Musik senam mulai menggelegar memenuhi ruangan besar lantai dua kantor itu. Para karyawati segera membentuk barisan, sementara beberapa karyawan pria mengambil tempat di belakang. Shayna berdiri di barisan kedua, menyibakkan rambutnya yang jatuh ke dahi, mencoba mengatur napas setelah pagi yang terasa berat. Namun, matanya langsung menangkap sosok yang paling tidak ingin ia lihat: Pak Manager, berdiri tepat di belakang barisan karyawati, memposisikan diri seperti biasa—strategis untuk memandangi para perempuan dengan tatapan yang membuat bulu kuduk meremang. Shayna mendengus pelan. “Iuh… menjijikkan,” gumamnya. Gerakan senam dimulai. Para karyawan mengangkat tangan, memutar pinggul, melompat ringan. Tapi Pak Manager malah sibuk melirik ke kanan-kiri, bibirnya tertarik membentuk senyum a

