Gestazh menghela napasnya dengan penuh sesal. Terlihat dari pancaran matanya yang tak bisa berpaling dari Rezka dengan tatapan yang seolah berkata, “Maafkan Daddy, Sayang.”
Rezka belum sadar. Setelah Gestazh memeriksanya ternyata Rezka mengalami cengklakan di area pinggangnya. Setauku, anak kecil berumur bawah lima tahun, jika mengalami pergeseran tulang walaupun tidak parah pasti akan berdampak menjadi demam tinggi. Itu setauku sih, oke baiklah aku hanya orang awam. Tau apa aku tentang hal begitu.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Aku menoleh kembali menatap Gestazh yang kini sedang mengumpat pelan dengan tangan yang tak henti memukuli kepalanya sendiri. Menyesal eh?
"Sudah jangan disesali. Toh semuanya sudah terjadi. Yang terpenting, jadikan sebagai pelajaran untuk kedepannya. Jika kekerasan itu bukan pintasan baik untuk mendidik anak." Gestazh tak menyahut ucapanku. Ah terserah lah, aku tak peduli. Yang pasti sekarang aku merasa nyaman memeluk Rezka seperti ini. Ayolah, Sayang, cepatlah bangun!
"Euhhmmm..." Lenguhan panjang Rezka membuat mataku membulat penuh binar. Ya Tuhan, terima kasih, akhirnya Rezka bangun.
"Sayang? Sudah bangun heronya, Daddy." Rezka yang mendengar suara berat Gestazh sontak membuka lebar matanya dan mengalungkan tangannya padaku. Dia mendongak dan meringis takut ketika Gestazh mendekatinya.
"Tante Leska takut. Ucil Daddy, Tante! Daddy-nya nakal cama Leska." Kenapa Rezka jadi takut ayahnya begini? Rasakan, Gestazh! Memangnya enak ditakuti anak sendiri.
"Sayang ini Daddy! Maafkan Daddy, Hero. Maafkan Daddy!" Gestazh mencoba meraih tubuh Rezka namun anak ini malah semakin mengeratkan tangannya di leherku.
"Hei, Daddy kan sudah minta maaf. Sakitnya yang mana, Sayang? Sini Daddy obati. Pinggangnya sakit?" Gestazh masih berusaha. Syukurlah, dia tak membaca pikiranku sekarang, mungkin karena dia tak konsentrasi dan hanya fokus pada anaknya.
"Daddy cana! Leska benci Daddy!" Racau Rezka dengan emosi.
"Tidak, sebelum hero memaafkan Daddy. Sayang, kemarilah! Tolong maafkan Daddy!" mohon Gestazh. Hal itu malah membuat Rezka menangis meraung-raung!
"Daddy jaat cama Leska. Tante ucil Daddy! Leska nggak auu liat Daddy! Daddy pelgi dali cini! Hikss hiks huhuhu Leska takut Daddy!" Tangisan anak ini semakin mengeras. Aku memberi isyarat tegas pada Gestazh untuk menjauh dulu sejenak. Ayolah, Gestazh!
"Hero___,"
"Gestazh! Kau mengerti maksudku kan?" Gestazh mundur perlahan. Kembali menuju sofa yang dibelakangi Rezka dan terduduk tak tenang di sana, Rezka tak menyadari jika ayahnya masih ada di sini.
Merenunglah, Pak Dokter!
"Kenapa, sayang? Kenapa tak mau sama Daddy?" tanyaku pada Rezka. Dia menyeka kasar air matanya dan mengecup pipiku singkat. Oh anak ini!
"Makacih, Tante! Jan lupa pukul Daddy campai mati!" Aku terkekeh pelan melihat wajah kaget Gestazh di belakang sana setelah Rezka berucap demikian.
"Kok dipukul? Nanti Daddy-nya marah lagi."
"Pokoknya hiks Leska benci Daddy! Maca Leska nggak boleh ketemu Mommy? Maca Leska dicubit tangannya. Telus Leska dibanting campai ada suala 'tlek' di pinggang Leska. Kan cakit. Daddy jaat, Tante. Leska takut hiks," ujar anak ini diiringi sisa-sisa tangisannya. Kutolehkan kembali pandanganku ke arah Gestazh. Ia membuka mulutnya tak percaya dan memukuli kembali kepalanya. Menampar dirinya berulang-ulang, seperti orang gila saja. Biarlah, aku tak peduli!
"Yasudah nanti tante pukul Daddy-nya ya? Rezka nggak marah kalau tante pukul Daddy?"
"Nggak. Leska ceneng kalau Daddy cakit. Banting Daddy juga, tante. Campe pinggangnya ada bunyi 'tlek' kayak Leska!" Ugh kenapa anak ini juga ikut sadis? Hayo Gestazh, tanggung jawablah! Tanpa kau sadari kau mendidik anakmu menjadi sadis juga.
"Iya. Sekarang Rezka ma'em yuk! Nanti Rezka mimi obatnya, biar panasnya turun. Kalau panasnya turun Rezka sembuh, kalau sembuh nanti tante ajak jalan-jalan, mau?" Tawaranku membuat anak menggemaskan ini memekik senang.
"Aauuuuu... Yok, Tante! Tapi obatnya pait. Leska nggak cuka," katanya. Rupanya dia dilema, antara memilih tak mau makan obatnya atau mau jalan-jalan.
"Muah!" Kukecup pipinya gemas. "Rezka kan pintar. Harus mau makan obat dong. Biar sembuh. Nanti kalau sembuh tante belikan eskrim vanilla kayak kemarin mau?" Dia mengangguk antusias. Oh kenapa dia lucu sekali. "Nah kalau mau, mimi obatnya ya, manis kok rasa jeruk."
Aku meraih Rezka dalam gendonganku. Refleks tangannya melingkar di leherku.
"Hiiii!" Anak tampan ini tersentak kaget ketika melihat Gestazh di sofa. "Tante, Daddy kok dicini?" Aku hampir saja terkekeh mendengar pertanyaannya. Nadanya yang membuatku ingin tertawa. Berbisik pelan dengan nada ketakutan seperti melihat hantu. Menyeramkan sekali Gestazh di mata anaknya. Malangnya kau, Gestazh!
"Sayang. Sini sama Daddy!" Gestazh merentangkan tangannya dan hendak berdiri.
"Stop! Nggak mau! Diam dicitu! Jan mendekat!" Haha lucunya. Gestazh seperti dimarahi ibunya saja, mematung tak berani melawan. Menatap Rezka penuh sesal. Sedangkan yang ditatap malah mendelik sinis seolah dia itu pemeran antagonis yang merasa puas menindas pemeran protagonisnya.
"Ayok, Tante! Pelgi dali cini!" Uhh lucu! Ingin rasanya kugigit pipi chubby-nya ini.
Gestazh menatapku penuh harap, namun aku tak menghiraukannya. Dah, Gestazh!
******
"Emam cama apa, Tante?" Rezka memperhatikanku yang menuangkan nasi secukupnya ke mangkuk tupperware miliknya.
"Sama sayur sup ayam. Ada sosisnya, ada ayamnya, dan juga ada baksonya. Enak kan?" Dia bertepuk tangan senang. Kemarin grandma-nya terlihat frustrasi menyuapi Rezka dengan menu yang sama. Kenapa sekarang dia malah antusias begini ketika aku yang menyuapi? Oh senangnya.
"Aaaaak, Tante." Dia sudah membuka mulutnya tak sabar ketika aku masih mencampurkan sayur pada nasi yang tadi.
"Pintar ya, Rezka. Maem-nya semangat! Aaaak!" Lahap sekali. Kalau seperti ini aku jadi tak harus membujuk.
"Hiiik, Tante! Lihat!" Kuikuti arah tulunjuk Rezka dan OH TUHAN! Disana ada anak itu lagi. Anak kecil berambut panjang dengan boneka di pangkuannya. Mengumpat di dekat kulkas.
Tidak! Semoga ini bukan kemampuan yang melekat seumur hidup di diri Rezka, karena pasti akan sangat menyiksa. Ini pasti hanya karena Rezka yang masih sangat kecil tanpa dosa. Sudah bukan rahasia umum lagi jika anak kecil bisa melihat makhluk tak kasat mata.
"Tante dia yang waktu itu dolong Leska! Malahin, Tante!" Dia terus saja meronta-ronta dari pangkuanku seolah ingin memprotes makhluk itu.
"Sayang, jangan! Sudahlah maafkan saja. Kan Daddy suka ajari Rezka biar selalu memaafkan orang lain," bujukku semata-mata agar Rezka menghiraukannya saja. Aku yang belum terbiasa, jujur merasa takut.
Boleh kudeskripsikan?
Dia anak kecil kira-kira berumur 6 tahun berambut panjang yang gimbal dengan darah yang bercucuran dari mata. Beberapa bekas goresan luka sayat di wajahnya memperparah semuanya. Dia menenteng boneka kecil yang sudah dekil dan berdebu. Bajunya hanya sampai lutut, dan kakinya tak tampak sempurna. Tidak salah lagi, dia bukan manusia.
"Hihihihi." Bulu kudukku berdiri ketika dia terkikik pelan.
"Tante dia ketawa," ucap Rezka masih memandangi hantu kecil itu. Duh Rezka tak bisa diajak kompromi.
"Duh cucu grandma sudah sembuh rupanya." Huuuff, syukurlah Bu Lita datang. Dia datang langsung menyentuh dahi Rezka. Ya memang, sewaktu Rezka pingsan grandma-nya ini sempat panik. Namun ketika Gestazh mengatakan jika Rezka hanya mengalami demam, grandma-nya itu sedikit merasa lega dan berpamitan ntah kemana.
"Glandma Daddy jaat cama Leska. Tadi ciang kita ketemu Mommy," adu Rezka pada Omanya. Air muka omanya memancarkan rasa penasaran begitu besar.
"Oh ya? Lalu?"
"Daddy lalang Leska cama Mommy. Daddy jaat cubit Leska telus banting Leska campe ada bunyi tleknya di pinggang, cakit, Glandma." Wajah marah Bu Lita seketika menguar. Aku tau, dia pasti akan memarahi Gestazh setelah ini.
"Gestazh!!! Gestazh kem__."
"Aku di sini," sahut seseorang yang ternyata adalah Gestazh, di belakang sana. Aku yang memang sedang malas melihatnya memutuskan untuk pergi mencuci piring. Semoga anak kecil menyeramkan itu tak menggangguku.
"Sini! Kenapa kau begitu keras pada anakmu?!!" Haha rasakan!
"Aw aww sakit. Maafkan aku. Jangan dijewer, please!" Pekikan dokter menyebalkan itu membuat tawa sumbangku tak bisa terelakkan lagi.
"Jewel, Glandma. Campe telinganya putus! Wleee wleee wleee!!" Rezka bertepuk tangan kegirangan melihat ayahnya disiksa. Anak itu.
Aku berjalan perlahan dengan sesekali melirik tempat di sebelah kulkas, tepatnya tempat berdiri hantu anak kecil menyeramkan itu. Dia tak ada? Huuuhh syukurlah...
Kucuci piring dengan perasaan masih tak bisa tenang. Aku takut jika anak itu ada di sini mengangguku. Ya Tuhan aku benar-benar belum terbiasa.
"Hihihihi nanananana nanananana!!!" Seketika aku mati rasa, mati gerak bagai patung yang menjadikan tubuhku membatu tak dapat berkutik. Bulu kudukku merinding, serasa ada yang meniupi. Kuedarkan pandanganku ke bawah dan...
"AAAAAAA!!!" Aku tak dapat menahan teriakkanku. Aku takut. Dia tersenyum dengan kaki penuh darah, mencoba mendekatiku dengan cara mengesot.
Kubalikkan tubuhku ke arah berlawanan. Keadaanku sekarang terpojok. Aku harus kemana. Kurasakan sebuah tangan di bahu kananku. Ya Tuhan tolong aku!!! Aku takut!!!
Sreeet....
"AAAAAAA!!!"