Bab 17 Nenek Surtiasih

1238 Kata

Esoknya Jaya kembali aneh. Kali ini aku bingung dia kenapa. Dia bukan marah, lebih tepatnya menjaga jarak. Setelah dipikir-pikir aku tidak melakukan kesalahan bicara lagi. Serba salah. "Bungah." Decitan sepeda berhenti di sampingku. "Hai, Jay." "Kamu dijemput?" tanyanya. "Iya. Dijemput Mang Budi." Kami diam. Hilir mudik siswa melewati gerbang mengisi kekosongan dialog. Aku tertunduk, merutuki diri mengapa bisa secanggung ini. "Aku pulang duluan kalau gitu." "Oh, iya. Um--Jay," Jaya menunda kayuhannya kembali menatapku. "Hati-hati,"cicitku agak geli. Jaya mengangguk, kemudian berlalu menerobos keramaian menggunakan sepedanya. Pipiku jadi panas begini. Rasanya ingin tertawa dan jingkrak-jingkrak. "Kalian dari tadi aneh," komentar Dewi lanjut berjalan keluar gerbang. "Aneh g

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN