#Pmkn-Jin

2105 Kata
Tes Tes Tes "Temen lo berisik!" "Siapa?!" "Mana gua tau! Kan gak keliatan. Cuman kedengeran suaranya aja." Antonio menatap lekat Steffi. Dirinya ingin menghardik namun, tidak bisa. Dia harus mengelus lembut junuornya ini agar mendapatkan penilaian sempurna. Namun, tangannya begitu gatal saat sampai di kepala, "AW!" Steffi mengaduh. Membuat rawa renyah Antonio memuncak, "Napa sih lo! Gakj deh! Pake keplak pala i." Sentak Steffi sembari mengelus area yang tadi dijitak. Antonio hanya menggeleng sambik diiringi tawa, tidak bersuara apa-apa sebeluk akhirnya pintu ruangannya terbuka, "Mau ngopi gak?" "Hah? Emang ada gerai kopi?" "Ada!" Pekik Lira dengan cengiran kudanya, "Di seberang pemakaman baru opening." Jelas Lira yang langsung membuat dua pasang bola mata memutar dengan sangat malas. "Kaga mikir rasanya nih anak. Yakali kita ngopi bareng manusia." Hardik Steffi yang kembali melanjutkan kegiatan belajarnta. Sementara Lira yang tadi beraa di ambang pintu kini telah duduk di sebelah Steffi dengan tatapan tajam layaknya pisau. "Bisa! Lo gak tau cerita jin yang berdampingan sama manusia ya" "Its time to a story." Pekik Antonio yang kini juga mendekat pada Lira. "Gosah ngadi-ngadi anjir." Sahut Steffi yang masih acuh. Dirinya berfikir maba ada jin yang bisa berdampingan dengan manusia?! Aneh! Jelas-jelas kefua makhluk tersebut verbeda dunia. Sama dengan arwah. Cuman bedanya ya mereka satu tingkat di atas aja. Ya... Tapi, kan sama aja. Makhluk tak kasat mata. Sudah lah... Pokoknya intinya begitu. Steffi menolaj ide Lira untuk mengunjungi coffeshop seberang pemakaman. Hingga akhirnya Lira memulai kata pembuka dan tak memperdulikan pikiran Steffi. Dirimya hahya menyerocis samvil menatap mata Antonio yang sangat penasaran akan ceritanya. Sebuah cerita seadanya yang pernah ia ketahui dari sumber jin itu sendiri. Maklum.Lira adalah arwah yang sangat humble dan pandai menenpatkan diri dimana saja. Jadi, ya temannya banyak. *** Di sebuah kafe beringun tua namanya. Ada satu meja kosong dengan dua kursi yang berhadapan. Hanya meja itu yang kosong padahal, meja yang lain sudsh terisi penuh oleh khalayak banyak. Malahan, sampai konsumen lain menunggu untuk masuk, alias waiting list. Namun, kenapa tidak ada yang mau menempati meja tersebut? Aneh. Lira yanh saat itu sedang keluar pemakaman saja dibuat bingung. Alhasil dia menerobos masuk ke dalan kafe dan meligat sekitar. Ooo, ternyata auranya memang beda. Walaupun sudah menjadi arwah, Lira masih bida merasakan aura negatif yang ada di sekitarnya. Hingga, semua itu membuat Lira penasaran dan duduk di salah satu kursi. "Kau jangan duduk di situ!" Terdengat pekikan dari arah belakang. Lira menoleh dan langsyng menyunggingkan senyumnya. "Rupanya ini tempat kau ya." Sentak Lira sembari bertopang tangan, "Kau siapa?" "Arwah pemakaman Baverly. Kau atwah dari mana?" Lira mengajukan pertanyaan kembali. Bukannya menjawav pertanyaan Lira, dia malah berdecih dengan tatapan angkuh yang membuat Lira jengkel setengah hidup. Ternyata usut punya usut yang dilihat Lira kini bukan arwah sembarangan.... Membuat tubuhnya sedikit bergtetar ketakutan. Namun, untungnya dia mempuntai mental yang sangat kuat hungga masih bisa menampilkan raut wajah terngilnya, "Kau punya apa untuk melawanku jika, kita sekarang bertarung." Mendenfar hal tersebut, membuat Lira sedikut terkejut. Siapa yang mau bertarung? Memangnya sedang perlombaan gulat? Kan tidak,Lira memasang tampang anehnya. "Kenapa kay diam saja? Takut kan padaku?" "Takut koo bilang?" Lira menghempaskan wajahnya. Agar arwah ini menghentika sikap kurang ajarnta. Pake noel noel dagu Lira lagi... Cih! Jijay! Lira membuang ludah di hadapannya. Membuat jengkel namun, memang sengaja. "Kau mau apa memangnya? Mau menganggu manusia? Kau tidak ada kerjaan kah selain menggoda mereka?" Tanya Lira ketus. "Jika kamu memang begitu memangnya kenapa?" Sahut arwah tersebut tak kalah ketus. Mereka berdua saling beradu argumen, namun, semua argumennya tak berarti. Hanya melemparkan pertanyaan dan bukannya menjawab. Membuat arwah di belakang mereka jenggah dan langsung menariknya untuk duduk di kursi yang menjadi awal mula perdebatan. "Maafkan kaun kami ya." "Kaum mu apa?" "Jin..." "Oo" Lira membulatkan mulutnya, "Kau satu kaum juga berarti sama ni orang." Lira menunjuk arwah yang menjadi partner debatnya tadi. Lira menatao lurus ke depan, meskioun orang yang ditatap masih memalingkan wajahnya. "Kita para jin memabg biasa kumpul di sini." "For what? Apa memang duniamu tidak menyedia tempat seperti pemakaman lainnya?" Tanya Lira yang semakin penasaran, "Punya, tapi, memang kita iseng aja keluar. Soalnya kan bebas. Gak kaya arwah sepertimu. Yang tidak boleh keluar pemakaman sama sekali." "Rupanya kau masih bisa bicara ya... Aku kira sudah malas bicara denganku." Lira terkikih lalu mengulurkan tangannya, "Kita belum kenalan. Namanu siapa?" "Kepo." "Ohhh namanya kepo." "Hey!" "Apa?!" Ketus Lira, "Namaku bukan kepo." Sentak arwah tersebut yang semakin dibuat jengkel oleh Lira. Namun, bukannya sadar Lira malah semakin menjadi. Ia tertawa renyah layaknya keripik kentang yang baru diangkat dari wajan, "Ya kan aku gak tau... Kau tadi bilang kepi. Ya aku kira namamu memang kepo." Arwah lainnya tertawa, padahal Lira tak sedanf melawak, "Namamu siapa?" Tanya Lira lagi kayaknta hari ini sangat penasaran dengan nama semua arwah yang ia lihat. Namun, lagi-lagi bukannya mendapatkan sebuh nama, Lira malah mendapatkan sebuag gerakan. Arwah itu menggeleng di depan Lira, "Aku tak punya nama. Aku jin junior." Katanya. Membuat Lira cukup kebingungan dan tercengang, "Bagaimana mungkin kau tak punya nama. Hey! Yang benar saja." Sentak Lira. Arwah itu malah tertawa, diikuti dengan arwah yang kini mengulurka tangannya, "Defan! Namaku Defan bujan Kepo." "O!" Singkat Lira yang kini gantian tak menatapnya. Dirinya masih sibuk memikirka alasan dari arwah tanpa nama tadi. Menurutnya mustahil. Mana ada arwah yang dulunya so pasti manusia tak mempunyai nama. Kan gak mungkin! Gak mungkin banget! Lira mendenial itu semua hingga akhirnya dia memilih bertanta pada Arwah Defan yang tadi baru menyebutkan namanya, "Temen kau memang gak punya nama? Beneran kah?" "Punya. " "Dih! Tuh kan kau punya! Pake bohong lagi!" "Sebelum jadi, jin." "Hah?" Lira dibuat tercebgang kedua kalinya. Kali ini oleh Defan yang mendadak membuat rasa bingung Lira mencuat ke daratan, "Maksut kau gimana?" Defan menarik nafasnya dalam-dalam, menatap mata Lira lurus ke depan. Seolah mencari kepastian jika, Lira tidak bermaksut apa-apa dan pure mau mendenfar kehidupan arwah yang berbeda dengannya. Setelah menemuka itu semua, baru Defan berani untuk menceritakannya. "Kita memang satu klasifikasi, Arwah. Tapi, subnya beda. Kau arwah biasa dan kami Jin. Tidak bisa disamakan—" "Memang kenapa?" "Sabar ya kau! Jangan memotong ucapanku dulu." Sentak Defan yang langsung dibalas cengiran Lira. Ia mentilahkan Defan untuk kembali menjelaskan. Dirinya kini diam dan serius mendengarkan. "Kita para Jin dipilih langsung oleh para arwah spesial. Untuk diberika tugas yang bisa berdampingan dengan manusia. Setelah melewati pseemilihan dan persetujuan daru masing-masing arwah yang terpilih, barulah kita merubah identitas." Jelas Defan panjang lebar. Membuat satu pertanyan yang langsung muncul sangat tiba-tiba di kepala Lira, "Merubah identitas? Kayak operasi plastik gitu? Pasti kan wajah kalian berunah juga dong kalo merubag identitas?" Defan tertawa, rupanya Lira ini sangat kritis juga. Membuat dia kewalahan dan bertepuk tangan di dalam pikirannya. Namun, seramai apapun kepala dan pikiranya wujud dan sikap Defan tetap stay calm dan tidak ekspresif. Dirinya hanta mengangguk untuk membalas Lira hingga membuat Lira terkejut dengan semuanya. Bukan terkejut atas sikap Defan... Melainkan penyetujuan Defan atas semua pertanyaannya. "Woah!" Lira masih tak percaya jika, alam arwah begitu mirip dengan alam manusia. Bagaimaba mungkin sampai bisa operasi plastik? Apa ada dokter spesialin bedah plastik gitu kah? Astaga... Di luar pikiran banget si nih alam. Lira masih sibuk menata fikirannya agar menjadi waras kembali. Bisa dibilang, ini adalah kali pertanya dia dibuat tekejut semenjak menjadi arwah. Lira merasa jantungnya kembali bisa memompa darahnya ke seluruh tubuh... Sangat mustahil hingga membuat dirinya menjadi gila seketika. Namun, untung aaja Lira cepat sadar. Oleh sebab itu ia kembalu menatap Defan dan bergantian ke arah arwah tanpa nama, "Lantas kenapa kau tidak punya nama, tapi, dia punya?" Tunjuk alira pada Defan. Pertanyaan itu kembalu membuat Defan tertawa, "Memang kau yakin jika, itu adalah nama asliku?" "Maksutnya?" "Dia juga gak punya nama. Itu hanya nama samaran. Kami memabg suka menyebut nama asal. Misal kaya aku kemarin, yang membual dengan nama Roger." "Wtf!" Lura mengumpat, membuat kedua jin itu semakin terbahak, "Sudahlah... Kau nanti pusing kalau bertanya terus perihal jin. Sudahi saja semuanya. Mending lihat dan perhatikan dua manusia yang ada di seberang." Perintah Defan. Membuat tubuh Lira bergerak mengikuti arah telunjuknya, "Mereka sedang membicarakan kitaa." "Maksutnya?" Tanta Lira, "Ngomongin setan maksutnya—mereka menyangka jika, manusia yang memakai baju biru ditempeli oleh arwah penasaran, paahal..." "Tidak. Gak ada apa-apa di sana." Pekik Lira yang langsung mendapatkan nilai seratus dari Defan dan acungab jempol arwah tak bernama. Membuat lengkung senyum Lira terurai jelas namun, seketika hilang, "Trus kenapa mesti dilihatin terus? Apa ini kerjaan kalian berdua? Tapi, kerjanya ngapain?" Tanya Lira yang semakin tertarin pada dunia jin. Sebenarnya inu adalah hal yang sangat rahasia. Namun, entah kenapa mendadak Defan memberitahukan semuanya pada Lira. Membuat arwah tanpa nama ini tercengang. Beberapa kaku ia menggiyang kaki Defan untuk menyadarkan rekannya inu. Namun, tidak bisa. Defan sudag keasikan berbincang dengan Lira. Lirapun demikian. Tanpa sadar, dirinya tenggelam dan terbuai dalam percakapan. Malah, yang lebih ekstrimnya lagi, kini dalam pikirannya ia berniat untuk menjadi jin. Agar bisa menghirup udara luar dengab sangat bebas. Hanya bermodalkan mulut yang berkata, 'ada dinas dengan manusia.' Mudah sekalu. Kaya belu ciku di kantin sekolah. "Nah sekarang aja, Lir." "Apanya?" Tanya Lira pada Steffi yang memotong ceritanya. "Jadi jin. Kan kita udah kenal ini sama arwah spesialnya." Balaa Steffi yang nga ngo nga ngo tanpa berfikir panjang. Membuat Antonio malu karena, juniornya ini dirasa belum membaca kontrak penetapan arwah dengab sangar detail. Sangar jelas terpampang di sana jika, tidak boleh merubah penetapan setelah menantangani suray perjanjian. Namun, tetap saja ini anak satu ceplas ceplos begini adanya. Rasanya Antonio sangat ingin menjitak kepalabya Steffi, namun lagi-lagi harus ditahan. Bukan karena, penilaiannya lagi. Karena, takut dibalas oleh Lira yang sudah berlakon layaknya kakak dari Steffi. Antonio gak mau ngerasain jitak kepala Lira. Soalnya sangat menyakitkan. Layaknya tangan besi yang menghantam kepala. Hhhh—mengerikan. Ia menggeliatkan sekujur tubuhnya hingga mata Lira dan Steffi menatap penuh kebingungan. *** Mereka bertiga akhirnya keluar dari persinggahan dan menutuskan untuk pergi ke coffeshop di seberabg pemakaman. Tentu saja ide gila siapa lagi jika, bukan ide Lira. Dia memaksa Steffi dan Antonio untuk ikut dengan dirinya. Sebab, mereka berdua tidak percaya dengab cerita Defan dan arwah tanpa nama yang baru diceritakan tafi. Memvuat Lira kesal dan ingin membuktika pada mereka. "Lo pakaiannya jangan gini. Ketauan banget kalo lo malaikat maut." Kata Lira pada Antonio yang kini menampakkan raut kesalnya. Memang kenapa sih. Toh juga memang benar Antonio malaikay maut kan. Kenapa mesti ditutup-tutupi? Memanta para kaum jin akan takut jika, mengetahui identitas aslinya? Rasanya tidak... Kan mereka sudah mati. Tak akan bisa dicabut lagi nyawanya. Yang berarti, kenapa dia harus mengubah penampilannya? Antonio mengangkat dagu ke arah Lira. Begitu juga, Steffi yang sama tak mengerti maksut dari Lira. Membuat helaan nafas panjang diambil Lira dan dirinya berpasrah, "Sudah lah. Kalau tak mau juga tak apa. Gue akn gak maksa—udah ayo!" Sahut Lira yang langsung berjalan. Meninggalkan Steffi dan Antonio yang kini masih berbisik di belakang, "Ayo! sebelum ada yang liat! Lama banget dih!" Teriak Lira dengan sedikit sambitan kerikil. "Heh? Kok lo udah di situ duluan?!" Tanya Lira dengan telunjuk yang lurus ke depan, "Siapa—hey! Anda bayar administrasi dulu!" Sahut si penjaga gerbang belakang kala menoleh dan mendapati sosok arwah Ramanda yang kini sedang cengegesan di balik pagar. "Dia memang punya kekuatan menghilang, jadinya, bisa mengakal kan kau." Lira meledek si penjanga gerbang yang kini bisa dibilang sedikit tercengang. Dirinya kembali menoleh ke belakang, menatap sosok Ramanda yang kini sedabg mengupil ria, "Kau benar bisa menghilang?" Tanyanya. Ramanda langsung menganggung dan bertanya, namun, alih-alig mendapatkan jawaban Ramanda malah mendapatkan tepuk tangan dari si penjaga gerbang. "Kau caloj arwah tang akan dipilih eg arwah spesial." "HA!" Lira, Steffi, dan Antonio langsung dibuat tercengang. Mereka bertiga saling menatap satu sama lain, yang berakgir menatap Ramanda yang kini sangat kebingungan. "Kenapa si lo pada?!" Ketus Ramanda, dan langsung mendapatkan dekapan dari Steffi, "Dia gak boleh jadi, jin. Dia harus nuntasin bales dendamnya ke pacarnya. Lo gak boleh jadi Jin ya, Ramanda!" Jelas Steffi sembari menyakinkan Ramanda jika, dirinya tetap akan menjadi arwah penasaran. Ramanda semakin dibuat bingung oleh kelakuan temannya ini yang tiba tiba mendekap dan berkata seperti itu. Sudah jelas-jelas dirinya akan menjadi arwah penasaran untuk membalaskan dendamnya. Namun, kenapa Steffi seolah butuh penekanan kembali aas keputusannya? Aneh.. Dan sekarang... Tiba-tiba Antonio yang mendeka pada dirinya, "Lo ga boleh jadi jin ya, man! Janji sama gue." "Wait. Man? Kok lo boleh manggil dia 'man' sedangkan kira harus lengkap, 'Ramanda?' Tanya Lira yang memasang wajah curiga. Baik Ramanda dan Antonio, tidak aa yang mau menjawab. Mereka hanya menggaruk kepala dan saling menatap, "Oo gitu lo ya sekarang. Gak mau cerita-cerita." Kali ini Steffi yang menggoda seraya melepas dekapannya. Membuat Ramanda semakin dibuat salah tingkah dan tidak bisa apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN