#Pmkn-Arwah Spesial

2033 Kata
Semua arwah penasaran audah meninggalkan hall pemakaman. Sisa kelompok malaikat maut yang hingga mini masih bercuap-cuap manja. Entah untuk apa, Steffi saja sukses dibuat bingunh dengan semuanya. Kenapa mereka semua betah si mendengarkan celotehan tak berbobot dari orang di depan? Hingga memakan waktu yang begitu lama. Sampi akhirmya arwah cinta pertamanya itu menarub kepala pada pundakhya. "Elanor!" Panggil Steffi dengan suara yang sedikit bergetar. "Gue capek. Minjem pundak lo bentaran." Sahut dia. Ohya. Steffi baru menyadari jika, sedari tadi dia memang tak memanggil nama Elanor. Soalnya, perkataan Lira tadi memabg benar adanya.. Steffi lupa akan nama cinta pertamanya itu sampai sesaat Elanor lah yang memperknalkan dirinya kembali. Menjabat kedua tangan Steffi dengan tatapan yang sangat bahagia. "Manggilnya El aja, kaya pas jaman Smp." Katantmya begitu. Sukses banget dong memporak porandakkan hatinya Steffi. Tidak usah ditanya lah ya. Tapi, ya balij lagi. Mereka berdua audah jadu arwah di Baverly Hills ini. Pemakaman mahal dengan segudang peraturan yang sangat ketat. Salah satunya, dilarang jatuh cinta. Sial banget memang. Kehidupan percintaan Steffi tug dari dulu gak pernah beres, ada aja hambatannya. Dari masih jadi manuaia sampek jadi arwah pun belum berubah. Membuat dirihya kesal bukan kepalang hingga merasakan sesak di d**a. "Steff.Makan yuk." Ajak El. Mendadak rongga hatinya terasa hangat, rasanya ingin aekali mengindahkan ajakannya. Namun, tidak bisa. Sayang sekali. Setelah pertemuan ini Steffi harus pergi ke kantor Antonio umtuk belajar. Duhhh udah jadi arwah masih aja disueuh belajat. Somplak! Cibir Steffi yang tanpa sadar dirinya ditatap terus oleh El. Sempat membuat El bingung tingkah lakunya ini, tapi, ya memabg gimana lagi. Bisa aja Steffi biasa berkelakuan seperti tadi, masa mau dibingungi. Kan gak mungkin. Akhirnya El hanya bisa pasrah menunggu Steffi kembali dalam mode naturalnya, "Steff!! Bengong ajaa lo! Buri kesini!" "Siapa itu, Steff?" Tanya El yang dibuat bingung kedua kalinya. Habisan siapa yang tidak bingung jikalau, ada arwah yang tidak berpenampilab seperti dia ataupun Steffi. Atwah itu mengenakan seragam serba hitam lengkap dengan topi besarnya. Membuat El curiga dan menerka jika dia adalah, "Malaikat maut, El. Pikiran mu benar." Jelaa Steffi sambil menyengir kuda. "Ah sial!" El menatao Steffi, "Gua lupa kalo lo bisa denger pikiran." Gerutunya. Rasa kesal di d**a tak bisa dipungkiri lagi, karena kini, pikirannya tak sebebas dulu soalnya perisai yang melindunginya bisa diterobos sangat mudah oleh steffi yang diajarkan oleh Lira tadi. Menyebalkan. El berdiri dengan bertolak pinggang, "Gua ikut kemana lo pergi." Ketusnya pada Steffi. Tentu aaja itu membuat Steffi aemakin bimbang, masa dia bawa orang buat belajar bareng si. Si Antonio mau gak ya kalo nambah orang lagi. "Stefff..." Duh suaranya lembut banget lagi. Yaudah lah mau tidak mau dirinya langasung menggandeng tangan El me uju Antinio di seberang sana. Urusan diterima atau engga nantu aja deh yang penting Steffi membawa nih anak bayi dulu. Gak tega soalnya ngeliat dia ngerengek, "Hobi lu sekarang bawa orang ya?" Tanya Antinio. Steffi seperti biasa, memoersembangan cengiran kudanya yang memperlihatkan jajaran gigi rapih nan putihnya tersebut. Namun, semua itu tidak lagi menarik bagi Antonio. Dirinya malah melengos dan melihay orang yang sedari tadi digandeng oleh Steffi teesebut, "Lo arwah yang tadi pagi ya?" "Heh?" Steffi menoleh ke belakang, "Lo pada udah kenal?" Tanyanya pada dua pria yang sedang bertatapan. "Kenal?" Tanya Antonio. Menatap El bergantian menoleh pada Steffi yang kini terlihat sangat kebingungan, "Ada apaan si sama lo berdua. Gosah sok misterius. Gua gak suka." Tegas Steffi menyilangkan tangannya di d**a. Baik Antinuo dan El tidak adayang membuka suara. Entah karena apa. Dan, sekarang, Antonio malah menurunkan gorden depan sekaligus horden-horden yang ada di ruangannya. Alhasil membuat ruangan tersebut hanya diterangi oleh lampu di tengah ruangan yang membuat Steffi tambah kebingungan. "Dia anak yang punya temoat ini." "Hah?! El? Emang El?" Tahya Steffi menoleh langsung. El hanya menggaruk kepalanya. Padahal, tak gatal. Hanya canggung. Kenapa suh harus ada yang tau identitas dirinya. Gak asik. El tidak menyukai hal itu. "Dia punya hak istimewa di sini, Steff. Kita juga gak boleh bergaul sama dua. Nanti, bisa-bisa kita kena cibiran arwah lain." "Heh! Gak gitu." Dalih El, "Gak adabyang kenal gue juga." "Bulshit! Gosip lo udah dimana-mana. Lo belom liat koran harian arwah?!" Sambar Antonio yang semakin memvuat suasana mencekam. "Stop! Berenti sebentar. Kasih gue jeda buat cerna semuanya!" Teriak Steffi menghentikan argumen Antonio dan El yang tak akan ada habisnya. Semetara dirinya tidak diperhatikan. Padahal, Steffi yang sangat membutuhkan penjelasan. Sangat membutuhka. Steffi mengatur nafasnya, "Jelasin ke gua. Lo siapa, El? Kok bisa jadi anak yang punya makam. Padahal, gua tau lo abis sekolah Smp lu langaung pindah ke Belanda nyamperin orang tua lo di sini." Jelas Steffi. "Gini, Stef" "Stop! Gua belum selesai." El kembaali menutup mulutnya, "Gua tau jelas, yang punya makan ini tuh orang asli Indonesia, El. Nyokap gue pernah cerita. Dan, ini emang punya temennya." Jelas Steffi sembari duduk di kursi kerja Antonio. El masoh diam mencoba mendengarkan Steffi jikalau, dia belun selesai berbicaran. Sementara Antonio, dia aedang memijat punggung Steffi layaknya pelatih tinju yang sedang melatih pemainnya. Unik memabg. "Wehhh! Ada tamu nih." "Sssttt!" Pekik Steffi yang sontak membuat Lira terkejut. Dirinya langsung menghampiri Steffi untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Soalnya, tunben sekali dia memeri tahkan Lira untuk diam, biasanya Steffi malah berteriak untuk membalas sapaannya. "Heh... Lo ternyata arwah istimewa ya. Baru tau gua." Kata Lira menepuk bahu El pelan. El hanya bisa memabas debgan senyum kikuknya. Merasa tak tahu harus memvalas bagaimana dan bereaksi seperti apa. Akhirnya hal yanh paling ia takutkan kejadian juga. El menghela nafas dan mendekati Steff, "Steff." Panggilnya pelan dengan tangan mengguncang lengan Steffi. Namun, Steffitak bereaksi apa-apa. Dirimya malah menatap lurus ke depan entah melibat apa, "Gua mau jelasin. Tapi, gu rasa panjang banget. Jadi, gua singkat aja ya." Kata El. "Apa?" Sahut Steffi dengan maya yang tidak menoleh pafa El. El tidak menoermasalahka itu. Dirinya tahu, pasti Steffi masih sa gat terkenut dan terpukul. Pasti dirinya merasa me jadi satu-satunya orang yang sangat ketinggalan berita. Padahal, pusat berita itu sedari tadi bersama dirihya. Namun, kenapa Steffi ya g terakhir mengetahuinya. Seolah El tidak mau jujur lebih dulu. "Gua anak angkat, Steff. Dulu nyokap dan bokap di sini miskin banget. Sampe gue Smp. Akhir nya, ada temen nyokap gue di Belanda yang mau ngambil gue buat ngeringanin ekonomo keluarga." "Trusss kok lu bisa terkenal dengan aebutan anak pemakaman ini? Yang padahal, lo tinggal lama di Luar negeri." Seru Lira yang lebih dulu mengutarakan semua pertanyaan yang bersemayam di kepalanya Steffi. Syukurlah... Berarti Steffi tidak isah repot-repot membuka mulutnya. Dirinya masih kesal lantaran masalah ini. Kenapa sih... Kenapa gitu. El gak jujur pas lagi ngobrol-ngobrol di pertemuan tadi. Pantesan juga banyak arwah yang selalu menatao intens pada mereka berdua... Ternyata ini alasannya. Menyebalkan! Steffi menyilangkan tangan di d**a dengab helaan nafas berat menghiasinya. "Lo juga gak usah alay, Steff! Kek abegeh aja deh lo ngambek." Lira menmpeleng kepalanya Steffi. Memvjat sang empu terkejut dan mendelikkan mata tajamnya, "Apa lo?!" "Lo apa!" Balaa Stefgi dengan ketus. Tanpa sadar El malah tertawa melihat semuanya. Membuat ekor mata Steffi kegirangan kala melihat lesung pipi yanh begitu dalam. "Btw" "Apa?!" Lira dan Steffi kompak menoleh pada Antonio. Membuat tawa renyah Antonio terdengat hingga ada satu arwah yang muncul tiba-tiba dari sudur ruangan. "Ketawa lo mirip banget sama pacar gua." "Dih.Nyama-nyamain aje lo!" Sentak Antonio pada Ramanda yang kini ikut bergabung. Lira menatap Ramanda yang kini aidah bergabti pakaiannya, "Berapa harga tu baju?" Tanyanya. "Murah. Gua dapet dikasih sama arwah depresi tadi." Sahut Ramanda yang kini sedang berpose memamerkan dress barunya tersebut. Klek' "Mampus, Ramanda bawa dia ilang!" Perintah Antonio dengan gerakan cepat mendorong El pada Ramanda. "Hai!" Sapanya pada salah satu rekan malaikat maut yang baru saja masuk, "Hai, Ton! Lo lagi ngapain?" Tanyanya seraya menghampiri Antonio dan Steffi. "Hai, kak. Saya Steffi. Calon malaikat maut." "I know." Singkatnya tanpa menoleh pada Steffi. Jutel banget si! Gak jelas. Padahal, apa susahnya senyum basa-basi sih!" Cibir Steffi dalam pikirannya. Walaupun pikirannya mencibir, wajahnya tetap tersenyim seraya menatap pergerakkan rekannya Antonio ini yang sedang merapihkan tumpukkan berkas lalu meggendongnya, "Gua cabut dulu ya. Jangan lupa kalo balik, lampu nyalain yang terang banget! Biar kantor kita keliatan." Perintahnya yang langsung dibalas dengan hormat. "Dih! Bendera kali dia pake hormat segala." Desis Steffi setelah petugas tersebut kelyar dari ruangannya. "Gak beh gitu, lho! Inget lo junior, dia senior." Antonio kembali menjelaskan sistem tahta senior-junior. Membuat Steffi kesal dan hanya menjawabnya dengan singkat. Antinio menoleh padanya, "Ramanda! Keluar!" Pekiknya. "Kenapa sih? Kok lo tadi nyuruh-nyuruh gua? Lo siapa emang?" Tegas Ramanda yang kini mendekat pada Antinio. Mengikis jarak satu centi demi satu centi, "Aaa lo ganteng banget!" "Dih kenapa ai temen lo? Moodnya cepet banget verubah. Tadi sangar sekarang alay." Jelas Lira diikuti dengan gelengan kepala. Ya... Namanya juga Ramanda. Kan unik. Gak ada lagi yanh kaya dia. "Lo tadi nyuruh mereka bertiga ilang kenapa?" Tanya Steffi. "Kan mereka arwah penasaran. Ya kaki ada di kantor malaikat maut." "Tapi, kan El malaikat maut. Kenapa lo suruh dia ilang juga." Steffi aemakin gencar menghujani pertanyaan membuat Antonio lelah dan melepasnya dengan cara duduk di kurai sebelahnya. "Dia ka arwah spesial! Banyak keuntungan dari dia yang bisa kita ambil. Jangan, sampe orang lain tau kalo kita kenal deket." "Emang kenapa?" Kali ini Ramanda yanh bertanya. "Ya karena, gak boleh dan emang aturannya gitu. Dan lo!" Antonio menepuk bahu El, "Tau kan lo rules jadi arwah spesial?" El berdehmen. Membuat Steffi, Lira, dan Ramana tercengang. "Anjir!" Desis Lira. "Gua kira jadi arwah spesial gak punya rules. Tinggal nikmatin semua yg ada di pemakaman ajeee." "Maunya gua pun begitu tapi, ya mau gimaba lagi." Sahut El dengab helaan nafas beratnya. Andaikan mereka tau gimana susahnya jadi arwan spesial. Ya... Memang terlihat membanggaka dari luar si. Namun, jika dilihat lebih dekat pasti kasihan. Tidak beh berteman, tidak boleh terlalu dekat, tidak mempunyai pilihan, dan hanya mengikuti takdir langsunh daru atas. "Tapi, kenapa lo tadi duduk di kelompok malaikat maut? Aturan lo istiragat aja di nisan lo. Ngapai capek capek dengerin cuap-cuap gak jelas." Tanya Steffi pada El yang kini sedang tertawa renyah. "Karena, gua ngeliat lo." "Tjieeeeee, piwit." Sontak balasan itu mengundang keriuhan dari Lira, Ramanda, serta Antonio yang kini sedang meledek Steffi dengan wajahnya yang berubah menjadi merah merona layaknya tomat sudah matang. El nih apasih. Bisa aja bawa orang terbang sampe tembus langit ke-tujuh. Tapi, sayangnya nanti akan dijatuhkan. Hempas ke jurang paling dasar. Jangankan jurang. Palung Mariana deh kayaknya ukuran yang lebih tepatnya. Steffi segera saar dan mengusap kasa wajahnya, "Tadi kenapa plus minusnya jadi arwah spesial?" Katanya sembari menahan tawa yang sangat berusaha ia sembunyikan. Namun, seisi ruangan mengetahui sangat jelas jika, Steffi pasti akan teetawa. Maka dari itu, Antonio hanya harus menggodanya saja. Ia menaruh tangannya di kelala El lalu mendekatkan perlahan-lahan pada wajah Steffi yang semakin memerah itu, "Lira." Pekiknya dalam pikiran. Sengaja ia berteriak agar kedua temannya yang bisa mendengar pikiran orang membantu dirinya terlepas atas godaan tak masuk akal Antonio ini. Akan tetapi kesiaan masih betah berada dekat Steffi. Menyebabkan Lira dsn Ramanda menutup rapat kekuatannya tersebut dan malah ikut menggoda dirinya. Sialan ya... Liat saja pembalasan Steffi nanti! *** Belanda... Negri kincir angin yang sangat indah berdampingan dengan bunga tulin beraneka warna. Mengingatkan dirinya dengan kampung halaman naun jauh di sana. Jika, dirinya tak memaksa untuk pulang dengan penerbangan malam mungkin saja dia masih hidup dengan damai. Tertawa bahagia beraama kedua orang tua, berkeliling taman di Jakarta, serta menikmati kemacetan pada saat jam pulang kerja. Semua itu membuay El meratap kesialannya. Andai saja dirimya tidaj melakuka itu semua. Dia juga pasti tak akan berada di sini. Pemakaman milik ayahnya yang didirikan untuk mengenang orang yang paling dicintai. Namun, orang yang dicintainya itu harus mempunyai uang yang lebih demi bisa membayar perawatan setiap bulannya.. Huh—El menghela nafas berat. Dirihya bersandar pada batu nisan ya g tidak mempunyai tetangga adwah lainnya. Sepi.sunyi. Membuat El bosan. Kenapa dirinya dimakamkan di sini. Di blok paling ujung. Bukannya blok tengah yang pasti akan berdampingan denga banyak arwah. Lagi-lagi dirinya meratapi nasip. Cobaaa saja jika, ayahnya bukan pemilik makan ini. Pasti dirinya akan bisa berdampingan dengan arwah yang lainnya. Bukannya seperti ini. Memang sih nisaan tempat istirahatnya sangat megah dan luas... Tapi, jika, sendirian kan bosan juga. El menendang kerikil yang ada di dekatnya dengan mulut yang ia manyunkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN