. “Apa?” Tepat saat itu, pintu ruang rapat kembali terbuka. Masuklah seorang pria paruh baya dengan jas abu-abu rapi dan wajah dingin. Aruna langsung berdiri dan membungkuk hormat. “Pak Bram,” sapanya. Raka berbalik. “Ayah!” Bram Adinata menatap putranya dengan wajah dingin. “Raka. Apa-apaan penampilanmu? Ini ruang rapat, bukan pantai.” Raka hanya nyengir. “Ayolah, Ayah. Yang penting kan isi kepala saya, bukan isi kaki saya.” Bram menghela napas panjang, lalu menoleh pada Aruna. “Mulai hari ini, dia resmi menjabat CEO baru Adinata Group. Dan kau, Aruna, akan menjadi sekretaris pribadinya.” Aruna terbelalak. “Apa?!” Raka bersorak pelan. “Yes! Akhirnya punya partner Mbak Galak!” Bram menatap tajam ke arah putranya. “Tapi ingat, Raka. Kau boleh memimpin dengan gaya sesukamu. Namun jika dalam tiga bulan kau gagal mencapai target perusahaan, kau saya singkirkan. Paham?” Raka mengangkat jempol. “Siap, Ayah!” Aruna hanya bisa berdiri kaku, masih tidak percaya. Ia, seorang sekretaris disiplin yang hidupnya penuh aturan, kini harus bekerja langsung di bawah bos paling… gesrek yang pernah ia temui. Sementara Raka melangkah keluar sambil bersiul riang, Aruna menutup wajah dengan kedua tangannya. Ya Tuhan… cobaan apa ini… ---------- Lorong panjang kantor Adinata Group sore itu penuh bisik-bisik. Para karyawan yang biasanya sibuk menatap layar komputer, kini curi-curi pandang ke arah sosok pria yang berjalan santai dengan sandal jepitnya. “Eh, itu siapa? Kok bisa masuk lantai direksi?” bisik seorang resepsionis. “Katanya anaknya Pak Bram… calon CEO baru,” jawab temannya dengan wajah terkejut. “Serius? CEO? Tapi dia… pakai sandal jepit?” Raka yang mendengar bisik-bisik itu hanya melambaikan tangan seolah sedang di pasar. “Hai semua! Mulai hari ini saya jadi bos kalian. Jangan takut, saya bos baik hati. Gaji naik semua yaa!” Spontan, beberapa orang menahan tawa. Ada juga yang melongo, tak yakin apakah harus bertepuk tangan atau memanggil satpam. Aruna berjalan di belakangnya dengan wajah merah padam, separuh karena malu, separuh karena kesal. Astaga, ini kantor besar, bukan acara komedi. Kalau terus begini, reputasi perusahaan bisa jatuh! Setibanya di ruang kerja CEO—ruangan megah dengan kaca besar menghadap pemandangan Jakarta—Raka langsung menjatuhkan diri ke kursi empuk di balik meja besar. Ia memutar kursi 360 derajat dengan wajah girang. “Wuih, enak banget kursinya. Empuk! Kayak singgasana raja!” serunya. Aruna menutup pintu dengan cepat, lalu berjalan mendekat. “Pak Raka, mohon bersikap sedikit… profesional. Semua mata karyawan tertuju pada Anda. Penampilan Anda mencoreng wibawa perusahaan.” Raka menyandarkan kepala di kursi. “Profesional itu relatif, Mbak Galak. Ada yang merasa profesional itu harus kaku dan dingin. Ada juga yang merasa profesional itu artinya bisa membuat orang nyaman. Saya pilih yang kedua.” “Dengan sandal jepit?” Aruna mendesis. “Kenapa tidak? Bukankah Steve Jobs juga suka santai pakai turtleneck dan jeans? Bill Gates pun begitu. Yang penting kan otak dan visi.” Raka mengangkat bahu santai. Aruna menghela napas panjang. Ia merasa berbicara dengan tembok. Atau lebih tepatnya, dengan badut sirkus yang kebetulan punya perusahaan. Namun, sebelum ia bisa melanjutkan tegurannya, pintu kembali terbuka. Seorang staf HR masuk dengan gugup, membawa setumpuk dokumen. “P-permisi… selamat sore, Pak Raka. Ini dokumen-dokumen yang perlu ditandatangani sebagai administrasi CEO baru.” “Wah, banyak amat,” gumam Raka sambil membuka map. “Oke, kasih ke sekretaris pribadi saya. Dia yang urus.” Aruna menoleh tajam. “Sekretaris pribadi Anda?” Raka mengedipkan mata. “Ya, Anda, Mbak Galak. Ayah sudah bilang kan?” Staf HR menahan tawa kecil lalu cepat-cepat keluar agar tidak menjadi korban amarah Aruna. Aruna menarik napas dalam-dalam. “Baiklah. Mari kita atur agenda Anda sebagai CEO. Besok pagi ada rapat dengan jajaran direksi, jam sembilan tepat. Tolong, tolong sekali, datang dengan penampilan pantas.” Raka mengangkat dua jari. “Janji. Besok saya pakai sepatu. Tapi… boleh sneaker?” “Sepatu kulit!” Aruna menekankan. “Duh, kaku banget. Oke deh, sepatu kulit,” kata Raka sambil tertawa. Aruna menunduk menulis agenda di buku catatannya. Ya Tuhan, beri aku kesabaran menghadapi pria ini tiga bulan ke depan. *** Sore makin larut, gedung kantor mulai sepi. Aruna masih duduk di ruang kerjanya, menata dokumen dan memikirkan kejadian hari ini. Ia tidak pernah merasa setertekan ini bahkan saat menghadapi klien paling keras kepala. “Kenapa harus aku?” gumamnya. “Dari semua sekretaris di perusahaan, kenapa aku yang harus jadi babysitter badut itu?” Ingatan tentang keluarganya melintas. Ayahnya selalu berkata, “Aruna, kamu harus disiplin. Dunia ini keras. Kalau kamu lengah, kamu kalah.” Prinsip itu sudah menempel sejak kecil, membentuknya jadi wanita perfeksionis yang tidak memberi ruang pada kelalaian. Dan sekarang… ia harus bekerja sama dengan seorang bos yang hidupnya penuh kelalaian. Pintu ruangannya diketuk. Raka muncul dengan wajah ceria, masih dengan sandal jepitnya. “Mbak Galak—eh, maksud saya, Bu Sekretaris. Mau saya antar pulang?” katanya sambil tersenyum. Aruna mendongak tajam. “Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri.” “Yakin? Malam-malam gini rawan loh. Lagi pula, saya bawa mobil. Eh… walau agak berantakan sih isinya.” “Pak Raka,” potong Aruna, “mulai besok, tolong perlakukan pekerjaan ini dengan serius. Kalau Anda jatuh, saya juga kena imbasnya. Saya tidak ingin karier saya hancur karena kebodohan Anda.” Raka terdiam sejenak. Untuk pertama kali sepanjang hari, ia tidak tertawa atau menjawab dengan candaan. Senyum di wajahnya meredup, berganti ekspresi lebih tenang. “Mbak… saya tahu Anda pikir saya main-main. Tapi percayalah, saya tidak sebodoh kelihatannya. Saya punya alasan kenapa saya ingin memimpin dengan cara berbeda. Dan… mungkin, saya butuh orang kayak Anda buat menjaga saya tetap di jalur.” Aruna tertegun. Ada keseriusan di mata pria itu yang membuatnya bingung. Namun sesaat kemudian, Raka kembali tertawa kecil. “Tapi ya, jangan kaku-kaku amat lah. Hidup itu harus ada senyum, Mbak Galak.” Aruna menutup bukunya keras-keras. “Keluar, Pak. Saya masih banyak kerjaan.” Raka mengangkat tangan, pura-pura menyerah. “Siap, bos!” Ia melangkah keluar sambil bersiul riang, meninggalkan Aruna dengan kepala pening. Aruna menatap langit Jakarta yang mulai gelap dari balik jendela. Satu hal yang pasti, tiga bulan ke depan tidak akan mudah. Dan di dalam hatinya, meski enggan mengaku, ia sedikit penasaran… apa sebenarnya tujuan pria gesrek itu? ---

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook