Ternyata banyak fasilitas selain restoran, tempat olahraga, serta kolam renang di dalam Baverly Hills ini. Steffi sampai tercengang kala diajak berkeliling bersama Antonio untuk kepentingan misi pertamanya nanti.
"Ini apa?!" Tanyanya.
Langkahnya terhenti di depan bangunan mewah berlantai tidak dengan hiasan lamou bewarna violet tersebut.
Mata Steffi tak bisa teralihkan atas gemerlapnya lampu ini. Berbinar. Sangat berbinar. Seolah mengajak dirinya untuk masuk ke dalam dan melihat bagaimana keadaan di sana.Pasti, interiornya sangat mewah dan tak kalah indah dari yang ada di depan.
Namun, lengannya ditahan oleh Antonio. Membuat ia mengurungkan langkah yang sedikit lagi sampai di gerbang, "Jangan, Steff!" Perintah Antonio.
Dia segera menarik Steffi hingga masuk dalam dekapann nya, "Ini restoran penyihir. Lo gak boleh masuk!" Tambahnya. Membuat Steffi semakin bingung dan tercengang, "Penyihir? Dia punya restoran? Emang bisa masak? Setau gue penyihir cuman bisa membuat racun doangan." Steffi menyahuti dengan tampang polosnya.
Ini kesekian kalinya Steffi menghukani banyak pertanyaan pada Antonio. Kenapa dia bertanya padanya. Memang Antonio tau jawabannya. Tidak! Salah orang dia kalo mau nanya. Pikir Antonio sendiria.
Akan tetapi, biarlah.Dengan begitu ia jadi menyelematlam Steffi dari pengaruh penyihir yang sedang menunggu tamu datang ke restorannya itu. Untung saja, Antinuo cepat tanggap dan merasa kehilangan Steffi. Jika, dirinya tak merasa begitu, mungkin Steffi sudah berada di dalam sana dan menunggun masakan yang akan membawa nasip, "Woi! Kok lo bengong sih!" Steffi membuyarkan pikiran Antonio yang sedang kalang kabut. Ia menghela nafas lalau menyunggingkan senyumnya, "Udah eh ayo jalan lagi! Nanti disabgka gabut." Antonio mengalihkan pembicaraan agar keadaan pun berubah.
Perlahan tapi, pasti mereka berdua mulai menjauhi restorah penyihir yang kini lampunya kembali temaram tak seindah tadi.
"Nio!"
"Kenapa, Steff?"
"Gua laper."
"Buset!" Sentak Antonio dengan mata yang melotot, "Lu baru juga makan, masa udah laper lagi. Perut lo karet ye..."
"Yeuuu! Sembaragan lo kalo ngomong." Cibir Steffi sambil mendorong Antinio sedikit ke belakang. Membuatnya terkikih sambil bersandar di pobon besar pemakaman blok C.
Tempat para arwah penasaran yang kini sedang melatih untuk menakuti para mangsanya.
Ada yang belajar cara menghilang, ada yang belajar menjadi muka rata... Ada juga yang belajar menggepengkan tubuhnya. Kerja kers banget si mereka cuman buat nakut-nakutin orang doang. Mendingan kaya Antonio dan Steffi sekarang. Melakukan kegiatan pendataan para arwah agar berkas administrasinya lengkap dan tidak ada yang tercecer. Bukan hanya itu juga, Steffi dan Antonio juga sedang berkeliling mencari beberapa arwah yang kemarin tidak menunjukkan batang hidungnya saat pertemuaan.
"Heh!"
Dari kejauhan ada suara cempreng yang sangat menggelegar layak ya petir yanh menghantam. Membuat Steffi dan Antonio menjerit kebisingan, "Siapa?"
"Ramanda lah! siapa lagi yang punya suara begitu." Jelaa Steffi yang langaung dibalas dengan mulut yang membentuk huruf O oleh Antinio.
"Ngapain lo? Mau belajar cara nakutin orang juga?"
"Dah. Ngapain? Emang malaikat maut nakutin orang."
"Yaa kali ajaa pas nanti tugas lu mau ngambil nyawa orang jadi sundel bolong dulu gitu. Kaya gua."
"Holly shitttt!" Pekik Steffi dan Antonio secara bersamaan.
Ramanda menunjukkan punggung belakangnya yang bolong. Lubang besar itu sangat menjijikan. Bewarna merah darah yang dihiasi oleh belatung belatung indang yang menggantung.
Tubuh Steffi bergidik ngeri, "Lu gak geli badan lo begitu?" Tanyanya pada Ramanda yang kini terlihat sangat bahagia. Kenapa dia begitu sih. Ramanda terkesan sangat menyukai perubahannya yang sekarang.
Memakai baju tanpa pola yang mengepel lantai, mana warnanya cuman putih lagi. Belum lagi rambutnya dibiarkan yang tergerai berantakan begitu saja. Membuat Steffi gemas ingin segera menguncir demi kerapihan.
Namun, lagi-lagi ini oranh semakin bahagia. Ramanda berputar membiarkan bajunya mengembabg layaknya putri kerajaan, "Lira lagi belajar jadi apa sekarang?" Tanta Antonio.
Ramanda menghentikan gerakannya dan menatap lemat Antonio yang membuat dirinya merindukan mantan kekasih bajingannya, "Dia mah gak usah belajar. Udah jago." Sahut Ramanda dengan kepala yang ditaruh di bahu Antonio. Membuat sang empu kewalahan dan mengangkap kepala Ramanda menggunakan jari-jarinya, "Yaudah deh lanjut deh kegiatan lu deh ya. Gua cabut dulu." Jelas Antonio. Memberi kode pada Steffi yang masih sibuk melihat bundaran di punggung belakang Ramanda.
"Bye, Ramanda!" Pekik Steffi yang ditarik paks oleh Antinio, "Aposka sih ih! Sakit tau gak si tangan guweeee" Jelas Steffi dengan pelafalan khas anak gaul Jakarta.
Steffi sedikit memijat pergelangan tangannya sementara, Antonio malah sibuk dengan ipad miliknya. Membuat Steffo kesal karena, diacuhkan dan lebih baik ia juga menggunakan ponsel pintarnya yang baru dibelu kemarin.
Cekrek cekrek!
"Heh! Kegiatan kita gak boleh didokumentasiin tau." Larah Antonio.
Dih... Nih orang lama-lama kaya eomma banget! Cibir Steffi dalam hati. Bibirnya ia manyunkan di hadapan Antonio yang lagi-lagi masig sibuk.
Bosan.... Membuat dirinya begini. Steffi juga tau kok kalo kegiatan ini tidak boleh didokumentasikan. Tapi, kan yang tidak boleh didokumentasikan untuk dipublikasikan.Sementara Steffi melakukan semuamya hanya untuk konsumsi pribadinya saja. Sekedar melihat paras cantiknya yang kini semakin mempunyai tone pucat yang sangat membuat dirinya keputihan.
Namun, anehnya Steffi menyukai itu semua.
Buggg! Tiba-tiba ada bola yamg meghantam kepalanya. Membuat rasa bangganya langsung hilang dan tergantikan oleh sebuah kenangan.
"Aku capek! Capek banget! Kalo aku jadi aplikasi mungkin aku udah ngebug. Eomma tau gak si kalo akutuh gak bisa ngelakuin ini semua." Pekik Steffi. Memukul meja kerja di ruang direktur utama.
Ruangan ini banyak menyimpan kenangan. Mulai dari kenangan bahagia sampai kenangan menyedihkan teraimpan rapih di siji. Namun, seiring bertambahnya usia. Ruangan ini lebih banyak dipakai untuk menyimpan rasa amarah serta amukan dari dirinya atau orang tuanya yang meminta Steffi menggantikan posisinya.
Sementara Steffi yang tidak mempunyai basic skil memimpun usaha tidak mau dan tidak boleh memaksakan. Tapi, tetap saja dipaksakan. Sehingga otaknya tak mampu lagi menampung beban hingga akhirmya memuncakkan amarah layaknya larva.
"Aku tuh basicnya di seni, Eomma! Aku tuh seniman! Bukan pengusaha!" Ia membentak Eommanya yang sedang membuang wajah darinya.
Wanita paruh baya itu tidak mau melihat wajah anak semata wayangnya kini yang sedang berubah menjadi setan dengan amarah yang sangat meluap-luap. Dirinya tidak mau melihat itu ketimbang menyesal nantinya. Padahal, seharusnya ia melibat wajah Steffi kali ini
Dirimya sedang berada di titik palung bawah kehidupannya namun, masih memaksa untuk bangkit demi nama baik keluarga serta perusahaannya. Steffi sanga mengetahui jika, kelakuannya sekarag hanyalah terlihat seperti anak kecil yang sedang crangky tidak mau mengerjakan tugas. Steffi tau. Namun, bolehkah dia mengeluh dan merajuk seperti sekarang. Sebentar saja, Steffi sedang lelah. Namun, tidak ada yang mengerti rasa lelahnya. Steffi tidak bisa mengikuti arus agar merubahnya menjadi soerang pengusaha. Tidak bisa! Jiwa Steffi sangatlah seniman. Mendambakkan kebebasan ekspreai dalam aspek apa saja.
Tapi, semua itu telah direnggut darinya. Membuat Steffi shock dan terpaksa harus mengikuti arus. Hanya demi melihat kedua orang tuanya tersenyum karena, akhirnya perusahaan mereka jatuh pada anak semata wayangnya.
"Steff! Bangun! Lo gak mati kan?!"
"Yeuuu! Ngaco deh lo! Dia kan udah mati!"
"Oiya lupa!" Sentak Ramanda yang langsung dikeplak Lira.
Kapan sih tuh anak serius dikit. Temennya lagi pingsan bukannya diangkat malah disadarin di tempat dia pingsan juga. Aneh banget. Membuat Lira gemas ingin memukul Ramanda tapi, tangannya tak tega memukul abak di bawah umur ini.
"Lir pake ini aja!"
"Hah!!!" Lira mendelik pada Antonio yang sedang membawa seember air, "Gila aja lo mah ya. Pake minyak angin kek biar keliatan waras dikit. Malah lu bawa aer." Cetus Lira yang kini masih memeganggi kepala dan leher Steffi. Sementara yang lain sedang sibuk menertawai kebodohan mereka. Hingga terbahak serta terpingkal-pingkal, "Hey! Ada apa ini? Kenapa dia?"
"s**t! Nih petugas makam kenapa pake ptatroli ke bloc ini si." Gumam pela Lira yang kini beranjak dari posisinya.
Meninghalkan Steffi terbari di tanah sendirian, "Eomma."
"Steffi! Eommo gak mau kami begini terus ya! Kamu tuh direktur utama. Ada ribuan orang yang menggantunggkan nasip pada perusahaan kita ini!"
"I KNOW! Makanya aku gak mau! Aku gak bisa kaya gitu! Aku mau bebas, Eomma!" Suara melengking Steffi terdengar hingga luar. Membuat sekretaris pribadi yang baru mau masuk memberika cemilan mengurungkan niatnta kembali.
"Eomma." Lirih Steffi dengan posisi berlutut.
"Steffi mohon bebaskan Steffi dari ini semua. Biarkan manajer proffesional yang mengambil alih semuanya."
"Tidak! Tidak akan pernah!" Sentak Eomma dan langsung pergi begitu saja.
Membuka pintu ruang direktur utama dengan lengkung senyum palsu yang harus terlihat agar dinilai baik-baik saja oleh semua orang.
Sementata Steffi masih dalam posisi berlutut dan bersimpah air mata, "Steff!" Pekik sekretaris yang langsung masum dan mendekap erat atasan sekaligus teman dekatnya itu.
Air mata Steffi langsung merebak layaknya banjir bandang. Membuat blazer sekretaris tersebut basah. Namun, peduli setan! Biar saja. Selama Steffi bisa lebih tenang semua itu tidak masalah.
Klek!
"Anakmu itu lho!"
"Kenapa?"
"Tidak mau mengambil alih perusahaan saya."
"Lho, memang bukan jiwanya dia."
"Thanks, Appa."
Steffo kembali menjelajah pada memory yanh membuat kepalanya semakin pusimh untuk memilah, "Biarkan saja jika, dia mau beba. Kita tidak bisa mengekangnya."
"Tapi, dia anak saya"!"
"Dia anak saya juga! dan saya kepala kelurga!"
"Eoomma—Appa! Stoppp!"
"Steffi!!!"
"Akhirmya lo bangun!"
"Hah! Eomma gue sama Appq gue mana?"
"Hah? Siapa tuh..." Tanya Ramanda yang sedikit asing dengab kata-kata yang dilontarkan oleh Steffi tadi.