Aku tetap memaksakan pulang meski hujan mulai turun rintik-rintik. Pikirku, mumpung belum terlalu deras. Aku sudah tidak tahan berlama-lama di rumah ini. Kedatanganku hanya untuk menyelesaikan urusan kami, supaya istri Mas Dimas tak lagi mengataiku ini dan itu. Bagaimanapun aku manusia biasa yang memiliki rasa sakit hati dan batas kesabaran. Meski di luar aku selalu menunjukkan sisi tegar dan tenang. Jauh dalam lubuk hati, aku menyimpan perih dan sakitku sendiri. Tiada tempat berbagi selain orang tua. Itupun tak semua yang kurasakan kuceritakan semua pada mereka. Aku takut nantinya justru akan menambah beban waktu senja mereka. Lelahku mengais rizky, abai pada rasa malu demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk bisa menghidupi putraku. Itu pun masih saja ada yang mencemooh usaha kerasku.

