#Pmkn-Jantung

1382 Kata
Entah kali ini kenangan apa yang menjelma membuay Steffi linglung saat meligat ketiga temannya. Antonio, Lira, dan Ramanda. Mereka mengerubungi Steffi layaknya semut yang menemukan gula, "Lo mau makan bubur?" "Steff, udah sadar kan? Ya kali masih pingsan!" "Dorr!" "Apasih lo, ton! Emang dia cegukan lu kageton segala." Desisi Ramanda. Antonio hanya tertawa, menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu menyilangkan tangan nya di d**a, "Steff! Pindah ke nisan gua aja yuk. Di sini vibesnya gak enak." Jelas Lira yang kini sudah dalam posisi merangkuk Steffi. Namun, dia malah terus saha menatap lurus ke depan. Tak menghiraukan jika, tubuhnya sedabg diambik alih. "Lemes banget lu kek daon!" Sentah Lira yang akhirnya memuncakkan kekesalannya pada Steffi. Lagian nih orang tibang berdiri aja masa kaga bisa. Jatoh ke lantai dengan posisi meringkuk. Kenapa dah. Lira menatap kesal Steffi di bawah sana. "Gua mau jadi manusia lagi, bisa gak si... Gua nyesel sama Eomma gue." "Bisa ngomong juga lo?! Gua kira udah gagu." "Lirrr!" "Apasih kalian!" Bentak Lira pada Ramanda aerta Antonio. "Gua nyesel gak ngurus perusahaan mereka dengan bener. Sampek akhirnya gue mati begini. Gua nyesel." Lirih Steffi yang tiba-tiba diikutu dengab isakkan, "Stef!... Ini bukan salah lo. Lo mati kan udah takdir." "Iya emang! Tapi, kenapa takdir kejam banget si sama gue. Kayaknya gue pas idup udah jadi orang baik." Pekik Steffi mengembalikan semua kalimat penenang dari Antonio. Dirinya sudah tak bisa berkata apa apa lagi, nampaknya memang Steffi sedang terbalut penyesalan yang teramat dalam hingga membuatnya seperti sekarang. Dirinya hanya tinggal mendengarkan dengan mengelus penuh kasih sayanh temannya sekarang, "Steff... Udah ah." Kini Ramanda mencoba peruntungan untuk menenangkan arwah yang sedang dalam mode penyesalan. Satu-satunya mode yang cukup menyebalkam dan serba salah. Lira selaku senior yang sudah mengalami kejadian seperti ini hanya diam di tempat tidak berkelakuan layaknya dia temannya. Karena, percuma... Arwah yang sedang dalam model penyesalan tetap akan menyalahkan semuanya dan berujung membenci dirinya sendiri. Oleh sebab itu, ya kita tinggal menunggunya saja. Apa keputusan Steffi nanti. Apakah mau merubah semuanya atau memilih untuk menyerah. Pikir Lira. Namun, Antonio langsung menarik lengannya hingga posisinya sekarabg menjadi duduk di lantai. Sedikit lebih dekat pada Steffi dan tib-tibah, "s**t!" "Shut!" "The f**k up!" Ramanda dan Antonuo saling bersautan. Membuat Lira tertawa renyah kemudian merasakan kehangatan menjalar oada seluruh tubuhnya. Baru kali ini ia mendapatkan dekapan dari orang lain. Terlebih lagi, Lira jiga ikut mencurahkan kehangatannta pada seorang yang membutuhkannya, "Baru kali ini gua punya temen. Mana punya temennya pas udah jadi afwah lagi." Kata Ramanda. Lira langsung menghela nafar kasarnya, "Sama gue juga. Malahan, gua harus nunggu kalian dulu baru bisa punya temen. 10 taon yang lalu mah gua sendirian ajeee." Sahut Lira yang langsung disentak oleh Antonio, "Lahh malah adu nasip lu berdua." Katanya yang diikuti oleh tawa renyah. Semua itu sedikit menghibur hati Steffi yang koni sedang tersenyum indah, dirinya tidak meyangka jikalau, takdir yang dia keluhkan tadi ternyata berdampak sangat besat. Baru kali ini dirinya merasakan kehangatan pelukan dari seorang yang tidak mempunyai daraj keluarga. Baru kali ini juga Steffi merasaka batunnya begitu tenang seolah punta teman disetiap langkahnya, "Heh! Ngapain kalian!" "Duduk lah! Masa joging." Balas Antonio sekenanya, "Bangun!" "Apaansi!" "Hehh.Pak petugas..." Kata Lira yang tiba tiba merubah raut wajah ya v tadinya marah menjadi wajah yang penuh gula. Alias... Manis banget. Tapi, lebuh ke arab sok manis. "Kalo mau pelukan di padang rumput sana! Biar kayak teletabis." Sentak petugas keamanan yang aedang berpatroli. "Dih. Bapak lagi ngelewak ya, Pak? Pasti dulunya bapak tuh pelawak di acara tv ya, pak?" Tanya Ramanda sambil berpikir. "Emanya kenapa? Lawakan saya mirip sama pelawak-pelawak yang terkenal itu ya?" Tanya pak petugas kembali. Membuat Ramanda terasenyim aneh dan langsung mengambil posisi berbisik, "Soalbya lawakan bapak garing! Yhaa...." "Hustttt!" Pekik pak petugas. Tapi, Ramanda malah mengak ria dan tak memperdulikannya. Membuat petugas itu kesal hingga akhirnya pergi begitu saja. "Parah lo, Ramanda." "Lah ke apa si, Lir. Kan emang bener." "Yaudah dah iyeeee." Sentak Lira yang tak mau beradu argumen bersama Ramanda yang bacotnya semakin menjadi jadi. Daripada meladeni Ramanda yang bacotannya fak berenti-berenti mending dia memapah Steffi yang kini juga sedang enggelan dalam lautan tawa. "Makan dulu yuk... Laper." "Kalo bayari kuy!" "Masih kaju aja lo ah. Temen lo kan kaya-kaya. Lo gak kiat apa tuh di atas kepa Antonio." Tunjuk Lira, "Bukan maend." "Kenapa emang?" Tanya Antonuo yang rupanya belum sadar jika, di atas kepalanya sekarang beetaburan uang dari berbagai macam pecahan. Dari recehan, puluhan, hingga ratusan. Berbagai macam warna serta pecahan yang membuat mereka bertiga kewalahan. "Nyokap bokap lo tionghoa ya?" "Kok lo tau?" Sentak Antonio pada Lira. Lira tersenyum membabggakan dirinya, "Soalnya ketauan. Kalo di kepala lo ada duit berarti nyokap atau bokap lo lagi bakar uanh. Dan, yag bakar uang buat arwah yaaa kebudayaan tinghoa doang kayaknya." Jelas Lira. Antonio hanya bisa terperangah. Merasa tidak percaya jika, Lira mengetahui budaya teraebut. Tau dari mana ini orang.. Apa jangan-jangan dia keturunan tinghoa juga? Kayaknya engga deh. Pertanyaan demi pertanyaan bermuncratan memenuhi isi kepala. Membuat Antonio pusing dan langsung mebgangkat ibu jarinya, "Steff..." "Kenapa?" Lirih Steffi yang masih dipaoah Lira dan Ramanda, "Gimana hubungan lo sama arwah spesial?" "Ngawur babget anjirt!" Sentak Steffi yang tiba-tiba verdiri tegap, "Dia udah jauh. Bloknya juga beda sama kita-mita. Dan gua juga gak ada hubungan apa-apa. Ngerti?!" "Lho" Pekik Ramanda, "Kok lo balesnya sewot si, Steff? Si Antin baik-baik lho." Sambunghya diikutu dengab tawa. Steffimelirik Antonio yang begitu terkejut, "Lo kenapa?" Tanyanya pelan. Mendadaj Steffi menundukkan kepanya, melihat tanang liat yang kini beradu dengan alas kakinya, "Maaf." "Lah, nih anak kenapa dah! Random banget. " Jelas Ramanda lagi yang dibuat bingung layaknya Antonio. Ia mengguncang lengan Lira agar memaksa Steffi menjelaskan semuanya. Namun, Lira tidak menjalankan. Ia nalah mengambil tangan Steffi kembalu dan langsyng diletakkan di seberang bahunya. Ia memapah Steffi kembaki dan berjalan melewari Ramanda serta Antonio. "Lo istirahat di nisan gue aja ya... Hari ini lo gak boleh sendiria." Jela Lira sambil berjalan. Steffi menatap Lira yang kini berbanding jauh dengab Lira di awal pertemuan mereka. Kini, Lira begitu menenangkan dan sangat dewasa. Mampu mengerti isi hatinya tanpa penjelasan. Rasanya, ingin sekali Steffi menitigkan air mata penuh keharuan. Namun, jika, dia begitu dan Lira melihat bisa gawat! Nanti dia punya bahan ledekan selamanya. Steffi tak mau dsn gengsi. Akhirnya dia memilih membuang niatnya jauh-jauh dan kembali menatap jalan lurus ke depan. *** Kini Ramanda termenung di sebelah Antonio. Dirinya begitu malas untuk kembali ke nisan dan malah menemani Antonio bekerja. Melihat kelincahan tangannya yang menari pada keyboard serra mouse umtuk membuay desain pemberitahuan. Sekilas, pikirannya dibuat terbang menjelajag masa lalu. "Andai aja kita ketemunya pas masih jadi manusia. Lo pasti gue treat like prince, Ton." "Heh?" Antonio menoleh. Telingahya tidak terlalu jelas mendengat perkataan Ramanda tadi, "Ton... Lo pernah ounya pacar gak?" "Engga" "Bohong!" "Yeuuuu. Kok lo gak percaya. Mana ada yg mau pacaran sama orang yang selalu dibully." Cibir Antonio dengan mata yang menatap layar komputernya kembali. Sementara Ramanda kini, sedang menatap intens Antinio, "Maaf" "Lah? Kenapa dah lo?" Tanya Antonio yang sa gat terkejut atas permintaan maaf tadi. Akhirnya matanya terakihkan dari layar, menatap Ramanda yang kini sedang menundukkan kepala, "Gua takut nyinggung perasaan lo." Kata Ramanda lagi. Membuat Antinio menepuk dahi sambil mendesis, "Yailah, Ramanda! Lo kayak sama siapa aja sih. Gua bukannya tersinggung. Tapi, aneh aja." Antonio memutar kursi mendekat oada Ramanda, "Gua kan mati muda ya. Mana sempet ngerasain jatuh cinta. Makanya gue aneh dan gak bisa jawab." Omah omah omagat. Kenapa dia ngomong sedekt ini si jaraknya. Dari tempatmya tadi juga masih kedengeran kok. Kenapa mesti ngikis jarak seperti sekarang. Ramanda dibuat salah tingkah hingga dirinya tidak tau harua berbuat apa. Eh tau tauhya dia malah menggaruk kepaka. Dasar, Antoni memundurkan kursinya lagi, "Tapi, gue pernah naksir orang." "Oh ya... serius? Kapan? Cerita dong!" Balas Ramanda yang berusaha tidak canggung dan kikuk. Padahal, mah, astaga! Kalo sekarang jantungnya masih bisa berdegup mungkin suara degupannya sangat kencang hingga membuat dirinya sendiri malu karena, pasti terdengar jelas oleh Antonio. Untung saja, jantung ini sudah tidak berfungsi. Jadinya, Ramanda aman dari kecanggungan yang berlebihan, "Lo deserve better tau padahal. Kenaoa gak bisa lepas si pas itu?" Tanta Antonio. Membuat Ramanda terdiam sejenak. Merasakan sakit yang luar biasa di tempat yanh sama saat tertusuk oleh orang biadab. Kenapa kata-kata dia sangat tajam si, membuat Ramanda kembali teringat rasa sakit tujukan pisau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN